NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Cahaya di Desa Tersembunyi

Hutan lebat itu memeluk mereka dengan kegelapan yang damai. Pohon-pohon raksasa membentangkan dahan saling bertautan, menutupi langit sehingga cahaya bulan hanya menembus dalam bintik-bintik samar di tanah yang tertutup lumut. Udara sejuk dan wangi dedaunan menyegarkan tubuh yang lelah dan perih.

Tidak ada yang berbicara selama berjam-jam. Hanya suara langkah kaki di atas daun kering, napas yang teratur, dan sesekali suara burung hantu yang terbang menjauh. Rouran berjalan di paling belakang, sesekali menoleh ke arah asap hitam yang masih membubung perlahan di kejauhan — tanda benteng yang tak lagi milik mereka.

"Kita sudah aman sejauh ini," ucap Li An pelan saat fajar mulai menyingsing, menyelinap di sela-sela dedaunan. Ia berhenti di samping mata air kecil, membasuh wajah yang berdebu dan berlumur noda darah. "Desa itu tidak jauh lagi. Dulu ayahku sering membawaku ke sini."

Ling Yue duduk di atas batu datar, merawat luka di lengan Jenderal Wen yang dibalut kain bersih. Pria tua itu tersenyum tipis, meski wajahnya masih pucat.

"Kau merawatnya seolah aku akan bertahan hidup berkat ramuan ini saja," candanya pelan, meski suaranya lemah.

"Bukan ramuan yang menyembuhkan, Jenderal," jawab Ling Yue lembut. "Tapi keinginan untuk melindungi orang-orang yang kita sayangi."

Jenderal Wen menatap gadis itu lekat-lekat. "Kau sangat mengingatkan aku pada ibumu. Bukan pada sosok yang kini berdiri di atas tangga istana, melainkan pada wanita yang dulu dikenal — lembut namun sekuat gunung."

Ling Yue menunduk, jemarinya menyentuh giok yang tersimpan di dada. "Aku berharap dia kembali. Sebelum dia benar-benar tidak punya jalan pulang."

"Kita semua berharap," kata Rouran yang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan, wajahnya sudah lebih tenang. "Tapi berharap tidak cukup. Kita harus siap menghadapi apa pun."

Saat matahari naik lebih tinggi, mereka tiba di tepian lembah yang tersembunyi di balik bukit curam. Di bawah sana, tersembunyi di antara kebun dan sungai jernih, terhampar sebuah desa kecil. Rumah-rumah kayu berdiri rapi, asap dapur mengepul pelan, dan terlihat anak-anak berlari di halaman tanpa rasa takut.

"Ini dia," bisik Li An, matanya bersinar. "Desa Air Jernih."

Saat mereka turun, beberapa warga menyambut mereka dengan waspada. Namun ketika melihat Li An dan Jenderal Wen, wajah-wajah tegang itu perlahan melembut. Kepala desa — seorang pria tua yang rambutnya memutih namun punggungnya tegap — menyambut mereka di depan balai pertemuan.

"Kami sudah mendengar kabar," ucapnya dengan suara rendah namun tegas. "Ibu kota jatuh, benteng dikepung... Banyak yang lari ke arah sini. Kami menunggu kalian."

Mereka disambut dengan kehangatan yang tulus. Makanan sederhana disajikan — jagung rebus, roti gandum, dan sayur bening — namun bagi mereka yang sudah berhari-hari makan seadanya, rasanya mewah sekali. Mereka makan bersama di ruang utama balai desa, diterangi cahaya matahari pagi yang masuk lewat jendela kayu.

"Berapa banyak prajurit yang ikut selamat?" tanya Kepala desa.

"Sekitar empat puluh orang," jawab Jenderal Wen. "Sebagian terluka, tapi semuanya masih bisa bertempur."

"Dan Paman Mu?" tanya seorang warga yang duduk di sudut ruangan. "Apa yang akan dia lakukan sekarang?"

Li An berdiri perlahan, menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Dia tidak akan berhenti di benteng itu. Dia tahu kami lolos. Dia tahu giok itu ada bersama kami. Dia akan mencari kami ke mana pun — membakar desa, menangkap keluarga, menindas siapa pun yang diketahui membantu kami."

Keheningan menyelimuti ruangan. Rasa takut mulai merayap kembali.

"Tapi dia tidak bisa mencari apa yang tak ia temukan," sambung Ling Yue pelan, suaranya terdengar jernih dan tenang. "Selama kita bersatu, selama rakyat saling melindungi, dia tidak akan pernah tahu di mana kita berada. Kekuatannya besar, tapi ia tidak punya hati. Ia tidak mengerti bahwa negeri ini bukan dibangun di atas pedang, melainkan di atas kepercayaan satu sama lain."

Ia mengeluarkan giok dari balik pakaiannya. Cahaya lembut memancar, menerangi wajah-wajah yang menatapnya dengan bercampur rasa heran dan harapan.

"Giok ini bukan senjata untuk mengalahkan musuh," lanjutnya. "Ia adalah tanda — tanda bahwa masih ada jalan lain. Bahwa keadilan belum mati. Bahwa kita tidak harus hidup dalam ketakutan."

Seorang pemuda berdiri, tangannya mengepal erat. "Aku ikut. Ayahku dibunuh karena menolak menyerahkan persediaan padi kepada pasukan Paman Mu. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk hilang — tapi aku ingin mereka tahu kita tidak diam saja."

"Aku juga!" suara lain menyusul.

"Dan aku!"

"Kami semua!"

Satu demi satu warga desa berdiri, bukan karena takut, melainkan karena marah dan bertekad. Jenderal Wen menatap mereka dengan mata berkaca-kaca.

"Kita tidak akan menyerang dengan pedang dulu," ucapnya lantang. "Kekuatan kita bukan di jumlah prajurit, melainkan di kebenaran. Kita akan mengirim pesan ke desa-desa lain — menyebarkan berita tentang siapa yang sebenarnya memerintah, tentang penderitaan yang datang, tentang harapan yang masih ada. Kita akan membangun jaringan. Ketika waktunya tiba, seluruh negeri akan berdiri bersama."

Malam itu, api unggun dinyalakan di tengah desa. Tidak ada perayaan besar, hanya kebersamaan yang hangat. Prajurit yang terluka dirawat, warga berbagi cerita, dan rencana-rencana ditulis di atas lembaran kulit kayu.

Ling Yue duduk sendirian di tepi sungai, membiarkan air yang dingin membasuh kakinya. Angin berhembus lembut menggerakkan rambutnya. Ia menatap pantulan dirinya di air yang tenang — wajahnya lebih dewasa, matanya lebih teguh.

Li An duduk di sampingnya, tidak segera berbicara, hanya menikmati keheningan itu bersama.

"Kau memikirkan Ibumu?" tanyanya akhirnya pelan.

Ling Yue mengangguk pelan. "Aku bertanya-tanya... apakah dia juga sendirian seperti ini? Apakah dia melihat apa yang terjadi di luar istana? Atau dia hanya melihat bayangannya sendiri di cermin emas?"

"Suatu hari nanti kau akan bertemu dengannya lagi," kata Li An lembut. "Dan saat itu, dia akan melihat apa yang kau perjuangkan."

"Bagaimana jika dia memilih jalannya sendiri?"

Li An diam sejenak, lalu menjawab perlahan: "Itu haknya. Tapi itu tidak mengubah hak kita untuk memilih jalan yang benar."

Ia menggenggam tangan gadis itu. "Apa pun yang terjadi, aku di sini. Rouran juga. Jenderal Wen. Semua orang di desa ini. Kau tidak sendirian, Ling Yue."

Gadis itu tersenyum tipis, menumpahkan kepalanya di bahu pria itu. "Terima kasih. Dulu aku takut akan masa depan... tapi sekarang aku tahu — selama kita berjalan bersama, ke mana pun kita pergi, itu sudah menjadi rumah."

Di kejauhan, di balik bukit, cahaya lain mulai menyala — satu per satu, di desa-desa yang tersembunyi, di gubuk-gubuk pegunungan, di tempat-tempat yang tak diketahui oleh penguasa istana. Cahaya itu kecil, namun jumlahnya semakin banyak, menyambung menjadi jaring yang tak mudah diputus.

Perjalanan mereka belum usai. Bahkan bisa dikatakan, perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!