NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Bi Ina menuntunku menuju sebuah kamar tidur yang sangat luas di dalam penthouse tersebut. Di dalam dekapanku, Arkan masih tertidur pulas. Embusan napas kecilnya yang teratur begitu hangat di kulit ini. Wangi bayi yang khas, entah mengapa sedikit mengobati rasa hancur di hatiku karena ditinggal pergi anakku untuk selamanya.

"Mari, Neng Arin. Ini kamarnya. Taruh saja Den Arkan di ranjang bayi itu," ucap Bi Ina dengan lembut.

Aku menggeleng pelan sambil menahan posisi tubuh ku. "Jangan dulu, Bi. Den Arkan sepertinya sangat sensitif. Setiap kali saya merenggangkan pelukan, dia langsung menggeliat dan terbangun."

Bi Ina menatapku dengan pandangan iba. Seperti menyadari posisi ku saat ini. "Ya sudah, Neng duduk saja dulu di sofa. Biar Bibi ambilkan bantal penyangga supaya lengan Neng enggak pegal."

"Terima kasih banyak, Bi," lirihku.

Setelah posisi ku terasa nyaman. Aku menatap sekeliling ruangan. Kamar ini begitu besar dan mewah. Bahkan berkali-kali lipat lebih luas dari rumah kontrakan yang aku tempati bersama Bagas dan Salma. Entah mengapa, setiap mengingat nama mereka, dadaku terasa sesak.

"Bi, kalau boleh saya tahu...Ibu kandung Den Arkan ke mana?" tanyaku ragu, memecah keheningan malam itu.

Bi Ina yang sedang merapikan selimut, langsung menghentikan gerakannya. Wajahnya seketika berubah tegang. Ia menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat, lalu mendekatiku dengan langkah yang begitu pelan karena takut ketahuan.

"Aduh, Neng Arin... maaf sekali. Kalau soal itu, Pak Dikta melarang keras untuk membahasnya. Jangan sampai Pak Dikta mendengar Neng menanyakan hal itu lagi, ya? Beliau marah besar jika tahu Neng menanyakan perihal itu," bisik Bi Ina, mengingatkanku.

"Begitu ya, Bi? Baik, saya tidak akan bertanya lagi."

***

Di tempat lain, sebuah pusat perbelanjaan mewah di tengah kota, Salma berjalan dengan dagu terangkat tinggi. Cek senilai tiga puluh juta rupiah dari Dikta sudah berada aman di dalam tasnya. Rasa bersalah tidak terlihat dari wajahnya karena meninggalkan menantunya di sana. Ia langsung melangkah masuk ke dalam sebuah toko perhiasan emas yang terkenal.

"Pilihkan kalung emas yang paling bagus untukku," pintanya pada pelayan toko di sana.

Pelayan toko itu segera mengeluarkan beberapa pilihan terbaik. Salma tersenyum puas, matanya berbinar-binar menatap kilauan di depannya.

"Ini baru namanya hidup. Andai dari dulu Arini bisa menghasilkan uang sebanyak ini, aku tidak perlu repot-repot berutang," gumam Salma dalam hati. Ia langsung memakai kalung baru tersebut dengan bangga, "Bagas pasti senang kalau tahu Ibunya sekarang sudah terlihat seperti orang kaya."

***

Tepat malam harinya, jam dinding di kamar penthouse menunjukkan pukul sembilan malam. Saat mata ini mulai terpejam, suara ketukan pintu terdengar dari luar. "Maaf, diluar siapa?"

"Saya."

Setelah pintu terbuka, Dikta menerobos dengan langkah tegap, tapi pelan. Ia masih mengenakan kemeja kantor dengan dasinya sedikit dilonggarkan. Sementara lengan kemejanya digulung hingga siku. Wajahnya yang pucat tadi siang kini tampak sedikit lebih tenang. Matanya langsung tertuju pada Arkan yang masih berada di pangkuanku.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Dikta dengan suara berat.

"Den Arkan sudah tenang, Pak. Dia tidak menangis lagi sejak sore tadi," jawabku pelan, sambil menundukkan kepala karena tidak berani menatap mata tajamnya.

Dikta mendekat, berdiri tepat di depan sofa tempatku duduk. Ia membungkuk untuk memperhatikan wajah putranya yang tampak sangat damai saat tertidur. "Bagus. Pastikan dia tetap seperti ini. Jika kau membutuhkan sesuatu untuk keperluanmu atau Arkan, katakan saja langsung pada Bi Ina," ucap Dikta datar.

"Baik, Pak."

Ketika Dikta hendak berbalik meninggalkan kamar, tiba-tiba saja langkahnya terhenti di ambang pintu. Ia memutar tubuhnya, lalu menghadap ku.

"Satu hal lagi yang harus kau ingat, Arini," cetus Dikta, sontak membuat jantungku terhenti sesaat. "Jangan pernah berpikir untuk membawa putraku kabur atau melarikan diri dari sini. Ibu mertuamu itu sudah menandatangani kontrak. Mulai sekarang dan seterusnya, kau adalah pekerja di penthouse ini. Apa kau mengerti?"

Aku mengangguk cepat karena tak ingin melihat kemarahannya seperti tadi pagi. Setelah memastikan tubuh tegapnya Dikta menghilang dari pandangan, tubuh ku langsung melemas. Aku tertidur duduk, terbangun saat mendengar tangisan Arkan yang mulai haus.

"Den Arkan haus lagi, ya?" Aku tersenyum, lalu memberikan cairan itu ke bibirnya. Ia tampak begitu haus, hingga tak menyisakan sedikitpun.

Bi Ina pagi-pagi sudah menyediakan sarapan untuk Arini. Beberapa kali wanita paruh baya itu menggeleng kepala melihat ulah wanita di depannya ini yang tak henti mengecup pipi Arkan, "Gemes deh," ucapku.

Secara bersamaan, Dikta juga berdiri mematung melihat ulah Ibu Susuan putranya. Sebelumnya Dikta tak pernah mengizinkan orang luar untuk mencium putranya, namun kali ini berbeda. Arini memang memiliki jiwa keibuan meski wajahnya masih terlihat muda. Sementara Dikta sendiri sudah kepala empat, namun baru memiliki anak dikarenakan sebuah peristiwa yang menjadi rahasianya.

"Pak Dikta sudah lama di sini?" tanya Bi Ina yang ikut merasakan kebahagiaan di rumah ini.

Dikta tak menjawab. Matanya justru tak bergeming memperhatikan cara Arini melayani putranya. Melihat tak ada respon dari majikannya, Bi Ina memilih keluar.

Menyadari ada yang memperhatikan ku dari kejauhan, aku langsung membenarkan posisi.

"Maaf, saya gak tahu kalau Anda sudah ada di sini." Aku langsung mengusap bekas kecupan di pipi Arkan, namun Dikta dengan cepat menghalangi itu. "Tak perlu. Aku senang melihat kau begitu menyayangi putraku. Jiwa keibuan sangat terlihat dari sikapmu tadi." Dikta menyilang kaki, duduk di sofa sambil menatapku yang menunduk.

"Sekali lagi, saya mintak maaf," ucapku, masih dalam posisi yang sama, tidak menatapnya sama sekali.

"Kau tak perlu mintak maaf. Aku ke sini hanya memastikan bahwa kau melakukan tugasmu dengan baik." Dikta berdiri, lalu melirik sarapan yang dibawa Bi Ina tadi, apa sudah sesuai dengan catatan Dokter Gizi pilihannya atau belum? Setelah memastikan tak ada yang kurang. Dikta memberikan padaku.

Sementara aku, begitu terkejut melihat hidangan ini, "Apa ini semua harus saya habiskan sekarang?"

"Tentu. Semua ini rekomendasi dari Dokter Gizi pilihanku. Dan aku tidak mau mendengar dari Bi Ina kalau kau menolak untuk menghabiskannya. Aku ingin putraku sehat." Dikta berdiri, lalu meninggalkan aku yang terpaku mendengar perintahnya itu.

Sementara Bi Ini tersenyum kecil melihat sikap protektif Dikta pada putranya, hingga mengabaikan lambung Arini yang kecil. "Saya rasa, saya gak kuat untuk menghabiskan ini semua, Bi. Apa Bibi bisa membantuku?" lirihku memelas.

"Maaf Neng, Bibi takut." Bi Ina menunjukkan CCTV di sudut ruangan, kecuali kamar.

Aku mencoba mengunyah dengan pelan. Dikta benar-benar menyiksaku.

"Pak Dikta memang tidak pernah main-main dengan ucapannya, Neng," bisik Bi Ina pelan, seolah takut dinding-dinding megah penthouse ini memiliki telinga yang bisa melaporkan setiap gerak-gerik mereka.

Aku menghela napas pasrah. Di ruangan lain, aku harus menjalani kebugaran yang dikirim Dikta. Aku dipaksa menggerakkan tubuh ini, yang sebenarnya masih begitu lemas. Setiap tetes keringat yang jatuh bukan karena semangat untuk sehat, melainkan rasa tertekan yang menghimpit dada. Pikiran ku melayang pada kontrak yang disebutkan Dikta semalam. Ibu mertuaku, Salma, benar-benar telah menjual ku demi tumpukan uang.

***

Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, Salma sedang menikmati uang keringat dari menantunya yang tertindas. Setelah puas membeli kalung emas yang melingkar di lehernya, ia melangkah masuk ke dalam rumah kontrakannya dengan gaya seperti nyonya besar. Bagas sekaligus anak kandung Salma, sedang duduk di ruang tamu dengan rokok yang terselip di jarinya. Wajah Bagas tampak kusut, penuh beban pikiran akibat utang-utang judi yang menumpuk. Alasan ditangkap Polisi, ternyata hanya tipu muslihat yang mereka buat untuk menggelambui ku agar mau bekerja.

"Ibu dari mana saja? Dan... itu kalung apa?" tanya Bagas, matanya langsung melihat sesuatu yang melingkar di leher Ibunya.

Salma tertawa renyah, menutup mulutnya dengan gaya yang dibuat-buat. "Ini namanya keberuntungan, Bagas! Mulai hari ini, kita tidak perlu lagi hidup sengsara di rumah kontrakan sempit ini. Ibu sudah menyelesaikan semua masalah kita."

Salma membuka tasnya dan mengeluarkan sisa uang tunai serta slip penarikan dari cek yang diberikan Dikta. Mata Bagas seketika membelalak. Ia belum pernah melihat uang sebanyak itu seumur hidupnya.

"Ibu... Ibu dapat uang ini dari mana? Jangan bilang Ibu merampok!" tebak Bagas.

"Merampok apa? Ibu ini pintar. Ibu hanya memanfaatkan aset yang kita punya," ujar Salma dengan bangga.

"Aset? Memangnya di rumah ini aset apa yang bisa dijual hingga menghasilkan uang secara cepat? Apa Ibu memelihara tuyul?" ujar Bagas asal.

"Sembarangan. Tuyul itu istrimu, Bagas." Salma menarik pundak putranya agar lebih leluasa untuk bicara. "Kau tahu, Ibu baru saja menyerahkan Arini kepada seorang pengusaha kaya raya bernama Pak Dikta. Dia butuh pengasuh, atau lebih tepatnya seorang Ibu Susuan untuk putranya. Dan tebak? Pak Dikta membayar mahal untuk itu. Tiga puluh juta ini baru permulaan!"

Bagas tertegun. Ada sedikit merasa bersalah yang terlintas di hatinya. Apalagi Arini, istrinya yang selalu sabar menghadapi kemiskinan mereka dan lebih tragisnya baru saja kehilangan putri kecil mereka. "Tapi Bu, Arini itu istriku. Bagaimana bisa Ibu menjualnya begitu saja? Apa kata orang nanti?"

"Halah! Jangan sok suci, Bagas!" bentak Salma, wajahnya sengaja diubah untuk menghasut putranya, "Istrimu itu dari dulu hanya membawa sial. Memangnya dia bisa menghasilkan tiga puluh juta dalam sehari? Tidak, kan? Lagipula, utang-utang judi mu itu sudah jatuh tempo. Kalau tidak dibayar, kepalamu bisa pecah dihantam penagih utang. Sekarang pilih, istrimu yang menderita sedikit di tempat mewah, atau dirimu yang mati digebuki?"

Bagas terdiam. Ego dan rasa takutnya mengalahkan rasa cintanya pada Arini. Ia menatap tumpukan uang di meja, lalu perlahan mengangguk, menyetujui dosa besar yang baru saja dilakukan Ibunya.

***

Kembali di penthouse, waktu berjalan begitu menyiksa batinku. Setelah menyelesaikan sesi olahraga yang menguras tenaga, aku kembali ke kamar. Tubuhku terasa remuk semua. Tapi melihat Arkan yang baru saja terbangun dan mengoceh kecil, rasa lelah itu seketika menghilang.

Aku mendekati boks bayi itu, lalu mengangkat tubuh mungil Arkan ke dalam pelukan. Ia langsung menyandarkan kepalanya di dada, seolah mendapati tempat teraman di dunia.

"Anak pintar... haus ya?" bisik ku lembut. Aku menyingkap jilbab, lalu memberikan Asi padanya.

Saat Arkan sedang menyusu dengan tenang, Aku memandangi bentuk wajah bayi itu. Kulitnya putih bersih, matanya bulat besar, dan rambutnya hitam lebat. Wajah Arkan sangat mirip dengan Dikta, tapi tanpa urat ketegangan dan keangkuhan yang biasa ditampakkan oleh Ayahnya. Di kamar ini, hanya bersama Arkan, aku merasa berguna. Jiwa keibuannya yang sempat hilang karena kepergian putri ku, kini perlahan bangkit karena hadirnya Arkan dalam hidup ku.

Tepat di sore harinya, Dikta pulang lebih awal dari biasanya. Suara langkah sepatunya yang tegas terdengar di koridor penthouse. Aku yang sedang menimang Arkan di ruang tengah langsung terdiam. Aku reflek berdiri dan menundukkan kepala.

Dikta berjalan mendekat, melepaskan jas kerjanya dan menyerahkannya pada Bi Ina yang menyambut di dekat pintu. Tatapan mata Dikta langsung terkunci pada ku. Ia memperhatikan penampilan ku yang tampak lebih segar setelah berolahraga dan mengonsumsi makanan bergizi beberapa hari ini. Pipi ku yang tadinya kempis dan pucat, kini mulai menunjukkan sedikit rona alami.

"Bagaimana latihanmu tadi pagi? Apa instrukturnya bekerja dengan baik?" tanya Dikta datar, seraya melonggarkan dasinya.

"Baik, Pak. Semuanya berjalan lancar," jawab ku.

Dikta berjalan semakin dekat, hingga jarak di antara kami hanya tersisa dua langkah. Ia mengulurkan tangan, menyentuh kening Arkan dengan lembut.

"Aku sudah memeriksa laporan dari dokter gizi dan instruktur mu. Berat badanmu harus naik dua kilogram dalam bulan ini agar kualitas ASI dan stamina fisikmu berada dalam kondisi sehat untuk menjaga Arkan. Jika kau kekurangan sesuatu, katakan," ucap Dikta dingin, namun tersirat kepedulian yang sangat posesif terhadap segala hal yang berhubungan dengan putranya.

Aku memberanikan diri untuk mendongak, menatap mata tajamnya. "Pak Dikta... saya akan menuruti semua kemauan Anda. Saya akan menjaga Arkan dengan seluruh jiwa saya. Tapi, saya mohon... bisakah Anda mengizinkan saya menghubungi Bagas? Hanya untuk memastikan keadaannya."

Mendengar nama Bagas disebut, rahang Dikta seketika mengeras. Tatapan matanya yang tadi sempat teduh, kini berubah menjadi sedingin es. Aura negatifnya langsung keluar dari tubuhnya, sontak membuat ku menyesal karena melontarkan pertanyaan barusan.

"Bagas?" Dikta mendengus kesal, sebuah senyuman terukir di bibirnya. "Laki-laki tidak berguna yang membiarkan Ibunya menjual istrinya sendiri demi uang? Kau masih memikirkan pria seperti itu, Arini?"

Air mataku menetes mendengar kenyataan pahit yang diucapkan langsung oleh Dikta. "Dia... Dia suami saya, Pak..."

"Tidak lagi," potong Dikta dengan suara berat dan penuh penekanan. "Mulai saat kau melangkah masuk ke dalam penthouse ini, kehidupan masa lalu mu sudah selesai. Kau tidak punya suami, dan kau tidak punya ibu mertua. Pemilik mu sekarang adalah kontrak yang ada di tanganku. Fokus mu hanya satu, Arkan. Jika aku mendengar kau menyebut nama pria itu lagi, atau mencoba mencarinya, aku pastikan dia dan ibunya akan membusuk di penjara, Paham?"

Aku terisak pelan, tubuh ku gemetar hebat. Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Di dalam dekapannya, Arkan tiba-tiba menggeliat, seolah merasakan kesedihan yang aku rasakan. Bayi mungil itu mengeluarkan suara rengekan kecil, lalu tangannya meraba-raba wajah ku, seolah ingin menghapus air mata di pipi ini.

Melihat reaksi Arkan, Dikta tertegun. Ia menatap tangan putranya yang berada di wajah ku. Keajaiban kecil itu seolah meruntuhkan sedikit dinding keangkuhan di hati Dikta. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan amarahnya.

"Hapus air matamu. Jangan menangis di depan putraku. Energi negatifmu bisa mempengaruhinya," ujar Dikta, meskipun nadanya kali ini tidak sekeras tadi.

Dikta membalikkan badan, berjalan menuju ruang kerjanya. Namun sebelum menutup pintu, ia menoleh sedikit. "Malam ini, kau tidak perlu tidur di sofa lagi. Tidurlah di ranjang besar bersamanya. Kamar itu cukup luas untuk kalian berdua."

Setelah pintu ruang kerja Dikta tertutup, aku terduduk lemas di karpet bulu yang tebal. Aku memeluk Arkan dengan erat, menumpahkan segala rasa sakit di hati ini. Di tempat semegah ini, aku dikurung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!