NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 — Kunjungan Tak Terduga

Senin pagi, suasana kantor tiba-tiba berubah lebih formal dari biasanya. Seluruh staf lantai eksekutif tampak sibuk merapikan diri, beberapa bahkan terlihat gugup mondar-mandir memastikan segala sesuatunya sempurna.

"Ada apa sih, kok pada heboh gitu?" tanya Kirana pada salah satu rekan kerja yang kebetulan lewat membawa setumpuk dokumen.

"Bu Ratna mau datang hari ini. Ibunya Pak Rangga, sekaligus pemegang saham terbesar kedua di perusahaan," jawab rekan kerjanya, terdengar sedikit tegang. "Biasanya kalau beliau datang, artinya ada hal penting yang mau dibahas."

Kirana mengangguk, meski nama itu langsung membuat firasatnya tidak enak, mengingat percakapan telepon yang tidak sengaja ia dengar beberapa malam lalu di resto.

Menjelang siang, sosok Bu Ratna akhirnya muncul di lantai delapan—wanita paruh baya berpenampilan anggun, mengenakan busana formal mahal dengan aura yang begitu berwibawa, membuat siapa pun yang berpapasan dengannya secara refleks berdiri lebih tegak.

Kirana, yang saat itu sedang membawa berkas menuju ruang fotokopi, tanpa sengaja berpapasan langsung dengan wanita itu di koridor.

"Maaf, permisi, Bu," Kirana buru-buru menyingkir memberi jalan, membungkuk sopan.

Bu Ratna berhenti sejenak, menatap Kirana dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan menilai yang tajam, membuat Kirana merasa seperti sedang diperiksa dengan mikroskop. "Kamu staf di sini?"

"Iya, Bu. Kirana, staf junior divisi marketing," jawab Kirana, mencoba terdengar tenang meski jantungnya berdebar kencang di bawah tatapan tajam itu.

"Kirana," Bu Ratna mengulang nama itu pelan, seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.

"Nama yang familiar. Kamu kenal keluarga Wibowo?"

Kirana terdiam sejenak, tidak menyangka akan ditanya soal itu secara langsung. "Saya... Aurelia Kirana Wibowo, Bu. Putri dari Hartono Wibowo."

Ekspresi Bu Ratna berubah sekilas, campuran terkejut dan sesuatu yang lebih sulit diartikan—mungkin rasa iba, mungkin juga kecurigaan. "Oh, jadi kamu putri Hartono. Turut berduka soal apa yang menimpa keluargamu."

"Terima kasih, Bu," Kirana menunduk sopan, meski merasa tidak nyaman dengan cara topik itu dibawa begitu mendadak di tengah koridor kantor.

Bu Ratna menatap Kirana lebih lama, seperti sedang menyusun sesuatu di kepalanya. "Kamu kerja di divisi mana katamu tadi?"

"Marketing, Bu."

"Sering ketemu sama Rangga?"

Pertanyaan itu membuat Kirana tertegun, tidak yakin harus menjawab apa, mengingat betapa sensitifnya topik itu setelah percakapan telepon yang ia dengar tempo hari. "Kadang-kadang, Bu. Untuk urusan kerjaan."

"Begitu," Bu Ratna mengangguk pelan, senyum tipis yang sulit diartikan muncul di wajahnya—senyum yang entah kenapa membuat firasat Kirana semakin tidak enak. "Baiklah, silakan lanjutkan pekerjaanmu."

Kirana membungkuk sopan sekali lagi sebelum bergegas pergi, hatinya dipenuhi kegelisahan yang sulit ia jelaskan. Ada sesuatu dalam tatapan Bu Ratna yang terasa seperti peringatan tak terucap, seolah wanita itu sudah mulai menyusun rencana tersendiri begitu mengetahui identitas Kirana yang sebenarnya.

…………………………………………………………………………

Sore harinya, dari balik pintu kaca ruang rapat lantai eksekutif yang kebetulan tidak tertutup rapat, Kirana yang lewat untuk mengantarkan dokumen tanpa sengaja mendengar sepotong percakapan yang membuat langkahnya terhenti seketika.

"Rangga, Mama nggak masalah kamu deket sama siapa aja buat kerjaan. Tapi kalau soal pernikahan, Mama harap kamu pikirkan baik-baik posisi perusahaan," suara Bu Ratna terdengar tegas dari dalam ruangan.

"Ma, saya belum mikirin soal nikah sama siapa pun sekarang," jawab suara Rangga, terdengar sedikit lelah.

"Mama cuma mengingatkan. Keluarga Wibowo itu sudah bangkrut, Rangga. Kalau kamu sampai terlibat sama salah satu dari mereka, itu bisa jadi masalah besar buat reputasi dan stabilitas perusahaan kita, apalagi dengan investor-investor yang sedang kita dekati sekarang."

Kirana merasakan dadanya mencelos mendengar kalimat itu, tubuhnya membeku di tempat, tidak sanggup melangkah lebih jauh maupun mundur.

"Ma, dari mana Mama tahu soal itu?" suara Rangga terdengar terkejut.

"Mama ketemu gadis itu tadi pagi di koridor. Kirana, kan namanya? Putri Hartono Wibowo," jawab Bu Ratna, nada suaranya dingin dan penuh perhitungan. "Mama nggak melarang kamu berteman baik sama karyawan, Rangga. Tapi kalau lebih dari itu... Mama harap kamu ingat, keputusan pribadi kamu bisa berdampak besar buat masa depan perusahaan ini."

Hening sejenak sebelum suara Rangga terdengar kembali, kali ini dengan nada yang lebih tegas.

"Ma, saya CEO perusahaan ini karena kemampuan saya, bukan cuma karena warisan. Saya yang akan tentukan sendiri siapa yang pantas jadi bagian dari hidup saya, bukan berdasarkan kalkulasi untung rugi bisnis."

"Kamu masih terlalu naif soal ini, Rangga," Bu Ratna menjawab tegas. "Cinta itu penting, tapi di posisi kita, cinta aja nggak cukup. Kamu harus mikirin dampaknya buat ratusan karyawan yang menggantungkan hidup mereka ke perusahaan ini."

Kirana, yang masih berdiri membeku di luar pintu, akhirnya memutuskan untuk mundur perlahan, tidak sanggup lagi mendengar lebih jauh percakapan yang jelas-jelas membahas dirinya secara tidak langsung. Ia berjalan cepat menuju tangga darurat, dadanya sesak dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk—sedih, marah, dan yang paling menyakitkan, rasa tidak berdaya yang begitu familiar, mengingatkannya kembali pada masa-masa tersulit setelah kehilangan orang tuanya.

Ia duduk di anak tangga darurat yang sepi, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir bebas. Bukan karena marah pada Bu Ratna—ia paham betul kekhawatiran seorang ibu terhadap masa depan anak dan perusahaannya. Tapi karena kenyataan pahit yang kembali menegaskan dirinya: bahwa latar belakangnya yang sekarang, status sosialnya yang sudah jatuh, akan selalu menjadi bayang-bayang yang menghantui setiap langkahnya, bahkan dalam urusan hati sekalipun.

Mungkin aku memang nggak pantas, pikirnya getir, memeluk lututnya sendiri di tangga yang sunyi. Mungkin aku harus berhenti berharap terlalu jauh soal perasaan ini.

Ia tidak tahu bahwa tidak jauh dari sana, di dalam ruang rapat yang sama, Rangga masih berdebat dengan ibunya, bertekad semakin kuat untuk mempertahankan perasaannya—sebuah tekad yang, cepat atau lambat, akan membawanya pada konfrontasi yang jauh lebih besar dengan seluruh dunia yang selama ini membesarkannya.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!