NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jendral Sains Di Kultus Iblis

Reinkarnasi Jendral Sains Di Kultus Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:173
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Mikyail Ilham

Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
​Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
​Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
​"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Cetak Biru dan Formula Pertama

​Sejak sore itu di pinggir hutan, Tang Jin-Bao resmi menjadi "asisten" tidak resmi Cheon Ryeon.

​Bagi Jin-Bao, keputusan mengintil di belakang Ryeon adalah hal paling masuk akal yang pernah ia buat selama hidupnya. Meskipun Ryeon dua tahun lebih muda darinya dan berasal dari Klan Cheon yang serba kekurangan, berada di dekat anak itu memberikan rasa aman yang tak pernah Jin-Bao rasakan sebelumnya.

​Hutan kecil di belakang bukit Klan Cheon kini diubah menjadi pangkalan rahasia mereka. Tempat itu tersembunyi di balik semak berduri dan pepohonan lebat, dilengkapi sebuah gua dangkal yang terlindung dari hujan.

​Di dalam gua tersebut, Jin-Bao menatap tumpukan dedaunan, batu logam warna abu-abu, dan beberapa botol tanah liat bekas dengan raut wajah heran.

​"Ryeon... kita sebenarnya mau bikin apa, sih?" tanya Jin-Bao sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kau menyuruhku mengumpulkan batu besi mentah dari sungai, belerang tua, sama getah pohon cemara hitam. Jangan bilang kau mau bikin sesajen panggil roh halus?"

​Ryeon yang sedang duduk bersila sambil menggoreskan batu tajam di atas permukaan batu datar menggeleng pelan.

​"Bukan sesajen," sahut Ryeon tenang tanpa menghentikan goresan tangannya. "Ini cetak biru tungku pemurnian dan bahan pemicu reaksi termal."

​Jin-Bao mendekat, mencoba membaca tulisan dan gambar yang terukir di atas batu datar itu. Namun, bukannya paham, matanya justru makin juling. Gambar di batu itu bukan sketsa jurus pedang atau diagram aliran meridian Ki seperti yang biasa dia lihat di kitab-kitab tua. Gambar itu berisi garis-garis presisi, sudut-sudut geometri, dan rumus-rumus aneh yang belum pernah ada dalam sejarah Murim.

​"I-ini gambar apa?" cicit Jin-Bao bingung. "Bentuknya kayak wadah... tapi kenapa ada lubang saluran udara berketinggian beda di sampingnya?"

​"Itu pemicu aliran udara paksa," jelas Ryeon singkat. "Masyarakat Murim selama ini menempa besi pakai metode tradisional. Tungku mereka cuma bisa mencapai suhu pembakaran sekitar seribu derajat Celsius. Makanya, senjata yang dihasilkan mudah patah kalau berbenturan sama Ki yang keras."

​Ryeon menunjuk gambar tungku buatannya. "Tapi dengan menambah saluran pasokan oksigen bertingkat dan memanfaatkan reaksi pembakaran racikan belerang-karbon buatanmu, kita bisa menaikkan suhu pembakaran sampai seribu lima ratus derajat."

​Jin-Bao terbelalak. "Seribu lima ratus derajat?! Apa gak bakal meleleh semua wadahnya?!"

​"Batu-batu sungai abu-abu yang kau kumpulkan itu kaya akan kandungan silika dan lempung tahan api," potong Ryeon datar, menatap Jin-Bao lurus. "Kalau kita susun batu-batu itu jadi dinding dalam tungku, lapisan itu tahan panas ekstrem. Hasilnya, kita bisa memurnikan endapan karbon dalam bijih besi biasa dan mengubahnya jadi Baja Mikro-Karbon."

​Jin-Bao menelan ludah. Dia memang punya bakat alami memahami tanaman obat dan racun, tapi mendengarkan penjelasan Ryeon rasanya seperti mendengarkan seorang dewa ilmu pengetahuan yang diturunkan dari langit.

​"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanya Ryeon menaikkan sebelah alisnya.

​"Gak... cuma..." Jin-Bao mengusap keringat dingin di dahi. "Kau ini beneran umur empat tahun, kan? Jangan-jangan kau ini monster tua berumur lima ratus tahun yang merasuk ke tubuh budak kecil?"

​Yah, hampir tepat, batin Ryeon terkekeh pelan dalam hati, mengingat kehidupan lamanya sebagai Panglima Tertinggi di Bumi.

​"Kurangi melamunnya dan mulai tumbuk belerangnya," perintah Ryeon dingin. "Campurkan arang halus sama getah cemara dengan rasio tiga banding dua. Kita butuh bahan pembakar cepat untuk uji coba pertama malam ini."

​"B-baik, Siap Bos!" seru Jin-Bao refleks. Entah kenapa, panggilan 'Bos' terasa sangat cocok dilontarkan pada anak kecil di depannya ini.

​Uji coba pembuatan baja mikro-karbon pertama mereka dilakukan saat tengah malam, ketika seluruh pemukiman Klan Cheon sudah terlelap dalam kegelapan.

​Di dalam gua rahasia, api membara sangat terang di dalam tungku batu buatan mereka. Asap tipis disalurkan keluar melalui celah bebatuan tebing agar tidak memicu kecurigaan pengawal patroli.

​Jin-Bao bertugas memompa kantong udara dari kulit kambing bekas dengan penuh keringat. Pipi gempalnya merona merah akibat paparan hawa panas yang luar biasa dari dalam tungku.

​"Panas banget, Ryeon! Ini beneran membara kayak neraka!" keluh Jin-Bao sambil terus memompa secara konsisten sesuai irama yang diinstruksikan Ryeon.

​Ryeon sendiri berdiri di depan mulut tungku dengan perlindungan kain basah yang melilit kedua tangannya. Matanya yang tajam mengamati perubahan warna lelehan logam di dalam wadah lempung.

​Dari merah bata... berubah jadi oranye terang... lalu perlahan mencapai warna kuning keemasan yang berkilau.

​"Sekarang! Masukkan campuran arang dan belerang racikanmu dalam jumlah sedikit!" seru Ryeon tegas.

​Jin-Bao dengan cekatan menggunakan sendok kayu panjang untuk memasukkan bubuk hitam racikannya ke dalam lelehan logam.

​CZZZZZ!

​Bunga api menyembur kecil. Reaksi kimia terjadi secara instan di dalam wadah. Karbon menyatu dengan molekul besi, mengikat struktur mikronya dan membuang kotoran-kotoran oksida yang mengapung ke permukaan.

​Dengan gerakan terlatih dan presisi biomekanika yang tinggi, Ryeon menyiramkan cairan pendingin alami berbasis racikan garam dan minyak wijen yang sudah disiapkan di samping tungku.

​PSSSSHHH!

​Uap putih membumbung tinggi membasahi udara gua yang pengap.

​Setelah suhu wadah menurun, Ryeon mengambil kepingan logam kecil hasil cetakan sederhana mereka menggunakan jepit kayu tebal. Kepingan logam itu berwarna abu-abu gelap dengan pola samar mirip urat air yang mengalir indah di permukaannya.

​Jin-Bao menghentikan pompanya dan mendekat dengan napas terengah-engah. "S-sudah selesai? Ini... baja buatan kita?"

​"Ini plat sampel," sahut Ryeon.

​Dia mengambil pisau besi biasa milik Jin-Bao—pisau kualitas murah yang dibeli dari pasar bawah—lalu menebaskan mata pisau itu dengan kuat ke arah plat baja mikro-karbon buatan mereka yang diletakkan di atas batu.

​TRANG!

​Suara benturan logam terdengar nyaring.

​Jin-Bao membelalakkan mata. Pisau besinya patah menjadi dua bagian, sementara plat baja buatan Ryeon sama sekali tidak tergores! Bahkan tak ada penyok sekecil apa pun di permukaannya!

​"G-gila..." bisik Jin-Bao histeris. "Pisauku patah?! Padahal kau tidak mengalirkan Ki sama sekali waktu memukul tadi!"

​"Itu kekuatan dari struktur molekul yang padat," jelas Ryeon sambil memandangi plat baja itu dengan puas. "Baja ini punya ketahanan empat kali lipat dibanding besi tempa standar Murim. Bukan cuma itu..."

​Ryeon memfokuskan seberkas Ki tipis dari Dantiannya, lalu menyalurkannya ke dalam plat baja tersebut.

​HUMMM...

​Plat baja itu bergetar halus, memancarkan dengungan jernih. Energi Ki mengalir di sepanjang permukaannya dengan sangat mulus tanpa hambatan, seolah-olah plat baja itu adalah perpanjangan dari meridian tubuh manusia.

​"Efisiensi konduksi Ki-nya naik empat puluh persen," gumam Ryeon pelan. "Senjata yang dibuat dari material ini bakal bikin penggunanya menghemat Ki dalam jumlah besar saat bertarung."

​Jin-Bao menatap kepingan baja itu dengan mata berbinar-binar. Sebagai anak buangan dari klan pembuat racun dan senjata, dia paham betul seberapa berharganya penemuan ini.

​"Ryeon!" seru Jin-Bao heboh, rasa takutnya mendadak menguap digantikan oleh kesadaran bisnis. "Kalo kita bikin pedang atau belati dari baja ini terus kita jual ke pasar gelap faksi Un-ortodoks di perbatasan... kita bisa kaya raya! Kita bisa beli beras, obat, bahkan menyewa rumah yang lebih bagus!"

​Ryeon menatap Jin-Bao dengan tatapan dingin yang langsung membuat anak gempal itu bungkam.

​"Jangan bodoh," kata Ryeon tenang. "Keluarga Cheon saat ini berada di urutan terbawah. Kalo seorang anak kecil dari klan bangkrut tiba-tiba menjual senjata berkualitas tinggi di pasar gelap, klan-klan besar seperti Klan Ma atau Klan Baek bakal langsung curiga."

​Jin-Bao menunduk, menyadari kecerobohannya. "T-terus... buat apa kita bikin ini sekarang?"

​"Buat memperkuat fondasi klan kita dari dalam secara diam-diam," jawab Ryeon. "Dan buat modal awal kelompok kita sendiri."

​Ryeon mengambil plat baja itu dan menyembunyikannya di dalam kantong kainnya.

​"Mulai esok hari," lanjut Ryeon menatap Jin-Bao lurus, "aku bakal mengajarkanmu cara mengendalikan sirkulasi Ki berbasis pemahaman fungsi saraf. Kau gak bisa terus-terusan jadi penakut yang cuma tahu memompa udara. Tubuhmu harus cukup kuat buat menahan beban saat kita mulai berekspansi."

​Jin-Bao meneguk ludahnya. Ada perasaan merinding sekaligus bersemangat yang membakar dadanya.

​Perlahan tapi pasti, di bawah petunjuk Cheon Ryeon, kehidupan mereka berdua bukan lagi sekadar tentang bertahan hidup dari penindasan... melainkan tentang bagaimana cara merebut kembali seluruh dunia yang telah membuang mereka.

1
Scorpy
mencoba baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!