Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawah Pengawasan Sang Ketua
Tangis Alea pecah seketika di dalam toko bunga. Jemarinya gemetaran hebat hingga ponsel di genggamannya hampir terjatuh. Bayangan ketakutan akan keselamatan Azka melumpuhkan seluruh akal sehatnya.
Alea menangis dan tanpa berkata apa pun segera menuju ke lokasi yang diberikan. Untuk pertama kalinya, dia menggunakan mobil yang diberikan oleh Adrian karena hanya mobil inilah yang bisa membawanya ke sana. Tidak mungkin dengan sepeda karena lokasinya yang cukup jauh di pinggiran laut. Dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, Alea menancap gas, membelah kemacetan kota dengan satu tujuan: menyelamatkan putra kecilnya.
Sementara itu, helikopter dan jet pribadi Adrian telah mendarat darurat di titik terdekat. Adrian dan Rian segera menuju ke lokasi juga dengan iringan mobil taktis hitam yang melaju dalam kecepatan tinggi. Tatapan mata Adrian begitu dingin dan mematikan, mengisyaratkan bahwa siapa pun yang menyentuh anaknya hari ini harus membayar harga yang sangat mahal.
Di dalam gedung tua yang berbau amonia dan garam laut itu, suasana terasa teramat mencekam.
Angin pantai berhembus kencang melewati celah-celah dinding beton yang retak. Di tengah ruangan yang lembap, Azka diikat di kursi kayu. Obat tidurnya telah habis bereaksi, menggantikannya dengan rasa takut yang luar biasa. Air mata terus menetes dari mata bulat bocah kecil itu.
Azka menangis memanggil sang ibu. "Ibuuu... hiks... Ibuu... Azka mau pulang..."
"DIAMMMM, anak haram!" bentak Mama Adrian dengan suara melengking yang menggema keras di seluruh ruangan.
Wanita paruh baya itu melangkah mendekati Azka dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa benci dan dendam. Keangkuhannya sebagai nyonya besar telah menutup nuraninya rapat-rapt.
"Hari ini ibumu akan mati di depanmu!" ucap Mama Adrian tajam, menatap ke arah pintu masuk gedung tua tempat bayangan mobil Alea mulai terlihat mendekat dari kejauhan.
Azka makin tergugu panik, berusaha memberontak dari ikatan tali di tangannya yang halus saat deru mesin mobil Alea akhirnya berhenti tepat di depan gedung.
Deru mesin mobil taktis hitam milik Adrian berdecit keras saat berhenti di balik semak-semak tebal, hanya beberapa puluh meter di belakang gedung tua itu.
Adrian dan anak buahnya sampai di lokasi persis saat suara jeritan ketakutan Azka terdengar membumbung tinggi melewati celah dinding beton yang lapuk. Tangisan histeris putra kecilnya itu seketika membuat rahang Adrian mengeras rapat, dengan mata yang memancarkan kilatan kejam nan mematikan.
Disusul mobil Alea yang berhenti di pelataran depan dengan pengereman mendadak. Alea melompat keluar dari mobil dengan wajah pucat pasi dan mata yang sembap akibat terus menangis.
Begitu melihat Adrian dan Rian bersiap mendobrak masuk bersama para pengawal bersenjata, Alea langsung menahan lengan Adrian.
"Adrian, biar aku yang masuk terlebih dahulu!" ucap Alea dengan suara bergetar namun penuh penegasan.
Adrian menoleh, menatap Alea dengan alis bertaut tajam. "Tidak, Alea! Di dalam sangat berbahaya!"
"Jika tidak, mereka akan menyakiti Azka!" ucapnya lagi, memohon dengan tatapan mata yang dipenuhi ketakutan seorang ibu. "Mamamu menyuruhku datang sendirian. Jika dia melihatmu atau pengawalmu, dia bisa nekat berbuat hal buruk pada Azka!"
Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat. Menyadari risiko tinggi bagi keselamatan Azka jika sang mama merasa terdesak, Adrian akhirnya mengangguk pelan. "Masuklah... tapi ingear, aku tepat di belakangmu."
Sesuai kesepakatan, Benar saja, Alea masuk terlebih dahulu melewati pintu kayu yang lapuk.
Suasana di dalam gedung terasa begitu dingin dan mencekam. Di tengah ruangan, Azka yang terikat di kursi kayu makin histeris begitu melihat sosok ibunya. "Ibuuu... hiks... Ibuu!"
"Azka!" jerit Alea, hendak berlari menghampiri putranya.
"Jangan bergerak satu langkah pun!" bentak Mama Adrian dari samping kursi Azka, didampingi dua pria berbadan tegap yang memegang pipa besi.
Mama Adrian melangkah mendekat dua tapak, menatap Alea dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan hina dan penuh kebencian. Untuk pertama kalinya, sang mama melihat langsung rupa wanita yang telah membuat putranya membangkang.
"Ohhh... jadi kamu wanita jalang yang meniduri Adrian empat tahun lalu?" tanya Mama Adrian dengan nada dingin menusuk yang menggema di seluruh sudut gedung tua tersebut.