Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Nadia terdiam lama. Ia menatap map di tangannya, lalu menatap Reyna. Untuk pertama kalinya, gadis itu melihat sesuatu di mata sang CEO. Bukan arogansi seorang pewaris tahta, melainkan ketenangan seorang komandan yang tahu persis apa yang sedang ia perjuangkan.
"Kenapa?" tanya Nadia akhirnya, suaranya bergetar. "Kenapa memberiku kesempatan ini? Orang-orang di perusahaan ini sudah menyalakku, menyebutku pengkhianat. Karirku sudah hancur."
"Karena berlian tidak kehilangan nilainya hanya karena ia sempat terinjak lumpur," jawab Reyna lembut, namun tegas. "Selain itu... aku berutang padamu. Dan aku tidak suka memiliki utang."
Nadia menunduk, membiarkan satu tetes air mata jatuh membasahi map biru di tangannya. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menegakkan punggungnya. Tatapan waspada di matanya perlahan berubah menjadi api determinasi yang sama yang pernah Reyna lihat di kehidupan sebelumnya, sebelum api itu dipadamkan oleh kekejaman dunia.
"Baik," ucap Nadia, suaranya kini mantap. "Saya terima. Tapi ada satu syarat."
Reyna mengangkat alis. "Apa itu?"
"Berikan saya akses penuh ke server pribadi Tuan Richard di mansion-nya. Jika kita ingin membersihkan perusahaan ini sampai ke akar-akarnya, kita harus tahu di mana dia menyembunyikan dokumen fisik yang tidak bisa ia masukkan ke dalam sistem digital."
Reyna tersenyum. Senyum bangga yang tulus. "Akses akan diberikan malam ini juga. Selamat bekerja, Kepala Divisi Nadia."
Setelah Nadia keluar dari ruangan dengan langkah yang jauh lebih ringan, Reyna menyandarkan punggungnya di kursi. Beban di dadanya yang sudah ia bawa selama lima tahun di kehidupan sebelumnya, rasa bersalah atas kematian Nadia akhirnya terangkat sedikit.
Namun, kebahagiaannya tidak bertahan lama.
Pintu ruangan terbuka kembali. Maya masuk dengan wajah serius, membawa sebuah tablet.
"Nona Reyna, maaf mengganggu. Ada perkembangan yang perlu Anda ketahui," ucap Maya, meletakkan tablet di atas meja Reyna. Layar itu menampilkan foto hasil jepretan kamera pengintai jarak jauh.
Foto itu menunjukkan Richard Arland sedang duduk di sebuah paviliun VIP di klub golf eksklusif. Ia tidak sendirian. Di hadapannya, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut perak yang disisir rapi, mengenakan setelan jas seharga mobil sport.
Reyna menatap wajah pria itu, dan darahnya seolah membeku.
Adrian Blackwood. Patriark dari Blackwood Group, konglomerat saingan yang kejam dan tanpa ampun. Di kehidupan sebelumnya, Adrianlah yang membeli sisa-sisa Arland Group dengan harga murah setelah Reyna dimasukkan ke rumah sakit jiwa, dan kemudian menghancurkan nama keluarga Arland hingga ke tanah.
"Tuan Richard terlihat sangat putus asa saat bertemu dengan Tuan Adrian," lapor Maya. "Mereka berduaan di sana selama satu jam. Pengawal kami tidak bisa mendekat untuk menyadap percakapan mereka."
Reyna menatap foto itu, matanya menyipit berbahaya. Richard telah kehilangan perusahaannya, namun ia belum kehilangan koneksi lamanya. Dan Adrian Blackwood adalah serigala yang selalu mengincar bangkai.
"Richard tidak akan diam saja," gumam Reyna, jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu mahoni itu. "Dia sedang mencari senjata untuk membunuhku. Bagus. Biar dia mencari."
Reyna menatap Maya. "Siapkan mobilku. Malam ini, kita punya tamu tak diundang yang perlu kita sambut. Aku ingin tahu seberapa dalam lubang cacing yang sedang digali oleh Papa dan Tuan Blackwood."
***
Mobil hitam mengkilap milik Reyna meluncur mulus melewati jalanan malam yang sepi, membelah kawasan elit di pinggiran kota yang dipenuhi oleh tembok-tembok tinggi dan pagar besi berukir. Di kursi belakang, Reyna menatap ke luar jendela, membiarkan bayangan lampu jalan menari di wajahnya yang tak menunjukkan emosi.
Di sampingnya, Maya sedang memeriksa ulang senjata api yang terselip di balik jaketnya, sementara Vincent sibuk mengetik di tabletnya, memastikan semua dokumen legal sudah siap.
"Laporan dari Nadia baru saja masuk," ucap Vincent, memecah keheningan. Suaranya terdengar tegang namun antusias. "Timnya sudah berhasil membobol server fisik di ruang kerja Richard di mansion. Mereka menemukan brankas tersembunyi di balik lukisan. Isinya adalah draf perjanjian jual-beli saham."
Reyna mengalihkan pandangannya dari jendela. "Saham apa?"
"Dua puluh persen saham pribadi milik Richard atas nama Arland Group," jawab Vincent, menelan ludah. "Dia berencana menjual seluruh sahamnya malam ini kepada Adrian Blackwood. Jika Blackwood Group mengakuisisi dua puluh persen itu, mereka akan menjadi pemegang saham minoritas terbesar. Dengan menggabungkan suara Richard dan Blackwood, mereka bisa memaksakan RUPSLB ulang dan menggulingkanmu dari kursi CEO."
Reyna tertawa pelan. Suara tawanya dingin, tanpa kehangatan. "Papa benar-benar putus asa. Dia lebih memilih menjual warisan keluarganya pada serigala yang akan melahap kita semua, daripada mengaku kalah pada putri kandungnya sendiri."
"Apakah kita harus menghentikan mobil, Nona? Kita bisa mengajukan injeksi pengadilan untuk membatalkan transaksi ini," saran Vincent.
"Tidak," tolak Reyna tegas. "Proses pengadilan memakan waktu. Richard akan menandatangani perjanjian itu malam ini di Estat Blackwood. Aku ingin menghancurkannya di tempat. Aku ingin dia melihat sendiri bagaimana harapannya diremukkan menjadi debu."