"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Kecil
Sejak awal minggu, pemandangan di gerbang utama kampus mendadak berubah total. Sedan hitam milik keluarga Grand Duke yang biasanya hanya terlihat sewaktu acara formal, kini setiap lagi terparkir di area khusus eksekutif. Matthew—pria yang selama ini dikenal sebagai 'Pangeran Kulkas' karena sikapnya yang teramat dingin dan tak tersentuh— sekarang rutin membawakan kantong kertas berisi sarapan hangat dan berjalan berdampingan di samping Evelyn.
Berita tentang kebersamaan mereka menyebar cepat. Baru kemarin sore kampus dihebohkan oleh kabar putusnya Evelyn dan Cedric Ashworth, kini satu angkatan makin dibuat geger melihat Matthew secara terbuka menggandeng tangan Evelyn, membawakan tas bukunya, hingga menemani gadis itu duduk di sudut kantin belakang yang biasanya sepi.
Evelyn menggigit bibir bawahnya, menatap cangkir latte hangat yang berada di atas meja kayu. Sensasi diperhatikan puluhan pasang mata sepanjang koridor tadi masih membuat pipinya terasa panas. Rasa canggung bercampur bingung berputar-putar di dalam kepalanya.
"Matthew..." bisik Evelyn pelan, memberanikan diri menatap pria di seberangnya.
Matthew yang sedang memutar poci kopinya mendongak. Mata keemasannya menatap Evelyn tenang. "Kenapa? Rotinya kurang enak?"
"Bukan rotinya," Evelyn menggeleng cepat, lalu memajukan sedikit duduknya agar suaranya tidak terdengar orang lain. "Sikap kamu beberapa hari ini... kenapa? Maksudku, semua orang di kampus sekarang membicarakan kita. Kamu yang biasanya tidak suka keramaian dan tidak pernah mau dekat dengan cewek mana pun, tiba-tiba begini."
Matthew tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, menatap raut wajah Evelyn yang dipenuhi rasa ragu dan malu. Di mata Evelyn, Matthew mungkin baru beberapa hari ini memperhatikannya. Evelyn tidak pernah tahu bahwa buat Matthew, keberadaan gadis di depannya ini adalah hasil dari perjuangan menyiksa selama delapan kali loop kehidupan.
"Aku sudah bilang, kan?" suara Matthew terdengar berat, tapi penuh kasih sayang yang tidak pernah ditunjukkan kepada siapapun, "Bukankah kamu pacarku sekarang, Evelyn."
"Aku tidak bilang iya kan?" Evelyn memalingkan wajahnya sebentar, menutupi rona merah di telinganya. "Lagian aku bingung. Kamu sebenarnya serius... atau cuma mau membantuku terlepas dari Cedric?"
Pertanyaan itu membuat tatapan mata Matthew perlahan tertuju pada Evelyn. Pria itu mengulurkan tangannya di atas meja, lalu menyelipkan jemarinya di antara jemari Evelyn yang agak dingin. Dan mencium tangannya.
"Kamu pikir aku punya waktu untuk berpura-pura cuma demi memberi pelajaran pada berandalan seperti Ashworth? Lagian aku denger kok Eve kamu udah bilang iya. Jadi kamu itu pacarku Eve." Matthew menatap mata Evelyn kemudian mencium lembut bibirnya. Awalnya Evelyn kaget tapi membalas ciuman lembut itu dan tersenyum manis. "Aku tidak pernah main-main, Evelyn. Kalau aku mengajakmu pacaran itu Eve, artinya aku serius."
Evelyn tersenyum malu-malu. Genggaman tangan Matthew terasa begitu hangat. Ada rasa nyaman disana dan membuat keraguan yang sempat membebani pikirannya perlahan sirna.
Tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki yang memecah keheningan area kantin belakang. Cedric Ashworth berdiri tak jauh dari meja sambil memendam emosi lantaran melihat Matthew mencium tangan Evelyn dengan mesra.
"Evelyn!" bentak Cedric dengan suara serak menahan amarah. "Maksud kamu apa, huh?! Memblokir nomorku, memutus ikatan begitu saja, dan sekarang malah bermesraan dengan pria lain?!"
Evelyn menarik napas panjang. Sebelum Evelyn sempat menjawab, Matthew sudah lebih dulu berdiri. Badannya yang tinggi tegap langsung memagari tubuh Evelyn dari pandangan Cedric, memancarkan aura dominasi khas Grand Duke yang sanggup membekukan atmosfer di sekitar mereka.
"Cedric," kata Matthew dingin. Suaranya tidak tinggi, tapi mengintimidasi sampai membuat beberapa mahasiswa di sekitar kantin langsung terdiam. "Sudah gak waras ya? Evelyn itu siapa mu?"
Cedric memandang sinis, meski matanya sempat melirik gelisah ke arah cengkeraman tangan Matthew di bahu Evelyn yang protektif.
"Matthew, kamu nggak usah sok jadi pahlawan!" seru Cedric, mencoba mempertahankan harga dirinya yang sudah jatuh. "Ini urusan Aku dan Evelyn, kamu itu cuma orang luar!"
"Orang luar?" Matthew terkekeh —sebuah tawa tanpa rasa humor yang membuat tengkuk Cedric meremang. "Siapa yang orang luar? Kamu yang sibuk mengejar Evelyn padahal statusmu itu sudah punya tunangan Cedric. Sedangkan aku ini pacar Evelyn. Orang luar darimana?"
Wajah Cedric mendadak pucat pasi. Rahasianya yang ditutup-tutupi selama ini mendadak dibuka di depan umum.
Evelyn maju satu langkah, berdiri sejajar di samping Matthew. Ia menatap Cedric lurus tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Matthew bukan orang luar, Cedric," tegas Evelyn dengan suara jernih dan tenang. "Dia pacarku sekarang. Kamu sudah punya tunangan kan? Berhenti ganggu aku dan balik sama tunanganmu sana!"
Cedric hendak melangkah maju dan meraih tangan Evelyn lagi, tapi Matthew bergerak lebih cepat. Pria itu menyambar kerah kemeja Cedric, menariknya sedikit ke atas hingga Cedric terpaksa berjinjit.
"Aku sudah cukup sabar melihatmu berkeliaran di sekitar Evelyn selama beberapa hari ini," bisik Matthew amat pelan di dekat telinga Cedric, tapi sarat akan ancaman berbahaya. "Sekali lagi kamu muncul di depannya, bukan cuma posisimu di kampus yang hilang... tapi seluruh aset keluarga Ashworth akan kuhancurkan sampai tak bersisa. Coba saja kalau berani."
Matthew menghempaskan kerah Cedric hingga pria itu terhuyung ke belakang dan hampir tersungkur. Tanpa memberi kesempatan Cedric untuk membalas, Matthew membalikkan badan, lalu menggenggam jemari Evelyn dengan erat.
"Ayo, Eve. Kelasmu sebentar lagi mulai," kata Matthew halus, mengubah nadanya dalam sekejap mata.
Evelyn mengangguk pelan. Sambil menggandeng tangan Matthew, ia melangkah meninggalkan Cedric yang berdiri mematung di tengah kantin dengan wajah merah padam dan nafas memburu.
Sepanjang koridor menuju ruang kelas, genggaman tangan Matthew terasa hangat. Evelyn melirik pria di sampingnya itu. Pangeran Kulkas yang dulu dianggap tak peduli pada sekitar, ternyata sanggup menjadi benteng paling aman yang pernah ia miliki.