NovelToon NovelToon
CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Ning sopiah

Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.

Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu

Tiga hari setelah lamaran itu diterima, dadaku masih berdebar setiap mengingat ucapan "Bismillah, saya setuju" dari Gus Azam.

Tapi satu hal yang belum selesai. Restu.

Akhirnya, dengan tangan gemetar, aku memberanikan diri menelepon Ibuku di Bandung.

_Tut... tut..._

"Assalamu'alaikum, Ibu, apa kabar? Ibu di Bandung sehat?"

"Wa'alaikumsalam... Alhamdulillah Teteh Sopi gimana di sana?" Suara Ibu yang lembut itu seketika membuat bendungan air mataku jebol.

"Alhamdulillah Teteh sehat, Bu... Bu, ada yang harus Teteh bicarakan, tapi punten ya Bu, Teteh bicarakan nya di telepon, ini mah ngadadak pisan Bu..."

Ibu di seberang sana langsung sigap, logat Sundanya keluar, "Eleh, aya naon? Ada apa Teteh? Jangan bikin Ibu khawatir, Neng."

Aku menarik nafas panjang, mengumpulkan semua keberanianku.

"Bu... Teteh dilamar Gus Azam, Bu. Di Jombang. Teh anak Alm. Kyai Kholil yang sekarang jadi pemimpin Pesantren Darunnajah, pesantren Teteh dulu, Bu."

Hening beberapa detik. Lalu terdengar isak tertahan.

"Masya Allah... Geuning deket jodoh Teteh teh... Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah, Teteh..." Suara Ibu bergetar hebat, antara bahagia dan kaget. "Ya Allah, Ibu mah tidak menyangka secepat ini. Jadi... jadi kapan Ibu harus ke Jombang, Neng?"

"Bu, mangga Teteh pesenin tiket kereta ya? Nanti Ibu sama Aa Hafidz langsung aja ke pesantren, nanti di stasiun Teteh jemput. Punten ya Bu, Teteh gak bisa ke Bandung dulu, soalnya waktunya mepet pisan, Bu."

"Iya Atuh gak apa-apa, Neng. Gak apa-apa. Justru Ibu jadi bisa main ke Jombang, lihat pesantren Teteh. Ibu Ridho, Neng. Ibu Ridho pisan. Yang penting Teteh bahagia."

"Bu... hatur nuhun ya Bu..." Air mataku tumpah. Alhamdulillah. Satu restu sudah aman.

Tinggal satu lagi. Wali ku.

Aku sambung telepon ke kakak lelaki ku satu-satunya, Aa Hafidz.

"Assalamu'alaikum Aa, apa kabar Aa?"

"Wa'alaikumsalam, Ade Aa nu geulis! Aa sehat! Gimana Sopi di Jombang, betah? Kapan pulang? Aa kangen."

Mendengar panggilan "Ade Aa nu geulis" itu, aku semakin sesak.

"Aa... Sopi teh mau izin... Ada yang ngelamar Sopi, Aa. Ini teh Gus Azam, pemimpin Pesantren Darunnajah setelah Kyai Kholil meninggal. Jadi Sopi teh bentar lagi mau nikah tapi di sini, di Jombang. Aa manawi Ridho kapayunan nikah na?"

"Ade..." Suara Aa Hafidz yang biasanya jail, kini terdengar sangat dewasa dan berat. "Sok, Geulis. Aa mah Ridho, ikhlas pisan. Nu penting mah Sopi bahagia. Kalau Sopi sudah yakin dia bisa menjaga Sopi seperti Aa menjaga Sopi selama ini, Aa mah tidak akan menghalangi."

"Alhamdulillah... Hatur nuhun pisan atuh Aa. Maaf atuh Sopi ngerepotin Aa. Enjing jajap Ibu ka Jombang sareng Aa jadi wali nikah Sopi ya? Bersedia Aa?"

Di seberang sana, Aa Hafidz terdiam, lalu menjawab dengan suara yang sangat tulus, "Insya Allah bersedia, Neng. Aa akan jadi wali untuk adik satu-satunya Aa yang paling cantik. Kamu yang tenang di sana ya, persiapkan diri jadi pengantin paling cantik se-Jombang."

Aku menangis. Kali ini tangis lega yang sesungguhnya. Ridho Ibu dan Aa Hafidz sudah aman.

Sore harinya, saat aku masih memeluk mukena dengan air mata haru, tiba-tiba ada ketukan lembut di pintu kamarku.

_Tok... tok... tok..._

"Assalamu'alaikum, Ndok, apa kamu ada di kamar?" Suara perempuan yang sangat aku kenal, lembut dan berwibawa.

"Wa'alaikumsalam, Ning Ummah, silahkan masuk, Ning."

Pintu terbuka. Ning Ummah masuk dengan gamis hitam dan cadar halusnya yang anggun. Meskipun wajahnya tertutup cadar, aku bisa merasakan senyumnya dari sorot matanya yang teduh.

"Ning Sopiah, gimana? Sudah menelepon Ibu dan kakaknya?" tanyanya sambil duduk di tepi ranjangku, persis seperti seorang kakak.

"Sudah, Ning," jawabku sambil mengusap air mata. "Alhamdulillah Ibu dan Aa Hafidz Ridho."

"Alhamdulillah," Ning Ummah yang bercadar itu mengangguk, matanya berkaca-kaca ikut bahagia. "Kalau begitu sekarang gimana kalau kita membicarakan konsep pernikahannya?"

Aku langsung menunduk malu, "Iya boleh Ning, maaf jadi merepotkan Ning Ummah."

"Oh tidak, Ndok. Mbak senang bisa terlibat. Ini amanah dari Almarhum Abah Kyai untuk Mbak."

Aku memberanikan diri mengutarakan isi hatiku yang paling dalam, "Ning Ummah, gimana kalau pernikahannya sederhana saja? Dihadiri keluarga inti dan santri, alumni, teman-teman saya saja... Saya tidak enak kalau harus mewah-mewah, Ning. Saya ini siapa..."

Ning Ummah yang bercadar itu langsung menggeleng dengan cepat. Tangannya yang lembut langsung menggenggam kedua tanganku yang dingin.

"Jangan begitu, Ning Sopiah," potongnya halus tapi tegas. "Ini bukan pernikahan sembarangan, Ndok. Ini pernikahan Gus Azam, pemimpin pesantren ini. Dan ini adalah pernikahan pertama dan terakhir juga untuk Ning Sopiah. Kita adakan pernikahan yang sewajarnya pernikahan di sini saja, ya? Agar tidak terkesan terburu-buru, agar semua santri bisa mendoakan. Kita serahkan semuanya ke WO saja, ya? Biar Ning Sopiah tidak capek. Ning Sopiah tinggal jadi ratu nya saja hari itu."

Aku tercekat. Ratu?

"Nggih, Ning... kalau seperti itu saya manut saja, Ning," jawabku lirih. Hatiku hangat sekali. Betapa dimuliakannya aku oleh keluarga ini.

Ning Ummah yang bercadar itu kemudian tertawa kecil, "Sudah, jangan nangis lagi. Besok kita fitting baju ya? Mbak sudah siapkan desainer dari Surabaya. Mbak ingin lihat Ning Sopiah yang tanpa cadar ini, dengan wajah cantiknya yang polos itu, bersinar di hari akadnya nanti."

Dan sore itu, di kamar kecilku yang sederhana, untuk pertama kalinya aku merasa... aku tidak sendirian lagi.

---Bersambunh---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!