NovelToon NovelToon
Putri Yang Dibuang

Putri Yang Dibuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.

​Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
​Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.

​"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."

​Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mentari Baru Dipagi Hari

"Selamat pagi, Nona," sapa Bik Sum ramah sambil masuk ke kamar Amara dengan membawa nampan berisi handuk hangat dan pakaian bersih. "Ayo saya bantu bersih-bersih, Nona."

Amara yang sudah terbangun sejak tadi langsung mendudukkan diri di tepi ranjang. Berkat alat bantu dengar baru pemberian Gabriel, suara langkah kaki dan sapaan Bik Sum terdengar begitu jelas di telinganya tanpa ada dengingan bising sedikit pun.

Ia tersenyum tipis dan mengangguk, lalu meraih buku catatan kecil di nakas untuk menulis balasannya.

“Selamat pagi, Bik Sum. Terima kasih bantuannya.”

Bik Sum membaca tulisan itu dengan senyuman hangat yang tak pernah pudar dari wajahnya.

"Sama-sama, Nona. Tidak perlu sungkan begitu. Mari saya bantu ke kamar mandi, air hangatnya sudah disiapkan."

Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian—mengingat luka bakar dan sayatan di punggung Amara yang masih dalam proses pemulihan—Bik Sum menuntun gadis itu.

Meski proses membersihkan diri terasa sedikit perih di bagian punggungnya, kehadiran Bik Sum yang sabar dan telaten membuat Amara merasa jauh lebih tenang. Setelah selesai, Bik Sum mengenakan pakaian baru berukuran pas yang lembut di kulit Amara—pakaian mewah yang kualitasnya jauh berbeda dengan gaun-gaun lusuh miliknya di mansion keluarga Valerie dulu.

"Nah, sekarang Nona ikut saya ya. Tuan Gabriel sudah menunggu di lantai bawah untuk sarapan bersama," ucap Bik Sum sambil merapikan rambut Amara.

Mendengar nama Gabriel, ada debaran halus yang menyelinap di dada Amara. Ia mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah Bik Sum keluar kamar menuju ruang makan utama.

"Sudah datang?" tanya Gabriel pelan, memastikan gerak bibirnya terbaca jelas oleh Amara.

Amara menghentikan langkahnya sejenak, meresapi kejernihan suara Gabriel yang kini bisa ia dengar tanpa gangguan sama sekali.

Ia mengangguk pelan, lalu berjalan mendekat dengan agak canggung diiringi senyuman ramah Bik Sum yang berdiri di belakangnya.

"Pagi, Tuan," ucap Bik Sum sopan sambil menunduk hormat.

Gabriel mengalihkan pandangannya pada sang asisten rumah tangga. "Terima kasih, Bik. Kau boleh melanjutkan

pekerjaanmu yang lain."

"Baik, Tuan," sahut Bik Sum, lalu berbalik meninggalkan ruang makan.

Gabriel kembali menatap Amara, lalu menarikkan kursi tepat di sebelah kanannya untuk gadis itu.

"Duduklah di sini, Amara."

Amara duduk perlahan, menatap meja makan yang sudah dipenuhi berbagai menu sarapan bergizi tinggi—mulai dari sup hangat, roti panggang lembut, hingga segelas susu segar yang mengepulkan uap tipis.

"Bagaimana tidurmu semalam? Apakah alat bantu pendengarnya membuatmu terganggu?" tanya Gabriel dengan intonasi lembut, kontras dengan auranya yang dominan dan tato mawar di lehernya.

Amara menggeleng cepat. Ia meraih buku catatan kecil yang selalu ia bawa di pangkuannya, lalu mulai menuliskan jawabannya dengan buru-buru.

"Baru ini, aku merasakan tidur nyenyak," tulis Amara di buku catatan kecilnya dengan jemari yang sedikit gemetar, lalu menyodorkannya ke hadapan Gabriel.

Gabriel membaca tulisan itu dalam diam. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang melembutkan garis rahang tegasnya.

"Baguslah kalau begitu," ujar Gabriel lembut dengan artikulasi

yang sangat jelas. "Mulai sekarang, tidak akan ada lagi malam-malam buruk untukmu."

Amara menatap pria di sampingnya itu dengan mata berbinar. Hangat menjalar di dadanya, menghapus sisa-sisa rasa takut yang selama ini membeku.

"Sekarang, makanlah sarapanmu sampai habis," ucap Gabriel sambil mendorong piring berisi sup hangat dan roti panggang mendekat ke arah Amara. "Kau harus memulihkan tenaga secepatnya."

Amara mengangguk patuh. Ia mulai menyendok makanannya, menikmati setiap suapan dengan rasa tenang yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

1
Rahmat
ayah dan ibu tiri lucknat masih gak nyadar y di penjara baru tau rass ciuh😠
Rahmat
bahagiax jd istri moga sukses ritualx🤭
Rahmat
lanjut thor
Rahmat
saking traumax sering dpt kekerasan fisik dan hinaan mpai suarax pun tdk kedengaran
Rahmat
lanjut thour ceritax bagus
Iffanaya 😽
belum sah ya Gabriel udah di klaim jd istri 🤣🤣
Soraya
lanjut
Fitria Syafei
semangat KK 👌 KK cantik kereen 😍 kereen 😍
Soraya
mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!