Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Pilihan yang Tidak Bisa Ditawar
Reza masuk ke ruang rapat markas dengan langkah yang terlalu rapi untuk orang yang baru saja meninggalkan rumah aman di bukit. Seragamnya rapi, sepatu mengilap, wajah datar seperti biasa. Tapi di balik dada, ada ketegangan yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.
Dia sudah menerima tiga pesan dari pengawal di rumah putih sejak pagi. Semua berstatus aman. Aira masih di dalam. Tidak ada pergerakan mencurigakan. Tapi pesan singkat dari nomor tidak dikenal yang Aira teruskan padanya masih tersimpan di ponsel—pesan Arya yang terlalu tenang untuk tidak dianggap ancaman.
Kolonel Harun sudah menunggu di ujung meja panjang. Pria berusia lima puluhan itu tidak menyuruh Reza duduk. Hanya menatapnya dengan mata tajam yang sudah hafal setiap alasan bawahan yang mencoba mengelak.
“Laporan,” kata Kolonel singkat.
Reza berdiri tegak. “Target utama organisasi hitam, yang selama ini kita kejar, sudah dikonfirmasi berada di wilayah barat. Nama yang dipakai di lapangan, Arya. Dia sempat melakukan kontak langsung dengan aset yang kita lindungi dua hari lalu. Saat ini aset berada di lokasi aman milik keluarga saya, dengan pengamanan penuh.”
Kolonel Harun mengetuk jari di meja. “Aset. Kamu masih memakai kata itu?”
Reza tidak menjawab.
“Duduk,” perintah Kolonel akhirnya. Suaranya rendah, tapi ruangan seolah menyusut. Reza duduk. “Saya sudah membaca laporan tidak resmi. Kamu memindahkan perempuan itu tanpa prosedur. Memakai sumber daya keluarga untuk menyembunyikannya. Menolak rotasi ke perbatasan yang sudah saya setujui minggu lalu. Dan sekarang kamu datang ke sini dengan wajah seolah semua itu wajar.”
“Perbatasan butuh personel tambahan, saya tahu,” kata Reza tenang. “Tapi situasi di sekitar Aira—”
“Aira.” Kolonel memotong. “Bukan aset. Bukan target. Aira... Kamu sudah terlalu dalam, Letnan.”
Reza menatap lurus ke depan. “Saya meminta izin resmi untuk tetap bertugas sebagai pengamanan utama terhadap dirinya sampai ancaman Arya netral.”
“Ditolak.” Kata itu jatuh datar. Reza tidak berkedip.
Kolonel membuka folder di depannya. “Unitmu dibutuhkan di sektor perbatasan utara dalam empat puluh delapan jam. Ada pergerakan kelompok bersenjata yang memanfaatkan kekosongan. Kamu salah satu perwira lapangan terbaik yang saya punya untuk medan seperti itu. Saya tidak akan menyia-nyiakanmu untuk menjaga satu perempuan, meski perempuan itu ternyata ahli waris yang rumit.”
Reza menarik napas pelan. “Aira Hadi bukan sekadar ahli waris. Dia adalah kunci yang Arya kejar. Jika Arya berhasil mengambilnya, organisasi itu akan mendapatkan sumber daya yang cukup untuk bertahan bertahun-tahun. Ini bukan urusan pribadi, Kolonel. Ini masih dalam lingkup operasi kita.”
“Urusan pribadi atau tidak, kamu sudah membuatnya menjadi pribadi.” Kolonel menutup folder dengan keras. “Saya dengar dari orang dalam bahwa kakekmu ikut campur. Ada wasiat. Secara tidak langsung... kamu terikat dengan perempuan itu. Saya tidak peduli dengan drama keluarga kaya. Saya hanya peduli dengan rantai komando. Dan rantai itu bilang kamu pergi ke perbatasan.”
Reza tidak berdiri. Dia tetap duduk dengan bahu tegak. “Saya tidak bisa pergi.”
Keheningan yang mengikuti kalimat itu hampir menyakitkan. Kolonel Harun menatapnya lama, seolah baru pertama kali melihat letnan di depannya. “Ulangi.”
“Saya tidak bisa meninggalkan Aira saat ini. Arya sudah mengirim pesan langsung kepadanya pagi ini. Pengintaian sudah sampai ke jendela kamarnya. Jika saya ditarik ke perbatasan, celah itu akan dimanfaatkan dalam hitungan jam.”
Kolonel berdiri, berjalan mengelilingi meja, lalu berhenti di samping Reza. “Kamu menolak perintah langsung?”
“Saya meminta penundaan. Atau pengganti yang saya percaya untuk mengawasi lokasi. Bukan orang acak dari unit lain.”
“Kamu tidak dalam posisi meminta.” Suara Kolonel turun lebih rendah. “Saya sudah menutup mata terlalu lama karena hasil kerjamu bagus. Tapi ini sudah melewati batas. Kalau kamu bersikeras, saya akan catat sebagai pembangkangan. Konsekuensinya tidak main-main, Letnan.”
Reza mengangkat wajah, menatap atasannya untuk pertama kali sejak duduk. “Catat saja. Tapi saya tetap tidak akan pergi ke perbatasan sementara Aira masih menjadi target utama Arya. Saya akan selesaikan laporan ini, lalu kembali ke lokasi. Jika itu berarti saya harus menerima sanksi, saya terima.”
Kolonel Harun terdiam cukup lama. Di luar jendela ruang rapat, suara latihan tembak samar terdengar. Akhirnya pria tua itu kembali ke kursinya, duduk berat.
“Kamu tahu apa yang kamu lakukan?” tanyanya, kali ini lebih pelan. “Karier. Nama baik. Kepercayaan atasan. Semua bisa habis karena satu orang.”
“Saya tahu.” Reza tidak mengalihkan pandangan. “Saya juga tahu bahwa jika Aira jatuh ke tangan Arya, kita akan kehilangan lebih dari sekadar satu aset. Kita akan kehilangan peluang untuk membongkar seluruh jaringan mereka. Saya sudah terlalu dekat dengan kasus ini untuk meninggalkannya di tengah jalan.”
Kolonel mengusap wajah. “Kakekmu menekan dari atas, ya?”
“Kakek saya hanya meminta saya menjaga nyawanya. Keputusan untuk menolak rotasi adalah milik saya.”
“Keputusan yang bodoh.”
“Mungkin.”
Kolonel Harun menatapnya lama, lalu menghela napas panjang. “Baik. Saya beri waktu tujuh puluh dua jam. Karena saya masih butuh kepalamu yang dingin di lapangan. Dalam tiga hari, kamu harus memberi saya hasil nyata soal Arya. Lokasi. Gerakan. Titik lemah. Kalau tidak, kamu berangkat ke perbatasan tanpa tawar-menawar. Dan catatan pembangkangan ini tetap saya simpan.”
Reza berdiri, memberi hormat. “Saya mengerti.”
“Satu lagi,” kata Kolonel sebelum Reza berbalik. “Jangan sampai perempuan itu membuatmu lupa bahwa kamu masih tentara. Bukan pengawal pribadi keluarga Hadi.”
Reza hanya mengangguk, lalu keluar dari ruang rapat.
Koridor markas terasa lebih panjang dari biasanya. Dia berjalan menuju area parkir sambil mengeluarkan ponsel. Ada dua pesan baru dari pengawal di rumah putih: Aira makan siang, kondisi stabil, tidak ada kontak mencurigakan. Tapi pesan Arya pagi tadi masih terasa seperti duri.
Reza menekan nomor Aira. Diangkat setelah tiga nada.
“Reza,” suara Aira datar di seberang. “Laporanmu selesai?”
“Belum sepenuhnya. Tapi saya akan kembali sebelum malam.” Dia berhenti di dekat mobil dinas. “Arya sudah menghubungimu lagi?”
“Belum. Hanya pesan pagi tadi. Saya tidak membalas.”
“Jangan balas. Jangan buka pintu. Jangan dekat jendela.”
Aira terdiam sejenak. “Kamu dimarahi, ya?”
Reza hampir tersenyum. “Terlihat?”
“Suaramu. Lebih kaku dari biasanya.” Ada jeda singkat. “Kalau mereka memaksamu pergi jauh, pergi saja. Saya tidak akan lari. Dan saya tidak akan mati hanya karena kamu tidak di sini.”
“Saya tidak pergi jauh,” jawab Reza tegas. “Saya sudah bilang pada atasan. Tiga hari. Setelah itu kita lihat.”
“Tiga hari untuk menangkap Arya?”
“Tiga hari untuk membuatnya tidak lagi menjadi ancaman bagimu.”
Aira tidak langsung menjawab. Di latar belakang, Reza bisa mendengar suara angin dan langkah pengawal yang jauh. “Hati-hati di jalan pulang. Jangan sampai atasanmu benar-benar mencabut pangkatmu hanya karena saya.”
“Pangkat bisa diganti. Kamu tidak.”