Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Pagi harinya, sinar matahari yang lembut telah menyusup dari sela-sela gorden kamar. Saat Aruni perlahan membuka kelopak matanya, sensasi hangat menyapa tubuhnya. Namun, matanya seketika membelalak lebar, ia terkejut setengah mati mendapati Edgar tidur tepat di sampingnya, dengan lengan kekar melingkar erat di pinggangnya.
Panik luar biasa membakar benak Aruni. Ia buru-buru menepis tangan Edgar dan langsung terlonjak dari tempat tidur. Wajahnya pucat pasi ketakutan, persis seperti raut penuh trauma tujuh tahun lalu saat peristiwa malam naas itu terjadi.
Edgar, yang baru saja bisa memejamkan matanya dua jam lalu akibat kelelahan menahan gejolak hasrat prianya, terbangun kaget melihat kepanikan Aruni.
"Tuan... Kenapa anda bisa ada di kamarku?!" cecar Aruni dengan napas memburu.
Edgar mengusap wajahnya, lalu duduk tegak berusaha menenangkan wanita itu. "Tenang Aruni... Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan. Semalam kau ketakutan setengah mati saat lampu padam dan petir menyambar. Di saat aku hendak pergi setelah menenangkan mu, kau sendiri yang menggenggam tanganku dan memohon agar aku tidak pergi..."
Deg!
Seketika memori samar semalam melintas di benaknya. Rasa malu yang teramat sangat menyergap Aruni. Rasanya ia ingin menghilang ditelan bumi saat ini juga.
"K...kalau begitu... aku ingin pulang!" sahut Aruni gagap dan serba salah tingkah. "Maaf karena semalam aku s...sudah merepotkan Tuan..." bisiknya sambil meremas-remas kedua tangannya sendiri.
Melihat tingkah lugu dan rona merah di pipi Aruni, senyum geli mengembang di bibir Edgar. Rasa lelahnya hilang seketika digantikan semangat hangat di pagi hari.
"Sebaiknya kamu mandi dulu dan kita sarapan bersama. Setelah itu, aku antar kamu dan anak-anak pulang," ujar Edgar lembut.
Aruni cepat-cepat mengangguk, lalu berlari kecil menuju kamar mandi. Edgar tertawa pelan mengagumi kepolosan wanita yang dicintainya itu, sebelum akhirnya bangkit menuju kamarnya sendiri di seberang koridor untuk membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi, Aruni bersandar di tepi wastafel sambil menatap tajam pantulan dirinya di cermin. Rasa hangat dan malu membakar sekujur tubuhnya saat teringat bagaimana ia memeluk pinggangnya Edgar begitu erat semalam.
"Kenapa aku bisa sebodoh ini?!" bisiknya merutuki dirinya sendiri seraya menepuk-nepuk pelan kedua pipinya yang panas. "Meminta Tuan Edgar menemaniku semalam... Kau seperti sedang menggodanya, Runi! Ish, memalukan sekali!"
Aruni memejamkan matanya rapat-rapat, meratapi sikap impulsifnya semalam yang kini justru meruntuhkan seluruh pertahanan dingin yang sudah ia bangun susah payah di depan pria itu.
*
*
Selesai sarapan pagi di vila, Aruni dan si kembar pamit kepada Tuan Fernando. Sebenarnya, ada rasa enggan di hati pria tua itu untuk melepas mereka; Tuan Fernando sangat ingin memboyong Aruni serta kedua cucu kembar jeniusnya untuk tinggal bersama di kediaman mewah Ganendra di Jakarta. Namun, ia sadar segalanya kini bergantung pada perjuangan putra tunggalnya. Mampukah Edgar meluluhkan hati Aruni hingga wanita itu sudi menjadi menantunya?
Edgar lantas mengantarkan Aruni, Rayyan, dan Zayyan kembali ke rumah Bik Sumi. Begitu mobil mewah itu berhenti di pekarangan, Aruni langsung merasa canggung. Ia menyadari tatapan ingin tahu dari beberapa tetangga sekitar yang mulai memperhatikan.
"Tuan, sebaiknya Anda kembali saja ke vila. Biar anak-anak aku saja yang mengantar ke sekolah," ujar Aruni pelan seraya melirik situasi sekeliling.
Si kembar yang peka paham betul bahwa kepulangan mereka bisa memicu gosip yang bukan-bukan tentang sang bunda. Tak ingin ibunya dipandang miring, Rayyan sengaja mengeraskan suaranya.
"Terima kasih ya, Ayah! Nanti jadi kan, setelah pulang sekolah kita jalan-jalan?" panggil Rayyan lantang, menegaskan status pria gagah di hadapan mereka agar terdengar oleh para tetangga.
Sementara itu di dalam rumah, Bik Sumi dan Larasati diam-diam mengintip dari balik tirai gorden jendela ruang tamu.
"Laras... jadi itu Ayah kandungnya si kembar? Oalah... gantengnya gak ada obat! Pantas saja si kembar beda dari anak-anak kampung sini, toh bibitnya model begitu!" bisik Bik Sumi takjub.
Larasati terkekeh geli mendengar celetukan ibunya. "Ibu ini ada-ada saja!"
"Lah, bener toh, Nduk? Nanti kalau bisa kamu juga cari pria yang modelannya seperti itu, biar anakmu tidak ireng!" tambah Bik Sumi santai.
Larasati menyipitkan mata. "Ish, Ibu apaan sih? Apa maksudnya coba hubungannya anak ireng sama pria tampan seperti Tuan Edgar?"
"Yaelah, kamu itu tidak ngerti-ngerti, Nduk. Istilahnya itu memperbaiki keturunan! Ibu perhatikan sampai sekarang kamu tidak pernah kelihatan dekat sama pria. Kenapa, Nduk?" tanya Bik Sumi penasaran.
Deg!
Pertanyaan sederhana itu mendadak mengunci rapat bibir Larasati. Hatinya yang terlanjur terkunci rapat untuk seseorang membuatnya tak berani mengutarakan kejujuran.
‘Mas Rama yang sudah membuat Laras seperti ini, Bu... Laras suka sama Mas Rama, tapi sepertinya cintaku bertepuk sebelah tangan. Aih... dasar nasib!’ keluh Larasati pilu di dalam hatinya.
Di luar, Edgar akhirnya berpamitan dan melaju pergi meninggalkan Aruni dan si kembar dengan berat hati.
Si kembar bergegas bersiap dan berangkat ke sekolah. Siang harinya, sekitar pukul sebelas, jam pelajaran berakhir. Di rumah, Aruni yang kelelahan sempat tertidur pulas di kamarnya, membuat Bik Sumi dan Laras tak tega membangunkannya.
Saat si kembar keluar dari pintu gerbang sekolah, mereka terkejut melihat mobil mewah milik Edgar sudah terparkir rapi di samping gerbang. Kehadiran Edgar dengan setelan jas rapinya seketika menjadi pusat perhatian dan buah bibir rombongan wali murid yang sedang menjemput anak-anak mereka.
"Eh, siapa pria itu? Kok rasanya baru lihat? Mana gantengnya gak ada obat, benar-benar pria matang idaman!" bisik salah satu ibu-ibu yang betah berdiri memandangi pemandangan langka tersebut.
Rayyan dan Zayyan melambaikan tangan dengan riang. "Ayah!" teriak mereka kompak.
Edgar merentangkan kedua tangannya, menyambut dan memeluk erat kedua putra kembarnya. "Baru beberapa jam saja Ayah tidak ketemu kalian, kok sudah kangen begini ya?" ucap Edgar tulus.
Rayyan menyunggingkan senyum jahil. "Terus kalau sama Bunda... kangen tidak?"
Pertanyaan polos itu seketika membuat seorang Edgar Ganendra tersipu malu di depan publik. Pria tegas itu mengulum senyumnya. "Ya... kangenlah!"
"Cieee Ayah! Kangen terus nih sama Bunda!" goda Zayyan sambil tertawa cekikikan.
"Sudah, kalian hobi sekali menggodaku... Dasar menyebalkan!" balas Edgar salah tingkah, menyerah menghadapi kelakuan dua putra kecilnya yang hanya bisa tertawa riang melihat kepanikan sang ayah.
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..
jangan sampai seperti 7tahun yg lalu..
kamu baru memulai nya jangan di buat kacau hanya karena ular pyton mu tegak..🤭🤭
genjar terus Edgar s aruni nya soalnya s Rama juga suka n kamu ada saingan nya🤣🤣🤣
s kembar emang is the best deh
kamu aja kalah sama anak mu Edgar 🤣