Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan dan Pelindungan
Setibanya di rumah, Reyhan langsung meminta Aira masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Sementara itu, Dinda berjalan menuju ruang tengah membawa dua gelas sirup dingin untuk suaminya.
"Tadi sewaktu ke sekolah Aira, ada kejadian apa sebenarnya?" tanya Reyhan seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
Dinda duduk di samping suaminya. "Tadi jadwal memeriksa kesehatan sekolahnya Aira, Mas. Aku tidak sengaja melihat Aira hampir dipukul oleh temannya."
Reyhan menghela napas berat, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Aku benar-benar tidak tahu kalau selama ini Aira mengalami hal seburuk itu di sekolah."
Dinda menatap suaminya dengan rasa iba. Beban yang dipikul Reyhan tidaklah sedikit mengurus perusahaan, menjaga keluarga kecil mereka, dan kini mendapati adik perempuan satu-satunya menjadi korban perundungan. Sejak papa mereka pergi, Reyhan memang sudah mengambil alih peran sebagai kepala keluarga bagi Bu Windy dan kedua saudara perempuannya.
"Kepala Sekolah bilang Vina dan Aira memang sering terlibat cekcok. Tapi kali ini, tindakan Vina sudah masuk kategori kekerasan fisik. Mas tidak bisa membiarkannya," ujar Reyhan dengan rahang mengeras.
"Aira tidak pernah bercerita padamu, Mas?"
"Sama sekali tidak. Setiap kali aku masuk ke kamarnya, dia selalu terlihat sibuk belajar atau bermain laptop. Di depan kita dia selalu ceria, tapi ternyata..." Reyhan tidak melanjutkan kalimatnya, rasa bersalah terpancar jelas dari matanya.
Tak lama kemudian, Aira keluar dari kamar setelah berganti pakaian santai. Ia mengekor di belakang Mamanya yang membawa nampan berisi camilan menuju ruang tengah.
"Aira, Abang mau bicara," buka Reyhan langsung ketika adiknya duduk di sofa seberang. "Kenapa selama ini kamu tidak pernah cerita kalau sering diganggu di sekolah?"
Bu Windy yang baru mendengar hal itu langsung terkejut. "Ya Allah, Nak... Apa itu benar? Kenapa kamu menyembunyikannya dari Mama?"
Aira hanya menggidikkan bahu, mencoba terlihat tegar. "Untuk apa bercerita? Aira masih bisa mengatasinya sendiri, Bang."
"Mengatasinya sendiri dengan cara baku hantam begitu?" nada suara Reyhan meninggi. "Tindakan temanmu itu sudah hampir kelewat batasan, Aira! Abang merasa gagal menjagamu kalau begini caranya."
"Aku tidak apa-apa, Bang. Abang sudah menikah dan punya tanggung jawab sendiri. Selama aku masih bisa tahan, aku akan hadapi sendiri," balas Aira defensif.
"Nak... kamu masih punya Mama. Kalau kamu sungkan mengganggu abangmu, setidaknya ceritalah pada Mama," ucap Bu Windy seraya memeluk bahu putri bungsunya.
"Bagaimana keputusanmu sekarang, Rey?" tanya Bu Windy beralih pada anak laki-lakinya.
Reyhan menatap Aira lurus-lurus. "Aira, bagaimana kalau kamu Abang pindahkan ke homeschooling saja?"
"Homeschooling?!" Aira terperanjat. Bukan hanya Aira, Bu Windy dan Dinda pun ikut terkejut mendengar opsi ekstrem dari Reyhan.
"Abang tidak mau keselamatanmu terancam di sekolah itu. Kamu bisa fokus belajar di rumah, dan nanti baru kembali ke lingkungan sosial saat kuliah," jelas Reyhan tegas.
Aira menggeleng cepat, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Aira tidak mau homeschooling, Bang! Aira mau tetap sekolah biasa!"
"Kembali ke sekolah itu? Kamu pikir Abang bisa tenang membiarkanmu diperlakukan seenaknya di sana tanpa ada guru yang peduli? Atau Abang harus membawa kasus perundungan ini ke jalur hukum sekalian?!" sentak Reyhan, luapan amarahnya tak lagi bisa dibendung.
Suasana ruang tengah seketika hening. Ini kali pertama Dinda melihat suaminya semarah itu. Aira menunduk dalam, tubuhnya gemetar menahan tangis yang pecah.
"Rey, tenang dulu, Nak. Bicara baik-baik dengan adikmu," lerai Bu Windy mencoba menenangkan situasi.
"Ma, ini tidak bisa ditoleransi lagi. Nyawa dan mental Aira jauh lebih berharga dari apa pun. Aku tidak mau kecolongan lagi," ujar Reyhan dengan napas memburu.
"Aira... kata abangmu benar. Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri," tambah Bu Windy lembut.
"Aira cuma takut merepotkan..." isak Aira dengan suara parau. "Aira sudah berjanji pada Bang Rey untuk masuk ke SMA favorit itu dan membuat Mama dan Abang bangga. Aira tidak mau menyerah begitu saja."
Reyhan berdiri, memijat pelipisnya yang berdenyut. Mendengar alasan adiknya justru membuat dadanya terasa semakin sesak. Ia melangkah mendekati Aira, lalu berlutut di depan gadis itu.
"Kamu harus tahu satu hal, Aira. Abang selalu bangga padamu, terlepas dari sekolah mana yang kamu pilih atau peringkat berapa yang kamu dapatkan. Abang tidak butuh kamu masuk sekolah favorit hanya demi membuat orang lain terkesan. Abang hanya ingin melihatmu bahagia dan aman. Itu saja," ucap Reyhan, nadanya melembut namun sarat akan penekanan.
Aira mendongak, menatap mata kakaknya yang kini berkaca-kaca. Tanpa membuang waktu, gadis itu langsung menghambur ke pelukan Reyhan. "Aira minta maaf, Bang..."
Reyhan membalas pelukan erat adiknya, menyalurkan rasa bersalah sekaligus kasih sayang yang besar. "Sekarang kamu istirahat di kamar. Pikirkan baik-baik ucapan Abang tadi, ya."
Aira mengangguk patuh, lalu berjalan gontai menuju kamarnya setelah berpamitan pada Dinda dan Bu Windy. Setelah pintu kamar Aira tertutup, Bu Windy menatap Reyhan. "Rey, Mama tahu kamu panik. Tapi jangan terlalu keras padanya. Psikisnya sedang terguncang hari ini."
"Maaf, Ma. Reyhan tadi refleks terbawa emosi," sesal Reyhan. Pria itu kemudian melangkah keluar menuju halaman belakang rumah untuk menenangkan diri.
⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝
Di halaman belakang, Reyhan berdiri di tepi kolam ikan peliharaannya. Menaburkan segenggam pakan ke air menjadi ritual andalannya setiap kali pikirannya sedang kalut. Melihat ikan-ikan yang berebut makanan perlahan membuat hatinya kembali tenang.
"Dinda juga mau ikut kasih makan," sebuah suara lembut menginterupsi. Dinda ikut berjongkok di samping suaminya.
"Ternyata ikan-ikannya cepat sekali besar ya, padahal baru ditinggal beberapa bulan fokus mengurus anak-anak," ujar Dinda mencoba mencairkan suasana.
Reyhan tersenyum tipis. "Tentu saja, karena tiga bulan ini ibunya terlalu sibuk bermanja pada ayahnya sampai lupa menengok kolam belakang."
Dinda mengerucutkan bibirnya kesal, membuat sisa ketegangan di wajah Reyhan sepenuhnya sirna. Pria itu tertawa kecil, lalu membasuh tangannya di keran air dan duduk di bangku taman. Dinda menyusul, duduk tepat di sampingnya.
"Mas... jujur, tadi aku sempat takut melihat Mas marah sebesar itu pada Aira," Ucap Dinda pelan.
Reyhan menatap lurus ke depan. "Aku hanya merasa bersalah, Dinda. Aku takut tindakanku tadi justru membuat Aira merasa semakin tertekan dan menjauh dariku."
Dinda menggenggam jemari suaminya. "Wajar jika Mas panik. Tapi setelah ini, kita cari jalan keluar terbaik bersama-sama tanpa perlu emosi lagi, ya?" Reyhan mengangguk, lalu membawa istrinya ke dalam rangkulan hangat.
⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝ ⚝
Malam harinya, suasana di meja makan terasa sunyi. Reyhan dan Dinda sudah pulang ke rumah mereka karena anak kembar mereka terus menangis mencari sang ibu. Kini, menyisakan Aira dan Mamanya yang makan malam berdua saja.
"Ma... setelah Aira pikir-pikir, Aira mau pindah sekolah," buka Aira setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.
Bu Windy meletakkan sendoknya. "Apa mau langsung pindah minggu ini, Sayang?"
Aira mengangguk. "Boleh selagi masih awal semester ganjil."
"Baiklah kalau itu maumu. Nanti Mama bicarakan lagi dengan abangmu," jawab Bu Windy setuju.
"Ma, maaf ya... Aira selalu merepotkan Mama dan Bang Reyhan."
Bu Windy tersenyum hangat, lalu berpindah duduk ke samping Aira untuk memeluk putri bungsunya. "Kamu tidak pernah merepotkan, Nak. Melindungimu adalah kewajiban kami. Lain kali, berjanjilah untuk tidak memendam masalahmu sendirian lagi."
"Iya, Ma. Aira janji akan lebih terbuka."
"Ya sudah, sekarang kamu masuk ke kamar dan belajar."
"Ma... malam ini Aira mau tidur di kamar Mama, boleh?" pinta Aira dengan nada manja.
Bu Windy terkekeh sambil mencubit gemas pipi anaknya. "Tumben sekali. Pasti ada maunya ini, ya?"
"Enggak, Ma! Memang sedang ingin peluk Mama saja," gerutu Aira dengan bibir mengerucut.
"Iya, iya. Nanti Mama menyusul ke kamarmu. Sudah, jangan cemberut begitu, nanti dikira habis disengat lebah," canda Bu Windy yang sukses membuat Aira tertawa.
Aira melangkah masuk ke kamarnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia mendudukkan diri di depan meja belajar dan membuka buku catatannya.
Namun, pandangannya mendadak teralih pada botol kecil berisi vitamin yang tergeletak di sudut meja. Aira mengambil botol itu, lalu menopang dagunya dengan sebelah tangan. Wajah tampan dengan senyuman hangat milik dokter muda di sekolah tadi mendadak melintas di benaknya.
"Dokternya tampan sekali... sudah begitu, baik lagi." gumam Aira lirih, membiarkan pikirannya hanyut dalam lamunan manis sebelum memulai belajarnya malam itu.
CEKLEK!!
Pintu kamar terbuka. Aira yang terlalu asyik melamun sampai tidak mendengar langkah kaki Mamanya yang masuk sambil membawa segelas susu hangat.
"Hayo... anak perempuan Mama lagi mikirin siapa, nih? Senyum-senyum sendiri sampai telinga," goda Bu Windy sambil meletakkan gelas susu di meja belajar.
Aira tersentak kaget. Ia buru-buru menyembunyikan botol vitamin itu di balik punggungnya dengan wajah yang mendadak memerah.
"M-Mama! Sejak kapan di situ? Ketuk pintu dulu dong, Ma," protes Aira salah tingkah.
Bu Windy menyipitkan mata, menatap curiga pada tangan Aira yang disembunyikan di belakang badan. "Mama sudah ketuk pintu dua kali, kamunya saja yang sudah terbang sampai ke awan. Itu tangan kamu menyembunyikan apa? Coba Mama lihat."
"Bukan apa-apa, Ma! Cuma... cuma pulpen baru!" kilah Aira gugup.
Bu Windy terkekeh melihat gelagat anak gadisnya yang sangat tidak pandai berbohong. "Pulpen kok disembunyikan seperti barang antik? Lagian, tadi Mama dengar samar-samar ada yang bilang 'tampan' dan 'baik'. Siapa yang tampan? Teman sekelasmu?"
"Ih, bukan, Ma! Mama salah dengar itu," elak Aira, wajahnya semakin panas seperti kepiting rebus.
Bu Windy mengusap lembut rambut pendek Aira sambil tersenyum penuh arti. "Sudah besar ternyata anak gadis Mama, ya. Sudah bisa main rahasia-rahasiaan. Ya sudah, susunya diminum dulu, setelah itu lanjut belajar. Mama tunggu di kamar sebelah, ya."
"Iya, Ma..." jawab Aira pelan, masih menahan malu.
Setelah Bu Windy keluar dari kamar dan menutup pintu, Aira langsung mengembuskan napas lega. Ia kembali melihat botol vitamin di tangannya, lalu menepuk-nepuk kedua pipinya yang terasa panas.
"Aduh, Aira! Sadar! Gara-gara dokter itu, kamu hampir saja ketahuan Mama!" bisiknya pada diri sendiri, sebelum akhirnya menggelengkan kepala dan memaksa fokusnya kembali pada buku pelajaran di depannya.
Bersambung__
_____