Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.Sisa kenangan
Suara helaan napas Kaivan terdengar sangat berat saat ia melangkah menuju area dapur di lantai dasar. Jarum jam dinding mewah di lorong utama sudah menunjuk ke angka sepuluh malam. Namun, rasa gundah dan sesak yang terus mencengkeram dadanya enggan membiarkan pria itu beristirahat. Setiap kali memejamkan mata, bayangan bahu Aruna yang berguncang kaku seraya menundukkan kepala kembali terngiang jelas, menusuk nuraninya tanpa ampun.
Di depan meja racik dapur, Bi Asih tampak sedang membereskan sisa cangkir dan perabotan dapur. Begitu mendengar langkah kaki kaku Kaivan mendekat, wanita tua itu buru-buru menyapu air mata di sudut matanya dengan ujung celemek yang ia kenakan.
Kaivan menghentikan langkahnya di ambang pintu dapur. Alisnya bertaut kaku seraya merapikan kaos polos abu-abu yang dikenakannya. "Bi Asih? Kenapa belum tidur jam segini?"
Bi Asih tersentak kecil, lalu menunduk dalam-dalam dengan suara yang terdengar bergetar. "M-maaf, Pak Kaivan... Bibi cuma... cuma merasa sangat kasihan memikirkan Nona Aruna di atas."
Kaivan merapikan posisi berdirinya, berusaha memasang kembali topeng wibawanya yang kaku dan dingin. "Soal pakaian itu? Aku sudah menyuruh sekretarisku memanggil penjahit pribadi besok pagi. Dia akan dapat pakaian baru yang ratusan kali lebih mahal dan layak. Dia tidak perlu menangisi barang-barang lusuh seperti itu."
Mendengar ucapan Kaivan yang terasa begitu angkuh, Bi Asih menghentikan gerakan tangannya. Wanita tua yang telah bekerja puluhan tahun di rumah keluarga Adikara itu membalikkan badan, menatap majikannya dengan keberanian yang sangat jarang ia perlihatkan sebelumnya. Matanya berkaca-kaca, dipenuhi kepedihan yang amat sangat.
"Pak Kaivan..." bisik Bi Asih lirih. "Pakaian-pakaian tua itu... bukan sekadar barang lusuh bagi Nona Aruna."
Rahang Kaivan menegang kaku, matanya menyipit dingin. "Lalu apa? Apa bedanya pakaian murahan itu dengan apa yang akan kupilihkan untuknya besok?"
"Pakaian-pakaian itu dibeli dari hasil keringat dan air mata Nona Aruna sendiri sejak beliau masih sangat kecil, Pak!" seru Bi Asih pelan, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya yang mulai berkerut. "Orang tua Nona Aruna tidak pernah sekalipun membelikan beliau baju baru! Seluruh uang dan kasih sayang di rumah itu cuma dicurahkan untuk Mbak Karin!"
DEG.
Nama itu membuat alis Kaivan bertaut rapat. "Karin?"
"Iya, Pak... Mbak Karin, kakak kandung Nona Aruna yang sekarang jadi model terkenal itu," lanjut Bi Asih seraya terisak pelan. "Sejak dulu, kedua orang tua Nona cuma memanjakan Mbak Karin. Apapun yang Mbak Karin inginkan untuk sekolah model, baju-baju mahal, sampai perawatan kecantikan selalu dituruti tanpa ragu. Bahkan kalau biaya untuk Mbak Karin kurang, Nona Aruna yang dipaksa dan dituntut ikut mencari uang tambahan! Nona Aruna harus bekerja paruh waktu dari kecil, mengajar les anak-anak SD, sampai cuci piring di warung orang..."
Kaivan membatu di tempatnya berdiri. Manik matanya membelalak tipis, mendengarkan deretan kenyataan pahit yang meluncur dari mulut Bi Asih.
"Nona Aruna tidak pernah dianggap sebagai anak di rumah itu, Pak," lanjut Bi Asih dengan suara bergetar hebat. "Beliau cuma dijadikan mesin pencari uang kalau Mbak Karin butuh dana. Waktu Nona Aruna mengemas sendiri barang-barangnya ke dalam kardus tua di rumahnya dulu sebelum dibawa ke sini... beliau menyimpan pakaian-pakaian lusuh itu bagai harta karun. Baju-baju itu adalah bukti kalau beliau berhasil bertahan hidup sendirian di tengah keluarga yang begitu licik. Ada satu sweater rajut tua warna krem di dalam kardus itu, Pak... itu satu-satunya barang peninggalan neneknya sebelum meninggal, satu-satunya orang yang pernah memeluk Nona Aruna dengan tulus."
Setiap patah kata yang terucap dari mulut Bi Asih meluncur bagai sembilu tajam yang langsung mengoyak dada Kaivan tanpa ampun.
"Nona Aruna pernah bercerita pelan sama Bibi..." tangis Bi Asih kian pecah. "Beliau menyimpan baju-baju itu bukan karena tidak mau baju mahal, Pak. Tapi karena baju-baju itu mengingatkan beliau bahwa beliau bisa berdiri di atas kakinya sendiri walau tidak pernah disayangi oleh orang tuanya... Dan sekarang, Pak Kaivan menyebutnya sampah dan membuangnya begitu saja..."
Brak.
Gelas kaca yang berada di tepi meja terpukul kaku oleh lengan Kaivan, jatuh terhempas dan hancur berkeping-keping di atas lantai marmer dapur.
Namun, Kaivan tidak peduli pada pecahan kaca itu. Dunia di sekitarnya serasa mendadak hening dan berputar hebat. Tenggorokannya terasa tersumbat kaku oleh rasa perih yang teramat sangat menyiksa.
Kenyataan tentang masa lalu Aruna menghantam kesadaran Kaivan bagai gumpalan ombak raksasa yang menenggelamkan seluruh keangkuhannya. Di balik fakta pahit tentang Karin dan kedua orang tua Aruna yang licik, ada sebuah kenyataan yang jauh lebih mengerikan yang kini menyengat jiwa Kaivan: Kisah hidup Aruna adalah cerminan dari masa lalunya sendiri.
Kaivan menyandarkan punggungnya kaku pada dinding dapur yang dingin. Manik matanya bergetar hebat saat ingatan kelam puluhan tahun lalu kembali teringat jelas di benaknya.
Sebelum kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan belasan tahun silam, Kaivan kecil tidak pernah sekalipun merasakan hangatnya pelukan seorang ibu atau pujian bangga dari seorang ayah. Di mata orang tuanya yang selalu menuntut kesempurnaan demi nama besar Adikara, Kaivan hanyalah sebuah alat untuk meneruskan takhta bisnis. Apapun yang ia lakukan tidak pernah dianggap cukup. Ia dibentak saat gagal, diabaikan saat menangis, dan dikurung dalam keheningan saat ia membutuhkan kasih sayang. Ia tumbuh menjadi pria yang kaku, dingin, dan penuh dengan benteng pertahanan karena ia paham betul rasanya dibuang dan tidak dianggap oleh darah dagingnya sendiri.
“Kenapa...?” jerit Kaivan di dalam hatinya yang terluka, rasa perih yang luar biasa pilu meremas dadanya tanpa ampun. “Kenapa aku justru melakukan hal yang sama padanya...?”
Air mata yang telah bertahun-tahun tidak pernah menetes dari mata tegas sang CEO kini menggenang kaku di pelupuk matanya. Kaivan merasa begitu hina dan membenci dirinya sendiri di detik itu.
Ia adalah korban dari pola asuh yang dingin dan tidak layak. Ia tahu persis betapa menyiksanya perasaan saat seluruh usaha dan keberadaan diri dianggap tidak bernilai oleh orang tua sendiri. Seharusnya, sebagai pria yang pernah melewati neraka yang sama, ia menjadi pelindung bagi Aruna. Seharusnya ia menjadi sosok yang merangkul luka gadis itu. Namun, karena gengsi dan kesombongannya yang setinggi langit, ia justru menjadi sosok monster yang merampas sisa-sisa kenangan dan bukti perjuangan Aruna.
"Aku... aku sudah menjadi iblis di rumah ini..." desis Kaivan sangat pelan, suaranya parau dan sarat akan penyesalan yang mendalam.
Dengan wajah pucat pasi dan rahang yang merapat keras menahan gejolak emosi, Kaivan membalikkan badannya kaku. Tanpa membuang waktu lagi, ia melangkah lebar-lebar menerobos koridor dan berlari menuju pintu belakang kediaman Adikara.
"Pak Kaivan! Bapak mau ke mana?! Di luar hujan deras, Pak!" seru Bi Asih cemas dari arah belakang saat melihat majikannya membuka pintu servis secara mendadak.
Kaivan mengabaikan panggilan itu sepenuhnya. Pria dengan kaos abu-abu yang kini langsung basah kuyup itu berlari kencang menerobos tirai hujan deras yang mengguyur area belakang rumah mewah tersebut. Angin malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, tetapi rasa dingin itu sama sekali tak sebanding dengan rasa sakit dan penyesalan yang mengoyak-oyak jiwanya.
Di sudut area servis belakang rumah, berdiri beberapa tong sampah besar berukuran tinggi. Kardus tempat pakaian lama Aruna yang tadi sore ia perintahkan kepada petugas kebersihan untuk dibuang, berada di sana.
Mata tajam Kaivan menyapu area tong sampah yang tergenang air hujan. Kardus cokelat itu tampak sudah basah kuyup dan meremuk di samping tempat pembuangan akhir sebelum diangkut truk kebersihan esok pagi.
Tanpa memikirkan statusnya sebagai presdir Adikara Group yang bernilai triliunan rupiah, Kaivan berlutut begitu saja di atas tanah yang becek. Kedua tangannya yang biasa menandatangani dokumen penting kini merengkuh kardus basah itu dengan jemari yang gemetaran hebat.
"Sialan... sialan!" umpat Kaivan pada dirinya sendiri, air hujan bercampur air mata mengalir menelusuri garis wajah tegasnya yang memucat.
Pria itu membongkar isi kardus yang sudah basah oleh air hujan. Pakaian-pakaian sederhana, beberapa potong baju kaos lusuh yang sudah memudar warnanya, dan celana kain murah tampak terpapar di sana.
Di bagian paling bawah kardus yang meremuk, jemari Kaivan menyentuh sebuah kain benang wol bertekstur tebal yang dingin dan basah.
Sweater rajut tua berwarna krem.
Kaivan merengkuh sweater tua itu ke dalam pelukannya kencang-kencang. Kain wol basah itu terasa begitu berat—seberat beban pilu dan penyesalan yang kini meremukkan seluruh keangkuhan dan gengsi yang selama ini ia agungkan.
Pria tinggi angkuh itu berlutut di tengah guyuran hujan deras, memeluk sweater basah milik Aruna tepat di dada kirinya. Matanya terpejam rapat, merutuki kesombongannya yang telah begitu buta dan tega menghancurkan perasaan gadis yang memiliki penderitaan masa lalu yang sama persis dengannya.
"Maafkan aku, Aruna..." bisik Kaivan lirih di antara gemuruh hujan. Suaranya bergetar hebat oleh rasa pilu yang teramat sangat. "Maafkan aku..."
Kaivan perlahan berdiri dengan tubuh yang basah kuyup dari ujung kepala hingga kaki. Pria itu mendekap seluruh pakaian lusuh Aruna yang berhasil ia selamatkan di dalam dekapan kedua tangannya, melangkah kembali menuju dalam rumah dengan langkah kaki yang terasa begitu berat, siap menghadapi sisa-sisa penyesalan dan luka yang harus ia tebus di hadapan Aruna.
_Bersambung