NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedekatan

PIETRA PETROVSKY

Aku sedang berkonsentrasi menata sejumlah dokumen di lemari arsip di sisi ruang kerja.

Sebuah lemari besar berlabel huruf A sampai Z untuk menyusun dokumen. Yang, omong-omong, dalam keadaan berantakan.

Ketika kudengar suara pintu tertutup menggema di ruangan besar itu.

Aku tidak langsung berbalik.

Marco jarang mengumumkan kehadirannya.

"Kontrak ini," suaranya terdengar terlalu dekat, "tidak boleh keluar dari sini."

Aku mengangguk, masih membelakanginya.

"Saya sedang memisahkan versi yang benar."

Saat itulah aku merasakannya.

Kehadirannya.

Marco mendekat untuk meraih sebuah map di atas kepalaku, dan jarak di antara kami begitu saja... lenyap. Lengannya melintas di samping wajahku, telapak tangannya menumpu kokoh di rak.

Ia berada di belakangku.

Sangat dekat di belakangku.

Aku tidak mundur.

Bukan karena berani, melainkan karena tak kulihat alasannya.

Aku meneruskan apa yang sedang kukerjakan, mengabaikan kedekatan itu, sampai sesuatu menerpaku secara tak terduga.

Aroma tubuhnya.

Kayu. Pekat. Bersih.

Berbaur dengan sesuatu yang lebih dalam, wiski mahal yang telah menua, jenis yang tidak diminum karena kebiasaan, melainkan karena pilihan.

Tubuhku bereaksi sebelum pikiranku menyadarinya.

Aku menarik napas sedikit lebih dalam dari yang kumaksudkan.

Marco tampak menyadarinya.

"Ada masalah?" tanyanya, suaranya rendah, dekat di telingaku.

Aku mengangkat pandangan, menemukan matanya terpantul di kaca lemari.

"Tidak ada," jawabku tenang. "Saya cuma tidak menyangka Anda begitu... tanpa suara."

Sudut bibirnya bergerak samar.

"Aku memang biasa begitu."

Ia masih belum menjauh.

Kedekatan itu terasa absurd. Dadanya nyaris menyentuh punggungku. Aku bisa merasakan panas tubuhnya menembus kain blazer. Dan ketika aku berbalik separuh untuk menyerahkan map itu, aku berhadap-hadapan dengannya, cukup dekat untuk mengamati setiap detail.

Tubuh yang tampak sempurna dan kekar di balik setelan gelap.

Bahu yang bidang.

Postur yang penuh percaya diri, nyaris seperti pemangsa.

Aku menelan ludah, lebih karena refleks daripada gugup.

"Ini," kataku sambil menyodorkan dokumen itu kepadanya.

Jemari kami bersentuhan lagi.

Kali ini, lebih lama.

Marco tidak langsung bergerak. Matanya turun cepat menyusuri wajahku, berhenti sedetik lebih lama di bibirku, sebelum kembali menatap mataku.

"Kamu tidak tampak tidak nyaman," ujarnya.

Aku mengangkat bahu.

"Saya pernah berada dalam situasi yang lebih buruk."

Itu mengejutkannya.

Aku melihatnya di matanya.

"Kebanyakan orang akan menjauh," katanya.

"Saya bukan kebanyakan orang," jawabku, singkat.

Keheningan yang menyusul terasa pekat. Sarat. Tak ada ancaman di sana, hanya sesuatu yang tak terucap, sesuatu yang terlalu berbahaya untuk diberi nama saat itu.

Marco akhirnya melangkah mundur.

Udara kembali mengalir.

"Lanjutkan," katanya, kembali ke nada profesional. "Kita sudah terlambat."

Aku mengangguk, kembali bekerja seolah tak ada apa-apa yang terjadi.

Tapi berbohong pada diri sendiri hanya akan sia-sia.

Aku bukan sekadar terpengaruh oleh kedekatan tadi.

Aku dibuat penasaran.

Dan, dari cara Marco menatapku sebelum menjauh, aku hampir yakin bahwa...

bukan hanya aku yang merasakannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!