Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 : BEKERJA BERSAMA HERO
Hari itu, Laura akhirnya menyelesaikan seluruh kegiatan kuliahnya. Setelah keluar dari ruang kelas, dia segera mengambil tas dan berjalan menuju gerbang kampus. Seperti biasanya, setelah kuliah dia berencana langsung pergi ke tempat kerja paruh waktunya.
Namun baru beberapa langkah dari gerbang, Laura melihat sebuah mobil hitam sudah berhenti di sana.
Laura mengenali mobil itu.“Hero?”
Pintu mobil terbuka dan Hero keluar dia berjalan menghampiri Laura dengan tenang.“Kamu mau ke mana?”
Laura menatapnya bingung. “Aku mau kerja Bukankah kemarin sudah kubilang aku punya pekerjaan?”
Hero menghela napas pelan. “Kamu tidak perlu bekerja lagi.”
Laura langsung mengerutkan kening.“Kenapa?”
“Karena aku akan memenuhi semua kebutuhanmu,Kebutuhan kuliah, transportasi, buku, atau apa pun yang kamu perlukan, Kamu tidak perlu memaksakan diri bekerja setelah kuliah.” jawab hero dengan tegas.
Laura menggeleng. “Tapi aku membutuhkan uang untuk kuliahku.”
“Aku yang akan menyediakan semuanya dan kamu tidak perlu memikirkan masalah uang lagi.” ujar Hero sambil mencoba menenangkan Laura yang maksa ingin bekerja.
Laura menatap Hero beberapa saat dia sebenarnya merasa tersentuh mendengar perkataan itu, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya tetap ingin mandiri.
“Aku menghargai niatmu tetapi aku masih mau bekerja.” ujar Laura ke arah Hero.
Hero tahu Laura bukan tipe orang yang mudah menerima bantuan gadis itu sudah terbiasa berusaha sendiri sejak lama.
“Kenapa?” tanya Hero akhirnya.
“Karena aku tidak ingin bergantung sepenuhnya kepadamu, aku ingin tetap punya penghasilan sendiri. Aku ingin membayar kebutuhanku dengan hasil kerja keras sendiri.” jawab Laura dengan jujur dan mencoba merayu Hero agar di bolehin bekerja.
Hero memperhatikan Laura cukup lama sebelum akhirnya menghela napas.“Baiklah,”
Laura sedikit terkejut. “Benarkah?”
Hero mengangguk. “Kalau begitu, kerja denganku.”
Laura langsung terdiam “Kerja... denganmu?”
“Ya, Kamu tidak perlu bekerja di tempat lain. Bekerjalah untukku.” jawab hero.
Laura semakin bingung. “Aku harus melakukan apa?”
Hero berjalan menuju mobil sambil menjawab, “Cukup periksa beberapa berkas dan bantu pekerjaan yang berhubungan dengan administrasi, aku tahu kamu anak yang pintar.”
Laura masih berdiri di tempatnya.“Kenapa kamu begitu yakin aku bisa?”
Hero menoleh kepadanya. “Karena aku sudah melihat hasil kuliahmu dan informasi tentang pendidikanmu, nilaimu bagus dan kamu juga terbiasa menyelesaikan banyak hal sendiri. Aku tidak membutuhkan orang yang hanya bekerja karena perintah, aku membutuhkan seseorang yang bisa berpikir.”
Laura terdiam mendengar penjelasan itu.
Selama ini, jarang sekali ada seseorang yang memuji kemampuannya dengan serius.“Jadi aku hanya perlu memeriksa berkas?”
“Untuk awal, ya,” jawab Hero. “Kalau kamu merasa tidak cocok, kamu bisa berhenti.”
Laura akhirnya mengangguk. “Baiklah, Aku akan mencobanya.”
Hero tersenyum tipis. “Bagus.”
Laura kemudian berjalan menuju mobil.
Namun ketika sampai di dekat kendaraan, Laura tiba-tiba melihat seseorang yang sangat dikenalnya berdiri tidak jauh dari sana.
“Kakek?” gumam Laura.
Arthur ternyata baru saja keluar dari sebuah kendaraan bersama salah seorang pengawalnya, begitu melihat Laura dia langsung tersenyum lega.
“Laura,” panggil Arthur.
Laura segera menghampirinya.“Kakek sedang apa di sini?” tanya Laura.
“Aku ingin memastikan keadaanmu,” jawab Arthur. “Kakek juga ingin melihat apakah kamu benar-benar baik-baik saja.”
Laura tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja, Kek.”
Arthur memperhatikan wajah cucunya yang sudah mulai membaik, namun kemudian tatapannya beralih kepada Hero.
“Jadi, ini pria yang kemarin kamu ceritakan?” tanya Arthur.
Laura terdiam sebentar sebelum mengangguk.“Ya, Kek. Ini Hero.”
Arthur tersenyum. “Kakek sudah bertemu dengannya.”
"kakek sudah bertemu dengan Hero, kapan itu kenapa aku tidak tahu." tanya Laura dengan bingung.
"kemarin kakek sudah bertemu dengan nya dan dia juga sudah menjelaskan semuanya tentang keadaan mu ke kakek" jawab Arthur.
Laura kembali melihat Hero dia masih merasa aneh setiap kali berada di dekat pria itu apalagi setelah mengetahui siapa sebenarnya Hero Valdren.
Beberapa mahasiswa yang masih berada di sekitar gerbang kampus mulai memperhatikan mereka, Bisik-bisik terdengar dari beberapa arah.
“Itu Hero Valdren, kan?”
“Iya, sepertinya dia.”
“Kenapa dia bersama Laura lagi?”
Laura mulai merasa tidak nyaman karena semakin banyak orang memperhatikan.
“Ayo, kita pergi sekarang." ujar Hero ke arah Laura sambil berjalan ke arah Laura.
“Aku bisa berjalan sendiri,” jawab Laura.
Namun Hero tidak menjawab dalam sekejap, dia justru membungkuk dan mengangkat Laura ke dalam gendongannya.
“Hero!” gumam Laura dengan malu karena tiba-tiba di gendong begitu saja.
Laura langsung terkejut tangannya refleks memegang bahu Hero.
“Turunkan aku!” bisiknya malu karena banyak mahasiswa melihat mereka.
Hero tetap berjalan santai. “Kamu tadi bilang ingin bekerja kalau begitu, jangan buang waktu.”
“Aku bisa masuk mobil sendiri.”kata Laura yang menahan rasa malunya.
“Aku tahu.” jawab hero yang tidak menurunkan Laura.
“Lalu kenapa kamu menggendongku?” tanya Laura kembali.
Hero menatapnya sekilas. “Karena aku ingin.”
Laura terdiam dengan wajah sedikit memerah di sekitar mereka, beberapa mahasiswa semakin terkejut, mereka tidak hanya melihat Hero Valdren datang menjemput Laura, tetapi juga melihat pria itu menggendongnya di depan banyak orang.
Arthur hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah keduanya.“Sepertinya Hero benar-benar serius denganmu Laura."
Laura yang masih berada dalam gendongan Hero langsung semakin malu.“Kakek jangan ikut-ikutan menggoda ku seperti itu"
Hero akhirnya memasukkan Laura ke dalam mobil dengan hati-hati, setelah itu dia ikut masuk dan duduk di sampingnya.
Arthur berdiri di luar kendaraan sambil memandang keduanya.“Jaga cucu saya baik-baik."
Hero mengangguk. “Saya akan menjaganya.”
Mobil kemudian mulai bergerak meninggalkan kampus, Laura yang masih diam sambil memeluk tas wajahnya sedikit merah karena kejadian tadi karena orang orang melihat nya dan Kakeknya ikut menggoda nya.
Hero melirik Laura .“Kamu malu?”
Laura langsung menoleh. “Tentu saja, semua orang melihatku.”
Hero tersenyum kecil. “Biarkan saja.”
Laura menghela napas panjang dia kemudian memandang keluar jendela di dalam hatinya, dia masih belum sepenuhnya percaya dengan semua yang terjadi belum lama ini dia merasa tidak memiliki siapa pun.
Sekarang ada Hero yang terus mengatakan akan melindunginya, Arthur yang berdiri di belakangnya, dan bahkan pekerjaan baru yang diberikan Hero agar dirinya tetap bisa mandiri.
Laura belum tahu apakah semua ini akan benar-benar menjadi kehidupan barunya.
Tetapi untuk pertama kalinya, dia mulai merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya, perasaan bahwa dirinya benar-benar dianggap penting oleh seseorang.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯