NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERBANGUN WAKTU ADZAN SUBUH BERSAUT-SAUTAN - VERSI KOREKSI HISTORIS 1977

Arya Arsyad Sikumbang terbangun waktu menjelang adzan subuh bersaut-sautan.

Allahu Akbar... Allahu Akbar...

Suara adzan subuh itu tidak seperti suara adzan subuh di surau kecil Pande Sikek yang hanya pakai beduk kayu dan toa corong kecil yang suaranya pecah dan kresek-kresek karena diesel. Suara adzan subuh di Cakung, Jakarta Timur, tahun 1977 itu bersaut-sautan, dari Masjid Besar Al-Jihad Cakung yang besar di dekat rumah Uwo Ali, dari Masjid Al-Muttaqin di sebelah bengkel karoseri, dari Musholla Al-Ikhlas di dalam gang. Semua bersaut-sautan, Allahu Akbar... sahut-menyahut, keras, menggema di atas atap-atap seng bengkel karoseri dan di atas truk-truk besar dan bus Kopaja yang mesinnya masih terbongkar.

Arya yang 12 tahun, yang tertidur pulas sejak jam enam sore kemarin setelah digendong oleh Uwo Ali Bin Rais Payobadar dari bak mobil pick-up plat B hijau tua ke kamar tidur baru miliknya, terbangun dengan kaget.

Matanya terbuka lebar, ia mengucek matanya yang masih sembab karena 30 jam perjalanan dari Pande Sikek.

Ia terbangun, dan ia terkejut.

Ia terkejut sudah berada di kamar tidur dengan kasur kapuk yang empuk.

Bukan tikar pandan buatan ibunya Siti Aminah Sikumbang yang digelar di atas lantai papan yang keras dan dingin di rumah papan beratap seng berkarat di Pande Sikek. Dan bukan springbed seperti di hotel-hotel mewah Jakarta sekarang. Tahun 1977 belum ada springbed di Cakung. Yang ada di kamar baru miliknya itu adalah dipan ukir Jepara yang besar dan berat, dari kayu jati tua yang diukir dengan ukiran bunga-bunga dan burung-burung, dipan yang kaki-kakinya besar seperti kaki kerbau, dipan yang kalau digoyang tidak akan goyang karena kayunya berat.

Di atas dipan ukir Jepara itu, ada kasur kapuk tebal yang masih baru, kapuknya putih bersih, masih mengembang tebal karena baru dipukul-pukul oleh Mak Ijah dan Mak Iyah dengan rotan pagi tadi, kasur kapuk yang kalau diduduki akan benyek ke dalam, empuk sekali, hangat. Bukan kasur busa. Kasur kapuk asli.

Di atas kasur kapuk itu, seprainya kain katun putih baru bergambar kapal laut yang masih bau toko Pasar Senen, bantalnya dua, bantal kapuk juga, bukan bantal bulu angsa, bantal kapuk yang keras tapi hangat. Dan yang paling mewah, di atas dipan ukir itu ada kelambu putih yang besar, kelambu kain kasa putih yang digantung dari atas langit-langit, kelambu untuk menahan nyamuk Cakung yang besar-besar, kelambu yang kalau malam ditutup akan seperti istana kecil.

Di atas kepalanya tidak ada kipas angin besar seperti di bab yang salah tadi. Tahun 1977 di kamar anak di Cakung belum pakai AC dan belum pakai kipas angin gantung. Yang ada hanya kipas angin meja kecil merek National dari Jepang, yang diletakkan di atas meja belajar kayu jati, yang berputar pelan, wuss... wuss... anginnya tidak dingin seperti AC, tapi cukup untuk mengusir nyamuk.

Lampu di langit-langit kamar juga bukan lampu neon panjang terang benderang seperti kantor. Yang ada hanya lampu bohlam kuning 60 watt yang tergantung dengan kabel, cahayanya kuning hangat, temaram, seperti cahaya petromaks tapi tidak perlu dipompa ces... ces... seperti di Pande Sikek.

Arya duduk tegak di atas kasur kapuk tebal di atas dipan ukir Jepara itu, jantungnya berdebar kencang. Kelambu putih yang mengembang itu membuatnya seperti di dalam tenda. Jam Seiko kebesarannya yang masih diikat karet gelang berdetak tik... tik...

"Di ma... di ma ambo kini...?" gumamnya pelan, masih setengah tidur.

Ia menyibak kelambu putih itu, melihat sekeliling kamar baru yang tertata rapi itu. Meja belajar baru dari kayu jati, lemari kayu jati baru yang masih bau kayu dan masih ada ukiran Jepara di pintunya, kotak perkakas baru berisi kunci pas dan obeng. Dan di genggaman tangan kanannya, masih ada truk kayu surian kecil pemberian Arlan Rasyad Sikumbang kakaknya yang kemarin ngambek main truk kayu di teras.

"Iyo... ambo lah di Jakarta... di Cakung... di rumah Uwo Ali... di ateh dipan ukir... di ateh kasur kapuk..." kata Arya pelan, ia tersenyum sendiri, ia menepuk-nepuk kasur kapuk tebal itu, kapuknya benyek ke dalam, empuk sekali, jauh lebih empuk dari tikar pandan di Pande Sikek.

Tapi adzan subuh yang bersaut-sautan itu semakin keras, Allahu Akbar... dari 5 masjid di Cakung, membuat Arya panik. Di Pande Sikek, kalau adzan subuh berkumandang, ia harus cepat-cepat lari ke surau kecil.

Arya yang panik, langsung melompat turun dari dipan ukir Jepara yang tinggi itu. Dipan ukir itu tinggi sekali, hampir setinggi dada anak 12 tahun, karena di bawahnya ada kolong untuk menyimpan perkakas. Ia melompat dengan sarung pudarnya yang berkibar, dengan truk kayu surian kecil masih di tangan kanannya.

Karena terlalu panik dan karena lantai keramik Cakung yang licin dan karena kelambu putih yang tersangkut di kakinya, kakinya terpeleset sedikit.

Dan ketika dia berlari keluar dari kamar, dengan sarung pudarnya yang berkibar dan kelambu putih yang masih tersangkut di kakinya, dia bertabrakan dengan seseorang di depan pintu kamar mandi.

Bruk!

Tubuh kecil Arya yang 12 tahun itu bertabrakan keras dengan tubuh besar kakak laki-lakinya, Andi Rajo Alam Sikumbang, 19 tahun, calon mahasiswa Fakultas Hukum UI Salemba, yang juga baru bangun dan mau mandi menuju toilet.

Andi juga memakai sarung, sarung baru pemberian Uwo Ali motif kotak-kotak, peci hitam sudah di kepalanya, handuk di bahunya. Ia juga masih mengantuk, masih mengucek matanya.

Dua kakak beradik itu bertabrakan di depan dua kamar mandi yang bersebelahan di rumah utama Uwo Ali di Cakung.

Arya yang kecil hampir jatuh ke belakang menimpa kelambu putihnya, Andi yang besar hampir menjatuhkan handuknya. Truk kayu surian kecil di tangan Arya hampir terlepas.

"Eh... Buyuang Arya... hati-hati... jan balari-lari... licin lantai keramik ko..." kata Andi dengan suara masih mengantuk tapi tertawa kecil melihat kelakuan konyol adik bungsunya yang panik bangun tidur di atas dipan ukir dengan kelambu putih tersangkut di kaki.

Melihat kelakuan konyol Arya yang baru bangun tidur di atas kasur kapuk tebal di atas dipan ukir Jepara, yang terkejut, yang berlari panik dengan kelambu putih tersangkut di kaki, dengan sarung pudar dan truk kayu surian kecil masih di tangan, yang bertabrakan dengan kakaknya di depan dua kamar mandi yang bersebelahan, Uwo Ali Bin Rais Payobadar yang dari tadi sudah bangun sejak jam empat pagi, yang sudah mandi dengan air dari bak kamar mandi yang besar, yang sudah memakai sarung baru bersih motif batik, baju koko putih bersih, dan peci hitam yang rapi, hanya tersenyum.

Uwo Ali berdiri di ruang tengah rumah utamanya yang lantainya keramik, dengan lampu bohlam kuning 60 watt yang temaram, tidak seperti rumah papan di Pande Sikek yang hanya diterangi petromaks yang harus dipompa ces... ces... Ia tersenyum lebar.

"Ha ha ha... Uda Andi... Buyuang Arya... jan balari-lari mode itu di dalam rumah Uwo... licin lantai keramik ko, bukan lantai papan sarupo di rumah ayah ang Abdullah di Pande Sikek... beko tajatuh, benjol kapalo ang... apolai kelambu putih ang masih tasangkuik di kaki, Buyuang..."

Uwo Ali lalu mengusap kepala Arya yang benjol sedikit karena bertabrakan dengan dagu Andi, dengan tangannya yang kasar karena las karbit.

"Buyuang Arya... danga kan Uwo... Ini sekarang bukan di Pande Sikek lai, Buyuang... ini sekarang di Cakung... ini sekarang rumah Arya Arsyad Sikumbang... rumah baru ang..."

"Rumah... rumah Arya, Uwo?" tanya Arya polos, masih memegang kelambu putih yang tersangkut di kakinya.

"Iyo, Nak... rumah Arya... dipan ukir Jepara dengan kasur kapuk tebal nan ang tiduri semalam tu, dipan baru milik Arya... kelambu putih nan ang tiduri di dalamnyo tu kelambu baru milik Arya untuk manahan nyamuk Cakung... meja belajar kayu jati baru tu meja belajar Arya... lemari kayu jati ukir baru tu lemari Arya... kotak perkakas baru berisi kunci pas tu kotak perkakas Arya untuk baraja bongkar pasang mesin truk di bengkel Uwo... sadonyo punyo Arya... mulai hari ko, Cakung ko adalah kampuang halaman baru ang..."

Uwo Ali lalu menunjuk ke dua kamar mandi yang bersebelahan di depan mereka. Di tahun 1977, kamar mandi di rumah pengusaha Cakung itu bukan toilet duduk modern. Yang ada adalah dua kamar mandi yang bersebelahan, lantainya semen kasar, dindingnya keramik putih setengah, ada bak besar dari semen yang diisi air PAM yang masih jernih, ada gayung plastik besar warna biru, ada ember plastik, dan ada lampu bohlam kuning kecil 25 watt di dalamnya. Jauh lebih bagus dari jamban di Pande Sikek yang hanya lubang di tanah dan harus menimba air dari sumur dengan timba karet.

"Uda Andi, Buyuang Arya... caliaklah... di rumah Uwo ko ado duo kamar mandi nan basebelahan buat mereka membersihkan diri... kamar mandi nan di kiri untuak Uda Andi, kamar mandi nan di kanan untuak Buyuang Arya... di dalamnyo ado bak semen gadang berisi aia, jan berebut... ayo... mandi, barasiahkan diri, ambil aia wudhu..."

"Setelah itu berpakaian rapi, memakai sarung baru nan alah Uwo siapkan di lemari ukir kalian, memakai peci hitam baru, dan membawa sajadah baru nan alah Etek Upik siapkan... ikuti Sang Uwo pergi ke Masjid Besar dekat rumah Sang Uwo, Masjid Besar Al-Jihad Cakung, untuk sholat subuh berjamaah..."

"Karena Etek Upik sudah berangkat duluan bersama ibu-ibu pengajian tadi jam setengah lima pagi, sudah berada di sana di Masjid Besar, menunggu kito..."

Andi dan Arya mengangguk. Mereka masuk ke dua kamar mandi yang bersebelahan itu. Mereka mandi dengan air dingin dari bak semen besar dengan gayung plastik biru, air PAM Cakung tahun 1977 yang masih jernih dan dingin, bukan air sumur Pande Sikek yang agak keruh dan harus ditimba.

Setelah mandi, mereka kembali ke kamar tidur baru mereka.

Di atas dipan ukir Jepara dengan kasur kapuk tebal itu, sudah disiapkan pakaian rapi oleh Mak Ijah dan Mak Iyah.

Untuk Andi, sarung baru kotak-kotak hitam putih, baju koko putih bersih, peci hitam baru masih bau toko Pasar Senen, dan sajadah baru warna hijau tua tebal.

Untuk Arya, sarung baru kotak-kotak biru kecil, baju koko putih kecil, peci hitam kecil yang kebesaran sedikit, dan sajadah baru warna biru muda kecil.

Arya memakai sarung baru, baju koko putih baru, dan peci hitam baru yang kebesaran, dengan truk kayu surian kecil ia letakkan dulu di atas meja belajar kayu jati, di bawah lampu bohlam kuning, dengan jam Seiko kebesaran masih diikat karet gelang.

Ia bercermin di cermin kecil di lemari ukir Jepara itu, ia tersenyum.

Setelah berpakaian rapi, memakai sarung, peci, dan membawa sajadah baru, Andi dan Arya keluar dari kamar.

Di ruang tengah, Uwo Ali sudah menunggu dengan sarung batik Cakung, baju koko putih bersih, peci hitam rapi, dan sajadah besar. Ia terlihat gagah seperti haji.

"Mari... ikuti Sang Uwo pergi ke Masjid Besar Al-Jihad Cakung..."

Mereka bertiga berjalan keluar dari rumah utama, melewati toko peralatan bengkel dan komponen mesin yang masih tutup, melewati halaman bengkel yang penuh dengan truk besar, bus Kopaja, Metromini yang mesinnya masih terbongkar, yang masih gelap karena lampu bengkel belum dinyalakan, menuju gerbang besi besar yang sudah dibukakan Pak Jono satpam tua.

Di luar gerbang, jalan raya Cakung jam lima pagi sudah ramai orang dengan sarung dan peci dan sajadah menuju Masjid Besar Al-Jihad Cakung yang besar dan megah, masjid yang menaranya tinggi dan lampu bohlam kuningnya banyak, masjid yang jauh lebih besar dari surau kecil di Pande Sikek.

Di depan masjid, Etek Upik sudah berada di sana bersama ibu-ibu pengajian.

Uwo Ali, Andi Rajo Alam calon mahasiswa Fakultas Hukum UI, dan Arya Arsyad Sikumbang calon pewaris bengkel karoseri Cakung yang jam Seikonya kebesaran, masuk ke dalam Masjid Besar Al-Jihad Cakung yang karpetnya tebal dari permadani, bukan tikar pandan seperti di surau Pande Sikek.

Mereka menggelar sajadah baru mereka di shaf depan.

Dan pagi itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arya Arsyad Sikumbang yang 12 tahun yang baru terbangun di atas dipan ukir Jepara dengan kasur kapuk tebal dan kelambu putih, yang bertabrakan dengan kakaknya di depan dua kamar mandi dengan bak semen besar yang bersebelahan, sholat subuh berjamaah di Masjid Besar Cakung, bersama Uwo Ali, bersama Uda Andi, dan bersama Etek Upik.

Di luar masjid, pick-up plat B hijau tua terparkir di halaman bengkel, dengan tikar pandan buatan Siti Aminah yang masih ada di bak belakang.

Di dalam masjid, di atas sajadah baru warna biru muda yang kecil, Arya sujud, dengan peci hitam barunya yang kebesaran, dengan jam Seiko kebesarannya yang berdetak tik... tik...​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!