"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Jena sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen ketika pintu ruangannya tiba-tiba terbuka setelah diketuk beberapa kali. Ia langsung mengangkat kepala. Alisnya berkerut saat melihat Dion berdiri di ambang pintu.
“Dion?”
Dion tersenyum santai, lalu masuk tanpa banyak basa-basi.
“Lagi sibuk?”
Jena melirik meja kerjanya yang penuh berkas. “Menurutmu?”
Dion tertawa kecil. “Aku cuma mau ngobrol sebentar.”
Jena menghela napas. Mereka memang bekerja di perusahaan yang sama, tetapi selama ini hubungan mereka biasa saja. Bahkan, hampir tidak pernah ada urusan pekerjaan yang membuat Dion perlu datang langsung ke ruangannya.
“Kalau soal pekerjaan, ngomong saja.”
“Bukan soal pekerjaan.”
Jena menatapnya curiga. “Lalu?”
Dion malah duduk santai di kursi depan meja Jena. “Soal perjodohan kita.”
Jena terdiam beberapa detik, kemudian terkekeh. “Serius?”
“Aku serius.”
“Dion, kamu datang ke sini cuma untuk membahas itu?”
“Iya.”
Jena bersandar di kursinya. Senyum tipis menghiasi wajahnya, seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu hari itu. “Menurutku, kamu sedang bermimpi.”
Dion mengangkat alis. “Kenapa?”
“Karena sampai mati pun, aku nggak akan mau menikah sama kamu.”
Senyum Dion perlahan memudar. “Jena, jangan bercanda.”
“Aku nggak bercanda.”
Jena kembali menunduk, mengambil sebuah berkas, lalu membukanya. “Jadi, kalau tidak ada urusan pekerjaan, silakan keluar. Aku masih banyak kerjaan.”
Dion masih diam menatapnya. “Kamu benar-benar nggak mau mempertimbangkannya?”
Jena mengangkat wajah. “Tidak.”
Jawabannya singkat, tegas, tanpa sedikit pun keraguan.
Dion menghela napas, tetapi bukannya pergi, ia justru tersenyum tipis. “Baiklah. Kita lihat nanti.”
Jena mendengus. “Lihat apa?”
“Siapa tahu suatu hari nanti kamu yang berubah pikiran."
Jena tertawa kecil. “Kalau itu yang kamu tunggu, sepertinya kamu harus menunggu sampai kiamat. "
Dion berdiri sambil terkekeh. “Baik. Aku ingat ucapanmu."
Setelah Dion pergi, Jena menggeleng-gelengkan kepala. “Dasar orang aneh. Dalam mimpi pun, aku ogah nikah sama kamu."
Ia kembali fokus pada pekerjaannya, tanpa menyadari bahwa di balik sikap santai Dion tadi, ada keseriusan yang tidak bisa dianggap sebagai candaan.
Jena menatap layar komputernya dengan kesal. Sejak Dion datang ke ruangannya dan membahas perjodohan itu, pikirannya tak bisa tenang.
"Semua gara-gara Papanya." Ia mendengus kesal.
Papanya benar-benar punya ide gila dengan menjodohkannya dengan Dion. Tapi sepertinya, ini saran dari Juwita, ia yakin itu. Juwita pasti sudah bisa memperkirakan kalau nanti, perusahaan akan jatuh padanya, apalagi Papanya bilang 6 tahun lagi, saat usianya 65, dia ingin pensiun. Makanya Juwita ingin menikahkan Dion dengannya. "Dasar wanita licik! Bisa-bisanya Papa nurut banget sama dia. Aku harus buat Papa jatuh cinta pada perempuan lain, biar dia ninggalin ja lang itu."
Sebenarnya Jena ingin langsung mendatangi ruangan Papanya dan memprotes habis-habisan. Namun, sebelum berdiri dari kursinya, ia teringat pesan Mamanya.
Jangan terlalu menentang Papa kamu. Bagaimanapun, dia tetap Papa kamu. Kamu harus tetap menjaga hubungan baik dengannya. Kalau sampai hubungan kalian renggang, Juwita adalah orang yang paling akan bahagia.
Jena mengembuskan napas panjang, yang dikatakan Mamanya benar.
“Ya sudah. Jangan dilawan.”
Ia menyandarkan tubuhnya kembali sambil berpikir keras. Kalau menolak terang-terangan, Papanya pasti akan semakin memaksa. Lalu, bagaimana caranya menghentikan perjodohan itu tanpa harus berkonflik dengan Papa?
Beberapa detik kemudian, sebuah ide muncul di kepalanya. Jena tersenyum tipis.
“Kalau begitu, aku harus cari jalan lain.”
Ia langsung mematikan komputer, mengambil tasnya, lalu berjalan menuju ruangan Andika.
Namun, begitu pintu terbuka, langkah Jena seketika terhenti. Di dalam, ada Juwita. Perempuan itu sedang duduk santai di sofa sambil menemani Andika.
Jena menahan napas. "Ya ampun... pemandangan macam apa ini?" gumamnya pelan.
Rasanya baru beberapa detik melihat mereka saja sudah cukup membuat perutnya mual.
Juwita langsung tersenyum ketika melihat Jena.
“Jena, kamu datang? Sini, duduk dulu. Pas banget, kami sedang ingin makan siang. Tante bawa makanan dari rumah, ayo kita makan bersama."
Jena memaksakan senyum. “Tidak perlu repot-repot. Lagian saya tidak berminat dengan makanan anda. Takut."
Juwita mengernyit.
"Takut ketularan virus lakor." Jena tersenyum miring.
"JENA!" bentak Andika.
"Mas, sudahlah." Juwita mengusap lengan suaminya. "Aku bisa faham kok, kenapa Jena benci banget sama aku."
Hoek! Jena rasanya pengen muntah.
“Jena, kamu kelihatannya capek," Juwita sok peduli. "Jangan terlalu banyak bekerja. Kamu itu harus jaga kesehatan. Perempuan jangan terlalu sibuk kerja, harus jaga diri juga, perawatan, shoping, jalan-jalan, harus banget itu. Mendingan kamu buru-buru nikah deh, biar ada yang nafkahin, jadi gak perlu terlalu sibuk kerja."
"Tenang aja, saya memang ingin segera nikah kok."
Andika langsung menatap putrinya, kaget Jena tiba-tiba bilang ingin segera menikah.
"Benarkah?" Juwita kembali memastikan, ada senyum di wajahnya.
"Jadi, siapa yang kamu pilih, Angga atau Dion?" tanya Andika.
"Bukan keduanya."
Kening Andika langsung mengernyit, begitu pun dengan Juwita. "Lalu?"
"Jena punya calon sendiri."
Ruangan itu mendadak sunyi.
"Kamu punya pacar?"
"Ya kali wanita secantik Jena gak punya pacar, Pah. Wanita yang mukanya hasil oplas saja bisa merebut laki orang, apalagi Jena yang kayak bidadari ini." Ia tersenyum tipis. "Banyak Pah yang ngantri."
Wajah Juwita berubah kesal karena sindiran Jena.
"Siapa?"
"Nanti Jena kenalin sama Papa."
Andika mulai terlihat penasaran.
“Minggu depan, Jena bawa dia ke rumah. Jena mau dia kenalan dengan Papa dan Mama.”
Juwita saling pandang dengan Andika.
“Jena... kamu serius?” tanya Juwita.
"Aku ngomong sama Papa, bukan sama kamu."
Juwita mendengus, tangannya mencengkeram erat pinggiran sofa.
"Ya sudah, aku kesini cuma mau bilang itu. Permisi." Jena balik badan lalu keluar.
bukan karena cerita orang lain tapi dia mengalami sendiri, dan melihat ibunya tersakiti karena perbuatan bapaknya😭