Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Motor Ninja empat tak milik Rifki melaju dengan tenang membelah jalan malam. Tidak terlalu cepat, tetapi juga tidak lambat. Angin malam sesekali menerpa ujung kerudung Mia yang masih berada di balik helm.
Beberapa menit perjalanan berlalu tanpa percakapan.
Hingga akhirnya Rifki menunjuk ke arah sebuah kedai bakso sederhana yang masih ramai oleh beberapa pembeli. "Teh, aku mau berhenti sebentar di tukang bakso itu. Nggak apa-apa, kan?" tanyanya sambil sedikit menoleh.
Mia langsung menggeleng. "Nggak apa-apa, A. Silakan."
Rifki pun memperlambat laju motornya, lalu berhenti di depan kedai bakso tersebut.
Mia turun lebih dulu dari jok belakang. Setelah itu, Rifki memarkirkan motornya dengan rapi di tepi jalan. "Teteh tunggu sebentar, ya."
"Iya, A."
Rifki kemudian masuk ke kedai bakso. Mia berdiri di dekat motor sambil menunggu. Ia memandang sekeliling. Jalanan malam itu tidak terlalu ramai. Sesekali kendaraan melintas, sementara suara penjual bakso dan obrolan para pembeli terdengar samar dari tempatnya berdiri.
Tidak lama kemudian, Rifki keluar. Di kedua tangannya terdapat dua kantong kresek berisi bakso. "Sudah, Teh."
Mia mengangguk sambil tersenyum kecil.
Rifki menggantungkan kedua kantong tersebut di salah satu setang motornya, lalu kembali naik. "Ayo, Teh."
Mia kembali duduk di jok belakang. "Iya, A."
Motor kembali melaju menuju kontrakan mereka.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan kontrakan. Kebetulan, gerbang kontrakan masih terbuka. Rifki memperlambat motornya dan berhenti tepat di depan garasi.
Mia segera turun. "A Iki, terima kasih banyak atas tumpangannya."
"Sama-sama, Teh."
Mia melepas helm biru muda yang sejak tadi dikenakannya. Ia kemudian menyerahkannya kepada Rifki. "Ini helmnya."
Rifki menerima helm tersebut. "Iya, Teh."
Mia baru saja hendak berbalik ketika Rifki tiba-tiba mengambil salah satu kantong bakso yang tadi dibelinya. "Eh, Teh, tunggu."
Mia menoleh. "Iya, A?"
Rifki menyodorkan kantong bakso itu kepadanya. "Buat Teteh."
Mia sontak menggeleng cepat. "Nggak usah, A."
"Ambil, Teh."
Mia masih kukuh menggeleng. "Serius, A. Nggak usah. Buat Aa saja."
Rifki merengut. "Ambil, Teh. Nggak baik menolak rezeki. Pamali."
Mia terdiam. Sebenarnya, sejak tadi perutnya memang terasa lapar. Seharian bekerja, kemudian lembur sampai malam membuat tenaganya terkuras. Ia bahkan belum sempat membeli makanan untuk makan malam.
Namun, rasa sungkan membuat tangannya masih enggan menerima.
Melihat Mia yang terus ragu, Rifki kembali menyodorkan kantong itu. "Sudah, ambil saja. Aku beli dua memang buat dibagi sama Teteh."
Akhirnya Mia tersenyum kecil dan menerima kantong tersebut. "Kalau begitu... makasih banyak ya, A."
"Nah, begitu dong."
Mia menunduk sebentar sambil memegang kantong bakso itu erat-erat. "Semoga A Iki selalu dimudahkan rezekinya, dilancarkan pekerjaannya, disehatkan, dan selalu dipertemukan dengan orang-orang baik."
Rifki tersenyum. "Aamiin."
"Semoga semua kebaikan Aa dibalas berkali-kali lipat sama Allah."
"Aamiin, Teh. Makasih doanya."
Mia mengangguk. "Sama-sama, A."
Rifki menghidupkan kembali motornya. masang kembali helmnya. "Ya sudah, aku mau memasukan motor. Teteh buruan masuk gih!"
"Iya, A. Sekali lagi terima kasih," ulang Mia.
Rifki mengangguk, kemudian melajukan motornya masuk ke garasi.
Mia pun beranjak menuju pintu kontrakannya dan segera masuk. Begitu pintu tertutup, ia meletakkan tas di lantai. Bakso pemberian Rifki masih berada di tangannya.
Mia membukanya perlahan. Aroma kuah bakso yang hangat langsung menyeruak. Perutnya seketika berbunyi pelan. Senyum kecil terbit. "Alhamdulillah..." Ia pun segera berlari ke dapur, mengambil mangkuk dan sendok, menuangkan bakso tersebut untuk disantap.
Di tengah kehidupan yang serba pas-pasan, pemberian sederhana itu terasa begitu berarti baginya. "Ya Allah... A Iki baik sekali. Berbanding terbalik dengan suamiku." Ia menggeleng pelan. "Udah, ah. Nggak usah mikirin Edo dulu. Aku sekarang mau makan."
Di kontrakannya, Rifki senyum-senyum sendiri sambil menuangkan bakso ke dalam mangkuk. "Teh Mia..." Bibirnya bergumam pelan. "Seandainya Teteh masih sendiri, aku tidak mungkin sebingung ini, Teh." Rifki mengembuskan napas berat. "Ya Allah, maafkan aku karena menyukai istri orang. Aku tahu ini dosa. Tapi aku sungguh jatuh cinta pada Teh Mia." Mata Rifki terpejam. Membayangkan pertemuan pertamanya dengan Mia tiga tahun lalu.
"Teteh penghuni baru ya?" tanya Rifki.
"Iya, A."
"Sendiri?"
"Sama suami, A."
Rifki berdecak pelan. "Hah! Jadi keinget lagi, kan!" Ia mengacak rambutnya. "Dulu, wajah Teh Mia terlihat segar dan cantik sekali. Tapi sekarang... memang masih cantik sih. Hanya saja terlihat lesu. Sepertinya Teh Mia tertekan berumah tangga sama si Edo. Kasihan..." gumamnya.
Sedetik kemudian, Rifki mengucapkan istigfar. "Kenapa aku jadi membayangkan Teh Mia?" Ia buru-buru menepis semua ingatan itu dan fokus pada bakso di mangkuk yang sudah mulai dingin.
________
"Anjir! Ini sih udah kayak nonton di depan mata, Do!" seru Ohang sambil menatap layar ponsel Edo. "Gambar oke, suaranya juga jelas. Bahkan punya si Salma kelihatan nyata sekali. Item! Hahaha!" Tawa kencang Ohang menggema, disambut tawa kencang dari Edo juga.
"Emang item, Hang!" celetuk Edo di sela tawanya.
"Hahahaha!" Makin kencang lah tawa Ohang. "Tapi lo doyan. Sampai dua kali keluar!" ledeknya.
Edo mendengus. "Gua terpaksa, Hang. Dia maksa. Lo nggak lihat tuh. Segimana gatalnya dia. Sampai naik sendiri ke atas tubuh gue." Telunjuk Edo mengacung ke videonya dengan Salma yang tengah ditonton Ohang.
"Ya, ya. Gue bercanda Do." Ohang meralat ledekannya. "Thank you, Do. Akhirnya gue punya alat untuk membalas sakit hati gue ke si Salma." Seringai licik muncul di bibir hitam Ohang.
"Serah lo deh. Yang penting duit satu juta gue..." Edo menengadahkan tangannya tepat ke wajah Ohang.
"Tenang, Do. Kelar nonton nih video... gue langsung kasih ke lo."
Edo tersenyum senang. "Oke. Besok gue mau pake tuh uang buat ngajak jalan Yayang Bela. Udah kangen berat gue sama dia. Pengen mesra-mesraan sama." Ucapan itu diiringi tawa.
"Gila lo. Baru aja sama si Salma, eh... udah kepikiran aja buat mesra-mesraan sama si Bela."
"Ya kan beda, Hang. Kalau sama si Salma, gue terpaksa karena duit satu juta. Tapi kalau sama Yayang Bela... itu murni karena cinta," tutur Edo puitis bak seorang pujangga.
"Setan lo!" Ohang menoyor bahu Edo. "Kalau sama si Mia?"
Edo menjentikan jarinya. "Dia mah bini gue. Sumber keuangan gue lah. Hahaha!"
"Dasar!" Ohang akhirnya mematikan video itu setelah mengirimkannya ke HP-nya. "Eh, Do... gue mau tanya sesuatu nih sama lo soal Mia."
Alis Edo terangkat. "Apa?"
"Gimana kalau suatu hari nanti, si Mia tahu soal hubungan lo dan Bela, terus dia ngamuk dan minta cerai, apa yang bakal lo lakukan?"
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪