NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Srak... srek...

Ia mengeluarkan sebuah alat musik keyboard synthesizer tua yang bodinya sudah dimodifikasi dengan berbagai kabel dan tombol tambahan.

Alat itu terlihat sangat jelek dan berantakan dari luar, mirip seperti barang rongsokan dari tukang loak.

Leo menghubungkan kabel daya alat itu ke stopkontak di dinding, lalu menyambungkan kabel audionya ke speaker ruangan.

"S-sudah siap," ucap Leo yang tiba-tiba berhenti gemetar saat jari-jarinya menyentuh tuts synthesizer tersebut.

Postur tubuh Leo yang tadinya bungkuk kini sedikit tegap, matanya yang gelisah kini fokus sepenuhnya pada tombol-tombol di depannya.

"Silakan dimulai, Leo," ucap Clara memberikan aba-aba.

Leo menarik napas pelan lalu menekan satu tombol tuts di ujung kiri alatnya.

Tuuut... wushhh...

Sebuah suara bass elektronik yang sangat rendah dan bergetar mengalun memenuhi ruangan.

Suara itu terasa seperti dengungan mesin pesawat ruang angkasa yang sangat futuristik dan kelam.

Leo kemudian memutar dua buah kenop di bagian atas alatnya secara bersamaan dengan kedua tangan.

Tit... tit... tit... tet!

Alunan melodi elektronik mulai bermunculan dengan tempo yang semakin cepat dan sangat rumit.

Mata Stevan seketika melebar sempurna di balik maskernya.

Kemampuan Pendengaran Absolut miliknya langsung menganalisis setiap frekuensi yang keluar dari speaker tersebut.

"Progresi harmoni ini... dia menyusun poliritme yang sangat kompleks secara langsung?" batin Stevan dengan rasa terkejut yang luar biasa.

Jari-jari Leo bergerak menari di atas tuts dan tombol synthesizer itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Ia memodifikasi gelombang suara, menambahkan efek gema, dan memotong frekuensi tinggi dalam waktu sepersekian detik.

Ruang audisi itu kini terasa seperti berada di dalam sebuah klub malam futuristik di tahun tiga ribu.

Musik yang dihasilkan Leo sangat hidup, agresif, dan memiliki kedalaman emosi yang tidak biasa untuk genre elektronik.

Ting... neng... zzzzt!

Leo menekan tuts terakhir dan membiarkan suara gaungnya memudar secara perlahan di udara.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu saat Leo menarik tangannya dari synthesizer.

Pemuda itu kembali menundukkan kepalanya dan tubuhnya mulai gemetar lagi seperti semula.

"M-maaf... terlalu berisik ya?" cicit Leo dengan suara ketakutan.

Clara yang sejak tadi menahan napas akhirnya bisa membuang napasnya dengan kasar.

Gadis itu menatap Leo dengan mulut sedikit terbuka karena takjub melihat perubahan drastis pemuda itu saat bermain musik.

"Itu tadi sangat luar biasa, Leo," puji Clara dengan nada tulus.

"Aku belum pernah mendengar musik elektronik yang bisa menceritakan sebuah perasaan kesepian sekuat itu."

Mendengar pujian itu, Leo sedikit mengangkat wajahnya dan menatap Clara dengan ragu-ragu.

[TING!]

[Pemindaian Potensi selesai.]

[Nama: Leo]

[Bakat Khusus: Kejeniusan Komposisi Elektronik Tingkat Master, Sinkronisasi Poliritme Tingkat Dewa.]

[Kondisi Khusus: Sindrom Asperger (Spektrum Autisme).]

[Rekomendasi Sistem: Sangat direkomendasikan untuk direkrut sebagai produser musik pendamping.]

Stevan tersenyum sangat lebar di balik masker medis hitamnya.

Pencariannya hari ini sama sekali tidak sia-sia.

Pemuda gagap yang tidak berani menatap mata orang lain ini adalah bongkahan berlian murni yang dilewatkan oleh seluruh industri.

Stevan berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan mendekati Leo.

Leo yang ketakutan melihat Stevan mendekat refleks mundur selangkah hingga menabrak dinding.

Stevan berhenti tepat di depan Leo, ia tidak mengulurkan tangannya untuk bersalaman karena tahu orang seperti Leo mungkin tidak suka sentuhan fisik.

Stevan hanya mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan dengan sangat cepat.

Ia menyodorkan layar ponsel itu tepat ke hadapan Leo.

"Aku tidak peduli kau bisa bicara normal atau tidak," bunyi tulisan di layar ponsel Stevan.

"Mulai besok pagi, kau adalah Kepala Produser Musik Elektronik di Zeros Records."

Leo membaca tulisan itu berulang kali dengan mata yang semakin lama semakin berkaca-kaca.

Selama bertahun-tahun ia mencoba melamar ke berbagai label rekaman, namun mereka selalu menolaknya saat sesi wawancara karena ia dianggap idiot.

Baru kali ini ada seseorang yang menilai dirinya murni dari suara musik yang ia hasilkan.

"D-diterima? Aku... aku diterima?" tanya Leo dengan air mata yang mulai menetes jatuh ke lantai.

Stevan menganggukkan kepalanya dengan sangat mantap.

Ia mengetik kalimat tambahan di bawahnya.

"Siapkan semua alat musik rongsokanmu ini, aku akan membelikan yang baru dengan kualitas studio kelas dunia untukmu besok."

"Selamat bergabung dengan Zeros Records, Leo."

Leo mengusap air matanya dengan lengan kemeja kotak-kotaknya dan tersenyum sangat lebar untuk pertama kalinya.

"T-terima kasih... Tuan Zero... aku akan bekerja keras," ucap Leo dengan nada yang sangat tulus meskipun masih tergagap.

Clara ikut bertepuk tangan pelan melihat momen mengharukan di depannya ini.

Gadis itu sangat mengerti bagaimana rasanya diselamatkan oleh Stevan saat dunia membuang mereka.

"Kak Stevan memang punya radar khusus untuk menemukan orang-orang berbakat yang tersingkirkan," batin Clara sambil tersenyum hangat.

Stevan menatap Clara dan memberikan isyarat dengan jarinya untuk melanjutkan audisi.

Ia mengetik pesan kepada Clara dari seberang ruangan.

"Satu anggota inti sudah kita dapatkan hari ini."

"Sekarang kita hanya butuh satu orang lagi, seorang pemain gitar yang bisa mengimbangi permainanku."

Clara menganggukkan kepalanya dan kembali melihat daftar nama di kertas pendaftaran.

Mereka harus mencari gitaris yang memiliki kemampuan luar biasa namun dibuang oleh industri.

Mencari orang seperti itu di antara ratusan pelamar palsu di luar sana tentu akan menjadi tantangan yang sangat melelahkan.

Tapi kerajaan musik Zeros Records kini sudah mulai menunjukkan bentuk aslinya.

Dengan masuknya jenius synthesizer seperti Leo, produksi musik Stevan akan menjadi jauh lebih tidak masuk akal dari sebelumnya.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!