NovelToon NovelToon
Sang Mafia di Biara

Sang Mafia di Biara

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Gizelly Ladislau

Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.

Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.

Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.

Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.

Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

POV Mary Mendez

Malam yang bermula penuh keraguan itu berakhir menjadi sesuatu yang nyaris riang.

Natália, seperti biasa, melontarkan komentar-komentar sinis yang memancing tawa bahkan dari kami yang paling serius. Bárbara berpura-pura tak peduli, menyilangkan lengan dan menyangkal semua yang justru diakui oleh raut wajahnya. Graziela mengamati semuanya dengan ketenangannya yang biasa, berusaha menjaga sedikit keteraturan dalam percakapan yang jelas-jelas sudah lepas kendali itu.

Aku hanya mendengarkan.

Atau setidaknya berusaha.

Karena jauh di lubuk hati, pikiranku tertuju pada Dante.

Pada matanya.

Pada kata-katanya.

Pada ciuman yang masih membakar ingatanku seperti sebuah kenangan terlarang.

Kuambil satu donat lagi dari nampan di atas meja dan menggigitnya tanpa sadar ketika terdengar beberapa ketukan di pintu.

Semua terdiam.

Aku bangkit dan pergi membukanya.

Ketika mendapati Nyonya Consuelo di sisi lain pintu, aku sedikit terkejut.

Ia tersenyum.

Senyum hangat yang seolah mampu menembus jiwa setiap orang.

"Boleh aku masuk?"

"Tentu, Nyonya Consuelo."

Aku menyingkir untuk memberinya jalan.

Ia masuk sambil mengamati kamar itu dan kami masing-masing.

Natália duduk di atas ranjang.

Bárbara di sisi jendela.

Graziela di sebuah kursi tak jauh dari situ.

Aku menutup pintu dan duduk di sampingnya.

Consuelo mengamati kami beberapa saat, lalu tersenyum jenaka.

"Jadi kalian menggelar pertemuan khusus perempuan dan tidak mengundangku?"

Beberapa tawa terlepas.

Aku pun ikut tersenyum.

Sesaat, seluruh ketegangan lenyap.

Tapi hanya sesaat.

Aku bertukar pandang dengan para gadis.

Kami tahu urusan ini harus dituntaskan.

Aku menarik napas dalam-dalam.

"Nyonya Consuelo... aku memanggil mereka ke sini karena mungkin kami sudah melakukan kesalahan dengan menerima undangan dan tawaran Nyonya."

Senyum Consuelo langsung lenyap.

Matanya menyiratkan kecemasan.

"Kenapa? Apakah ada seseorang yang berbuat sesuatu terhadap kalian?"

"Tidak!" jawabku cepat.

Sebelum aku sempat menjelaskan, Natália mengambil alih pembicaraan.

Seperti biasa.

"Nyonya Consuelo, bukan begitu."

Ia menarik napas dalam-dalam.

Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya terdengar serius.

"Kenyataannya, kami jatuh cinta pada putra-putra Nyonya."

Keheningan menguasai kamar.

Jantungku berpacu.

"Natália..." bisikku.

Tapi ia melanjutkan.

"Mary ingin lari dari ini. Kami semua berusaha melarikan diri. Tapi setelah semua yang terjadi... kurasa hanya ada dua pilihan: terus membohongi diri sendiri atau menerima perasaan kami."

Wajahku terasa panas.

Kurasakan tanganku gemetar di atas pangkuanku.

Consuelo terdiam beberapa saat.

Lalu tersenyum.

Senyum yang lembut.

Keibuan.

Penuh pengertian.

"Aku mengerti."

Ia menggenggam tanganku.

"Dan kalau memang begitu keadaannya... aku akan membantu siapa pun yang ingin tinggal."

Aku menatapnya dengan terkejut.

"Sungguh suatu kehormatan memiliki salah satu dari kalian dalam keluargaku."

Mataku berkaca-kaca.

Ketulusan perempuan itu mustahil diabaikan.

Ia melanjutkan, "Rumah sakit akan segera rampung."

"Anak-anak di tempat penitipan menyayangi kalian."

Tatapannya menyapu kami satu per satu.

"Aku tidak memaksa apa pun. Aku tak akan pernah melakukan itu."

Suaranya menjadi lebih lembut.

"Tapi kalau kalian ingin tinggal... kalian akan mendapat dukunganku."

Ia menarik napas dalam-dalam.

"Dan kalau kalian memutuskan kembali ke biara, aku sendiri yang akan mengantar kalian pulang."

Kamar itu tenggelam dalam keheningan.

Keheningan yang sarat emosi.

Rasa takut.

Harapan.

Impian.

Sampai akhirnya Bárbara bersuara.

"Nyonya... terima kasih untuk segalanya."

Ia menunduk.

"Tapi aku menerimanya."

Natália mengangkat sebelah alis.

"Menerima apa?"

"Kembali ke biara."

Seketika Natália tergelak.

"Bohong."

"Natália!"

"Kau tidak mau kembali."

Bárbara menyilangkan lengan.

"Mau kok."

"Tidak mau."

"Mau."

"Tidak mau."

Graziela menggeleng.

"Dia sedang kabur."

"Tidak!"

"Kabur kok," sahut Natália.

Lalu ia menunjuk Bárbara.

"Kau sedang lari dari perasaanmu pada Giovanni."

Wajah Bárbara memerah.

Merah sekali.

"Aku tidak jatuh cinta pada siapa pun!"

"Tentu saja tidak."

"Tidak!"

"Kalau begitu tatap mataku dan katakan kau tidak merasakan apa pun saat dia muncul."

Bárbara membuka mulut.

Tapi tak sepatah kata pun keluar.

Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Graziela lalu menambahkan, "Dan kalaupun kau kembali ke biara..."

Ia tersenyum.

"Giovanni akan menyusulmu ke sana."

Mata Bárbara membelalak.

"Graziela!"

"Pasti dia susul."

Consuelo mulai tertawa.

Lalu menggeleng.

"Mengenal putraku..."

Ia berusaha menahan senyum.

"Aku sama sekali tidak meragukan dia sanggup melakukan itu."

Kini aku pun ikut tersenyum.

Bárbara tampak seperti hampir pingsan karena malu.

Wajahnya merah padam.

Dan jauh di lubuk hati, kami semua tahu mereka benar.

Giovanni memang akan melakukannya.

Consuelo bangkit berdiri.

"Pikirkanlah baik-baik."

Ia merapikan rambut Natália seperti yang dilakukan seorang ibu.

Lalu menatap kami satu per satu.

"Jangan memilih karena rasa takut."

Kata-katanya menyentuh hatiku.

"Pilihlah apa yang akan membuat kalian bahagia."

Ia melangkah ke pintu.

"Kalau kalian sudah punya jawaban, temui aku."

Kami semua ikut berdiri.

"Terima kasih, Nyonya Consuelo."

Ia tersenyum.

"Selamat malam, gadis-gadis."

Lalu ia keluar.

Pintu tertutup.

Keheningan kembali menyelimuti kamar.

Tapi itu bukan lagi keheningan yang sama.

Kini ia dipenuhi berbagai kemungkinan.

Pandanganku beralih ke jendela.

Di luar sana, bulan menyinari malam.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku menyadari bahwa mungkin Tuhan tidak sedang memintaku lari dari perasaanku.

Mungkin Ia justru memintaku memiliki keberanian untuk menghadapinya.

Dan ketika aku memikirkan Dante...

Hatiku menjawab bahkan sebelum akal sehatku sempat bicara.

Karena, sekeras apa pun aku berusaha menyangkalnya...

Aku mencintainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!