Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GERBANG LANGIT YANG TIDAK MEMINTA IZIN
Perjalanan menuju Domain Abadi Tian Jue tidak terasa seperti menuju tempat. Ia terasa seperti menuju sebuah keadaan. Semakin jauh mereka meninggalkan Domain Ruang Kuno, semakin kabur batas antara langit dan bumi. Awan di atas tidak lagi bergerak ia melayani. Angin tidak lagi berhembus ia memerintah. Dan di kejauhan, di atas cakrawala yang tampak terlalu sempurna, berdiri gerbang raksasa yang terbuat dari emas putih dan cahaya murni. Tidak ada penjaga. Tidak ada tembok. Hanya gerbang yang terbuka lebar, seakan menunggu mereka sejak awal waktu.
Xuanyuan berhenti melangkah. Di tangannya, empat relik yang dikumpulkan dari empat domain berbeda kini bergetar bersamaan Cermin Jiwa Terbelah, Pedang Jiwa Terakhir, Benang Ruang Purba, dan Gulungan Kas Darah yang tergantung di pinggangnya. Semuanya mengerang pelan, seakan takut mendekati gerbang itu.
"Ini bukan gerbang," katanya pelan. "Ini adalah peringatan. Satu gerbang yang tidak memiliki penjaga... adalah gerbang yang tidak perlu dijaga. Karena tidak ada yang berani masuk dengan sukarela."
Lian Yue menggenggam lengan bajunya. Wajahnya pucat.
"Dan jika kita masuk tanpa diundang... kita bukan tamu. Kita adalah pelanggar."
"Tian Jue tidak membangun gerbang ini untuk mengusir musuh. Dia membangunnya agar semua orang merasa tidak layak masuk. Dia membangunnya agar semua orang merasa kecil, kotor, dan tidak berharga. Itu adalah senjatanya yang paling mematikan bukan pedang, bukan sihir. Tapi rasa rendah diri yang dia tanamkan ke dalam setiap jiwa yang memandang tempat ini." Lang Wuyan terdengar berat, seakan menatap bayangan masa lalu yang pernah menghancurkan dirinya.
Mereka melangkah melewati ambang gerbang. Tidak ada suara. Tidak ada kilatan cahaya. Hanya perubahan halus udara di sekitar menjadi lebih ringan, namun lebih berat untuk dihirup. Di hadapan mereka terbentang sebuah kota yang tidak dibangun di atas tanah, melainkan melayang di atas awan putih yang tak berujung. Istana-istana emas tersusun rapi, jalan-jalan dari batu giok bening, dan di tengahnya, menjulang Menara Langit struktur tertinggi yang puncaknya menghilang di dalam kabut emas yang kekal.
Tidak ada orang di jalanan. Tidak ada suara. Kota ini hidup, tapi tidak bernapas.
"Klan Tian tidak memiliki rakyat," bisik Xuanyuan. "Mereka hanya memiliki pengikut. Dan pengikut bukanlah manusia. Pengikut adalah bagian dari satu kehendak."
Mereka berjalan di jalan giok yang lebar dan sunyi. Setiap langkah bergema berulang-ulang, seakan kota ini menghitung setiap kedatangan yang berani. Di kejauhan, di halaman depan Menara Langit, satu sosok berdiri menunggu. Pakaiannya sederhana jubah putih tanpa hiasan. Rambutnya terikat rapi ke belakang. Wajahnya tenang, namun matanya memancarkan kedalaman yang membuat udara di sekitarnya terasa menegang.
Itu bukan jenderal. Bukan pelayan. Itu adalah Tian Jue.
Ia tidak duduk di singgasana. Ia tidak bersenjata. Ia berdiri di tanah yang sama dengan mereka, seakan menyamakan kedudukan. Dan justru itulah yang paling menakutkan dia tidak merasa perlu berada di atas mereka untuk merasa lebih tinggi.
Tian Jue menatap Xuanyuan, lalu menatap ketiga relik yang bersinar di sekelilingnya. Ia mengangguk pelan, seakan mengakui pekerjaan yang selesai.
Kau datang lebih cepat dari yang kuhitungkan. Dan kau membawa lebih banyak hati yang terluka daripada yang kukira.
Xuanyuan berhenti sepuluh langkah darinya. Ia tidak mencabut pedangnya.
"Kau membunuh orang tuaku. Kau mengirim orang membunuhku sejak aku masih kecil. Kau memerintahkan empat keluarga untuk memburuku. Dan sekarang... kau berdiri di sini seakan kita adalah kawan lama yang bertemu di pasar?"
Tian Jue tersenyum tipis. Bukan senyum mengejek. Senyum sedih.
Aku tidak membunuh orang tuamu. Aku membiarkan mereka mati. Ada perbedaan yang sangat dalam, Xuanyuan. Mereka memilih mati agar kau bisa hidup. Dan aku... aku memilih menanggung beban yang mereka tolak.
Ia melangkah maju satu langkah. Jian Qing mencabut pedangnya, tapi Tian Jue mengangkat satu tangan dan pedang itu berat kembali ke sarungnya, seakan ditarik oleh takdirnya sendiri.
Dengarkan aku sekali. Bukan agar kau memaafkan. Tapi agar kau tahu apa yang sebenarnya kau potong jika kau menebas leherku.
Tian Jue menunjuk ke langit di atas mereka, ke kabut emas yang menyembunyikan puncak menara.
Di luar langit ini ada kekosongan. Bukan kegelapan. Bukan kejahatan. Tapi ketiadaan. Sesuatu yang menelan semua yang ada di dalamnya tanpa amarah, tanpa kebencian, tanpa tujuan. Ia hanya menelan. Dan setiap seribu tahun, ia semakin dekat.
Ia berhenti, menelan ludah seakan kata-kata berikutnya terasa pahit.
Orang tuamu tahu. Mereka adalah yang pertama melihatnya. Mereka mencari cara untuk mengisinya. Memberinya makna. Memberinya hati. Tapi mereka terlambat. Kekosongan itu sudah menuntut bayaran. Jadi mereka memutuskan satu hal: jika tidak ada yang bisa mengisinya... maka seseorang harus menahannya keluar. Seseorang harus menjadi dinding di antara dunia dan ketiadaan.
Tian Jue menunjuk ke dadanya sendiri.
Aku menawarkan diri. Aku berkata: biarkan aku yang memegang pintu itu tertutup. Tapi pintu itu berat. Terlalu berat untuk satu orang. Ia membutuhkan kekuatan. Ia membutuhkan pengorbanan. Bukan karena aku kejam. Tapi karena pintu itu tidak peduli apakah darah yang ditawarkan darah orang baik atau orang jahat. Ia hanya menuntut jumlah yang cukup.
Keheningan menyelimuti mereka. Xuanyuan menggenggam erat Cermin Jiwa di dadanya. Tangannya gemetar.
"Jadi membantai ribuan nyawa... itu bukan kejahatan. Itu tugas suci? Dan aku... aku yang datang menghentikanmu... aku adalah penjahat yang merusak penyelamatan dunia?"
Tian Jue menatapnya lurus. Matanya jernih, tanpa kebohongan.
Itulah pertanyaannya, bukan? Jika kau membunuhku hari ini... dan pintu itu terbuka... dan semua yang kucoba lindungi hancur... maka siapa yang salah? Aku yang membunuh ribuan untuk menyelamatkan jutaan? Atau kau yang membunuh satu orang untuk membalas dendam, dan membiarkan semua binasa?
Ia melangkah mundur, menunjuk ke arah tangga menara di belakangnya.
Aku tidak akan melawanmu. Pedangku sudah lama tidak terhunus. Di atas sana, di ruang tertinggi, ada Gerbang Kekosongan Purba. Di depannya ada dua kursi. Satu untukku. Satu untukmu. Naiklah. Duduklah di kursiku. Rasakan beban yang kupegang selama ribuan tahun. Dan setelah kau merasakannya... putuskan sendiri apakah kau akan menebas leherku, atau berlutut di sampingku dan memegang pintu itu bersamaku.
Tian Jue berbalik perlahan dan berjalan menaiki tangga menara. Langkahnya berat, seakan setiap langkah menanggung berat seluruh dunia.
Aku menunggu di puncak. Pintu itu terbuka sekali setiap seribu tahun. Dan sekarang... ia sedang terbuka. Waktumu habis, Liu Xuanyuan. Pilihannya ada di tanganmu. Bukan pedangmu. Tanganmu.
Xuanyuan berdiri sendirian di halaman luas yang sunyi. Di satu sisi, jalan menuju puncak dan kebenaran yang mungkin menghancurkan semua alasan kebenciannya. Di sisi lain, jalan pulang dan membiarkan ribuan kematian terus berlanjut.
Lian Yue meletakkan tangannya di bahu Xuanyuan.
"Apa pun yang kau pilih... aku bersamamu. Tapi ingatlah satu hal: orang tuamu tidak mati agar seseorang menanggung beban sendirian. Mereka mati agar tidak ada yang perlu menanggungnya sendirian."
Xuanyuan mengangkat wajahnya. Angin langit meniup rambutnya. Ia memegang ketiga relik di tangannya, lalu menyentuh kain hitam yang menutupi mata kirinya.
"Aku tidak akan duduk di kursimu, Tian Jue. Dan aku tidak akan memegang pintu itu dengan cara yang sama. Tapi aku akan naik ke atas sana. Bukan untuk membunuhmu. Tapi untuk membuktikan padamu... bahwa ada cara lain."
Ia melangkah menaiki tangga giok yang tak berujung. Satu per satu. Perlahan. Di belakangnya, Lian Yue dan Jian Qing mengikuti. Dan di dalam cincin perak di jarinya, Lang Wuyan terdengar pelan, bergetar emosi yang tertahan.
"Naiklah, muridku. Tunjukkan pada guruku yang telah lupa bagaimana cara berharap... bahwa harapan adalah senjata yang lebih berat daripada pengorbanan."