"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."
Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.
Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.
Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.
Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.
Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.
Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Pembangkangan
Nikolai
Kubuka pintu mobil. Helena masuk sambil menggenggam ponsel erat-erat. Ia tak memandangku. Sepanjang perjalanan ia tetap membisu, menatap pemandangan di balik jendela seolah aku tak ada di sana. Sikap acuhnya membuatku lebih jengkel daripada konfrontasi langsung mana pun.
Kami tiba di landasan. Terlambat.
Aku turun dari mobil dan merasakan angin dingin menampar wajah. Di luar, Tatiana dan Dmitry tertawa akan sesuatu yang sepele, seakan dunia tidak baru saja berubah. Helena turun sesaat kemudian, masih mengutak-atik ponsel, terlalu abai untuk seleraku.
Secara impulsif, kurenggut benda itu dari tangannya dan kulempar ke tanah.
Bunyi benturan yang keras menggema lebih nyaring dari seharusnya.
Helena mengangkat pandangannya, terkejut. Tak ada rasa takut di sana. Hanya kemarahan. "Apa masalahmu?" tanyanya, suaranya mantap.
"Aku tak percaya keluarga Lombardi," jawabku, lugas, tanpa berputar-putar.
Matanya berkilat murka. Sebuah kilau tajam, menantang. Kupalingkan punggung, menutup perkara itu dengan caraku sendiri.
"Kalau begitu mungkin aku harus menjalani penggeledahan intim, suamiku."
Kalimat itu meluncur sarat sindiran.
Tatiana terbahak keras di belakang kami.
Kupalingkan wajah perlahan dan kutatap Tatiana tajam-tajam. Tawa itu langsung mati. Ia mengangkat kedua tangan tanda menyerah dan naik ke jet tanpa menoleh. Dmitry menyusul setelahnya, dalam diam.
Aku mendekati Helena. Cukup dekat untuk merasakan embusan napasnya di wajahku. Ia tak mundur. Tak menundukkan mata. Ia menahan tatapan itu seakan menantangku.
"Aku tak suka dilawan," ujarku, pelan, terkendali. "Dan demi kebaikanmu sendiri, lebih baik kau diam."
Ia tak menjawab. Tetapi keheningannya bukan kepatuhan.
Itu pernyataan perang.
Aku naik ke jet lebih dulu. Di puncak tangga, aku berbalik dan mengulurkan tangan untuk membantunya naik. Sebuah gerak sederhana. Otomatis. Mungkin sudah terlambat.
Helena memandang tanganku… lalu mengabaikannya.
Ia naik sendiri. Sepatu haknya goyah sesaat dan ia nyaris hilang keseimbangan, tetapi terlalu cepat menguasai diri, terlalu angkuh untuk menerima bantuan apa pun dariku. Aku tak berkata apa-apa. Hanya mengamati.
Ia berjalan melewatiku tanpa memandangku, lalu duduk, memalingkan wajah ke jendela, seolah aku tak ada. Tubuhnya kaku. Sikapnya tegak. Sebuah keheningan yang diperhitungkan.
Aku duduk di sisinya. Jarak di antara kami sekecil apa pun, tetapi bisa saja terasa seperti sebuah jurang.
Jet mulai bersiap lepas landas. Deru mesin mengisi ruang, tetapi tak meredam ketegangan. Helena terus berpura-pura aku tak ada. Aku berpura-pura hal itu tak memengaruhiku.
Padahal memengaruhiku.
Perempuan di sisiku ini tidak rapuh. Tidak penurut. Dan, saat itu, aku yakin akan satu hal yang terlalu mengusik untuk kuakui:
Helena Lombardi takkan tunduk dengan mudah.
Dan mungkin… hanya mungkin… justru itulah yang membuatnya berbahaya.
Jet akhirnya stabil. Getarannya berkurang, deru mesin menjadi ajek. Kutoleh ke samping.
Helena masih mengenakan gaun pernikahan, sepatu hak tinggi, tubuhnya kaku seolah busana itu adalah baju zirah. Ia terus menatap jendela, jauh, tertutup.
"Barang-barangmu ada di kabin," ujarku, dengan nada datar. "Kalau kau mau ganti baju."
Ia tak langsung menjawab. Tak pula memandangku. Ia diam beberapa detik, seakan sedang menimbang apakah aku pantas diberi reaksi apa pun. Lalu, tanpa sepatah kata, ia hanya mengangguk pelan.
Ia bangkit dan menuju kabin tanpa berkata apa-apa. Jet kembali sunyi, berat. Beberapa menit berlalu sampai pintu itu terbuka lagi.
"Nikolai…" panggilnya, suaranya pelan, tertahan.
Aku bangkit dan menghampirinya. Begitu masuk ke kabin, aku langsung mengerti. Gaun itu terlalu rumit, terlalu tertutup. Ia tak bisa membukanya sendiri.
"Berbalik," ujarku, singkat.
Helena menurut. Ia membelakangiku, menahan kain gaun di tubuhnya. Kumulai membuka kancingnya perlahan. Jemariku menyentuh kulitnya tanpa sengaja — atau memang sengaja — dan kurasakan gidik seketika menjalari punggungnya. Kulitnya menanggapi sentuhanku bahkan sebelum ia sempat menyembunyikannya.
Aku tak berkata apa-apa. Kurampungkan apa yang kumulai.
Ia berbalik, masih menahan gaunnya, matanya menunduk. "Terima kasih," ujarnya, nyaris berbisik.
Aku mengangguk sekali.
Kutunjuk meja kecil di samping. Di atasnya, sebuah ponsel baru dan sebuah kartu kredit. "Itu milikmu," hanya itu kataku.
Tanpa penjelasan. Tanpa syarat yang tersurat.
Aku keluar dari kabin sebelum ia sempat berkata apa-apa.
Kututup pintu di belakangku dengan keyakinan yang mengusik bahwa gerak sederhana itu — membantunya, menyentuh kulitnya, memberi sesuatu tanpa menuntut imbalan apa pun — telah membuka sebuah celah yang berbahaya.
Sebab kendali selalu menjadi senjataku.
Dan Helena Lombardi, sedikit demi sedikit, mengancam menjadi hal pertama yang membuatku menurunkan senjata itu.
Ia kembali dan duduk di sisiku dalam diam. Gaunnya sudah berganti dengan sesuatu yang lebih sederhana. Ia mengutak-atik ponsel baru itu dengan hati-hati, seakan masih menguji batas-batas wilayah yang kini menjadi — suka atau tidak — duniaku.
Aku berpura-pura tak memperhatikannya. Kubuka laptop, kufokuskan diri pada laporan, angka, rute. Bekerja. Kendali. Meski begitu, aku menyadari saat gerakannya melambat. Saat tubuhnya mengendur. Saat napasnya berubah.
Kutoleh ke samping.
Ia tertidur.
Kututup laptop perlahan dan menyandarkan kepala ke kursi. Kupejamkan mata sejenak dan menarik napas dalam-dalam. Sebuah keletihan lama membebani bahuku. Bukan sekadar letih fisik. Sesuatu yang lebih dalam.
Aku pun akhirnya ikut terlelap.
Aku terjaga tak lama sebelum mendarat. Pengumuman menggema di kabin. Kutoleh ke samping. Helena masih tidur, tak menyadari apa pun. Bahkan benturan lembut pendaratan tak membangunkannya.
"Mengagumkan," komentar Dmitry sambil tertawa.
"Kau bahkan bisa kabur tengah malam dan dia takkan sadar."
Kulempar tatapan yang membuatnya langsung bungkam.
Kupanggil Helena dengan namanya. "Helena."
Tak ada respons.
Kucolek lengannya perlahan. Barulah ia terbangun, kebingungan, mengerjap beberapa kali sebelum menatapku.
"Kita sudah sampai," hanya itu kataku.
Ia mengangguk pelan, masih setengah linglung, seolah ia terjaga bukan hanya dari tidurnya… tetapi dari kehidupan yang ia miliki sebelum mengenalku.