Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.
Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.
Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?
Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Di Dalam Mobil
Sebelum Liana sempat membalas pesan, pintu ruang istirahat terbuka.
Renard keluar dengan wajah pucat. Kancing paling atas kemejanya terbuka, napasnya dangkal, dan satu tangannya mencengkeram kusen.
Rizal berdiri dari kursi. "Pak Renard, perlu saya panggil dokter?"
"Tidak. Semua pulang."
"Tapi jadwal sore..."
"Batalkan."
Bayu segera menarik Rizal ke arah lift. Beberapa pegawai yang masih berada di lorong pura-pura tidak melihat, meski langkah mereka melambat.
Liana bangkit. "Pak, saya bisa panggil Mas Agus."
Renard melewatinya tanpa menjawab.
Tiga langkah kemudian, tubuhnya goyah.
Liana refleks berbalik. "Pak Renard?"
Pria itu berhenti tepat di belakangnya.
Lalu kedua lengannya melingkari Liana dari belakang.
Semua suara di lorong lenyap.
Dada Renard menempel pada punggungnya. Wajahnya tenggelam di rambut Liana. Kemeja hitam yang dikenakan Liana menjadi satu-satunya lapisan di antara panas tubuh mereka.
"Jangan bergerak," bisiknya. "Biarkan aku bersandar sebentar."
Liana menatap lurus ke depan. Pintu lift masih terbuka. Rizal mematung dengan mulut sedikit terbuka, sedangkan Bayu buru-buru menekan tombol tutup sambil menyeretnya masuk.
"Delapan menit," kata Renard, suaranya bergetar tipis. "Kalau aku belum membaik, panggil Elvin."
"Baik."
Liana menyalakan penghitung waktu di jam tangannya.
Menit pertama, napas Renard masih membakar tengkuknya.
Menit ketiga, cengkeraman di pinggangnya mulai longgar.
Menit keenam, getaran di lengan pria itu berhenti.
Pada menit kedelapan, Renard melepaskannya dan mundur dua langkah.
Jarak yang kembali terbuka terasa anehnya dingin.
"Maaf," katanya.
Liana berbalik. "Gejala Bapak yang melakukannya."
"Tubuh ini tetap milikku. Tindakannya tanggung jawabku."
"Saya mengizinkannya," kata Liana. "Bapak meminta waktu dan memberi batas delapan menit."
"Kamu mengizinkan setelah aku sudah memelukmu."
Liana tak bisa membantah.
Renard menatap lantai. "Lain kali aku bertanya dulu. Bahkan saat kambuh."
Janji itu tidak romantis. Tidak disertai senyum. Namun justru karena diucapkan saat tubuhnya masih kesakitan, Liana mempercayainya.
"Baik," jawabnya. "Lain kali saya juga akan menjawab jujur."
Ia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang. "Agus, siapkan mobil. Dan hubungi dealer Maserati."
Liana mengerutkan dahi. "Untuk apa?"
"Mobil operasionalmu."
"Saya sudah bisa naik MRT atau Grab."
"Seorang asisten pribadi harus dapat bergerak sesuai jadwalku."
"Bapak baru saja memeluk saya, bukan menabrak saya. Tidak perlu mengganti rugi dengan Maserati."
Renard menatapnya. Untuk pertama kalinya hari itu, warna tipis kembali ke wajahnya. "Itu bukan ganti rugi."
"Lalu apa?"
Ia tampak tak memiliki jawaban yang mau diucapkan. "Kebutuhan kerja."
"Mobil seharga rumah bukan kebutuhan kerja saya."
"Mulai besok, iya."
Perdebatan berhenti ketika pintu lift terbuka lagi dan Agus keluar. Sopir itu hanya perlu melihat wajah Renard sekali.
"Mobil sudah siap, Pak."
***
Di dalam lift, Liana membalas pesan melalui ponsel kedua.
Saya bisa sekarang. Basement B3. Mobil yang biasa. Pastikan penutup mata terpasang sebelum saya masuk.
Pesan dibaca seketika.
Renard yang berdiri di sisi lain lift melihat ponsel hitam di tangannya menyala. Keduanya sama-sama menunduk ke layar, sama-sama menyembunyikan percakapan yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
"Saya perlu mengambil barang di basement," kata Liana.
"Agus antar kamu pulang setelah itu."
"Bapak?"
"Ada urusan pribadi."
"Saya juga."
Pintu lift terbuka. Mereka berjalan ke arah berbeda, Renard menuju mobil hitam di area privat, Liana menuju kamar kecil di dekat ruang parkir untuk mengganti penampilan dan menyimpan tas kerja.
Lima belas menit kemudian, ia kembali dengan mantel panjang dan rambut disanggul rendah. Lampu di dalam mobil sudah mati. Kaca belakang gelap. Melalui celah pintu, ia melihat kain sutra hitam terikat di mata Renard.
Liana mengetuk dua kali.
Kunci terbuka.
Ia masuk ke kursi belakang dan mengunci pintu lagi.
Di konsol tengah sudah tersedia air mineral, tisu, alat pengukur tekanan darah, dan kotak obat. Liana memeriksa tekanan Renard, mencatat angkanya di aplikasi terapi, lalu menulis angka itu di telapak tangannya.
"Masih aman?" tanya Renard.
Liana menulis `ya`, kemudian menggambar garis pendek sebagai pengingat bahwa mereka harus berhenti setiap satu jam. Sesi darurat tidak berarti prosedur boleh diabaikan.
"Nona Terapis."
Hanya dua kata. Namun rasa lega di dalamnya membuat dada Liana mengencang.
Ia meletakkan gelang darurat di pergelangan, lalu menyentuh tangan Renard sebagai tanda sesi dimulai.
Pria itu langsung menautkan jemari mereka.
"Hari ini buruk," katanya.
Liana menulis di telapak tangannya. A-k-u t-a-h-u.
Renard tersenyum hambar. "Tentu saja kamu tidak tahu."
Andai saja ia tahu.
Basement B3 sunyi dan dingin. Agus telah memindahkan mobil ke petak tertutup lalu menunggu di ruang sopir yang terpisah. Mesin mati, tetapi pendingin tambahan menjaga udara tetap nyaman.
Renard bersandar. Liana duduk menyamping di sebelahnya, mengusap lengan dan bahunya dengan pola yang sudah dikenali tubuh itu. Gejalanya jauh lebih keras daripada sesi pertama. Setiap kali Liana hendak menjauh untuk mengubah posisi, tangannya mencari kembali.
Satu jam berlalu.
Lalu dua.
Dalam ruang sempit, aroma melati dan kamboja semakin pekat. Renard menundukkan kepala ke pundaknya, selalu berhenti untuk meminta izin sebelum mendekat. Liana menjawab dengan satu ketukan untuk ya, dua untuk berhenti.
Pada jam ketiga, rasa sakit di tubuh Renard mulai surut. Yang tersisa justru kebutuhan yang lebih tenang dan lebih berbahaya. Bukan desakan penyakit, melainkan keengganan pribadi untuk melepaskan.
Mereka berhenti untuk pemeriksaan kedua. Liana membuka pintu beberapa sentimeter agar udara berganti, lalu memberikan air. Ketika hendak kembali duduk, kakinya yang kebas tersangkut tepi karpet mobil.
Tangan Renard terulur, tetapi berhenti di udara.
"Boleh aku membantumu?"
Liana teringat lorong tadi dan janji yang baru diucapkan.
Satu ketukan.
Renard memegang siku Liana dan menuntunnya duduk. Begitu tubuhnya seimbang, tangan itu langsung terlepas. Pertanyaan sederhana telah mengubah sentuhan yang sama menjadi sesuatu yang terasa jauh lebih aman.
"Siang tadi aku memeluk seseorang," katanya.
Tangan Liana berhenti sepersekian detik, lalu kembali bergerak.
"Asistenku. Dia terkena air kotor karena melindungiku. Setelah itu, aku kehilangan kendali di lorong dan memeluknya."
Liana menulis, A-p-a d-i-a m-a-r-a-h?
"Tidak. Itu justru membuatku merasa lebih bersalah."
Ia menunduk. Ujung hidungnya menyentuh rambut Liana.
"Aku tidak mual saat menyentuhnya. Sama seperti saat menyentuhmu."
Jemari Liana menegang di bahunya.
Renard merasakannya. "Aneh, kan? Bertahun-tahun aku tidak tahan disentuh siapa pun. Sekarang ada dua perempuan yang tubuhku terima."
Dua perempuan.
Liana hampir ingin menulis bahwa tubuhnya hanya menerima satu.
Ia menahan diri.
Malam terus bergerak. Mereka berhenti setiap satu jam untuk minum dan memastikan kondisi fisik. Liana tetap berpakaian, batas kontrak tetap utuh, tetapi kedekatan di mobil itu membuat setiap sentuhan terasa lebih padat. Lutut bersentuhan. Napas memantul di kaca. Detak jantung Renard dapat dirasakan dari ujung jemarinya.
Pada jam kelima, alarm ponsel Liana bergetar. Ia mencoba menggeser tubuh, tetapi Renard memegang dua ujung jarinya.
"Satu menit lagi."
Liana menunjuk layar alarm.
"Aku tahu. Satu menit, lalu kita periksa lagi."
Tepat ketika enam puluh detik berlalu, tangannya terbuka. Liana mengukur denyut, suhu, dan respons mual. Semua membaik. Ketergantungan emosional yang mulai tumbuh tidak tercatat di aplikasi mana pun.
Menjelang jam ketujuh, Renard akhirnya tertidur selama dua puluh menit dengan kepala bersandar di pangkuan Liana. Wajah dingin itu kehilangan seluruh pertahanan saat matanya tertutup di balik kain hitam.
Liana menyentuh rambut di dahinya, lalu buru-buru menarik tangan karena gerakan itu tidak ada dalam panduan terapi.
Renard menangkap pergelangannya.
"Jangan berhenti."
Ia masih setengah tertidur.
Liana membiarkan jemarinya menyisir rambut pria itu sekali lagi.
Ketika sesi berakhir, jam di dasbor menunjukkan pukul 00.41. Liana membuka pintu dengan kaki kebas. Baru satu langkah keluar, tangannya berpegangan pada atap mobil.
Di kejauhan, Agus berdiri membelakangi kendaraan. Ia baru mendekat setelah Liana menutup mantel dan mengetuk kaca sebagai tanda sesi selesai.
"Mobil untuk Mbak sudah saya siapkan," katanya sopan, tanpa mencoba melihat ke dalam. "Saya antar sampai pintu rumah."
Prosedur itu membuat Liana sadar bahwa tujuh jam telah berlalu tanpa satu pun celah keamanan dibiarkan terbuka.
"Nona Terapis."
Ia menoleh.
Renard masih memakai penutup mata. "Terima kasih."
Liana menunggu.
"Hari ini ada orang lain yang menyelamatkanku. Asistenku." Suaranya lebih lembut daripada yang pernah Liana dengar di kantor. "Kalian berdua membuatku berpikir dunia ini mungkin tidak seluruhnya menjijikkan."
Jantung Liana menghantam rusuk.
Renard mengira ia menemukan dua tempat aman.
Padahal sejak awal, hanya ada satu perempuan yang sedang berdiri di ambang pintu mobilnya.
Liana menutup pintu perlahan. Sebelum menjauh, ia menulis pesan terakhir melalui ponsel khusus.
Jangan minum obat tambahan malam ini. Catat jika mual atau demam kembali. Saya akan menghubungi Ci Karina soal hasil sesi.
Di dalam mobil, layar ponsel Renard menyala di tangannya. Ia membacanya sambil tetap menutup mata, menggunakan pembaca suara melalui earphone sebelah. Balasannya datang singkat.
Pulang dengan aman, Nona Terapis.
Pada saat yang sama, ponsel kerja Liana menerima pesan lain.
Besok jangan naik transportasi umum. Agus akan menjemput. Mobil operasionalmu sedang diurus.
Liana menatap dua layar itu. Dua nada, dua nama, satu pengirim. Ia tak tahu mana yang lebih membuat jantungnya kacau.
Ia menyimpan keduanya dan mengikuti Agus menuju mobil lain. Di belakangnya, Renard masih duduk dalam gelap, tanpa tahu bahwa dua pesan yang baru dikirimnya tiba di tangan yang sama.