NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Berta maju satu langkah, menepuk bahu Aluna pelan sembari berbisik hangat, "Lun, aku lega banget dengarnya. Kak Romeo pasti cepat sembuh kalau semangat begini."

​Aluna memaksakan senyumnya, mengangguk kecil. "Makasih ya, Berta... Kamu sudah mau luangin waktu buat datang ke sini."

​Berta melirik jam tangan digital yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu menatap Aluna dan Romeo bergantian dengan raut canggung. "Aduh, Na... ternyata sudah mau jam lima sore. Aku harus balik sekarang, soalnya janji mau nemenin ibuku ke pasar malam. Kak Romeo, Berta pamit dulu ya? Nanti kalau ada waktu, Berta main ke sini lagi."

​Romeo menatap Berta dengan binar mata yang bersyukur. "Iya, Berta... Terima kasih banyak ya, sudah repot-repot datang dan bawain buah."

​"Sama-sama, Kak. Na, aku duluan ya!" Berta meremas jemari Aluna sekilas sebelum melangkah keluar dari ruang steril ICU, menyisakan Aluna, Romeo, dan Hayden yang berdiri membisu di dekat jendela.

​Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Bunyi bip mesin detak jantung Romeo berdetak lebih teratur, namun ketegangan tak kasat mata antara Aluna dan Hayden justru makin pekat.

​Hayden yang sejak tadi menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi plastik perlahan berdiri. Kaos hitam oversize-nya yang longgar membingkai dadanya yang bidang, memberikan kesan santai namun tetap dominan yang sulit diabaikan. Pria itu merogoh saku celananya, menarik jam tangan perak, lalu melirik angkanya dingin.

​"Romeo, aku harus pergi sekarang. Ada urusan proyek yang tidak bisa kutunda," kata Hayden datar pada sahabatnya.

​Romeo mengangguk lemah, tatapannya sarat akan rasa terima kasih. "Iya, Den. Sekali lagi... terima kasih banyak ya. Kalau bukan karena kamu dan relasi yayasanmu, aku tidak tahu apa yang bakal terjadi sama aku dan Aluna."

​"Sudah kubilang, jangan banyak bicara. Hemat tenagamu untuk fisioterapi besok," sahut Hayden singkat. Ia memutar tubuhnya, melangkah pelan menuju pintu keluar.

​Namun, tepat saat melewati punggung Aluna, langkah Hayden terhenti sejenak. Pria itu mendekatkan wajahnya ke samping telinga Aluna, membisikkan kalimat rendah yang hanya bisa didengar oleh gadis itu.

​"Besok kau tidak perlu ke studio," bisik Hayden dingin dan singkat. "Fokuslah pada kuliahmu dan temani kakakmu."

​Tubuh Aluna menegang seketika. Manik matanya melebar, dan sejurus kemudian, binar rasa senang yang tak membendung terpancar halus dari matanya. Rasa lega yang luar biasa mendadak memenuhi dadanya. Besok ia tidak perlu menghadapi intimidasi Hayden, tidak perlu mengenakan gaun kaku di atas podium, dan yang paling penting... ia bisa mengikuti perkuliahan dengan tenang serta mendampingi proses pemulihan Romeo sepanjang hari.

​Tanpa menunggu balasan atau tatapan Aluna, Hayden kembali melangkah wajar, mendorong pintu kaca ICU lalu menghilang di balik lorong koridor rumah sakit.

​Aluna menghembuskan napas panjang, meresapi hembusan kebebasan singkat yang baru saja diberikan Hayden. Ia memutar tubuhnya dan kembali duduk di samping ranjang Romeo dengan senyuman yang jauh lebih tulus dan hangat.

​"Kak..." panggil Aluna lembut, menggenggam jemari kakaknya yang dingin. "Besok Aluna bisa nemenin Kakak seharian penuh. Kampus cuma ada satu kelas pagi, dan setelah itu Aluna bakal langsung ke sini menjaga Kakak."

​Romeo menatap adiknya dengan binar mata yang tersentuh. "Kamu tidak perlu memaksakan diri, Na... Kalau kamu lelah—"

​"Aluna tidak lelah sama sekali, Kak," potong Aluna cepat, mengusap dahi Romeo yang terbebas dari perban. "Aluna cuma ingin ada di samping Kakak saat Kakak belajar bergerak lagi besok."

​Romeo tersenyum tipis di balik kanula oksigennya, memejamkan mata dengan tenang. Untuk pertama kalinya setelah hari-hari penuh badai ketakutan, Aluna akhirnya bisa bernapas lega, menikmati momen kedamaian bersama kakaknya tanpa bayang-bayang ketakutan dari studio perbukitan itu.

*

Tidak lama kemudian, pintu ruang ICU kembali terdorong. Seorang perawat senior bersama dua orang brankar datang membawa berkas medis dan peralatan transfer.

"Mbak Aluna, kondisi Mas Romeo sudah dinyatakan stabil oleh tim dokter bedah saraf," ujar perawat tersebut ramah. "Sesuai dengan instruksi penanganan dari pihak penanggung jawab, Mas Romeo sore ini juga sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan."

"Benarkah, Sus?" tanya Aluna dengan mata berbinar lega.

"Iya, Mbak. Mari ikut kami, kami akan memindahkan Mas Romeo ke Ruang Rawat VIP Mawar nomor 101."

Mendengar kata 'VIP', senyum di wajah Aluna langsung menyusut. Langkah kakinya tertahan. Ia tahu pasti siapa yang berada di balik instruksi fasilitas mewah tersebut—Hayden. Pria itu terus menebarkan dominasinya, bahkan dalam mengatur ruang rawat kakaknya.

Aluna segera memotong jalan perawat itu sebelum brankar didorong lebih jauh. "Tunggu sebentar, Suster."

Perawat itu menghentikan langkahnya, menatap Aluna bingung. "Ada apa, Mbak?"

"Bisa tolong pindahkan Kak Romeo ke ruang rawat kelas dua saja?" pinta Aluna tegas namun tetap bersikap sopan.

Suster itu mengernyitkan dahi. "Tapi, Mbak Aluna... Ruang VIP Mawar sudah disiapkan khusus dan seluruh biayanya sudah ditanggung oleh—"

"Tolong, Sus," potong Aluna dengan nada memohon yang tak bisa dibantah. "Kakak saya tidak akan nyaman di ruang VIP. Kami terbiasa dengan suasana yang sederhana. Tolong koordinasikan lagi untuk kamar kelas dua saja. Kalau ada selisih administrasi, biar saya yang urus."

Romeo yang terbaring lemah di brankar menatap adiknya dengan rasa haru. Ia paham betul watak adiknya yang tidak suka berlebih-lebihan. "Sus... ikuti saja kata adik saya. Saya lebih tenang kalau di kelas dua," tambah Romeo lirih.

Perawat tersebut akhirnya mengangguk patuh. "Baik kalau begitu, kami pindahkan ke Ruang Rawat Melati, kelas dua."

Sore berganti malam. Suasana Ruang Melati terasa begitu tenang dan hangat. Hanya ada dua ranjang di ruangan itu, dan ranjang di sebelah Romeo saat ini sedang kosong, memberikan privasi penuh bagi adik dan kakak tersebut.

Aroma bubur halus hangat dan sup sayur membawa kenyamanan tersendiri. Aluna menggeser meja makan portabel ke dekat ranjang Romeo. Ia duduk di kursi plastik di sampingnya, membuka mangkuk alumunium dari fasilitas rumah sakit, lalu mengaduk bubur perlahan agar uap panasnya menguar.

"Ayo, Kak... makan dulu sedikit," ujar Aluna lembut. Ia menyendok bubur, meniupnya perlahan dengan penuh kesabaran. "Dokter bilang Kakak harus banyak asupan nutrisi supaya pemulihan sarafnya bisa lebih cepat."

Romeo memandangi wajah Aluna. Pandangannya menerawang jauh ke masa lalu, memanggil ingatan beberapa tahun silam saat Aluna masih SMA. Saat itu, Aluna terserang demam berdarah tinggi dan harus dirawat seminggu di rumah sakit.

Waktu itu, Aluna sangat manja. Gadis kecil itu menangis dan enggan menyentuh makanan rumah sakit yang hambar kecuali Romeo yang menyuapinya sendiri. Romeo ingat betul bagaimana ia harus membujuk adiknya sambil menyanyikan lagu favorit Aluna demi menyuapkan tiap sendok bubur.

Kini, roda kehidupan berputar. Pria tegap yang dulunya menjadi pelindung utama itu kini terbaring tak berdaya, dan jemari mungil adiknya yang dulu selalu ia genggam kini menjadi tumpuan hidupnya.

"Kenapa melamun, Kak? Ayo buka mulutnya, Aaa..." goda Aluna pelan, mencoba mencairkan suasana.

Romeo mengulas senyum tipis, lalu membuka mulutnya membiarkan sendok bubur itu masuk. "Enak?" tanya Aluna.

"Hambar, Na..." jawab Romeo jujur sambil terkekeuh pelan. "Sama hambar seperti bubur waktu kamu sakit DBD dulu."

Gerakan tangan Aluna yang hendak menyendok bubur berikutnya mendadak terhenti. Manik matanya bergetar. Ingatan masa lalu itu seketika menghantam dadanya dengan kuat.

"Ingat tidak?" bisik Romeo, menatap Aluna penuh kehangatan. "Dulu kamu manja sekali, Na. Kalau tidak Kakak suapin, kamu mogok makan sampai menangis sesenggukan. Sekarang... justru kamu yang menyuapi Kakak."

Setetes air mata yang sejak tadi ditahan Aluna akhirnya jatuh menetes, menimpa punggung tangannya. Aluna menyapu air mata itu cepat-cepat dengan bahunya, namun tangisnya tak lagi bisa dibendung. Isak pelan lolos dari bibirnya.

"Aluna..." panggil Romeo khawatir. "Kenapa menangis, Sayang?"

Aluna menggeleng cepat, menyendok bubur lagi meski pandangannya sudah kabur oleh air mata. "Tidak apa-apa, Kak... Aluna cuma... Aluna cuma bahagia Kakak sudah sadar. Aluna takut sekali waktu Kakak di ruang operasi kemarin..."

Romeo berusaha menggerakkan tangan kanannya yang terasa sangat berat. Dengan sisa tenaganya, ia meraih pergelangan tangan Aluna, menghentikan gerak sendok adiknya, lalu mengusap air mata di pipi Aluna dengan ibu jarinya yang kasar.

"Maafkan Kakak ya, Na..." suara Romeo terdengar bergetar hebat, matanya berkaca-kaca. "Maafkan Kakak yang tidak berguna ini. Harusnya Kakak yang menjaga dan membahagiakan kamu, bukannya malah jadi beban dan bikin kamu menangis seperti ini."

"Jangan bicara begitu, Kak! Tolong jangan pernah bicara begitu lagi!" potong Aluna dengan suara serak menahan tangis. Ia meletakkan mangkuk bubur di meja, lalu menggenggam erat tangan Romeo dengan kedua tangannya, membenamkan wajahnya di sana.

"Kak Romeo itu satu-satunya alasan Aluna bertahan sampai sekarang," bisik Aluna terisak. "Kakak yang membesarkan Aluna setelah Orang Tua kita tidak ada. Kakak yang bekerja keras banting tulang siang malam demi biaya sekolah Aluna. Sekarang giliran Aluna yang merawat Kakak. Aluna tidak pernah merasa direpotkan sama sekali..."

Romeo memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air matanya menetes merembes ke sprei rumah sakit. Duka dan rasa syukurnya menyatu menjadi satu.

"Kita berjuang sama-sama ya, Na?" bisik Romeo tulus. "Kakak janji... Kakak bakal berusaha keras ikut fisioterapi. Kakak bakal sembuh dan bisa berdiri lagi demi kamu. Kakak tidak akan biarkan kamu berjuang sendirian."

Aluna mendongak, menatap mata kakaknya yang memerah. Di tengah pusaran kebohongan dan pengorbanan pahit yang harus ia jalani bersama Hayden, momen ini menjadi penawar dahaga bagi jiwanya yang dahaga. Kasih sayang tulus dari kakaknya adalah benteng terakhir yang membuatnya tetap kuat.

Aluna mengusap air matanya sendiri, lalu memaksakan sebuah senyuman paling manis untuk Romeo.

"Janji ya, Kak? Kakak harus semangat sembuh," kata Aluna seraya mengambil kembali mangkuk buburnya. "Nah, sekarang buka mulutnya lagi. Buburnya harus dihabiskan supaya Kakak punya tenaga!"

Romeo tertawa kecil di selingi sisa isak tangisnya. "Iya, Suster Aluna. Aaa..."

Di bawah pendar lampu kamar perawatan yang hangat, adik dan kakak itu saling menguatkan, saling mengisi celah luka satu sama lain, siap menghadapi badai apa pun yang menanti di depan sana.

*

*

*

1
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!