NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalau Wangi, Aku Cium

##

Ayana tersenyum tipis saat melihat sepasang keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak perempuan yang kira-kira berumur 10 tahun sedang bercanda penuh sukacita.

Dari kursi tempat duduknya, Ayana bisa mendengar suara tawa mereka. Tidak jauh, tidak dekat, tapi posisi ini mampu membuat Ayana bisa melihat semua kebahagiaan itu dengan jelas dan menimbulkan sebuah perasaan iri di hatinya.

"Aku bahkan udah lupa, bagaimana rasanya bisa ketawa bareng mama dan papa kaya gitu."

Dia tersenyum kecil, mencoba kembali mengingat memori kecil yang  hampir memudar. Memangnya apa sih, yang bisa diharapkan dari memori anak yang berusia 8 tahun? Mungkin jika tidak ada foto, saat ini Ayana juga sudah melupakan wajah mereka.

Sebenarnya, ada beberapa memori kecil yang masih terekam jelas sampai sekarang. Sayangnya, itu bukan memori bahagia tapi lebih ke memori menyakitkan. Bahkan, Ayana berharap dia bisa melupakan memori ini untuk selamanya.

Kecelakaan itu, dulu perlahan-lahan mulai pudar di ingatannya tapi semakin dewasa anehnya peristiwa itu malah semakin sering datang ke mimpinya. Kata orang, semakin kita sering bermimpi hal menyakitkan yang kita alami secara terulang, itu artinya luka kita kembali menganga, sekaligus menandakan bahwa kita tidak pernah benar-benar ikhlas atas kejadian itu. Memangnya, siapa yang ikhlas terhadap kejadian yang merenggut nyawa orangtuanya sekaligus?

"Kalau aku mau minta lupa ingatan, berarti aku juga harus siap kehilangan sekecil apapun memori bersama kalian. Enggak!" Ayana menggeleng "Hanya memori kecil itu yang bisa aku kenang, saat sekarang sedang kangen kalian."

"Maaf lama, tadi pas lagi beli jusnya itu ngantri."

Segelas minuman sudah ada di depannya. Ayana mendongak, tersenyum tipis ke arah Bagas yang datang memberikan minuman itu.

"Makasih, Mas."

"Sama-sama. Itu aku pesannya special, khusus buat orang manis yang duduk di bangku putih di depan sana saat tadi request ke amang penjualnya," ujar Bagas yang sudah duduk di samping Ayana.

Saat ini, mereka berdua sedang berada di salah taman kota yang letaknya tidak jauh dari cafe dan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki sepuluh menit. Kebetulan, ini arah jalan pulangnya sekaligus tepat di depan taman ada pangkalan angkot. Hari ini Reyhan tidak bisa menjemputnya karena kebetulan mereka berbeda shift. Mungkin sekarang lelaki itu baru saja mulai bekerja. Kebetulan, hari ini dia satu shift dengan Bagas, jadi mereka berjalan bersama ke tempat angkot karena nantinya mereka akan naik angkot yang berbeda.

Ayana ingin duduk sebentar di taman dan Bagas mau menemaninya, jadinya sekarang mereka ada di sini.

"Gimana, bikin adem, kan?" tanya Bagas yang langsung diangguki Ayana. "Jakarta tuh, udah langka banget tempat adem kaya gini. Semua pohon udah banyak ditebang dan areanya dijadikan fasilitas umum."

Ayana kembali mengangguk. "Lumayan agak beda sama Bandung, walau pusat kotanya udah banyak yang ditebang juga, sih. Tapi aku kebetulan tinggal di kaki gunung, jadi pohon-pohon di sana masih banyak yang berdiri kokoh."

"Lain kali, aku mau main ke sana."

"Kemana, ke Bandung?" tanya Ayana tak paham, melirik Bagas yang tengah tersenyum ke arahnya.

Bagas mengangguk. "Iya, ke keluarga kamu mau lamar kamu."

"Hah?"

Melihat wajah syok Ayana, Bagas langsung terkekeh. "Bercanda Na, bisa-bisa sebelum ngelamar kamu, aku udah mati di tangan pacar kamu."

"Dia gak akan bunuh juga, Mas." Ayana tertawa. "Dia cuman suka makan orang aja."

Aku aja pernah hampir dimakan.

Ayana tiba-tiba jadi malu sendiri, dia tiba-tiba ingat kejadian seminggu yang lalu, dimana dia hampir saja di-unboxing oleh Reyhan. Untungnya, setelah itu tidak terjadi apa-apa lagi sampai hari ini karena jujur dia masih belum siap. Tolong, dia masih bocah!

Walaupun, merasa sempat canggung tapi seperti biasanya semuanya kembali normal setelah mereka ribut kecil lagi. Ayana juga sempat marah karena banyak tanda merah di lehernya, dia bahkan harus memakai baju yang menutupi leher di dalam kemeja kerjanya. Tanda itu baru hilang setelah tiga hari, jadi kebayang kan bagaimana dia saat bekerja merasa gerah saat itu. Reyhan sialan, memang! Lelaki itu malah sering tertawa seolah merasa bangga.

"Kenapa mukanya merah? Mikir jorok, yah?" Bagas menggoda Ayana.

"Ih ... Enggak! Apaan?"

"Pacarannya jangan aneh-aneh, jangan di luar batas." Bagas mengusap kepala Ayana.

"Enggak, ih!"

Tapi aku udah nikah, udah ampir ngelakuin itu lagi.

Entah kenapa, bersama Bagas, Ayana seolah menemukan sosok kakak yang selalu melindunginya. Bagas memang sebaik itu, sampai Ayana sudah tidak merasa canggung lagi dengan Bagas.

Beberapa Minggu bekerja di cafe, kadang membuat Ayana hampir setiap waktu ingin terus berhenti. Capek fisik karena bekerja seolah memang tradisi senior selalu menyuruh anak baru, kemudian berkerja paling berat saat ada atasan. Selain fisik, mental dia juga capek karena kerap mendapatkan perlakuan tak adil, dibentak di depan banyak orang, dikucilkan dan dibicarakan tidak baik di belakang oleh sesama karyawan.

Memang benar kata orang, dunia setelah lulus sekolah adalah kehidupan yang sebenarnya. Saat sekolah, kita hanya dibuat pusing oleh banyak tugas sekolah, ribut dengan teman nanti berbaikan, tapi setelah bekerja di sini adalah area medan tempur tempat perang yang sebenarnya.

Tapi berkat kehadiran Bagas, Ayana bisa bertahan dari kejamnya dunia kerja ini. Bagas selalu menjadi orang pertama yang membelanya saat dimarahi. Kadang, saat melihat dirinya kelelahan, dia juga sering tiba-tiba datang untuk membantu pekerjaan Ayana. Bagas memang sebaik itu, terkadang Ayana berpikir kenapa orang itu bisa sebaik itu pada dirinya.

"Bengong mulu, kesurupan aku tinggal," tegur Bagas yang langsung membuat Ayana sadar dari lamunannya.

"Mas Bagas, boleh tanya?"

"Bagas mengangguk. "Iya boleh dong, mau tanya apa?"

"Kenapa Mas Bagas baik sama aku? Padahal, kita baru aja kenal beberapa Minggu ini."

Bagas terlihat berpikir. "Kenapa, yah? Mau tahu banget, yah?"

Ayana mendengus kesal. "Mas Bagas, serius!"

Bagas terkekeh. "Karena kamu anak baik, jadi aku juga mau baik terus sama kamu."

"Mas Bagas yakin, aku anak baik?"

Bagas memicingkan mata. "Kamu ternyata anak jahat?" Ayana langsung mendengus. "Sekaligus kamu juga ingetin aku sama seseorang."

"Seseorang, siapa?" Ayana bertanya penasaran.

Bagas mengangguk. "Iya, seseorang yang ak--"

Drttt drttt drttt

Suara nada dering dering dari ponsel Bagas, sekaligus menghentikan ucapan lelaki itu. Bagas berpamitan sebentar untuk mengangkat telepon, dibalas Ayana anggukan kecil.

Ayana melihat raut wajah Bagas terlihat serius saat berbicara di telepon. Tapi dia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Bagas karena jarak mereka agak berjauhan.

Tak lama, Bagas sudah menyelesaikan panggilan teleponnya dan tengah berjalan ke arahnya. Bagas langsung berpamitan pulang, tidak bisa menepati janji berjalan bersama ke pangkalan angkot karena dia terburu-buru.

Ayana melihat Bagas yang setengah berlari menjauh. Sebenarnya, dia penasaran tentang apa yang terjadi, tapi itu privasi Bagas dan bukan ranahnya untuk bertanya. Jujur, dia masih penasaran jika dirinya mengingatkan ke siapa. Besok, dia akan bertanya lagi.

*

"Assalamualaikum wara--"

Salam Ayana terhenti, saat melihat Reyhan sedang duduk di kursi depan kosannya bersama seorang wanita.

Ayana menghela napas berat, saat mengenali siapa wanita itu. Orang yang menjadi musuh bebuyutannya saat di kampung, entah kenapa gadis itu selalu membuat masalah dengannya. Memang salah Ayana, banyak cowok yang sedang pdkt dengan gadis itu malah berbalik mendekati dirinya, walaupun tak pernah dia respon juga. Kenapa sih orang-orang jelek hatinya seperti itu selalu iri kepadanya?

Kenapa juga dia ada di sini? Apa Reyhan yang mengajak gadis itu? Apa gadis itu datang sendiri seperti jelangkung? Apa hubungan mereka memang sedekat itu? Apa Reyhan lupa dia sudah menikah?

Ayana menggeleng, kenapa dia menjadi tiba-tiba kesal? Seharusnya, dia tidak peduli.

Mereka yang tadi sedang mengobrol asyik itu menyadari kehadiran dirinya langsung menoleh.

"Udah pulang?"  tanya Reyhan tentunya.

Ayana memicingkan mata, seakan teringat sesuatu. "Kok, kamu udah pulang? Bukannya, hari ini kamu shift sore?"

Reyhan malah tertawa. "Lupa, ternyata hari ini jatah off aku. Tadi udah berangkat, tapi di tengah jalan ketemu temen dan bilang kalau hari ini aku libur."

"Kenapa gak jemput?" Ayana terlihat kesal, apa terlalu sibuk berhaha-hihi dengan gadis itu?

"Maaf, aku ketiduran lagi. Ini baru kebangun, ada Ara ketok pintu nanya alamat rumah temannya katanya daerah sini," jawab Reyhan terlihat merasa bersalah.

"Udah ketemu alamatnya?"

"Iya, ternyata anak ibu Aisyah pemilik kosan kita," jawab Reyhan tentunya. "Eh, kalian saling kenal, kan? Kan, satu kampung."

"Mungkin," jawab Ayana judes.

Ara tersenyum. "Iya kita kenal kok, tapi gak deket banget. Beda circle pertemanan."

Ayana rasanya mau muntah melihat wajah centil gadis itu yang tidak mau dia sebut namanya seakan menggoda Reyhan. Sudah dirinya duga, gadis itu mengincar suami miskinnya. Ayana sedang lelah, tidak ada tenaga untuk berperang. Toh, dia yakin Reyhan bukan tipe yang akan tergoda ular kepanasan seperti itu. Lagipula, kalau Reyhan tergoda memang kenapa? Bukan urusannya, kan? Tapi kan, Reyhan sekarang suaminya.

"Hi ... Ayana, apa kabar?" sapa Ara terlihat sekali sok ramah, kemudian saat Reyhan tidak melihat, gadis itu memutar kedua matanya.

"Hi ... juga Ra, aku kabar baik, apalagi setelah nikah makin baik. Kamu apa kabar juga?" Ayana berpura-pura ramah juga.

"Tentu juga baik. Aku mulai kuliah di sini. Kamu kerja yah, gak kuliah. Emm ... Rey?" Ara kembali melihat ke arah Reyhan dengan senyum dibuat sok manisnya. "Pernikahan kalian yakin bakal langgeng?"

Apa maksudnya pertanyaan itu? Ingin rasanya Ayana menyumpalnya dengan cabe.

Reyhan terkekeh. "Insyaallah, kita gak tahu memang kedepannya gimana tapi setiap pernikahan pasti sama ingin langgeng sampai maut memisahkan."

"Tapi kan, kalian menikah tanpa cinta? Kata A Bima, kamu korban fitnah? Pernikahan kalian aja diawali hal gak bener, yakin bakal langgeng?"

Ayana memutar kedua bola matanya. Dia tahu kok, apa yang dibilang gadis itu fakta. Dia juga tahu nasib pernikahan ini kedepannya tidak tahu akan seperti apa, tapi jika perkataan itu keluar dari mulut gadis itu, entah kenapa dia merasa marah.

"Cinta itu bisa datang karena terbiasa." Reyhan melihat kearahnya, entah kenapa tatapan dalam lelaki itu membuat Ayana degdegan. "Ayana gadis cantik, baik, menikah dengan dia adalah sebuah keberuntungan buat aku."

Deg

Reyhan sialan! Ini dia ngomong bercanda, kan? Kok, manis sekali.

"Tapi kalian terlihat bertolak belakang dilihat dari sifatnya. Ka--"

"Aku masuk ke dalam. Capek banget. Mari, Ra."

Ayana sudah tidak mau mendengar omong kosong gadis itu lagi. Dia buru-buru masuk dan menutup pintu. Dia juga tidak tahan lama-lama ditatap Reyhan seperti itu.

"Reyhan gila."

Saat Ayana sudah melepas kemejanya, menyisakan tanktop.

Ceklek

Pintu terbuka, terlihat Reyhan masuk kemudian menutup pintu. Ayana terdiam mematung, kemudian Reyhan melihat ke arahnya, lelaki itu juga sama terdiam mematung. Pandangannya mengarah ke dada Ayana, dia buru-buru sadar menutupi area itu dengan kemejanya.

"Kenapa masuk?"

Reyhan terlihat heran. "Memangnya kenapa?"

"Ara mana? Kok, ditinggal? Kan, kalian lagi ngobrol cantik."

Reyhan terkekeh. "Cemburu?" Ayana buru-buru menggeleng. "Udah pergi ke rumah temannya."

Ayana mengangguk kecil. Kemudian, dia berbalik akan ke kamar mandi. Dia akan ganti baju di sana sekalian mau mandi juga. Tiba-tiba, dia merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Sudah jelas itu siapa.

"Kalau cemburu bilang, gak usah marah-marah."

"Siapa yang cemburu? Kepedean banget!"

Jujur, Ayana tak nyaman dengan posisi ini, jantungnya bertalu cepat. Semoga Reyhan tidak mendengar suara detak jantungnya.

Cup

Reyhan mencium lehernya, dan Ayana sudah jelas dia lemas. Entah kenapa, beberapa hari ini Reyhan memang sering melakukan kontak fisik seperti ini, seperti memeluknya, mengusap kepalanya, memegang tangannya serta banyak hal kecil lainnnya. Walaupun tidak sampai menciumnya seperti malam itu.

"Bau asem." Reyhan mengendus leher Ayana. "Masih wangian kambing.".

Lelaki itu melepaskan pelukannya, kemudian menghindar dari amukan Ayana. Membuka pintu akan keluar.

"Reyhan, sialan!"

"Bau asem, sana mandi. Aku mau rokok dulu."

"Aku gak bau asem! Kamu yang bau!"

Reyhan terkekeh. "Kalau sudah wangi, nanti aku cium."

Setelah mengatakan itu, Reyhan sudah keluar dan menutup pintu.

"Reyhan kampret!"

##

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!