Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Pagi hari di ruang kerja kepala divisi bedah darurat terasa cukup tenang.
Arka sedang membaca beberapa berkas laporan pasien sambil menyesap kopi hangatnya.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu terdengar tergesa-gesa dari luar ruangan.
"Masuklah," ucap Arka santai.
Pintu terbuka lebar menampilkan Siska dengan ekspresi wajah yang tampak panik.
"Dokter Arka, gawat!" seru Siska langsung berlari mendekati meja kerja.
"Gawat kenapa, Siska? Ada pasien yang kambuh lagi?" tanya Arka tanpa mengubah posisinya.
"Bukan pasien, tapi surat resmi dari Aliansi Medis Pusat baru saja datang," jawab Siska terengah-engah.
Siska menyerahkan sebuah amplop berstempel merah tebal kepada Arka.
Arka menerima amplop itu lalu membukanya perlahan dengan tenang.
"Surat pembekuan izin praktik medis darurat," baca Arka pelan dengan nada datar.
"Direktur Eksekutif Regional benar-benar merealisasikan ancamannya semalam!" ujar Siska cemas setengah mati.
"Mereka menuduhmu melakukan tindakan medis tanpa lisensi penuh dari pusat."
Arka tersenyum tipis membaca isi surat resmi yang terlihat arogan itu.
"Birokrasi tua yang suka cari muka," gumam Arka pelan.
Clara Wijaya tiba-tiba melangkah masuk ke ruangan dengan langkah cepat dan wajah kesal.
"Aku sudah dengar kabar soal surat pembekuan itu, Arka!" seru Clara geram.
"Aliansi pusat benar-benar mencari masalah dengan mencoba melumpuhkan kepala divisi kita."
Clara melipat kedua tangannya di dada dengan napas memburu.
"Tenanglah, Nona calon istri, jangan cepat emosi begitu," bujuk Arka tersenyum kecil.
"Bagaimana aku bisa tenang kalau mereka ingin mencabut izin kerjamu secara sepihak?!" protes Clara kesal.
"Kita bisa gugat mereka ke pengadilan atau memotong dana subsidi pusat!" Arka meletakkan surat berstempel merah itu di atas meja kaca.
"Tidak perlu repot-repot ke pengadilan, Nona Clara," jawab Arka tenang.
"Terkadang cara terbaik menghadapi birokrat korup adalah dengan membiarkan mereka menggali kuburan mereka sendiri."
Siska menatap Arka dengan rasa penasaran yang teramat sangat.
"Apa maksudmu, Arka? Apa kamu sudah menyiapkan rencana?" tanya Siska.
Arka berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke halaman rumah sakit.
"Kemarin malam, sistem mendeteksi aliran dana gelap dari aliansi pusat ke beberapa rekening pejabat kesehatan," jelas Arka dingin.
"Dan kebetulan sekali, Direktur Eksekutif Regional yang mengantar surat ini adalah kepala sindikat suapnya."
[Sistem Mendeteksi Unduhan Data Transaksi Gelap Aliansi Medis Pusat]
[Peluang Menjatuhkan Pejabat Regional: 100 Persen]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.
Clara menyipitkan matanya mendengar penjelasan taktis dari pemuda di depannya itu.
"Jadi kamu sudah meretas data keuangan mereka sejak lama?" selidik Clara kagum.
"Aku tidak meretas, data itu sendiri yang datang menawarkan diri untuk dibaca," kelit Arka bercanda.
Siska menghela napas lega menyadari bahwa Arka selalu selangkah lebih maju dari musuh-musuhnya.
"Lalu apa langkah selanjutnya yang harus kita ambil sekarang, Arka?" tanya Siska antusias.
"Kita undang Direktur Eksekutif Regional itu datang kembali ke sini siang ini," jawab Arka tersenyum misterius.
"Dengan dalih kita mau menyerahkan diri dan meminta maaf atas restrukturisasi kemarin."
Clara langsung tersenyum licik mendengar rencana cerdik yang disusun oleh Arka.
"Pancingan yang sangat bagus untuk menyeret rubah tua itu keluar dari sarangnya," puji Clara.
"Siska, tolong hubungi kantor perwakilan aliansi pusat sekarang juga," perintah Arka tegas.
"Katakan kepada mereka bahwa kepala divisi bedah darurat siap menyerahkan stempel jabatannya."
"Baik, Arka! Akan segera kuurus sekarang!" balas Siska bersemangat keluar ruangan.
Beberapa jam kemudian, suasana di ruang rapat utama rumah sakit tampak sangat tegang.
Pintu utama terbuka lebar dengan gaya angkuh.
Direktur Eksekutif Regional bernama Barata melangkah masuk diiringi dua orang pengacara pribadinya.
Wajah Barata tampak berseri-seri penuh kesombongan karena merasa menang telak.
"Wah, rupanya si dokter pembersih jalanan ini akhirnya sadar diri juga," ejek Barata tertawa sinis.
Barata duduk di kursi utama tanpa diundang, menatap Arka dengan pandangan merendahkan.
"Mana surat penyerahan jabatan dan stempel kepala divisinya?" tagih Barata tidak sabar.
Arka duduk tenang di seberang meja rapat sambil melipat kedua tangannya.
"Sebelum aku menyerahkan semuanya, bagaimana kalau kita membahas sedikit bonus kecil?" tanya Arka santai.
Barata mengerutkan keningnya curiga mendengar pertanyaan tersebut.
"Bonus apa maksudmu? Jangan coba-coba mengulur waktu!" bentak Barata.
Arka menekan tombol remote kecil di tangannya.
Kklik...
Layar proyektor besar di depan ruang rapat tiba-tiba menyala terang.
Video rekaman transaksi transfer uang suap beserta dokumen tanda tangan Barata tampil dengan sangat jelas.
Barata terbelalak lebar melihat data rahasia pribadinya terpampang nyata di depan umum.
"I-ini... dari mana kamu dapatkan data ini?!" jerit Barata panik berdiri dari kursinya.
Dua pengacara di samping Barata langsung pucat pasi melihat rincian kasus korupsi tersebut.
"Data ini dikirim langsung oleh sistem rumah sakit yang sangat peduli pada kebersihan moral pejabat," jawab Arka dingin.
Barata menunjuk Arka dengan jari yang bergetar hebat karena ketakutan.
"Kamu... kamu sengaja menjebakku!" maki Barata histeris.
Pintu ruang rapat kembali terbuka lebar.
Dua orang penyidik antikorupsi berseragam lengkap melangkah masuk dengan mantap.
"Barata, anda resmi ditahan atas tuduhan korupsi dana medis regional dan pemerasan jabatan," tegas penyidik utama.
Barata merosot lemas ke lantai dengan tatapan kosong tidak percaya.
Pengacara pribadinya tidak berani melawan dan langsung mundur perlahan.
"Bawa dia pergi dari sini," perintah Arka datar.
Penyidik langsung memborgol tangan Barata dan menyeretnya keluar ruangan dengan paksa.
Suasana ruang rapat kembali senyap setelah penangkapan dramatis tersebut selesai.
Clara bertepuk tangan pelan sambil tersenyum kagum menatap Arka.
"Kamu benar-benar luar biasa, Arka. Sekali pukul, tikus besar langsung masuk perangkap," puji Clara tulus.
Siska menganggukkan kepalanya setuju dengan mata berbinar-binar penuh rasa bangga.
"Aliansi pusat tidak akan berani macam-macam lagi dengan rumah sakit ini setelah kejadian hari ini," tambah Siska.
Arka berdiri dari kursinya merapikan sedikit kerah bajunya.
"Masalah birokrasi sudah selesai, saatnya kita fokus kembali melayani pasien," ucap Arka tenang.
Perjuangan Arka untuk menguasai dan membersihkan dunia medis baru saja melewati satu tonggak sejarah penting.