seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANEN NYAWA IBLIS
Sepatu bot Andre menghantam pasir hitam Gurun Kematian tanpa suara. Di belakangnya, Bastian mendarat dengan dentuman keras yang menciptakan kawah kecil, disusul oleh Marvin yang melayang turun dengan bantuan sihir levitasi dari kapal udara.
Di depan mereka, sejauh mata memandang, terbentang lautan kemarahan. Barisan demi barisan iblis bersenjatakan pedang berkarat, tombak berapi, dan perisai tengkorak berbaris rapat. Level mereka berkisar antara 45 hingga 60—pasukan penyerang kelas menengah yang biasanya membutuhkan satu batalion penuh Asosiasi untuk ditahan. Raungan mereka menggetarkan udara, menciptakan gelombang suara yang membawa bau belerang dan darah busuk.
Seorang Komandan Vanguard berbentuk hibrida manusia serigala raksasa dengan zirah berduri menunjuk ke arah tiga manusia yang baru saja turun dari langit. Monster level 72 itu tertawa terbahak-bahak, suara seraknya bergema di seluruh barisan depan.
"Tiga cacing! Umat manusia benar-benar sudah putus asa hingga mengirim tiga bocah untuk menghentikan ritual Raja kita!" ejek sang Komandan, mengangkat kapak perangnya. "Injak mereka sampai rata!"
Puluhan ribu iblis mengaum serempak. Tanah gurun bergetar hebat saat barisan depan yang terdiri dari tiga ribu pasukan kavaleri monster bercula merangsek maju bagaikan gelombang tsunami berdarah.
Bastian Valerius memutar lehernya hingga berbunyi krak. Ia menatap gelombang monster itu dengan seringai liar yang belum pernah ia tunjukkan di dalam dinding kota.
"Marvin, pasang sabuk pengamanmu," ucap Bastian. Ia menghantamkan pedang pendeknya ke perisai emasnya dengan kekuatan penuh. "Absolute Provocation: Legion's Call!"
Ledakan energi emas yang jauh lebih masif dari biasanya meledak dari tubuh Bastian, meluas hingga radius setengah kilometer. Provokasi itu menghantam pikiran ribuan iblis garis depan, menghapus akal sehat mereka, dan memaksa mereka mengunci target hanya pada satu titik: sang Tanker berkilau di tengah padang pasir.
Tiga ribu monster kavaleri itu menabrak kubah emas Bastian secara bersamaan. Suara benturan yang terjadi terdengar seperti gunung yang runtuh. Bastian memuntahkan seteguk darah, otot-otot lengannya menjerit hingga serabut dagingnya nyaris robek menahan beban ribuan ton yang mencoba menginjaknya.
"Sekarang, Marvin!" teriak Bastian dengan gigi terkatup rapat.
Marvin tidak membuang waktu satu milidetik pun. Ia merapalkan Life Tether, menghubungkan pita zamrud ke punggung Bastian, langsung membanjiri tubuh sang bangsawan dengan regenerasi sel tingkat tinggi. Tulang Bastian yang nyaris retak kembali mengeras seketika.
Setelah memastikan nyawa perisainya aman, mata Marvin berubah menjadi ungu pekat yang menyala-nyala. Remaja itu mengangkat kedua tangannya ke udara. Ia memanggil seluruh pemahamannya tentang Buku Skill Epic yang baru saja ia pelajari.
"Plague Domain: Rawa Keputusasaan!"
Cahaya ungu pekat meledak dari telapak kaki Marvin, menyebar dengan kecepatan gila melintasi pasir hitam. Dalam sekejap, area seluas radius lima puluh meter di depan formasi Bastian berubah menjadi rawa beracun yang mendidih.
Efek dari domain tingkat Epic ini mutlak. Rawa itu tidak hanya membakar kulit, tetapi menembus zirah, melelehkan otot, dan menghentikan sirkulasi mana. Ribuan monster kavaleri yang sedang berdesakan menyerang Bastian tiba-tiba menjerit histeris. Kaki-kaki kuda iblis mereka meleleh menjadi tulang, membuat penunggangnya jatuh tenggelam ke dalam lumpur racun ungu. Miasma mematikan itu merobek paru-paru mereka dalam hitungan detik.
Lalu, rentetan notifikasi Sistem meledak di retina Marvin seperti kembang api.
[Iblis Vanguard (Lv. 45) terbunuh!]
[Kavaleri Neraka (Lv. 50) terbunuh!]
[Iblis Vanguard (Lv. 48) terbunuh!]
[Party EXP Booster (30%) diaktifkan! Pembunuhan Lintas Ras memberikan EXP Ekstra!]
[Level Anggota Party 'Marvin' meningkat!]
[Level Anggota Party 'Bastian' meningkat!]
Setiap kali monster mati di dalam rawa racun itu, kapasitas mana Marvin bertambah. Dan setiap kali mananya bertambah, ia memperluas jangkauan Plague Domain tersebut. Rawa ungu itu menjalar seperti wabah yang tak terhentikan, menelan barisan kedua dan ketiga dari pasukan iblis yang mencoba mundur karena panik.
"Sempurna," bisik Andre, yang sejak tadi berdiri tak bergerak di dalam perlindungan rawa tersebut, tubuhnya sama sekali tidak terpengaruh oleh racun adiknya.
Sang Kaisar Kilat akhirnya melangkah maju. Tangan kanannya bertumpu pada gagang Nocturne.
Andre melepaskan blokir auranya. Kegelapan mutlak memancar dari tubuhnya. Efek pasif Devour Light dari pedang legendaris itu menghisap pendaran merah dari langit gurun di sekitarnya, menciptakan zona buta tak kasat mata di tengah lautan monster.
Andre menggunakan Void Step. Ia menghilang.
Bukan berlari cepat. Ia benar-benar melipat dimensi bayangan dan muncul tepat di tengah jantung formasi barisan utama legiun iblis, ratusan meter dari posisi Bastian. Puluhan ribu pasang mata merah menatap bingung pada kekosongan mutlak yang tiba-tiba muncul di tengah mereka.
Andre mencabut Nocturne.
Senjata itu tidak mengeluarkan suara dentingan logam. Saat bilah hitam legamnya terpapar udara, gravitasi di sekitar Andre melengkung. Atribut Strength-nya yang sudah gila dilipatgandakan sebesar 200% oleh efek pedang tersebut. Bobot pedang itu nol di tangannya, namun memendam massa setara meteorit bagi siapa pun yang disentuhnya.
Andre mengayunkan Nocturne dalam satu putaran horizontal 360 derajat.
Sebuah cincin tebasan berwarna hitam pekat, setipis rambut dewa kematian, meluas dari tubuh Andre dengan kecepatan suara. Cincin aura itu memotong ruang itu sendiri. Ribuan iblis yang berada dalam radius seratus meter dari posisi Andre terdiam kaku.
Satu detik berlalu.
Ribuan tubuh iblis itu terbelah dua di bagian pinggang. Zirah baja mereka, perisai sihir mereka, karapas tulang mereka—tidak ada yang berarti. Atribut penetrasi mutlak dari Nocturne mengabaikan seluruh bentuk pertahanan fisik maupun magis. Bagian atas tubuh dari tiga ribu iblis elit meluncur jatuh ke tanah secara bersamaan. Darah hitam menyembur ke udara, menciptakan badai hujan darah yang menggelapkan langit.
[Pembantaian Area Terdeteksi!]
[Legiun Iblis (Lv. 55-60) terbunuh x3.142]
[Bonus Pembantaian Skala Masif Diterapkan!]
[Level Anda meningkat!]
[Level Anda meningkat!]
[Level Anda meningkat!]
[Level Saat Ini: 58]
Andre tidak berhenti. Ia menari di dalam hujan darah itu. Setiap kali Nocturne diayunkan, ratusan nyawa melayang. Ia tidak membutuhkan sihir area tingkat dewa untuk membersihkan medan perang. Serangan fisiknya sendiri telah melampaui konsep sihir destruktif. Ia melompat dari satu bayangan iblis ke bayangan iblis lainnya, meninggalkan jejak mayat yang terpotong simetris di belakangnya.
Komandan Vanguard serigala raksasa yang tadi meremehkan mereka kini bergetar hebat. Matanya membelalak dipenuhi teror murni. Separuh dari pasukan barisan depannya telah musnah dalam waktu kurang dari lima menit. Tiga manusia ini bukanlah pasukan bunuh diri, mereka adalah bencana alam yang memiliki wujud fisik.
"Bunuh dia! Hentikan bayangan itu!" raung sang Komandan, memacu tunggangannya menerjang Andre dari arah belakang. Ia memutar kapak berapinya yang dilapisi mana gelap tingkat tinggi, berniat membelah Andre saat pemuda itu sedang fokus membantai bawahan-bawahannya.
Andre bahkan tidak berbalik.
Saat kapak raksasa itu berjarak satu jengkal dari kepalanya, Andre menggeser Nocturne ke belakang punggungnya dengan santai.
CLANK!
Kapak berapi yang diayunkan dengan kekuatan penuh oleh monster Level 72 itu menghantam bilah hitam Nocturne. Komandan itu berharap pedang tipis manusia tersebut akan patah menjadi dua. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sensasi hantaman itu membuat lengan sang Komandan hancur dari telapak tangan hingga ke bahu akibat tolakan massa tak terlihat dari Meteoric Obsidian. Kapak sihirnya hancur berkeping-keping.
Andre memutar tubuhnya, menatap Komandan serigala itu dengan sepasang mata yang lebih kelam dari kematian itu sendiri.
"Kau terlalu berisik," bisik Andre.
Satu tebasan diagonal ke atas. Udara di depan Andre terbelah, menciptakan ruang hampa sesaat yang menyedot debu di sekitarnya. Tubuh raksasa Komandan Vanguard Level 72 itu terbelah dari pangkal paha hingga menembus ubun-ubunnya tanpa perlawanan sedikit pun. Organ dalamnya tumpah ke atas pasir hitam.
[Komandan Vanguard Iblis (Lv. 72) Terbunuh!]
[Level Anda mencapai 61. Selamat! Anda telah menembus batas Third Job!]
Di sisi lain medan pertempuran, pilar level-up emas terus-menerus menyelimuti Marvin dan Bastian tanpa henti. Berbagi EXP dengan mesin pembantai sekelas Andre yang membunuh puluhan ribu iblis dalam hitungan menit adalah sebuah jalan pintas menuju keilahian. Marvin yang baru beberapa jam lalu berada di Level 35, kini telah menembus batas Level 50. Kepadatan mananya begitu besar hingga Plague Domain-nya kini menciptakan rawa beracun seluas tiga ratus meter, menelan seluruh sisa-sisa pasukan kavaleri tanpa menyisakan tulang.
Bastian, yang menahan gempuran ribuan sisa monster, tertawa gila di balik perisainya. Zirahnya bersimbah darah musuh, namun ia merasa lebih kuat dari sebelumnya. Tubuhnya terus-menerus diperbarui oleh sihir Marvin dan berevolusi seiring melesatnya angka levelnya menembus 65. Ia resmi melangkah ke ranah Third Job di tengah medan perang.
"Apakah ini yang dirasakan para elit Asosiasi itu?!" teriak Bastian, mengayunkan pedangnya dan membelah lima iblis sekaligus. "Rasanya seperti curang!"
Hanya dalam waktu lima belas menit sejak mereka turun dari udara, barisan depan yang terdiri dari lima belas ribu legiun iblis telah menjadi tumpukan daging cincang dan tulang yang meleleh. Padang pasir hitam itu kini sepenuhnya dialiri oleh sungai darah.
Namun, di ujung lautan mayat tersebut, obelisk raksasa berbahan tulang itu justru berdenyut semakin kencang. Cahaya merah darahnya menyerap seluruh jiwa iblis yang baru saja dibantai oleh Andre, menggunakan energi kematian tersebut sebagai bahan bakar terakhir.
Langit benar-benar terbelah. Suara retakan dimensi terdengar memekakkan telinga.
Dari dalam pusaran merah di atas obelisk, sebuah suara yang sangat dalam, berat, dan memancarkan aura busuk bergema di seluruh penjuru gurun. Itu bukan suara fisik, melainkan gelombang telepati yang langsung menghantam pikiran ketiganya.
"Bau ini... aku mengenali aura yang sangat menjijikkan ini. Setelah belasan tahun umat manusia meringkuk seperti tikus, kau berani muncul kembali ke permukaan, Kaisar Kilat?"
Bastian dan Marvin membeku, tekanan mental dari suara itu nyaris meremukkan lutut mereka. Itu adalah suara sang Pilar Kedelapan. Astaroth.
Andre berdiri di atas tumpukan mayat iblis. Ia mengibaskan Nocturne ke samping, menyeka bilah hitam yang sama sekali tidak menodakan setetes darah pun. Jubah hitamnya berkibar menantang badai yang turun dari retakan dimensi. Sang mantan National Protection mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam pusaran merah di atas obelisk, dan tersenyum—sebuah senyuman penuh antisipasi yang belum pernah ia tunjukkan sejak ia bereinkarnasi.
"Turunlah kemari, Astaroth," gumam Andre pelan, suaranya mengandung janji pembantaian mutlak. "Aku punya pedang baru yang ingin kucoba di lehermu."