NovelToon NovelToon
Super Sistem Pekerjaan Impian

Super Sistem Pekerjaan Impian

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Bima menggeser tuas persneling dengan tenang.

"Tujuan kita ke Restoran Bintang Harapan di jalan protokol, benar?" konfirmasi Bima sambil melirik layar aplikasinya.

"Ya, tolong agak cepat karena saya ada rapat penting," jawab Nadhira sedikit ketus untuk menutupi rasa canggungnya.

Vrooom.

Mobil itu melesat mulus keluar dari area parkir bawah tanah dan bergabung dengan lalu lintas kota yang padat.

Suasana di dalam kabin terasa sangat hening untuk beberapa saat.

Nadhira tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melirik ke arah Bima.

Pemuda itu hanya mengenakan kemeja flanel pudar yang kancingnya dibiarkan terbuka menampilkan kaus oblong hitam di dalamnya.

Penampilannya sangat tidak sepadan dengan kendaraan yang sedang dia kemudikan.

Namun ada yang aneh dari sikap Bima saat ini menurut penilaian Nadhira.

Dulu saat berpapasan di kantor, Bima selalu bersikap hormat dan menundukkan pandangannya.

Tapi sekarang, pria itu terlihat sangat rileks, dominan, dan seolah menguasai seluruh situasi.

Tidak ada sedikit pun rasa canggung atau segan pada diri Bima meski duduk bersebelahan dengan mantan direktur utamanya.

"Saya dengar laporan dari Pak Hendra pagi ini kalau kamu diberhentikan karena efisiensi," buka Nadhira memecah keheningan.

Dia mencoba mengambil kembali kendali percakapan.

"Ah, soal itu."

Bima menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan.

"Pak Hendra memang sangat peduli pada efisiensi perusahaan, sampai-sampai dia harus mengosongkan posisi saya agar keponakannya bisa masuk."

Nadhira mengerutkan keningnya mendengar informasi tersebut.

"Keponakan? Pak Hendra tidak mencantumkan alasan itu di laporan pemecatanmu."

"Tentu saja tidak, Bu."

Bima tersenyum sarkas mendengarnya.

"Tidak ada maling yang mau mengaku. Tapi jujur saja, saya justru berterima kasih pada Pak Hendra."

Nadhira menatap profil samping wajah Bima dengan saksama.

"Berterima kasih karena sudah dipecat?" tanyanya heran.

"Tentu saja."

"Kalau saya tidak dipecat, saya mungkin masih duduk di depan layar komputer menelpon klien."

"Dan saya tidak akan punya waktu luang untuk narik taksi online menikmati pemandangan kota seperti sekarang."

Jawaban santai itu membuat Nadhira kehilangan kata-kata.

Orang normal mana yang menganggap mengemudi taksi online lebih baik dari pekerjaan kantoran?

Kecuali, taksi online itu adalah sebuah Lamborghini seharga miliaran rupiah.

Nadhira menyadari bahwa identitas Bima yang sebenarnya mungkin jauh lebih dalam dari sekadar karyawan biasa.

Dia mulai berpikir apakah selama ini Bima adalah anak konglomerat yang sedang menyamar untuk mencari pengalaman di perusahaannya.

"Kamu menyembunyikan identitasmu selama bekerja di perusahaanku?" tanya Nadhira dengan nada yang sedikit lebih lembut dari sebelumnya.

Bima melirik Nadhira dari sudut matanya dan tertawa dalam hati.

'Imajinasi orang kaya memang selalu melayang terlalu jauh,' batin Bima geli.

"Saya tidak menyembunyikan apa-apa, Bu Nadhira."

"Saya hanya orang biasa yang kebetulan sedang mencari nafkah di jalanan."

Nadhira mendengus pelan mendengar jawaban merendah itu.

Dia melipat kedua lengannya di dada, postur defensifnya mulai luntur digantikan oleh rasa penasaran yang kuat.

"Orang biasa tidak mengendarai mobil seharga properti di pusat kota."

"Dan orang biasa tidak akan bersikap sesantai dirimu setelah kehilangan pekerjaannya."

Mobil berhenti dengan mulus di lampu merah.

Bima menoleh sepenuhnya ke arah Nadhira, menatap langsung ke dalam mata wanita yang terkenal dingin itu.

"Ibu tahu apa masalah utama dari orang-orang di posisi atas seperti Ibu?"

Jarak wajah mereka cukup dekat di dalam kabin mobil, membuat Nadhira tanpa sadar menahan napasnya sesaat.

Tatapan mata Bima tidak tajam, namun memancarkan kepercayaan diri yang sangat absolut.

"Kalian selalu mencoba mencari alasan rumit untuk hal-hal yang sebenarnya sangat sederhana."

Bima memalingkan wajahnya kembali ke depan saat lampu berubah hijau.

Dia menginjak pedal gas, membuat punggung Nadhira sedikit terdorong ke kursi karena akselerasi mobil yang halus namun bertenaga.

Nadhira terdiam seribu bahasa sepanjang sisa perjalanan.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya karena interaksi barusan.

Selama ini, pria-pria yang mendekatinya selalu memamerkan kekayaan mereka atau bersikap tunduk untuk mencari perhatiannya.

Baru kali ini ada seorang pria yang memperlakukannya murni sebagai seorang penumpang biasa.

Dan ironisnya, pria itu adalah mantan bawahannya sendiri yang kini terlihat seratus kali lipat lebih menarik di matanya.

Sepuluh menit kemudian, SUV hitam itu berhenti tepat di lobi Restoran Bintang Harapan.

Petugas valet yang berjaga langsung berlari membukakan pintu untuk Nadhira dengan sikap sangat hormat.

Nadhira bersiap turun dari mobil, namun dia menoleh kembali ke arah Bima.

"Berapa tarif perjalanannya?" tanya Nadhira sambil membuka tas mewahnya.

"Sesuai aplikasi saja, Bu. Uangnya bisa ditransfer lewat sistem," jawab Bima tanpa menoleh, matanya fokus menatap jalanan.

Nadhira terdiam sejenak.

"Bima."

Bima menoleh dengan alis terangkat satu.

"Kamu punya nomor pribadiku, kan?" tanya Nadhira.

"Sepertinya masih ada di grup divisi kantor, jawab Bima."

"Jangan dihapus."

Nadhira menatap mata Bima dengan intens.

"Kalau mobil dinasku belum selesai diperbaiki besok, aku akan menghubungimu lagi untuk antar jemput."

"Aku berani bayar dua kali lipat dari harga aplikasi asalkan kamu mau menjadi sopir pribadiku sementara waktu."

Bima tersenyum tipis mendengar tawaran itu.

Dia tahu Nadhira bukan sekadar butuh tumpangan, wanita ini sedang mencoba menggali rahasianya.

"Saya ini pengemudi lepas, Bu. Kalau waktunya pas dan bayarannya cocok, saya pasti datang."

Nadhira mengangguk pelan lalu turun dari mobil.

Dia berdiri di lobi restoran, menatap bagian belakang Lamborghini Urus itu perlahan menyatu dengan kemacetan kota.

Ting.

Ponsel Bima berbunyi saat dia baru saja melaju sekitar seratus meter dari restoran.

[Sistem Pekerjaan Impian: Pembaruan Tugas]

[Pesanan pertama selesai dengan penilaian bintang lima otomatis dari Host]

[Kemajuan Tugas: 1/10]

[Host telah menunjukkan sikap profesional. Terus pertahankan kinerja Anda.]

Bima menyandarkan kepalanya di kursi kemudi dengan nyaman.

Satu tugas selesai tanpa hambatan yang berarti.

Bahkan dia mendapatkan kesenangan tersendiri melihat ekspresi kebingungan bos besar dikantor yang dulu memecatnya.

"Pekerjaan ini ternyata jauh lebih menyenangkan dari dugaanku," gumam Bima santai.

Dia menaikkan volume musik di dalam mobilnya dan bersiap menunggu pesanan berikutnya masuk ke aplikasi.

Kehidupannya yang baru benar-benar baru saja dimulai.

1
Naga Hitam
wahh tidak ada truk tronton
YUI: tidak perlu ketabrak truk dulu🤣🤣
total 1 replies
Yuliana Tunru
bodoh dan arogan x kau vina ..tak sabar mau tau gmn reaksi x saat tau siapa bima 🤣🤣 makin seruuu dan yg pasti up x benar2 bikin puasss 👍👍
Oarashi
gas
Yuliana Tunru
cuma bisa bilang wooow bima ..cslon pacar udaman tuh siska 🤭🤭
Kasma Wati
.🤣🤣🤣🤣🤣
Heri Susanto8246
bodoh
Yuliana Tunru
up x ndk kaleng3 ..ma kasih thorr 💪💪 trs ya 👍👍
aldo
lanjut author semangat terus 🙏🙏🙏🙏
Yuliana Tunru
cerita yg bagus thorr wuka gaya bima yg tenang tp cerdik..bonus vote buat kisah mu
YUI: terimakasih kak☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!