DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: TANDA DI ATAS BINGKAI
Matahari pagi hari Kamis tanggal dua belas Oktober membias hangat menyinari permukaan dinding teras depan.
Sinar fajar menerobos celah daun pohon mangga tua, membiaskan garis-garis cahaya tipis di ubin semen.
Dini dan Ranti berdiri berdampingan di koridor samping, memandangi bingkai kayu ventilasi di atas pintu samping.
Coretan tanah merah basah yang mengering membentang empat jari melintasi terali kayu ventilasi bagian luar.
Noda tanah merah itu berwarna pekat, meninggalkan kerak tipis yang tampak kasar di permukaan kayu tua.
"Bu... coretan tanah merah di atas ventilasi itu kelihatan tebal banget dari sini," bisik Dini menunjuk ke atas.
"Inggih, Din. Coretannya membentang empat jari di terali luar," sahutku berbisik pelan.
"Ranti takut kalau benda yang menyenggol ventilasi semalam itu mencoba memanjat pintu, Bu," cicit Ranti gemetar.
"Mboten usah cemas, Ran. Pintu samping tetap terkunci rapat dan diganjal kayu jati tebal," balasku menenangkan.
"Cangkir porselen berisi gumpalan tanah merah kemarin sudah Ibu siapkan di meja kan?" tanya Dini.
"Sampun, Din. Cangkir porselennya sudah Ibu tutup rapi pakai kertas karton tebal," jawabku mantap.
"Gumpalan tanah merah di dalam cangkir porselen itu teksturnya masih basah nggih, Bu?" tanya Ranti lagi.
"Inggih, Ran. Makanya cangkir porselen itu sengaja mboten Ibu pegang langsung pakai tangan," terangku.
Aku memegang bahu kedua putriku, mengusapnya perlahan untuk mengalirkan ketenangan di dalam ruang tengah rumah.
Pukul delapan pagi lewat dua puluh menit, deru mesin sepeda motor dinas kepolisian terdengar berhenti di teras.
Pak RT melangkah masuk ke halaman teras bersama Bripka Haryono dan seorang petugas penyidik Polsek.
Aku segera melangkah membukakan pintu pagar besi depan untuk menyambut kedatangan pengurus RT dan penyidik.
"Selamat pagi, Bu Sari," sapa Bripka Haryono menganggukkan kepala secara sopan di ambang teras.
"Selamat pagi, Pak Bripka, Pak RT. Dherek pinarak teng teras, Pak," sambutku membukakan pintu depan.
Bripka Haryono mengenakan seragam dinas rapi, memegang koper besi tempat peralatan sampel di tangan kanannya.
Pak RT mendudukkan diri di kursi rotan teras, merapikan letak peci hitam di atas kepalanya yang agak basah.
"Pak RT tadi pagi sudah menyampaikan laporan Bu Sari soal bukti tanah merah baru nggih?" tanya Bripka Haryono.
"Inggih, Pak Bripka. Tadi sore kami menemukan gumpalan tanah merah basah di ambang pintu samping," terangku.
"Tanah merah itu sudah kulo ambil pakai kertas karton dan kulo simpan rapi di cangkir porselen niki," lanjutku.
Kuserahkan cangkir porselen putih yang tertutup kertas karton tebal kepada petugas penyidik Polsek di teras.
Petugas penyidik menerima cangkir porselen tersebut secara cermat, lalu membuka penutup karton di atas meja.
"Tekstur tanah merah basah dalam cangkir niki warnanya pekat dan masih agak lembap," kata petugas penyidik.
"Bercak tanah merah niki bakal kami bawa ke laboratorium Polsek buat dibandingkan sama sampel karung goni," tambah Bripka Haryono.
"Langkah Bu Sari mengamankan sampel tanpa menyentuhnya langsung niki sangat membantu kami," puji Bripka Haryono.
"Matur nuwun sanget, Pak Bripka. Kami cuma ingin membantu proses penyelidikan kepolisian," balasku mengangguk pelan.
"Selain gumpalan tanah di cangkir niki, wonten bekas bukti fisik lain di rumah nggih?" tanya Pak RT.
"Wonten, Pak RT. Di bingkai kayu ventilasi atas pintu samping ada coretan tanah merah kering membentang," terang Dini.
"Mari kita periksa ke lorong samping sekarang, Pak Bripka," ajakku mengarahkan mereka ke samping rumah.
Bripka Haryono, petugas penyidik, dan Pak RT mengikuti langkahku menyusuri koridor samping hingga ke pintu.
Petugas penyidik Polsek mendongak menatap bingkai kayu ventilasi di atas pintu samping yang diterangi sinar pagi.
Kamera pengukur penyidik diarahkan ke atas, memotret coretan tanah merah empat jari di terali kayu luar.
Clek! Clek!
Lampu kilat kamera menyala dua kali, mengabadikan noda tanah merah kering yang menempel tebal di bingkai kayu.
Petugas penyidik mengikis sedikit kerak tanah merah kering itu memakai kuret stainless steel ke dalam wadah plastik.
"Coretan tanah merah di ventilasi niki membentang horizontal sepanjang empat jari," jelas petugas penyidik.
"Bekas kikisan niki seolah menunjukkan ada permukaan kaku berkerak tanah yang sempat menggesek kayu," tambah petugas penyidik.
"Apakah tinggi lokasi ventilasi niki bisa dijangkau oleh tangan orang dewasa dari luar, Pak?" tanya Pak RT.
"Tinggi bingkai ventilasi niki sekitar dua meter lebih sedikit dari ubin koridor luar," jawab Bripka Haryono.
"Kalau berdiri di atas lantai semen selokan, posisi ventilasi niki memang bisa tersenggol benda panjang," tambah Bripka Haryono.
Aku menyimak penjelasan resmi petugas penyidik Polsek dengan cermat, mencatat setiap detail fakta di lorong samping.
"Lalu pripun perkembangan tim penyisiran di kawasan hutan jati perbatasan selatan, Pak Bripka?" tanyaku mengejar informasi.
"Tim gabungan Polsek dan Polres sejak kemarin sore sudah bergerak menyisir kawasan hutan jati," terang Bripka Haryono.
"Petugas menemukan jejak seretan karung goni dan bekas pakan tanaman di dekat aliran sungai kecil," ungkap Bripka Haryono.
Dini dan Ranti yang berdiri di dekat ambang pintu samping seketika menahan napas mendengar kabar terbaru itu.
"Apakah karung goni yang dibawa laki-laki itu ditemukan di dekat sungai kecil itu, Pak Bripka?" tanya Dini.
"Karung goni itu mboten ditemukan di tepi sungai, tapi bekas robekan kain goni tersangkut di rimbun semak," jawab Bripka Haryono.
"Robekan kain goni itu ada noda tanah merah basah yang permukaannya serupa dengan sampel kita," lanjut Bripka Haryono.
"Berarti pergerakan laki-laki bertopi itu memang mengarah masuk semakin dalam ke area hutan jati nggih, Pak?" tanya Pak RT.
"Inggih, Pak RT. Penyisiran tim Polsek sekarang difokuskan ke area perkebunan tua di tengah hutan jati," jawab Bripka Haryono.
"Kami juga berkoordinasi sama warga perbatasan supaya segera melapor kalau melihat pergerakan mencurigakan," tambah Bripka Haryono.
"Matur nuwun sanget atas kerja keras tim Polsek dalam mengusut kasus niki, Pak Bripka," balasku lega.
"Sami-sami, Bu Sari. Kami minta keluarga Bu Sari tetap tenang dan mboten keluar rumah saat malam hari," pesan Bripka Haryono.
"Pasti, Pak Bripka. Pintu depan dan pintu samping selalu kami kunci rapat dua putaran dari dalam," sahutku tegas.
"Untuk bingkai ventilasi niki, petugas kami bakal memasang terali kawat besi tambahan di sisi luar," kata Bripka Haryono.
Petugas penyidik mengeluarkan selembar terali kawat besi tebal, lalu memaku sudut-sudutnya di bingkai kayu luar.
Tak! Tak! Tak!
Suara ketukan martil membentur paku besi terdengar nyaring di lorong samping, mengikat kencang terali kawat besi.
Terali kawat besi tebal itu menutupi seluruh celah kayu ventilasi di atas pintu samping secara rapat dan kokoh.
"Dengan terali kawat besi niki, celah ventilasi atas mboten bakal bisa tersentuh benda dari luar," jelas Bripka Haryono.
"Alhamdulillah... matur nuwun sanget, Pak Bripka. Bantuan kawat besi niki sangat menenangkan kami," sahut Dini lega.
"Inggih, Pak Bripka. Kami merasa jauh lebih aman dengan adanya terali kawat besi niki," timpal Ranti tersenyum.
Bripka Haryono dan petugas penyidik merapikan peralatan ke dalam koper besi, lalu berpamitan di teras depan.
Pak RT mengantar dua petugas kepolisian tersebut menuju sepeda motor dinas yang terparkir di ujung jalan gang.
Aku, Dini, dan Ranti kembali masuk ke dalam ruang tengah, mengunci pintu depan dua putaran penuh dari dalam.
Pukul satu siang lewat lima belas menit, suasana ruang tengah rumah kami terasa lebih tenang dan terang.
Mangkuk porselen berisi sayur lodeh manisa hangat dan tempe garit tersaji sederhana di atas meja makan.
Uap gurih sayur lodeh membumbung tipis di udara, memberikan kehangatan keluarga di tengah keheningan siang.
Dini menyendokkan nasi hangat dan sayur lodeh manisa ke piringku dengan gerakan lembut dan telaten.
Ranti mengambilkan tempe garit hangat dan menyusunnya rapi di piring kecil di tengah meja makan kami.
"Bu... kalau robekan kain goni ditemukan di hutan jati, Rian pasti ada di sekitar hutan itu nggih?" bisik Ranti.
"Polisi sedang menyisir area perkebunan tua di hutan jati itu, Ran. Kita doakan polisi lancar," jawabku mengusap rambutnya.
"Tapi terali kawat besi di ventilasi tadi dipasang kencang banget sama Pak Polisi nggih, Bu," ujar Dini menyendok nasi.
"Iya, Din. Kawat besi itu dipaku kokoh di bingkai luar, jadi celah ventilasi kita semakin aman," balasku setuju.
"Syukurlah... Ranti merasa lebih tenang sekarang kalau mau tidur malam nanti," bisik Ranti tersenyum kecil.
"Inggih, Ran. Yang penting kita tetap tertib mengunci pintu dan berdoa bersama-sama," tambah Dini menguatkan adiknya.
"Matur nuwun nggih, anak-anakku. Kalian berdua sangat tenang dan saling menjaga selama beberapa hari ini," pujiku haru.
Kami bertiga makan siang bersama dalam ketenangan meja makan, menikmati kehangatan hidangan sederhana rumah.
Pukul tiga sore lewat sepuluh menit, angin terang berhembus pelan menyapu halaman pekarangan depan rumah.
Dini merapikan piring porselen di rak dapur, sementara Ranti menyapu ubin semen koridor dalam hingga bersih.
Suara langkah kaki dan gemercik air dapur terdengar teratur, menghidupkan suasana sore di dalam rumah kami.
Aku berdiri di dekat jendela teras depan, memandangi pita garis polisi kuning hitam di rumah sebelah yang melambai.
Matahari sore hari Kamis tanggal dua belas membias keemasan di atas atap genteng perkampungan gang kami.
Pukul lima sore lewat tiga puluh menit, hawa dingin khas lereng gunung mulai merayap masuk lewat celah jendela.
Aroma tanah basah yang tipis dan agak amis kusam kembali berhembus samar di lorong samping rumah.
Dini yang sedang mengeringkan cangkir di dapur kecil mendadak menghentikan gerak tangannya di udara.
Dini menoleh pelan ke arahku dengan raut tegang, memandangi sudut pintu samping yang tertutup rapat.
"Bu... bau tanah basah dari luar tercium tipis lagi," bisik Dini melangkah mendekatiku.
Aku menajamkan penciumanku, meresapi hawa dingin lembap yang berhembus perlahan di sekitar lorong samping.
Aroma tanah basah itu terasa begitu tipis, mengendap lembut di atas ubin semen koridor dalam rumah.
"Iya, Din. Aromanya tercium tipis dari arah pekarangan belakang rumah sebelah," sahutku berbisik pelan.
"Tapi terali kawat besi di ventilasi atas sudah dipaku kencang kan, Bu?" tanya Ranti cemas.
"Sudah dipaku rapat pakai paku besi Polsek kok, Ran," sahutku memegang jemari kedua putriku.
"Ibu yakin mboten ada benda yang bisa masuk lewat celah kawat besi itu," tambahku menenangkan anak-anak.
Aku mengajak Dini dan Ranti melangkah mendekati pintu samping untuk memastikan ganjal kayu jati dari dalam.
Ganjal kayu jati tebal tertancap kokoh dua putaran penuh di ambang pintu semen koridor dalam.
Terali kawat besi tebal di atas ventilasi kayu juga terlihat rapat menutupi seluruh celah luar.
Namun, di atas ubin semen tepat di sebelah ganjal kayu jati pintu samping rumah kami, sebutir objek baru tergeletak.
Sebutir biji tanaman liar berwarna cokelat tua berlapis tanah merah basah tergeletak segar di ubin.
Biji tanaman liar itu berukuran sebesar kelereng, membiaskan kilau basah yang seolah baru saja jatuh dari atas.
"Bu... lihat di dekat ganjal kayu itu! Ada biji tanaman berlapis tanah merah basah!" bisik Dini dengan wajah pucat pasi.
Dini menunjuk biji cokelat tua berlapis tanah merah basah yang tergeletak segar di atas ubin semen rumah kami.
Aku mempererat genggaman tanganku pada jemari Dini dan Ranti, menahan getaran dingin yang mendadak menusuk tulang.
Ganjal kayu jati di bawah pintu samping kupastikan tertancap makin dalam dan kencang di ambang semen dari dalam.
---