Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit lobi utama butik Amara Modest berpendar mewah, memantulkan kilau keemasan yang menerpa lantai marmer putih Carrara di bawahnya. Aroma lilin aromaterapi varian sandalwood dan french lavender menguar lembut, menciptakan atmosfer eksklusif yang menenangkan bagi setiap tamu kelas atas yang menginjakkan kaki di sana.
Aku berdiri tegak di depan cermin besar berbingkai ukiran tembaga. Jemariku bergerak pelan, merapikan lipatan hijab pashmina berbahan sutra premium berwarna champagne yang melilit kepalaku dengan sempurna. Hijab itu jatuh dengan anggun, membingkai wajahku yang dipoles riasan natural namun tegas. Setelan blazer dan rok panjang dengan potongan tailored berwarna senada melekat pas di tubuhku, memancarkan aura seorang wanita karier yang tidak hanya mapan, tetapi juga memiliki kendali penuh atas hidupnya.
Di usiaku yang menginjak awal tiga puluhan, dunia seolah berada di dalam genggamanku. Amara Modest bukan lagi sekadar nama merek hijab biasa; bisnis yang kurintis dari garasi kecil sepuluh tahun lalu itu kini telah menggurita menjadi salah satu kiblat fashion muslimah premium di negeri ini.
"Ibu Hanum, semua tamu undangan dari kalangan sosialita dan kolega bisnis sudah berkumpul di aula utama. Acara peluncuran koleksi eksklusif Gilded Grace akan dimulai dalam lima menit," suara asisten pribasiku, Maya, memecah keheningan di ruang rias pribadi. Wanita muda itu berdiri dengan sikap hormat, memegang tablet digital yang menampilkan susunan acara malam ini.
Aku membalikkan badan, menyunggingkan senyum profesional yang menjadi ciri khasku. "Terima kasih, Maya. Pastikan tim media sudah siap di posisinya masing-masing. Aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun pada pencahayaan panggung."
"Baik, Bu. Semuanya sudah dipastikan aman," jawab Maya mantap.
Aku melangkah keluar dari ruang rias. Setiap derap langkah dari sepatu hak tinggi setinggi tujuh sentimeter yang kukenakan terdengar konstan dan berwibawa di sepanjang lorong koridor. Ketika pintu aula besar itu dibuka, riuh rendah tepuk tangan langsung menyambut kehadiranku. Kilatan lampu kilat dari kamera para jurnalis media fashion seketika menyilaukan pandangan. Di atas panggung yang megah, di hadapan ratusan pasang mata yang memandangku dengan takjub dan rasa segan, aku menyampaikan pidato singkat tentang visi keanggunan wanita muslimah modern yang mandiri.
Semua orang memujiku. Mereka memanggilku dengan satu kata yang sering kali membuatku merinding jika dipikirkan terlalu dalam yaitu Sempurna. Di mata publik, Hanum adalah definisi nyata dari wanita yang beruntung. Sukses secara finansial, memiliki reputasi yang bersih, dan mengelola perusahaan raksasa atas namanya sendiri.
Namun, bagiku, kesuksesan bisnis ini hanyalah separuh dari kebahagiaanku. Separuh kebahagiaanku yang paling sejati justru menunggu di sebuah rumah berarsitektur modern minimalis di kawasan elit Jakarta Selatan. Rumah tempat di mana aku melepaskan seluruh atribut sebagai seorang CEO dan kembali menjadi seorang ibu serta seorang istri.
Jarum jam menunjukkan pukul delapan malam ketika mobil sedan mewah yang dikendarai sopir pribadiku memasuki gerbang rumah. Begitu pintu depan terbuka, keheningan rumah mewah itu langsung pecah oleh suara derap langkah kaki kecil yang berlarian menuruni tangga putar.
"Bunda!"
Dua suara yang sangat kukenal berseru kompak. Sepasang anak kembar berumur sembilan tahun, laki-laki dan perempuan, langsung menghambur ke pelukanku. Si anak laki-laki, Kenzie, yang memiliki gurat wajah tampan mirip ayahnya, memeluk pinggangku dengan erat. Sementara kembarannya, Kayla, yang berwajah cantik jelita dengan mata bulat berbinar, mengecup pipiku dengan gemas.
Meskipun mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, keduanya selalu terlihat modis dan rapi didikan langsung dariku yang selalu memperhatikan penampilan mereka. Malam ini mereka mengenakan pakaian rumah berbahan rajut premium berwarna krem yang nyaman namun tetap terlihat berkelas.
"Bunda kenapa pulangnya malam sekali? Kayla dan Kenzie sudah menunggu dari sore, tahu," rajuk Kayla sambil mengerucutkan bibirnya yang mungil.
Aku berlutut di hadapan mereka, mengabaikan rasa lelah yang sempat menggelayuti pundakku sejak siang. Kuusap kepala mereka bergantian dengan penuh kasih sayang. "Maaf ya sayang, Bunda tadi harus memastikan acara butik baru selesai dengan baik. Sebagai gantinya, besok akhir pekan Bunda akan temani kalian seharian penuh. Bagaimana?"
"Janji ya, Bunda?" Kenzie memastikan, menatapku dengan mata hitamnya yang cerdas.
"Janji, sayang," ucapku lembut sambil mengecup dahi mereka satu per satu.
Setelah memastikan kedua anak kembar itu menghabiskan susu hangat mereka dan mengantar mereka ke kamar tidur yang luas di lantai dua, aku melangkah menuju kamarku sendiri. Suasana rumah berangsur-angsur sunyi. Lantai marmer yang dingin di bawah kakiku seolah mengantarkan rasa sepi yang entah mengapa mendadak menyusup ke dalam dada.
Aku masuk ke dalam kamar utama, membersihkan sisa riasan wajah di depan wastafel kamar mandi, dan mengganti pakaianku dengan gamis rumah berbahan katun sutra yang lembut. Saat aku keluar dari kamar mandi, terdengar suara raungan mesin mobil sport memasuki pelataran rumah. Itu adalah suara mobil Mas Hanif, suamiku.
Hanif adalah pelengkap dari ilusi kesempurnaan hidupku. Dia adalah pria yang tampan, bertubuh tegap, dan memiliki kharisma yang kuat sebagai pemilik perusahaan manufaktur tekstil serta pabrik konveksi berskala besar. Selama ini, publik melihat kami sebagai pasangan konglomerat yang ideal. Perusahaan fashion-ku mendesain dan memasarkan, sementara pabrik raksasa milik Mas Hanif yang memproduksi semua kain dan pakaiannya secara massal. Kami adalah simbiosis mutualisme yang tak terpisahkan, baik dalam urusan ranjang maupun urusan bisnis.
Pintu kamar terbuka. Mas Hanif melangkah masuk. Jas mahal yang dikenakannya sudah tersampir di lengan kiri, sementara dasinya sudah sedikit dilonggarkan. Wajahnya yang biasanya memancarkan rasa percaya diri yang tinggi, malam ini terlihat sedikit kuyu dan lelah. Namun, begitu melihatku berdiri di dekat ranjang, dia langsung memaksakan sebuah senyuman.
"Hai, Sayang," sapanya lembut, berjalan mendekat lalu mengecup keningku. Aroma parfum maskulin bercampur aroma keringat tipis menguar dari tubuhnya.
"Hai, Mas. Kamu kelihatan capek banget malam ini. Banyak urusan di pabrik?" tanyaku sambil mengambil jas dari tangannya dan menggantungkannya di dalam lemari pakaian.
"Ah, iya... biasa, urusan operasional dan beberapa kendala dengan serikat pekerja. Tapi semua sudah bisa diatasi," jawabnya agak gugup. Dia berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar, lalu mengempaskan tubuhnya di sana dengan helaan napas yang terdengar sangat berat.
Aku berjalan ke arah meja kecil, menuangkan segelas air putih hangat lalu membawanya ke hadapan suamiku. Aku duduk di sampingnya, memberikan gelas itu yang langsung diteguknya hingga tandas.
"Terima kasih, Num," ucapnya pelan. Mas Hanif menaruh gelas kosong itu di meja, lalu meraih jemari tanganku. Dia menggenggamnya dengan erat, namun anehnya, telapak tangannya terasa sangat dingin dan sedikit gemetar.
Aku mengerutkan kening halus, merasakan ada sesuatu yang tidak beres. "Mas, ada masalah? Nggak biasanya kamu segelisah ini. Kalau ada masalah di pabrik yang butuh bantuan suntikan dana atau koneksi dari perusahaanku, kamu tahu kamu bisa bicara denganku, kan?"
Mas Hanif tidak langsung menjawab. Dia menatapku lurus-lurus. Tatapan matanya malam ini terasa sangat berbeda. Ada kilat rasa bersalah yang teramat dalam, namun bercampur dengan sebuah ketegasan ego yang aneh di balik bola mata hitamnya itu. Dia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya, berulang kali, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang tercecer.
"Num..." dia memulai pembicaraan, suaranya terdengar berat dan serak di tengah keheningan kamar yang mulai terasa mencekam. "Kamu adalah wanita yang luar biasa. Sepuluh tahun kita menikah, kamu tidak pernah mengecewakanku sekali pun. Kamu mandiri, sukses, hebat mengurus anak-anak, dan punya segalanya. Kamu tipe istri yang... yang kalau ditinggal atau tanpa aku pun, kamu akan selalu baik-baik saja."
Alisku bertaut. Kalimatnya terdengar seperti pujian, tapi entah mengapa, di telingaku itu terdengar seperti sebuah upaya pembenaran diri. Ada firasat buruk yang mendadak menusuk ulu hatiku, membuat pasokan oksigen di sekitarku tiba-tiba terasa menipis.
"Kenapa kamu bicara begitu, Mas? Kita membangun semuanya bersama. Tentu saja aku membutuhkanmu, begitupun sebaliknya," ujarku, mencoba menjaga suaraku agar tetap terdengar tenang dan datar.
Mas Hanif menarik napas dalam-dalam, dadanya membusung lalu mengempas kuat. Tiba-tiba, dia menggeser tubuhnya dari sofa, menurunkan lututnya hingga kini dia berada dalam posisi berlutut di hadapanku, sambil tetap menggenggam kedua tanganku dengan erat.
"Mas mohon, dengarkan Mas dulu sampai selesai, Num. Jangan memotong perkataan Mas," pintanya dengan tatapan memohon yang dipaksakan terlihat sedih.
Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Di atas dinding kamar, suara detak jarum jam terdengar seperti hitungan mundur yang mengerikan. Aku tidak bergerak, tidak juga menarik tanganku. Aku hanya menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi, menanti bom apa yang akan dijatuhkannya ke atas istana kaca yang telah kami bangun selama sepuluh tahun ini.
"Ibu... Ibu meminta Mas untuk meminang seorang wanita," ucap Mas Hanif akhirnya. Kata-kata itu meluncur dari bibirnya tanpa keraguan, menghantam indra pendengaranku seperti gada besi yang tak kasat mata.
Dada seolah berhenti berdetak untuk beberapa detik, namun aku tetap memaku pandanganku pada wajah suamiku. "Maksudmu?"
"Ibu merasa... pernikahan kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan bisnis. Ibu ingin Mas memiliki pendamping yang bisa lebih fokus pada urusan rumah tangga dan agama. Nama wanita itu Sarah. Dia wanita yang sangat baik, santun, polos, dan salihah. Dia tahu siapa kamu, Num. Dia sangat menghormatimu sebagai istri pertama."
Mas Hanif menjeda kalimatnya, menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan kalimat yang paling menghancurkan harga diriku sebagai seorang wanita.
"Sarah tidak meminta harta, Num. Dia tahu Mas sedang ada beberapa kendala finansial di pabrik bawah tanah dan dia bilang... dia tulus, dia mau menemani Mas berjuang dari bawah, dari nol sekalipun untuk membangun ibadah ini. Ibu sudah memberikan restunya, bahkan Ibu yang mendesak Mas. Mas mohon... demi bakti Mas pada Ibu, dan demi kebaikan kita bersama... izinkan Mas untuk menikah lagi. Izinkan Mas memadu pernikahan kita."
Berjuang dari bawah.
Kalimat itu terngiang-ngiang di dalam kepalaku, terdengar begitu menggelikan sekaligus memuakkan. Hatiku seperti baru saja dicabik-cabik hingga tak berbentuk. Rasa sakit, perih, dan penghinaan itu datang bersamaan, menghantam ulu hatiku hingga membuatku ingin muntah. Ibu mertuaku wanita yang selama ini selalu menerima hadiah-hadiah mewah dari perusahaanku, wanita yang seluruh biaya perawatan rumah sakit dan liburannya kutanggung tanpa pernah mengeluh ternyata diam-diam menusukku dari belakang hanya karena dia merasa tersaingi oleh dominasi dan kemandirianku. Dan suamiku, pria yang perusahaannya bisa berdiri tegak hanya karena aku terus-menerus memberikan kontrak produksi dari brand-ku, kini berlutut meminta izin untuk membagi ranjang dan cintanya dengan wanita lain yang berkedok kesalehan polos.
Jika aku adalah wanita biasa, aku pasti sudah berteriak histeris, menjambak rambutnya, atau melemparkan vas bunga kristal di sampingku ke wajah tampannya yang tidak tahu diri itu.
Namun, aku adalah Hanum. Aku dididik oleh kerasnya dunia bisnis untuk tidak pernah menunjukkan kelemahan di depan lawan, sekecil apa pun itu.
Gejolak badai kemarahan yang membakar dadaku perlahan-lahan kukunci rapat-rapat di dalam laci terdalam pikiranku. Logikaku yang dingin dan tak tersentuh seketika mengambil alih seluruh kesadaranku. Menangis dan mengamuk hanya akan membuat diriku terlihat menyedihkan dan lemah di depan mereka. Dan aku menolak untuk menjadi wanita yang menyedihkan.
Aku menarik napas panjang melalui hidung, mengembuskannya perlahan lewat bibir tanpa menimbulkan suara. Perlahan, kutarik kedua tanganku dari genggaman Mas Hanif yang mulai terasa menghangatkan namun beracun.
Aku memundurkan tubuhku sedikit, bersandar pada sandaran sofa dengan keanggunan yang luar biasa. Wajahku benar-benar bersih dari emosi; tidak ada air mata, tidak ada kerutan amarah, tidak ada getaran ketakutan. Hanya ada sepasang mata yang menatap suamiku dengan keheningan yang teramat pekat sebuah ketenagan yang justru membuat Mas Hanif mendadak menahan napasnya, tampak merinding melihat reaksimu yang di luar dugaannya.
"Hanum..." panggil Mas Hanif dengan suara bergetar ketakutan, bingung dengan diamku yang mencekam. "Kamu... kamu tidak marah?"
Aku menyunggingkan sebuah senyuman tipis senyuman formal dan sangat manis yang biasa kugunakan saat menjebak kompetitor bisnisku di meja perundingan sebelum menghancurkan mereka tanpa sisa.
"Kenapa aku harus marah, Mas?" tanyaku lembut, begitu tenang hingga suaraku terdengar seperti desiran angin malam yang dingin. "Jika itu sudah menjadi keputusanmu dan restu dari Ibu, aku tidak akan melarangnya."
Mas Hanif terbelalak, matanya berbinar seketika oleh rasa lega yang luar biasa. Dia mengira istrinya telah kalah dan pasrah karena cinta. Dia tidak pernah tahu bahwa di dalam kepalaku, lembar demi lembar rencana balas dendam legal yang paling kejam baru saja mulai dijahit dengan rapi.
"Kamu... kamu mengizinkannya, Num?" tanyanya memastikan dengan nada tidak percaya.
"Ya," jawabku mantap, senyum manisku sama sekali tidak pudar. "Aku mengizinkanmu menikah lagi, Mas. Bahkan, aku sendiri yang akan mengantarmu ke pelaminan untuk menemui wanita mudamu itu."
Mas Hanif tersenyum lebar, langsung bangkit dan mencoba memelukku, mengira dia telah memenangkan segalanya. Namun, dia terlalu bodoh untuk menyadari satu hal: ketika seorang wanita mandiri yang terluka memilih untuk diam dan tersenyum, itu bukan tanda dia menerima takdirnya... melainkan tanda bahwa dia sedang mempersiapkan peti mati untuk menghancurkan hidup suaminya tanpa menyisakan sepeser pun kejayaan yang pernah diberikannya.
"Selamat datang di awal dari kehancuranmu, Mas Hanif. Mari kita lihat, seberapa kuat wanita mudamu itu akan bertahan berjuang dari bawah saat seluruh fasilitas mewah dan kontrak bisnismu ditarik habis oleh tangan istri pertamamu ini." Batinku
Tusuk niiih 🤺🤺🤺🤺🤺 ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....