NovelToon NovelToon
Reincarnation Of The Lemitless

Reincarnation Of The Lemitless

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8— Kisah Seribu Tahun Lalu

Mereka meninggalkan Lembah Abu tiga hari setelah pertarungan dengan Jenderal Vorn, mengambil jalan utama yang perlahan mulai ramai oleh pedagang dan pengembara lain—tanda bahwa mereka semakin mendekati wilayah yang lebih beradab menuju Grandis.

Kael menghabiskan waktu perjalanan untuk mencoba memahami Tebasan Seribu Prajurit, teknik warisan yang kini tersimpan di dalam ingatannya seolah dia sudah mempelajarinya bertahun-tahun, meski tubuhnya masih perlu membiasakan diri dengan gerakannya yang rumit.

"Ini aneh," katanya suatu sore, berhenti sejenak dari latihan untuk beristirahat di tepi sungai kecil.

"Aku tahu persis bagaimana tekniknya bekerja, seolah aku sudah menguasainya seumur hidup. Tapi tubuhku belum bisa mengikutinya sepenuhnya."

"Itu wajar," Seraphina menjawab, duduk di atas batu besar sambil mengamatinya.

"Warisan seperti itu memberikan pemahaman, bukan penguasaan. Kau tetap harus melatih tubuhmu untuk mengejar apa yang sudah dipahami pikiranmu."

"Adaptation membantu, setidaknya," Kael tersenyum, mengangkat pedangnya lagi untuk mengulang gerakan yang sama untuk kesekian kali.

[Tebasan Seribu Prajurit — Pemula 23%.]

Seraphina mengamatinya dalam diam beberapa saat, ekspresinya berubah menjadi lebih dalam, lebih jauh dari sekadar mengamati latihan. Kael menyadari perubahan itu dan berhenti.

"Ada yang mengganggumu," katanya, bukan pertanyaan.

Seraphina menghela napas panjang, menatap ke arah aliran sungai yang berkilau di bawah cahaya senja. "Aku sudah berpikir untuk memberitahumu ini sejak beberapa hari lalu. Tentang siapa yang menyegelku."

Kael duduk di sebelahnya, memberikan perhatian penuh tanpa mendesak.

"Seribu tahun lalu," Seraphina memulai, suaranya pelan namun stabil, "aku adalah salah satu dari Tiga Bangsawan Darah, pemimpin klan vampir terkuat di Elyndra. Kami hidup damai berdampingan dengan ras lain, meski selalu dipandang curiga karena kebutuhan kami akan darah."

"Aku bisa membayangkan itu tidak mudah."

"Tidak mudah, tapi bisa dijalani," Seraphina melanjutkan. "Sampai seorang anggota klanku sendiri, seorang bangsawan bernama Dravos, mulai terobsesi dengan kekuatan absolut. Dia percaya bahwa vampir seharusnya menguasai dunia ini, bukan bersembunyi di bayangan."

"Dan kau tidak setuju."

"Tentu saja tidak. Aku percaya kekuatan seharusnya digunakan untuk melindungi, bukan menindas." Wajah Seraphina mengeras, matanya berkilat dengan kemarahan lama yang belum sepenuhnya padam. "Dravos mengumpulkan pengikut, merencanakan pemberontakan untuk mengambil alih kepemimpinan klan. Aku menentangnya, dan dia ... dia mengkhianatiku."

"Bagaimana dia menyegelmu?"

"Dia bekerja sama dengan sekelompok kultivator manusia yang juga menginginkan kekuatanku untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka menyerangku saat aku paling lemah, setelah pertempuran panjang melawan pasukan Dravos sendiri. Aku terlalu terkuras untuk melawan segel yang mereka pasang." Seraphina menatap tangannya sendiri. "Mereka menyembunyikanku di Crimson Moon Dungeon, tempat yang bahkan Dravos sendiri tidak berani mendekat, karena dungeon itu dijaga oleh sisa-sisa kekuatan klanku yang setia."

Kael terdiam sejenak, mencerna cerita itu. "Apa yang terjadi pada Dravos setelahnya?"

"Aku tidak tahu," Seraphina menjawab jujur. "Seribu tahun adalah waktu yang sangat lama. Dia mungkin sudah mati, mungkin masih hidup dengan kekuatan yang jauh melampaui apa yang bisa kubayangkan, atau mungkin klan kami sendiri sudah punah sepenuhnya."

"Kau ingin mencari tahu."

"Aku harus mencari tahu," Seraphina menegaskan, suaranya kini lebih tegas. "Bukan hanya untuk balas dendam, meski aku tidak akan berpura-pura itu bukan bagian darinya. Tapi juga untuk memastikan bahwa jika Dravos masih hidup dan masih mengejar ambisinya, seseorang menghentikannya sebelum dia berhasil."

Kael mengangguk pelan. "Kalau begitu, kita akan mencari tahu bersama. Setelah Grandis, setelah turnamen, kita bisa mulai mencari petunjuk tentang klanmu dan tentang Dravos."

Seraphina menoleh menatapnya, matanya berkaca-kaca meski dia berusaha menahan diri untuk tidak menunjukkannya terlalu jelas. "Kau tidak harus terlibat dalam masalahku, Kael. Ini bukan urusanmu."

"Kau menyelamatkanku dari kebosanan mati sendirian di dungeon itu," Kael menjawab ringan, meski nadanya serius. "Aku akan menganggap itu sebagai urusanku juga."

"Aku yang menyelamatkanmu? Kau yang membangunkanku."

"Detail teknis," Kael tersenyum lebar. "Intinya, kita berdua saling membutuhkan sekarang. Dan aku tidak akan meninggalkan seseorang yang kupanggil teman menghadapi masalah semacam itu sendirian."

"Teman," Seraphina mengulang kata itu pelan, seolah mencicipi rasanya. "Sudah lama aku tidak punya sebutan itu untuk siapa pun."

"Kalau begitu, biasakan lagi," Kael berkata sambil bangkit, mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. "Karena aku berencana untuk terus ada di sekitarmu untuk waktu yang sangat lama."

Seraphina menatap tangan itu sejenak sebelum menerimanya, dan untuk pertama kalinya sejak seribu tahun lalu, dia merasakan sesuatu yang mirip harapan sejati—bukan sekadar bertahan hidup, tetapi benar-benar hidup kembali.

Mereka melanjutkan perjalanan menjelang malam, dan sepanjang jalan, Seraphina mulai bercerita lebih banyak tentang masa lalunya—tentang budaya klan vampir, tentang seni memurnikan darah yang hampir punah, tentang keindahan Netherys sebelum menjadi wilayah kekuasaan Demon sepenuhnya.

Kael mendengarkan setiap kata dengan penuh perhatian, menyimpan setiap detail seolah itu adalah harta yang berharga—yang memang benar adanya.

Pada hari ketujuh belas sejak meninggalkan Eldermere, mereka akhirnya melihat siluet tembok kota yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah mereka lihat sebelumnya, menjulang di cakrawala dengan menara-menara tinggi yang berkilau keemasan di bawah sinar matahari sore.

"Grandis," Seraphina berkata pelan, matanya berkilat dengan campuran nostalgia dan kewaspadaan.

Kael menatap kota itu dengan mata berbinar, merasakan detak jantungnya sendiri berpacu dengan antisipasi.

"Akhirnya," gumamnya. "Babak baru dimulai."

---

Jika Eldermere terasa hidup, Grandis terasa seperti dunia yang berbeda sepenuhnya.

Gerbang utamanya saja tiga kali lebih besar dari gerbang Eldermere, dijaga bukan hanya oleh penjaga bersenjata biasa, tetapi juga oleh kultivator berzirah yang auranya terasa jelas bahkan dari kejauhan—setidaknya Qi Gathering tingkat menengah, jauh melampaui penjaga kota kecil mana pun.

Di balik gerbang, jalanan utama dilapisi batu pualam putih yang berkilau, membentang lurus menuju istana kerajaan yang menjulang di pusat kota, kubahnya berlapis emas yang memantulkan cahaya matahari hingga menyilaukan mata.

Di kedua sisi jalan, bangunan-bangunan bertingkat dengan arsitektur megah berjejer rapi, dihiasi bendera-bendera berwarna biru dan emas—lambang Kerajaan Valtherion.

"Ini ..." Kael berhenti sejenak, menyerap pemandangan itu. "Ini luar biasa."

"Tunggu sampai kau melihat distrik sekte," Seraphina berkata, meski nada suaranya sendiri terdengar sedikit takjub, meski dia mencoba menyembunyikannya. "Seribu tahun lalu, Grandis juga megah, tapi tidak semegah ini."

Mereka berjalan menyusuri jalan utama, dan kali ini tidak ada yang mempermasalahkan identitas mereka—kota sebesar ini terbiasa dengan pengembara dari segala penjuru, terutama menjelang Turnamen Kerajaan yang akan diadakan dalam waktu kurang dari dua bulan.

Poster-poster besar tentang turnamen terpasang di hampir setiap sudut jalan, menampilkan gambar pedang bersilang dengan mahkota di tengahnya—lambang resmi acara tersebut.

"KINGDOM TOURNAMENT — Kesempatan Emas Bagi Jenius Muda Untuk Menunjukkan Diri di Hadapan Sekte-Sekte Besar dan Kerajaan!"

Kael membaca poster itu dengan seksama. "Sepertinya ini benar-benar acara besar."

"Ini adalah salah satu dari sedikit kesempatan di mana rakyat biasa bisa naik status dengan cepat," Seraphina menjelaskan. "Banyak kultivator hebat di dunia ini yang memulai kariernya dari turnamen semacam ini."

Mereka melanjutkan berjalan menuju distrik sekte, area kota yang dipisahkan oleh tembok rendah dari distrik pemukiman biasa. Di sinilah markas-markas sekte besar berdiri megah, masing-masing dengan gaya arsitektur yang mencerminkan filosofi mereka.

Heavenly Sword Sect berdiri paling megah di antara semuanya, sebuah kompleks besar dengan gerbang berbentuk pedang raksasa yang menjulang tinggi, terbuat dari logam yang berkilau keperakan di bawah sinar matahari.

"Itu dia," Seraphina menunjuk. "Sekte terbesar di Valtherion."

Kael menatap gerbang itu lama, merasakan sesuatu yang sulit dia definisikan—bukan sekadar kekaguman, tetapi semacam tarikan, seolah tempat itu memanggilnya.

"Aku ingin mendaftar," katanya tiba-tiba.

"Secepat itu?" Seraphina mengangkat alis. "Kau bahkan belum melihat sekte lain."

"Aku sudah tahu," Kael menjawab, matanya masih tertuju pada gerbang pedang raksasa itu. "Entah kenapa, aku merasa ini tempatnya."

Seraphina menatapnya lama, mencoba membaca ekspresi di wajahnya, lalu akhirnya menghela napas dan tersenyum tipis. "Baiklah. Tapi ingat, ujian masuk sekte besar seperti ini biasanya sangat ketat. Mereka akan menguji bakat, kekuatan jiwa, dan ketahanan tubuh."

"Aku sudah siap untuk diuji," Kael berkata dengan percaya diri.

Mereka mendekati gerbang, di mana dua penjaga berzirah putih dengan lambang pedang di dada mereka berdiri tegak, mengawasi setiap orang yang lewat dengan tatapan tajam.

"Kami ingin mendaftar untuk ujian masuk," Kael berkata langsung, tanpa basa-basi.

Salah satu penjaga menatapnya dari atas ke bawah, sedikit meremehkan melihat pakaian sederhana yang masih menunjukkan bekas-bekas perjalanan panjang. "Ujian masuk diadakan setiap bulan purnama. Kebetulan, bulan purnama berikutnya adalah tiga hari lagi. Nama?"

"Kael."

"Nama keluarga?"

Kael terdiam sejenak. Dia belum pernah memikirkan hal itu—di dunia lamanya dia punya nama keluarga, tapi rasanya tidak relevan lagi untuk kehidupan barunya di Elyndra.

"Tidak ada," jawabnya akhirnya. "Hanya Kael."

Penjaga itu mengangkat alis, tetapi mencatatnya tanpa komentar lebih lanjut—bukan hal yang aneh bagi pengembara tanpa asal-usul jelas untuk mendaftar tanpa nama keluarga.

"Dan kau?" penjaga itu menoleh ke arah Seraphina, yang masih mengenakan tudungnya.

"Aku hanya menemaninya," Seraphina menjawab cepat. "Aku tidak berencana mendaftar."

Kael menoleh terkejut. "Kau tidak ikut?"

"Aku sudah punya kekuatanku sendiri, Kael," Seraphina berkata pelan, cukup pelan agar penjaga tidak mendengar detailnya. "Lagipula, seseorang harus mengawasi dari luar, memastikan tidak ada yang mencoba hal aneh terhadapmu selama proses ujian."

Penjaga itu memberikan mereka selembar kertas berisi jadwal dan lokasi ujian, lalu mempersilakan mereka pergi.

Selama tiga hari menunggu, Kael menghabiskan waktunya untuk terus berlatih Tebasan Seribu Prajurit di taman kota yang cukup sepi, sementara Seraphina pergi mencari informasi tentang klannya sendiri di berbagai sudut kota—perpustakaan umum, pedagang barang antik, bahkan beberapa kontak lama yang entah bagaimana masih dia ingat meski sudah seribu tahun berlalu.

Pada malam sebelum ujian, mereka duduk bersama di atap penginapan tempat mereka menginap, menatap bulan yang mulai membulat sempurna di langit Grandis.

"Besok adalah awal dari babak baru," Seraphina berkata pelan.

"Aku tahu," Kael menjawab, matanya menatap bulan dengan tenang. "Aku hanya berharap aku siap untuk apa pun yang akan mereka uji."

"Kau sudah bertahan hidup di Death Forest, mengalahkan Crimson Knight, dan mewarisi teknik dari roh jenderal legendaris," Seraphina berkata dengan nada yang hampir menyerupai kebanggaan. "Aku rasa ujian masuk sekte bukan hal yang perlu terlalu kau khawatirkan."

Kael tersenyum, merasa hangat mendengar kata-kata itu. "Terima kasih, Seraphina."

"Untuk apa?"

"Untuk selalu ada," jawabnya sederhana.

Seraphina terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, senyum paling tulus yang pernah dia tunjukkan sejak mereka bertemu. "Selama kau membutuhkan aku, Kael, aku akan selalu ada."

Bulan purnama bersinar terang di atas mereka, menyaksikan janji sederhana yang diucapkan di tengah kota yang tidak menyadari betapa besar peran kedua sosok ini akan mainkan dalam nasib Elyndra ke depannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!