Seorang CEO tampan dan mematikan, jatuh cinta dengan seorang desainer muda, mungkin itu kisah biasa tapi ini lain.. setiap rintangan mereka lalui bersama, terpisahkan dan bersama kembali, pertengkaran hingga perkelahian mereka hadapi.
Sampai suatu hari mereka dapat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alister Weis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengkhayal
Dominic Mansion-Manhattam
"Jadi son, kenapa bisa kamu menuntut Anita Lee?"
"Karena dia membuatku marah!"
"Kenapa?"
"Pasti tentang Shofia Nayanika, benar Ell?"
"Mom!"
"Apa yang dikatakan mommymu benar?"
"Bukan itu poin utama aku menuntut dia"
"Lalu?"
"Dia menyinggungku, bagaimana mungkin dia tak mengenalku mom!"
"Hanya itu? Kau yakin?"
"Ya..."
"Ehm... cabut tuntutan itu son... kamu akan bersitegang dengan Morgan ataupun Rio"
"Hah.. mereka mengijinkanku, dad.. jadi tenanglah..."
"Baiklah, terserahmu... mom dan dad akan kembali ke Manchester.."
"Kenapa buru buru?"
"Ya, kami pusing melihat tingkahmu, lebih baik pulang dan menghabiskan masa tua kami dengan nyaman... punya anak dua saja tak ada yang membuat tenang.."
"Memang Ella kenapa?"
"Dia akan menikah bukan?"
"Dengan siapa? Aku tak tahu?"
"Kamu akan tahu nanti, tak usah ikut campur.. karena Ella benar benar mencintainya"
"Kalau pilihannya buruk bagaimana?"
"Yang terpenting tak menyakitinya, its oke"
"Baiklah..."
*****
Disisi lain, Shofia benar benar pusing. Bagaimana bisa Kabir menuntut Anita hanya gara gara tak mengenalinya?
Shofia segera menekan nomor Kabir yang sudah tersimpan diponselnya dengan cepat.
"Hallo.."
"Kabir..."
"Ya Shofia, ada apa?"
"Bisakah kamu mencabut tuntutanmu?"
"Kenapa? Aku sudah katakkan bukan? Aku tak akan mencabut tuntutan itu sebelum Anita meminta maaf!"
"Tapi Kabir ak-"
Darl... kenapa didepan pintu, aku sudah menunggu lama dikamar
Shofia mendengar sayup sayup suara seksi didepan sana. Harusnya Shofia tahu, saat malam tiba Kabir sangat sibuk dengan urusan ranjang. Sudah rahasia umum.
"Kabir.. maaf mengganggu.. akan kututup telponnya"
"Shofia hal-"
Shofia menutup sambungan telpon begitu saja.
Apa yang diharap dari pertemuan beberapa hari saja? Jatuh cinta pandangan pertama? No! Salah besar kalau Shofia mengharapkan itu.
Perhatian Kabir sangat mudah ditebak, bukan?
Mendapatkan Shofia untuk bermalam.
Shofia terlalu bodoh, kalau percaya dengan semua perhatiannya.
"Lebih baik menjauhinya... tak baik untuk kesehatan!"
Ya, setelah percakapannya dengan sang orang tua, Kabir memang memutuskan untuk ke club milik Max.
Tapi siapa sangka kalau Max dengan suka rela memberikan fasilitas lengkapnya.
Dan saat akan memasuki kamar Eksklusifnya, Shofia menelponnya dan dia salah faham.
Bukan salah faham, tapi membiarkan Kabir menikmati malamnya.
"Sial!!"
Kenapa begitu kebetulan!
"Tuan... kenapa masih disitu!?"
"Enyah b*tch!!"
Sial! Belum sampai melangkah sudah ada masalah begini.
Kabir segera keluar dari club malam itu dan melajukan mobilnya kearah apartment Shofia.
Sial!
Kabir sangat takut dengan tanggapan Shofia tentang kehidupan malamnya saat ini.
"Aku jatuh cinta dengan pesonanya..."
Kabir segera memarkir BMW-nya dan naik keunit milik Shofia.
"Wanita! Kau membuatku seperti orang kecurian!"
Waktu belum menunjukkan terlalu malam, sebagian penghuni unit masih berkeliaran.
Dan Kabir benci situasi ini, situasi dimana semua orang menatapnya.
Kabir segera menekan tombol bell unit kamar Shofia.
"Ayolah Shofia, jangan kau buat aku jadi tontonan...!!"
Sampai saat Shofia membuka pintu, Kabir segera memeluk Shofia erat.
"Kabir, ada apa?"
"Jangan membuatku khawatir!"
"Maksutmu apa?"
"Kamu mematikan telponnya begitu saja, dan membuka pintu terlalu lama"
"Aku mandi tadi... dan.."
"Apa?"
"Aku tak mau mengganggu malammu"
"Apa kamu cemburu?"
"Kabir, jangan bercanda! Kita baru kenal beberapa hari, dan cemburu? Ayolah, kamu itu pangeran di New York, jadi aku tahu kehidupan malammu itu penting"
"Jadi? Apa kamu mau mengenalku lebih jauh? Dan jangan memakai kimono saat keluar unit"
Kabir dengan sengaja membenarkan kimono mandi Shofia yang sedikit memperlihatkan dada putihnya dan jangan lupakan kisamark yang lekas memudar disana.
Secara tak langsung, Kabir merasa bangga sudah menandai Shofia. Apalagi Shofia memerah karena ulahnya.
"Mesum! Sana pergi!"
Shofia segera berbalik dan akan menutup pintu, sebelum Kabir menahan pintu itu dan ikut masuk kedalam unit apartment.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Mengobrol denganmu, mungkin?"
"Kamu gila!"
"Shofia Nayanika, kamu kenapa begitu temprament? Apa sedang datang bulan?"
"Tuan Kabir, kamu begitu banyak tahu tentang perempuan ya..."
Shofia mengatakkan itu sambil melangkah naik keatas, untuk berganti baju.
"Apartment ini sangat tak fleksible"
"Maksutmu?"
"Kalau aku ingin bermesraan denganmu dikamar tak bisa karena kamarmu langsung menghadap keseluruh ruangan tanpa sekat"
Shofia memutar matanya malas. Bagaimana lelaki ini bisa berfikir begitu.
Tapi memang apartment didesain seperti itu.
Kamar utama dilantai atas yang tak memiliki sekat. Jadi dari atas semua ruangan dapat terlihat. Dan dari bawahpun juga terlihat semua aktivitas dilantai atas.
Saat Shofia memasuki kamar mandi, Kabir mulai melihat semua ruangan.
Dibawah kamar utama ada kamar tamu tepat disamping pintu masuk.
Disamping tangga ada tv serta sofa dan karpet sepertinya tempat bersantai.
Serta disampingnya ada pantry serta mini bar, ada beberapa minuman beralkohol disana.
Kabir menggeleng, wanitanya nakal juga.
Dan dibalkon ada sebuah meja sepertinya untuk bersantai. Tanpa kursi? Apa dia terbiasa duduk dilantai?
Akhirnya Kabir memilih duduk dibalkon itu, dan melihat pemandangan di Manhattam. Sungai Hudson juga terlihat.
Sangat indah.
"Kenapa disitu? Kukira sudah pergi"
"Aku tadi mengatakkan akan mengobrol, kan?"
"Emm.. ini kopi, udara musim gugur lumayan dingin"
"Aku tahu... musim gugur pasti berangin"
"Emmm..."
"Kenapa disini tak ada tempat duduk?"
"Karpet ini untuk dudukkan?"
"Oke, aku tahu... maksutku kenapa harus duduk dikarpet?"
"Karena aku suka mengerjakan pekerjaanku disini, dan tertidur disini... jadi untuk mengantisipasinya aku buat tempat seperti ini"
"Ya ampun, Shofia! Kamu tahukan kalau suhu di Manhattam cenderung lembab? Kenapa tidur ditempat terbuka?"
"Aku tahu, Kabir... mungkin karena terbiasa..."
"Shofia, kebiasaanmu itu benar benar tak bagus!"
"Sudahlah, hanya masalah sepele!"
"Ini tentang kesehatanmu, kau tahu itu!"
"Kabir..."
"Kalau kamu sakit, ibu tirimu akan senang... kamu harus tetap sehat!"
"Baiklah..."
"Aku ingin mandi, boleh meminjam kamar mandinya?"
"Boleh, emmm... kata Yohan, kran dikamar mandi tamu tak menyala, lebih baik mandi diatas saja..."
"Baiklah..."
Kabir segera berdiri dan melangkahkan kakinya kearah kamar utama.
Kabir sedikit tercengang, kamar ini tak luas tapi begitu rapi. Ranjang king size dan meja rias bersisihan lalu meja kerja ada disamping tangga menghadap tembok. Sangat memanfaatkan ruang.
Sampai dikamar mandipun, Kabir tersenyum puas. Tatanan simple seperti lorong 3 pintu. Dengan paling depan sebuah washtafel.
Paling ujung kamar mandi dengan shower serta bathtub. Pintu sebelah kanan wall in closet, pintu kiri toilet.
Apartment ini luas.
Kabir segera mandi tapi saat dipertengahan mandinya, Kabir dikagetkan oleh ketukan pintu.
"Kabir ..."
"Ya, apa mau mandi bersama?"
"Jangan mesum! Ada baju lelaki di lemariku, pakailah.. dikotak warna biru ya!"
"Iya, terima kasih"
Sudah tak ada jawaban, mungkin sudah pergi.
Kabir segera menyelesaikan mandinya, dan mencari pakaian yang ditunjuk oleh Shofia.
"Apa dia memiliki kekasih? Harus cari tahu!"
Kemeja biru bermotif daun maple serta celana navy 3/4, bukan gaya Kabir sebenarnya, tapi tak apalah.
"Akan diberikan untuk siapa? Masih baru pula"
Kabir benar benar tak bisa mengabaikan apapun tentang Shofia.
Kabir segera turun dan melihat Shofia yang sedang didapur.
"Sedang apa?"
"Aku lapar, ayo kita makan"
"Kan bisa pesan saja?"
"Tak terlalu suka"
"Emmm.. memasak apa?"
"Soup ikan"
"Sepertinya enak..."
Shofia tak menjawab tapi Kabir diam diam tersenyum.
Shofia memasak sambil memakai apron, dan Kabir menunggu di meja bar.
Seperti pengantin baru bukan?
Bahkan Kabir membayangkan memeluk Shofia dari belakang seperti film romantis.
"Coba cicipi!"
Shofia menyendok sedikit kuah dan meniupnya lalu menyuapkan kearah Kabir. Dan itu membuat Kabir sedikit ingin meledak.
Sial! Kebiasaan sang kakak, Luna yang seprerti itu padanya jadi tertular.
"Enak! Pas seperti yang memasak"
*****
@alister_weis
Haru follow ig nya ya.....
I love u....
lanjut Thor..
aku hampir lupa Weh..🤭🤭🤣🤣
mana gua tau, elu aja gak kasih tau...🙄🙄🙄
bahkan gua pun tak bs seperti mereka.., cantik..😑
lah ini, elu cowok dah🗿 brasa gmn gitu🤭🤭🤭
baru juga di komen, udh ad POV nya, ehehehehe😂😂🤭🤭🤭
jdi penasaran aku tuh, sama POV nya 🤭🤭🤭