Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Bangun Restoran
Senyum Ayu tidak membuat Nenek Sari puas.
Justru karena Ayu tersenyum terlalu tenang, Nenek semakin curiga. Malam itu, setelah arsitek dan pekerja pulang, Nenek menarik Ayu ke dapur lama. Di luar, Mamak Darto masih berdiskusi dengan Datuk Harun soal batas tanah. Di dalam dapur, lampu kuning membuat wajah Nenek terlihat lebih tajam.
"Ayu," kata Nenek pelan, "jangan berutang besar tanpa bicara ke keluarga."
Ayu langsung menggeleng. "Tidak, Nek. Ayu tidak berutang."
"Tidak pinjam ke orang?"
"Tidak."
"Tidak ikut yang aneh-aneh?"
"Nek." Ayu menggenggam tangan Nenek. "Ayu mungkin nekat, tapi tidak bodoh. Uang ini aman. Ayu dapat dari rezeki yang halal. Nanti Ayu jelaskan, tapi sekarang Ayu minta Nenek percaya dulu."
Nenek menatapnya lama. Ayu tahu tatapan itu. Tatapan yang dulu muncul ketika Ayu kecil berbohong soal nilai matematika. Bedanya, kali ini Ayu bukan berbohong untuk menipu. Ia hanya belum siap membuat rumah ini meledak oleh angka lima puluh miliar.
Akhirnya Nenek menghela napas.
"Kalau ada apa-apa, Nenek yang pertama kamu beri tahu."
"Iya."
"Bukan Dian."
Ayu tersedak kecil. "Nenek tahu Dian?"
"Nenek tahu semua."
Keesokan harinya, uang tanda jadi dibayarkan.
Dalam waktu seminggu, halaman rumah gadang berubah menjadi tempat yang ramai. Truk kecil datang membawa pasir, semen, kayu, besi, dan genteng. Tukang-tukang memasang terpal biru di sisi rumah. Bagian atap yang bocor dibuka. Kayu lapuk dipisahkan dari kayu lama yang masih kuat. Dapur keluarga dibongkar hati-hati karena Nenek bersikeras tungku lama jangan langsung dibuang.
"Itu tungku peninggalan ibu Nenek," katanya.
"Kita simpan, Nek. Nanti jadi sudut dekorasi di restoran," jawab Ayu.
Nenek langsung terlihat lebih tenang.
Para pekerja awalnya mengira Ayu hanya pemilik muda yang suka melihat-lihat. Dua hari kemudian, mereka sadar bahwa perempuan itu bisa lebih cerewet daripada mandor.
"Saluran air cuci bahan mentah jangan satu jalur dengan pembuangan toilet."
"Lantai dapur jangan licin. Saya mau tekstur kasar, tapi tetap gampang dibersihkan."
"Jendela ruang makan arah sawah dibuat besar. Orang makan rendang sambil lihat hijau-hijau, itu beda rasanya."
"Area bumbu harus dekat kompor besar. Kalau terlalu jauh, kerja kitchen lambat."
Seorang tukang menggaruk kepala. "Bu Ayu, biasanya orang bangun restoran minta meja banyak dulu."
"Meja banyak tidak ada gunanya kalau dapur kacau," jawab Ayu sambil menggulung lengan bajunya.
Ucapan itu menyebar ke tetangga. Dalam tiga hari, orang-orang mulai datang dengan alasan meminjam garam, mengantar pisang, atau sekadar lewat pelan-pelan di depan halaman.
"Katanya Ayu habis kerja di hotel Jakarta, ya?"
"Iya, Bu."
"Uangnya banyak sekali sampai bangun begini?"
Ayu tersenyum. "Tabungan merantau, Bu. Sekalian nekat pulang."
Kalimat itu cukup untuk sebagian orang. Tidak cukup untuk sebagian lain. Tapi Ayu tidak keberatan. Di kampung, rasa ingin tahu adalah bagian dari udara.
Yang tidak ia perkirakan adalah rumah itu menjadi semakin hidup bukan hanya karena tukang, tapi juga karena hewan-hewan yang datang satu per satu.
Pertama, Luna.
Golden Retriever betina itu diantar dari Padang oleh kenalan dokter hewan yang direkomendasikan pihak breeder resmi. Bulunya keemasan, matanya bulat, dan ekornya bergerak terlalu cepat seolah seluruh dunia adalah teman lamanya. Begitu turun dari mobil, Luna langsung berlari ke arah Nenek Sari dan menjilat ujung tangannya.
"Astagfirullah, besar sekali!" Nenek mundur setengah langkah, tapi tangannya justru mengusap kepala Luna.
"Namanya Luna, Nek."
"Anjingnya senyum."
"Memang ramah."
"Jangan masuk dapur."
Luna menggonggong pelan seperti mengerti.
Dua hari kemudian, Raja datang. German Shepherd jantan itu lebih tenang, lebih waspada, dan langsung memilih tidur di dekat gerbang. Datuk Harun menyukainya.
"Yang ini pintar," kata Datuk.
"Luna juga pintar, Tuk."
"Luna terlalu percaya orang."
Ayu tertawa.
Angin menyusul seminggu kemudian, seekor Border Collie hitam putih yang matanya selalu seperti sedang menghitung pekerjaan. Ia tidak seceria Luna dan tidak setenang Raja. Begitu dilepas di halaman, Angin langsung berlari mengelilingi ayam kampung yang berkeliaran dekat tumpukan pasir, membuat unggas-unggas itu kembali ke kandang tanpa Ayu perlu berteriak.
Datuk Harun memperhatikan dari teras, lalu mengangguk seolah baru saja menemukan pegawai terbaik.
"Yang ini bisa bantu jaga ayam."
"Tuk, dia anjing, bukan mandor."
"Kalau bisa kerja, tetap berguna," jawab Datuk.
Setelah itu datang Sofia, kucing berbulu tebal yang berjalan seperti pemilik rumah, lalu Kopi, kucing Siam yang suaranya nyaring setiap minta makan. Belum selesai Nenek mengomel soal bulu kucing di sofa, beberapa kucing kampung mulai ikut muncul di halaman karena mencium bau ikan goreng.
"Rumah ini mau jadi restoran atau kebun binatang?" protes Nenek.
"Dua-duanya bisa menghasilkan konten, Nek."
"Konten apa?"
Ayu menunjukkan ponselnya.
Sejak awal pembangunan, ia memang merekam video pendek. Bukan dengan niat serius. Hanya potongan-potongan sederhana: rumah gadang tua saat pagi berkabut, Datuk membuat Teh Talua, Nenek mengomel pada tukang yang menaruh sandal sembarangan, Luna mengejar daun kering, Sofia tidur di atas tumpukan kain, dan Ayu memperlihatkan bumbu rendang yang sedang disangrai.
Ia mengunggahnya ke TikTok dan Instagram Reels dengan caption ringan.
`Pulang kampung, renovasi rumah nenek, bangun dapur impian. Doakan kuat sampai selesai.`
Video pertama ditonton dua ribu orang. Video kedua sepuluh ribu. Video ketiga, saat Luna duduk manis di depan rumah gadang sementara pekerja memperbaiki atap di belakangnya, tiba-tiba menembus seratus ribu tayangan.
Komentar berdatangan.
`Ini di Sumbar mana? Cantik banget rumahnya.`
`Mbaknya chef ya? Cara pegang bumbunya beda.`
`Neneknya lucu, galak tapi sayang.`
`Aku pengin makan rendang di sana.`
Nenek Sari terbelalak ketika Ayu menunjukkan angka tayangan.
"Seratus ribu orang melihat Luna duduk?"
"Iya."
"Orang kota kurang kerjaan."
Tapi malamnya, Nenek sengaja menyisir rambut dan mengganti baju ketika melihat Ayu mengangkat ponsel.
"Nek, katanya orang kota kurang kerjaan."
"Kalau sudah telanjur dilihat orang banyak, Nenek harus rapi."
Ayu tertawa sampai perutnya sakit.
Pembangunan belum sampai separuh, tapi halaman rumah gadang sudah menjadi tontonan kecil. Anak-anak kampung berhenti di pagar untuk melihat Raja. Ibu-ibu bertanya kapan restoran buka. Mamak Darto mulai mengingatkan Ayu agar parkiran tidak mengganggu jalan.
Pada suatu sore, setelah Ayu mengunggah video progress ruang makan yang mulai terlihat bentuknya, ponselnya tidak berhenti bergetar.
Satu komentar naik ke paling atas karena disukai banyak orang.
`Rumahnya bisa disewa nggak? Aku mau healing di sana sebulan.`
Ayu menatap komentar itu lama.
Di sampingnya, Nenek Sari ikut membaca dengan kacamata yang melorot di hidung.
"Disewa?" tanya Nenek.
Ayu perlahan menoleh ke arah kamar-kamar kosong di bagian belakang rumah.
Ide baru menyala di kepalanya sebelum semen di lantai sempat kering.