Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06
"Aa!" karena terkejut, Alisya terduduk di depan mobil itu. Mateo, sudah berlari ke arah adiknya dan melihat kondisi Alisya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Mateo panik.
"Ndak apa-apa," jawab Alisya dan dibantu berdiri oleh Mateo, setelah melihat adiknya baik-baik saja, lalu Mateo beralih dan menatap tajam ke arah mobil itu. Mateo, berjalan dengan langkah tergesa-gesa nya. Lalu menepuk kap mobil dan meminta pemiliknya untuk turun. Digo, yang melihat itu segera turun.
"Anda bisa nyetir nggak sih? Kalau nggak naik taksi aja, dari pada bikin orang celaka!" Gerutu Mateo, dengan kesal. Suara Mateo yang sedikit tinggi dan berteriak menarik perhatian Kenzo, pria itu langsung menurunkan kaca mobilnya dan mengintip dari arah dalam mobil.
"Adik kecil, yang jelas-jelas salah itu anak perempuan itu. Kenapa kamu marah-marah sama saya? Ini area mobil lewat," ujar Digo, berharap Mateo mau mengerti, justru Mateo malah kesal.
"Dasar!" cibir Mateo, menarik tangan adiknya dan mengajaknya masuk ke dalam gedung sekuritas yang besar itu.
"Itu!" Digo baru nyadar sesuatu.
"Wajahnya mirip yang ada di profil sekuritas tadi," lanjut Digo, kembali berpikir sebelum suara Kenzo mengejutkannya.
"Kau masih berdiri di sana? Anak itu sudah masuk. Cepat parkir mobilnya, waktu kita akan segera habis,"
"Baik, Tuan. Maaf..." Digo bergegas kembali masuk ke dalam mobil.
Gedung sekuritas itu menjulang megah di tengah kawasan bisnis Jakarta, dengan fasad kaca gelap yang memantulkan cahaya matahari siang dan deretan pilar tinggi di pintu masuk utamanya.
Di dalamnya, suasana terasa sibuk namun teratur, layar-layar digital raksasa menampilkan pergerakan indeks saham dan angka transaksi yang terus berubah, sementara para pialang, analis, dan investor berjalan cepat membawa dokumen dan tablet.
Suara langkah kaki di lantai marmer, dering telepon, dan percakapan bernada serius bercampur dengan pengumuman elektronik dari ruang perdagangan, menciptakan atmosfer tegang khas pusat transaksi keuangan tempat keputusan bernilai miliaran rupiah dibuat setiap menit.
Mateo, masih menggenggam tangan adiknya. Lalu,eminya Alisya untuk menunggu di kursi, Mateo sendiri yang berjalan ke arah resepsionis.
"Permisi, Tante." Sapa Mateo, sopan sembari tersenyum, tidak lupa menebar pesona dinginnya.
"Ya ampun ... anak siapa ini? Kenapa ganteng sekali," puji resepsionis itu.
"Tante, aku ingin bertemu dengan pialang yang menangani akun sahamku. Apa aku bisa bertemu dengannya segera?" tanya Mateo, resepsionis itu nampak bingung dan keningnya segera berkerut.
"Adik tampan, di mana papa kamu? Hanya papa kamu yang boleh bertemu dengan pialang, karena tidak boleh di wakili, apalagi kepada anak kecil," ujar resepsionis itu dengan sopan sembari kagum pada kegantengan Mateo.
"Tante budek ya? Jangan nguji kesabaran aku deh! Aku nggak punya banyak waktu, aku ke sini untuk melihat akun saham ku! Aku udah beli saham sekitar lima ratus juta pada tiga jam lalu," ungkap Mateo, semakin membuat resepsionis itu bingung.
Resepsionis itu bingung, lalu menghubungi seseorang melalui interkom. Tepat, saat itu Kenzo dan Digo sudah masuk. Kedatangan mereka langsung disambut ramah oleh resepsionis.
"Tuan Kenzo Roman De Luca, selamat datang kembali. Padahal, Anda tak perlu datang sendiri kalau hanya ingin melihat akun, anda bisa melihat langsung di aplikasi," ujar resepsionis itu dengan sopan dan ramah.
"Justru itu, kedatangan kami ke sini ada kesalahan. Kenapa penawaran saham Tuan Kenzo di tolak?" tanya Digo, resepsionis itu terkejut dan langsung meminta maaf.
"Mohon maaf, Pak Digo. Mungkin ada kesalahan, mohon tunggu sebentar, saya akan memanggil pialang Anda ke sini," Digo hanya mengangguk dan pandangannya tertuju pada sosok Mateo yang berdiri tak jauh dari sana.
"Kak, kenapa lama syekali?" tanya Alisya, saat mendekati tempat di mana Mateo berdiri.
"Mereka belum memanggil pialang kakak. Tunggu sebentar," ujar Mateo, lalu tak sengaja melirik ke arah Kenzo, tatapannya langsung tajam dan tegas. Hal itu, membuat Kenzo sendiri tak berkedip.
'Anak ini...' Kenzo berjalan ke arah Mateo, lalu berdiri di depan dua bocah itu, sembari menatapnya seraya menelisik apapun yang ada pada anak itu.
"Anak kecil, di mana orang tua kalian? Kenapa kalian ada di sini?" tanya Kenzo berusaha ingin tahu dengan siapa anak itu datang. Tetapi, wajah Mateo sangat mirip dengannya.
"Kami datang sendiri," sahut Mateo cuek.
"Kak, kenapa laki-laki ini tampan syekali? menulut pengliatanku, dia syangat cocok syama Mommy kita bukan?" bisik Alisya, tatapan Mateo semakin tajam ke arah Kenzo yang membuat kening Kenzo berkerut.
"Perempuan memang nggak bisa liat kalau ada yang tampan, matanya pasti berbunga," cibir Mateo pada adiknya dengan suara kecil.
"Kamu tunggu dulu sana, Kakak akan segera selesai kalau pialang kakak datang," lanjut Mateo, kalimat itu mengejutkan Kenzo.
"Kamu juga datang untuk bertemu pialang?" tanya Kenzo.
"Kenapa nanya-nanya? Paman polisi ya?" tanya Mateo ketus, padahal dia nggak mau marah, tetapi gara-gara menunggu pialang yang lama membuatnya kesal. Dia sudah menghabiskan banyak waktu.
"Tuan, anak ini sangat mirip dengan Anda, ala jangan-jangan..."
"Tidak mungkin, Kenzi memiliki anak diluaran sana kan? Selama ini dia juga tidak dekat dengan perempuan manapun," potong Kenzo, padahal maksud Digo bukan itu. Digo malah berpikir bisa jadi itu anak Kenzo, Tuannya. Namun, dia juga ingat selain wanita malam itu, Kenzo tak pernah dekat dengan wanita manapun.
'Maksudku bisa jadi itu anak Tuan Kenzo, tapi dengan siapa? Apa ada yang tidak ku ketahui tentang Tuan Kenzo?' batin Digo.
"Permisi, maaf. Tuan Kenzo dan Pak Digo," sapa seseorang yang baru saja muncul di depan semua orang. Orang tersebut adalah pialang Kenzo.
"Tolong periksa kenapa penawaran saham kami ditolak," Digo memperlihatkan tablet miliknya pada pialangnya itu.
Di saat semua orang sibuk dengan dunianya di gedung sekuritas, justru ada seseorang yang panik dan khawatir di sekolah paud.
Maya sudah mondar-mandir di sekolah itu beberapa kali, memeriksa kembali pada guru. Miss Ona, tetap mengatakan kalau si kembar telah pulang.
Ponselnya tersambung, tetapi Tara belum mengangkatnya.
"Tar, anak-anak ilang!" teriak Maya, saat panggilan itu terhubung.
[Kok bisa? Kamu nggak jemput tepat waktu?] tanya Tara, jelas suaranya terdengar panik.
"Aku hanya telat lima menit, tadi di gedung sekuritas aku ada klien yang ku layani. Ada akun baru menetes di sana, aku harus melayaninya dengan sabar, saking sabarnya aku kelewatan menjemput si kembar," ungkap Maya, dia memijat pelipisnya berdiri di dekat mobilnya.
[May, periksa betul-betul. Coba kamu hubungi nomor jam Mateo, pasti terhubung,] saran Tara, Maya heran kenapa suara Tara sangat tenang, padahal anaknya sedang hilang.
"Kamu keliatannya santai banget. Kamu tau kan Teo sama Chacha itu ilang?" Maya terlihat frustrasi.
[Belum dua puluh empat jam waktunya, tenanglah...]
"Gimana aku bisa tenang, mereka belum tau Indonesia, kalau mereka nyasar gimana?" tanya Maya tak menghilangkan rasa khawatirnya.
[Kamu lupa? Alisya itu bisa mengingat semua jalan dalam sekali liat, yang terpenting keduanya pergi bersama. Jadi berhenti stres berlebihan. Cepat cari dan bawa mereka pulang. Aku kerja dulu,]
"Ta, Tata!"
Panggilan terputus, Maya sampai berteriak kesal melihat respon Tata yang begitu santai.
Maya lalu, menekan nomor Mateo dan melihat jamnya aktif, itu artinya baterainya masih ada.
Panggilan terhubung, tetapi Mateo tak mengangkatnya. Hingga sebuah pesan masuk.
[Berhenti menelpon Bibi Maya, aku lagi di gedung Sekuritas.]
"Hah?! Ngapain bocah itu ke sana? Jangan-jangan..." Maya langsung membuka pintu mobil dan akan pergi menuju gedung sekuritas tempat Mateo berada dan sekaligus itu juga tempat kerjanya.
Pialang Kenzo, telah memeriksa tidak ada yang salah dengan akunnya. Hanya saja penawaran saham Kenzo terlalu rendah, sedangkan milik akun anonim lebih tinggi sekitar beberapa ratus.
"Permisi," ucap Pialang itu.
"Saya, Rizal. Memang benar saya pialang Tuan Kenzo. Tetapi, kalau penawaran saham anda telah ditolak, dan di menangkan oleh Akun Lain," ujar Rizal setelah memeriksanya. Pria ini jelas takut, apa lagi dia tahu siapa Kenzo.
"Kamu tahu kan siapa Tuan Kenzo?" tanya Digo, semakin membuat Rizal gugup.
"Sa-saya..." Rizal tidak tahu harus menjelaskan apa, tetapi dia benar-benar takut kalau Kenzo marah dan akan membuat dirinya kehilangan pekerjaan hari itu juga, atau bisa kehilangan nyawa. Rizal langsung bersujud di depan Kenzo yang membuat Mateo terkejut.
"Tuan, maaf..." ucap Rizal sembari bersujud di depan Kenzo. Pria berwajah dingin itu tak bergeming.
"Permisi, apa saham yang Anda maksud saham ini?" tanya Mateo kemudian dengan memperlihatkan layar Ipad-nya kepada Kenzo.
Digo dan Kenzo melihat hal itu dan langsung mengenal jika saham itu memang saham yang mereka tawar beberapa jam lalu.
"Maaf, tapi ini udah jadi milik saya." Kata Mateo tanpa rasa takut, Rizal mendongakkan kepala menatal bocah itu, yang berani sekali berbicara pada Kenzo dengan menatap wajahnya.
"Kalau anda mau saham ini, saya punya satu syarat..." lanjut Kenzo, hal itu membuat Rizal dan Digo terkejut. Bocah lima tahun berani membuat tawaran dengan seorang pria seperti Kenzo. Tetapi, bukannya marah Kenzo justru tertarik.
'Menarik sekali, dari caranya bicara hampir mirip sepertiku, ambisius. Bisa jadi ini memang benih Kenzi. Entah perempuan mana yang telah ditidurinya,' batin Kenzo.
Kenzo menatap Mateo dan lalu berkata, "katakan apa syaratnya! Jika cocok saya akan setuju,"
Hal itu membuat Digo terkejut, "Tuan, Anda..."
Kenzo mengangkat tangan menghentikan Digo, karena Kenzo tahu cara menghadapi bocah seperti Mateo.
"Saham ini sangat berarti untukku. Karena aku tahu, saham ini akan naik dua kali lipat atau lebih. Saham ini bukan tidak punya nilai, tapi nilainya belum terlihat. Itulah kenapa aku berani menawarinya dengan harga tinggi. Karena aku sangat menghargai sesuatu dengan nilai yang tinggi juga. Jadi, Tuan ... kalau Anda mau saham itu, apa Anda sanggup memenuhi satu permintaan saya?" tanya Mateo lagi, Kenzo mulai ragu, Kenzo berpikir mungkin umur hanyalah angka, bocah ini tidak bisa dianggap remeh.
"Apa permintaanmu?"
"Saya ingin Anda menjadi Daddy kami berdua," Sembari menunjuk ke arah Alisya.
Digo, Rizal semua orang di sana terkejut, bahkan tempat itu yang semula dingin mendadak menjadi panas. Kedua tangan Kenzo terkepal erat.
"Menikahlah dengan Mommy kami," lanjut Mateo tanpa rasa bersalah. Hal itu, semakin membuat Digo panik, apa lagi kini raut wajah Kenzo terlihat memerah.
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅