NovelToon NovelToon
Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yicheng Belanja Mainan — Bingung Tapi Senang

Hari Sabtu pagi, jadwal yang sudah disepakati — setelah mengantar Xiaoqi ke kelas menggambar jam sembilan, Yicheng punya waktu luang dua jam sebelum menjemputnya. Ia berjalan di pusat perbelanjaan terdekat, berniat membeli sesuatu untuk Xiaoqi, namun berdiri di depan toko mainan besar itu, ia tiba-tiba merasa bingung — sangat bingung. Selama bertahun-tahun, hidupnya hanya berisi angka, laporan, rapat, dan keputusan bisnis. Ia tahu persis cara mengelola perusahaan bernilai miliaran, tapi ia sama sekali tidak tahu mainan apa yang disukai anak usia lima tahun.

Ia berjalan masuk ke toko itu, menatap deretan rak yang penuh dengan mainan berwarna-warni — mobil-mobilan, boneka, balok susun, set alat masak, robot, buku cerita, peralatan menggambar — semuanya terlihat menarik, tapi semuanya juga terlihat sama saja baginya. Ia berdiri di depan rak mobil-mobilan cukup lama, lalu mengambil satu mobil truk berwarna merah cerah, memutar roda kecilnya, lalu meletakkannya kembali ragu-ragu. Apakah Xiaoqi suka mobil? Atau dia lebih suka sesuatu yang lain? Apakah ini terlalu sederhana? Atau terlalu rumit?

Seorang pramuniaga berjalan mendekat, tersenyum ramah. "Selamat pagi, Pak. Mencari mainan untuk siapa? Anak laki-laki atau perempuan? Berapa usianya?"

"Anak laki-laki, lima tahun," jawab Yicheng, merasa sedikit lega ada yang bertanya. "Tapi saya… saya tidak tahu apa yang dia suka. Dia anak yang pintar, suka menggambar, suka bertanya banyak hal. Saya ingin membeli sesuatu yang bermanfaat, bukan sekadar mainan biasa. Tapi juga sesuatu yang dia senangkan."

Pramuniaga itu tersenyum mengerti. "Bapak ayahnya ya? Pertama kali beli mainan untuk anak?"

Yicheng tersenyum malu, mengangguk. "Ya. Pertama kali yang benar-benar saya pilih sendiri. Selama ini ibunya yang mengurus semuanya. Saya takut salah beli, takut dia tidak suka, atau takut mainannya tidak aman untuk anak seusianya."

"Tenang saja, Pak. Mari kita pilih bersama. Anak yang suka menggambar pasti suka alat seni. Dan anak yang pintar suka sesuatu yang melatih otak — balok susun yang bisa membangun bentuk apa saja, atau peralatan eksperimen sederhana. Tapi jangan lupa mainan biasa juga penting — untuk bermain dan berimajinasi. Yang penting aman, tidak ada bagian kecil yang mudah lepas, dan sesuai dengan usianya."

Mereka berjalan bersama menyusuri rak, dan Yicheng mulai belajar — mana yang aman, mana yang terlalu rumit, mana yang akan disukai anak seusia Xiaoqi. Ia memilih satu set balok susun kayu berkualitas tinggi, aman dan tahan lama, bisa dibangun menjadi rumah, gedung, mobil, apa pun yang Xiaoqi bayangkan. Lalu satu set alat menggambar lengkap — kertas tebal, krayon berkualitas, pensil warna, kuas kecil — karena ia tahu Xiaoqi sangat suka menggambar. Dan terakhir, ia memilih satu mobil-mobilan logam yang kokoh, sederhana namun halus, tidak ada bagian tajam, warna biru tua yang terlihat elegan — karena ia ingin memberi sesuatu yang sederhana namun terasa spesial.

Saat membayar, ia melihat buku cerita bergambar dengan sampul tebal, cerita tentang seorang ayah yang selalu menemani anaknya bermain dan belajar. Ia mengambilnya juga — bukan karena mainan, tapi karena ingin membacakannya untuk Xiaoqi.

Saat menjemput Xiaoqi di kelas menggambar, Xiaoqi keluar dengan wajah penuh cat air, tersenyum lebar saat melihat Yicheng menunggunya di depan pintu. "Ayah! Kau datang tepat waktu! Lihat, aku menggambar pemandangan gunung dan sungai!"

Yicheng menerima kertas gambar itu, memandanginya dengan penuh kekaguman — gunung berwarna ungu, sungai berwarna oranye, matahari berwarna hijau — semuanya tidak sesuai kenyataan, tapi penuh imajinasi dan kebebasan. "Indah sekali, Xiaoqi. Ayah suka warna gunungnya. Unik dan berani. Kau hebat."

Xiaoqi tersenyum bahagia, lalu melihat tas belanjaan di tangan Yicheng. "Itu apa, Ayah?"

"Ini hadiah dari Ayah. Tapi Ayah tidak yakin apakah kau suka. Ayah bingung memilihnya, jadi Ayah beli beberapa hal. Kalau tidak suka, katakan saja, nanti Ayah ganti yang lain."

Mereka duduk di bangku taman di depan kelas, dan Yicheng mengeluarkan barang-barang itu satu per satu. Pertama balok susun kayu — mata Xiaoqi langsung berbinar. "Wah! Balok kayu! Aku selalu ingin punya balok seperti ini! Aku bisa membangun gedung tertinggi seperti tempat Ayah bekerja!"

Lalu alat menggambar lengkap — Xiaoqi bertepuk tangan kegirangan. "Alat gambar baru! Lengkap sekali! Ibu selalu bilang alat kami sudah habis, tapi tidak sempat membeli! Terima kasih, Ayah!"

Dan mobil-mobilan logam biru tua — Xiaoqi memegangnya dengan hati-hati, memutar roda kecilnya, wajahnya penuh kekaguman. "Mobil ini bagus sekali, Ayah. Halus dan kokoh. Seperti mobil Ayah."

Terakhir buku cerita — Xiaoqi memegangnya dengan kedua tangan, membaca judulnya pelan-pelan. "Ayah Selalu Menemaniku… Ayah, bolehkah Ayah membacakan buku ini nanti malam?"

"Boleh, tentu saja boleh," jawab Yicheng, hatinya penuh kebahagiaan yang tak terlukiskan — bukan karena ia berhasil membeli mainan, tapi karena ia melihat bahwa hal yang ia pilih dengan keraguan ternyata membawa begitu banyak kegembiraan bagi anaknya. "Ayah akan membacakannya setiap malam sampai kau hafal ceritanya."

Xiaoqi tiba-tiba memeluk Yicheng erat, memeluknya begitu kuat seakan takut ayahnya menghilang. "Terima kasih, Ayah. Ini hari terbaik dalam hidupku. Ayah belikan aku hadiah, dan Ayah memilihnya sendiri. Aku paling suka mobil ini — karena Ayah yang memilihnya untukku. Aku akan menyimpannya di tempat paling aman di kamarku."

Yicheng membelai punggung anak itu, merasa sedikit malu sekaligus sangat bahagia. "Ayah sebenarnya bingung sekali saat memilihnya. Ayah takut salah beli, takut kau tidak suka. Melihatmu senang seperti ini… Ayah senang sekali. Lain kali kalau Ayah mau beli mainan lagi, boleh Ayah tanya padamu dulu apa yang kau mau? Supaya Ayah tidak bingung lagi."

"Boleh! Tapi yang ini Ayah pilih sendiri, jadi ini spesial," kata Xiaoqi, memegang mobil itu erat di pelukannya. "Ayah tidak perlu sempurna, Xiaoqi tetap suka apa pun yang Ayah berikan. Yang penting Ayah yang memberikannya."

Kalimat itu membuat hati Yicheng terasa hangat dan tenang. Ia tidak perlu menjadi ahli mainan. Ia tidak perlu selalu benar. Yang dibutuhkan Xiaoqi bukanlah mainan termahal atau terbaru — tapi perhatian, kehadiran, dan usaha — bahkan usaha yang canggung dan bingung sekalipun — itu sudah lebih dari cukup.

Sore itu di rumah, Xiaoqi tidak langsung bermain dengan mainan barunya. Ia malah membawa balok-balok kayu itu ke ruang tamu, meminta Yicheng membantunya membangun gedung tinggi. Mereka duduk di lantai, bahu membahu menyusun balok — Xiaoqi memegang balok kecil, Yicheng memegang balok besar, sesekali jatuh, lalu mereka tertawa dan menyusunnya kembali. Su Wan keluar membawa teh hangat, melihat mereka berdua di lantai, rambut sedikit berantakan, wajah penuh fokus dan tawa. Ia tersenyum, meletakkan nampan di meja, lalu duduk di kursi menonton mereka — pemandangan yang selama ini ia impikan, kini benar-benar terjadi di depan matanya.

"Lihat, Ibu! Ayah membantuku membangun gedung tertinggi di dunia! Lebih tinggi dari gedung tempat Ayah bekerja!" seru Xiaoqi sambil menunjuk tumpukan balok yang sudah setinggi pinggangnya.

Su Wan tersenyum, menatap Yicheng yang sedang tersenyum lebar melihat anaknya bahagia. "Bagus sekali. Kalian berdua hebat."

Yicheng menatap Su Wan, lalu menatap Xiaoqi, dan menyadari sesuatu — hal terindah dari memberi bukanlah pada benda yang diberikan, tapi pada momen kebersamaan yang tercipta karenanya. Mainan itu hanya alat. Yang sebenarnya berharga adalah waktu yang mereka habiskan bersama, tawa yang mereka bagi, dan ikatan yang tumbuh setiap kali mereka melakukan hal sederhana bersama-sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!