NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Kemeja Hitam

"Berapa banyak bekas yang ditinggalkan laki-laki itu padamu?"

Liana merapatkan jas di dadanya. "Pak Renard, saya perlu mandi."

"Jawab dulu."

"Itu bukan Aldi."

Nama itu keluar tanpa sengaja. Tatapan Renard langsung menajam.

"Aldi?"

"Bukan siapa-siapa lagi."

"Tapi dia pernah menjadi seseorang."

Liana memejamkan mata sesaat. Pria ini punya bakat mengubah satu jawaban menjadi lima pertanyaan. "Bekas ini bukan dari dia. Dan orang yang membuatnya tidak berniat menyakiti saya. Sudah cukup?"

Ironi itu hampir membuatnya lelah. Renard sedang meminta jaminan bahwa Renard tidak menyakitinya.

Rahang pria itu bergerak. "Tidak. Tapi mandi dulu."

Ia akhirnya keluar dan menutup pintu.

Di luar kamar, Renard menghubungi Elvin.

"Dua tablet tidak bekerja," katanya tanpa salam.

"Kapan dosis terakhir?"

"Tadi pagi."

"Jangan tambah lagi. Tekanan darahmu bisa turun mendadak. Apa pemicunya?"

Renard memandang pintu kamar mandi. Bayangan Liana dengan blus basah masih melekat di kepalanya. "Kontak fisik."

"Dengan siapa?"

"Asistenku."

Hening pendek terdengar. "Kontak itu membuatmu mual?"

"Tidak."

"Lalu masalahnya?"

Renard menutup mata. "Aku ingin mengulanginya."

Elvin tidak menertawakan. "Keluar dari ruangan. Atur napas. Jangan menyentuh dia tanpa persetujuan hanya karena tubuhmu meminta. Kalau gejala meningkat, panggil aku atau jadwalkan sesi resmi."

"Aku tahu batas."

"Bagus. Tunjukkan dengan tindakan."

Renard mengakhiri panggilan saat mendengar air kamar mandi berhenti. Ia mengambil kemeja cadangan dari lemari, meletakkannya di atas ranjang, lalu menjauh seperti yang diperintahkan.

***

Air hangat menghapus bau selokan dari rambut Liana, tetapi tidak menghapus ketegangan di bahunya. Setelah mandi, ia membuka tas kertas yang diletakkan staf perempuan di bangku kamar mandi.

Blazer hitam. Rok hitam. Blus krem.

Semuanya dua ukuran terlalu kecil.

Liana mencoba blus itu sekali. Kancing di bagian dada bahkan tidak mau bertemu. Ia menatap bayangannya di cermin dengan putus asa, lalu membungkus tubuh dengan jubah mandi.

Ketukan terdengar dari luar.

"Pakaiannya cukup?" suara Renard bertanya.

"Tidak."

Hening.

"Bagian mana?"

"Ukurannya."

"Terlalu besar?"

Liana memandang langit-langit. "Terlalu kecil, Pak."

Hening berikutnya jauh lebih panjang.

"Tunggu."

Beberapa saat kemudian, langkahnya menjauh. Liana keluar dari kamar mandi sambil tetap mengenakan jubah. Di atas ranjang kini terletak sebuah kemeja hitam pria, masih rapi dan beraroma cedar dingin.

Ia mengenal kemeja itu. Renard memakainya pagi tadi di bawah jas.

Pilihan lain hanya kembali mengenakan blus basah.

Liana mengancingkan kemeja tersebut sampai leher. Pada tubuhnya yang hanya seratus enam puluh sentimeter, ujung kemeja jatuh ke pertengahan paha. Lengan bajunya harus dilipat tiga kali. Ia tetap memakai rok yang dikeringkan sebisanya dengan pengering tangan.

Ketika membuka pintu, Renard sedang berdiri di dekat meja dengan punggung menghadapnya.

"Sudah."

Ia berbalik.

Tatapannya turun dari wajah Liana ke kerah hitam yang terlalu lebar, lalu ke ujung kemeja yang menutupi rok. Wajahnya tak berubah. Hanya napasnya berhenti.

Liana menarik ujung lengan. "Saya akan mengembalikannya setelah dicuci."

Renard tidak menjawab.

Udara di kamar mendadak terasa lebih panas. Jemarinya mencengkeram sisi meja. Di bawah kulit lehernya, denyut tampak jelas.

"Pak?"

Aroma melati dan kamboja yang tadi hilang tertutup air kotor kini muncul samar dari kulit Liana yang hangat seusai mandi.

Renard menarik napas pendek.

Gejalanya datang seperti api yang disiram bensin.

Panas menjalar dari dada ke seluruh tubuh. Kulitnya sakit karena kebutuhan yang tak punya tempat keluar. Pada saat yang sama, pemandangan Liana memakai kemejanya membuat dorongan itu jauh lebih tajam daripada biasanya.

Ia ingin menyentuh.

Ingin menarik perempuan itu mendekat dan memastikan aroma tersebut benar-benar sama.

"Keluar," katanya.

Liana membeku. "Apa?"

"Keluar sekarang."

Nada keras itu memotong ruangan. Luka kecil melintas di mata Liana sebelum ia menunduk.

"Baik, Pak."

Ia mengambil pakaian basah dan berjalan ke pintu. Kemeja hitam bergoyang di sekitar kakinya. Renard memalingkan wajah, rahangnya terkunci, sampai pintu menutup.

Begitu sendirian, ia membuka laci, mengambil dua tablet penekan, dan menelannya tanpa air.

Tak ada perubahan.

Ia menekan telapak tangan ke meja. Kulitnya terasa terlalu sempit untuk tubuhnya sendiri.

Di luar, Liana kembali ke mejanya dengan langkah kaku. Rizal dan Bayu yang baru datang membawa makan siang langsung terdiam.

"Mbak... itu kemeja Pak Renard?" tanya Rizal pelan.

"Bukan waktu yang tepat, Mas Rizal."

Bayu menarik kerah belakang Rizal sebelum pria itu bertanya lagi. "Kami taruh makanan di pantry."

"Terima kasih."

Liana duduk, tetapi kedua pria itu belum pergi.

"Soal di bawah tadi," kata Bayu, lebih serius, "video yang memperlihatkan Mbak sudah diturunkan. Tim komunikasi simpan salinan utuh untuk pemeriksaan, bukan untuk disebar."

"Ibu Irene?"

"Masih didampingi legal. Pak Renard minta auditor luar datang."

Rizal meletakkan secangkir teh hangat di mejanya. "Semua orang yang tadi merekam juga sudah dapat pengingat privasi. Jadi Mbak tidak perlu takut ada potongan aneh beredar di grup."

Liana menggenggam cangkir itu. Kehangatan meresap ke jari-jarinya. "Saya tidak takut. Cuma malu sedikit."

"Sedikit? Kalau saya keluar pakai kemeja bos, saya pindah pulau."

Bayu menyikutnya.

Liana akhirnya tertawa kecil, tetapi tawanya berhenti ketika suara benda jatuh terdengar dari balik pintu.

Liana duduk. Ia tidak mengerti mengapa Renard mendadak marah. Ia sudah melindunginya, memakai kemejanya karena pakaian yang dikirim salah, dan berusaha tidak merepotkan siapa pun.

Ponsel kedua di laci bergetar.

Hanya satu orang yang memiliki nomornya.

Liana membuka laci. Satu pesan memenuhi layar.

Nona Terapis, kamu di mana? Apakah sesi bisa dimajukan ke hari ini? Sebaiknya sekarang.

Ia menatap pesan itu, lalu pintu ruang istirahat yang tertutup.

Di baliknya, sesuatu jatuh keras ke lantai.

Kemarahan di dada Liana padam seketika.

Renard tidak mengusirnya karena benci melihatnya.

Ia mengusir Liana karena takut tak mampu berhenti menyentuhnya.

Kesadaran itu tidak sepenuhnya menghapus sakit hati, tetapi mengubah bentuknya. Liana membuka kolom balasan dengan tangan yang masih menggenggam cangkir hangat.

Saya bisa datang. Tunggu konfirmasi tempat. Jangan tambah obat sebelum saya tiba.

Di balik pintu, ponsel Renard berbunyi.

Benturan yang sejak tadi terdengar berhenti. Beberapa detik kemudian balasan masuk.

Baik. Saya tunggu.

Liana membaca dua kata terakhir itu berulang kali. Pada siang hari, Renard menyuruhnya keluar. Dalam identitas yang lain, pria yang sama bersedia menunggu karena ia memintanya.

Liana mematikan layar dan berdiri. "Mas Bayu, tolong batalkan kendaraan kantor untuk saya malam ini."

"Mbak mau pulang sendiri?"

"Ada urusan pribadi."

Rizal menatap kemeja hitam itu, lalu pintu Renard. Untuk pertama kalinya, ia cukup bijak untuk tidak bertanya.

Liana menghargai diamnya. Di balik pintu, Renard menunggu Nona Terapis, tanpa tahu perempuan berkemeja hitam di luar itulah satu-satunya orang yang ia butuhkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!