Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Tanda kepemilikan
Di ruang keluarga yang sejuk oleh hembusan pendingin udara, suasana riang usai makan siang masih menyelimuti keempatnya. Piring-piring kecil bekas puding mentega karamel telah dirapikan ke atas nampan oleh Mbok Nah.
Sementara Farah, dengan wajah berseri-seri ia menarik kantong kertas berukuran besar yang sejak tadi ia letakkan di samping sofa.
"Kak Aura, ini ada kado kecil dari Farah dan Mama!" seru Farah gembira seraya menyerahkan kantong kertas itu ke pangkuan Aura. "Buka dong, Kak! Farah mau lihat Kak Aura pakai hadiahnya sekarang."
Aura pun tersenyum hangat. Jemarinya yang halus perlahan merobek perekat kantong hadiah tersebut.
Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah set perlengkapan rumah tangga berbahan keramik elegan serta selembar syal dari kain sutra manis berwarna merah muda lembut yang sangat indah.
"Wah... ini cantik sekali, Ma, Farah. Terima kasih banyak ya," ujar Aura, sambil mengelus permukaan kain sutra yang begitu halus itu.
"Coba dikalungkan sekarang, Kak! Pasti cocok banget sama dress warna peach yang Kak Aura pakai," desak Farah bersemangat seraya memiringkan tubuhnya untuk membantu Aura.
Aura pun hanya menurut. Ia mengangkat sedikit rambut panjangnya yang terurai ke atas untuk memudahkan mengalungkan syal tersebut di lehernya.
Namun, gerakan menyingkap rambut itu secara tak sengaja memamerkan ceruk leher bagian kanannya secara terbuka.
Di sana, di atas kulit leher Aura yang putih mulus, tercetak jelas beberapa bercak merah keunguan yang masih baru, jejak kehangatan dan gairah memabukkan yang ditinggalkan oleh Fadil tadi malam.
Mata Farah yang jeli seketika membelalak. Dengan kepolosan yang sebenarnya dibumbui niat menggodanya yang jahil, Farah menunjuk tepat ke arah leher Aura.
"Kak Aura... lehernya kenapa tuh? Digigit nyamuk kah? Kok bercaknya banyak banget dan warnanya agak ungu?" tanya Farah dengan nada suara yang lumayan nyaring.
Deg!
Pertanyaan itu spontan membuat udara di ruang keluarga seolah berhenti berhembus. Semua mata di ruangan itu, termasuk Ibu Melati dan Fadil, seketika terarah lurus fokus menatap leher Aura.
Wajah Aura yang semula berseri-seri seketika berubah pias sebelum akhirnya memerah padam dalam hitungan detik. Rasa malu yang luar biasa membakar seluruh permukaan wajah, telinga, hingga ke pangkal lehernya.
Refleks, Aura menurunkan kembali rambut panjangnya dan menutupi lehernya rapat-rapat dengan kedua belakangan tangannya. Tubuhnya menegang, ia bingung dan gelagapan setengah mati.
"I-itu... itu... aneh..." bisik Aura yang tak sanggup menyusun kata-kata. Rasanya ia ingin menghilang ditelan bumi saat itu juga.
Fadil yang duduk di samping Aura terkekeh renyah. Pria itu menatap istrinya dengan pendar mata yang sangat hangat dan penuh kejahilan.
Tanpa canggung, Fadil menjangkau tubuh Farah dan merangkul leher adik perempuannya itu dengan lipatan lengannya dalam sebuah candaan seraya mengacak rambut Farah.
"Anak kecil gak perlu tau, nyamuk jenis apa yang menggigit Kak Aura sampai seperti itu," canda Fadil santai, disambung tawa berbariton rendah yang terdengar begitu puas.
"Aduh, Mas Fadil! Lepasin! Aku kan cuma tanya!" seru Farah terbahak-bahak seraya berusaha melepaskan diri dari kuncian lengan kakaknya. "Berarti nyamuknya besar banget ya, Mas?"
Sementara itu, Ibu Melati yang melihat menantunya hanya tertunduk dengan pipi yang membara penuh rasa malu tak bisa menahan senyum keibuannya.
Ibu Melati lantas mengulurkan tangannya yang hangat, dan menarik lembut jemari Aura yang gemetar, lalu mengajaknya berpindah duduk di sampingnya.
"Gak usah malu, Nak... Wajar kok. Mama paham," ucap Bu Melati seraya mengelus punggung tangan Aura dengan penuh kasih sayang.
Namun Aura yang sudah terlanjur ditimpa rasa malu yang teramat sangat seakan tak bisa berkata-kata lagi. Lidahnya terasa kelu. Setiap tatapan godaan dari Farah membuat jantungnya berdebar kencang tak karuan.
"M-Ma... Mas Fadil... Farah... Aura izin ke kamar sebentar ya," pamit Aura terburu-buru seraya berdiri dari sofa. "Mau... mau ambil sesuatu di atas."
Sebenarnya, Aura melarikan diri ke kamar lantai atas karena ingin mencari sesuatu untuk menutupi tanda merah membiru di lehernya itu, mungkin dengan beberapa lembar plester hansaplast atau merapikan riasan, agar ia tidak terus-terusan menjadi bahan godaan di lantai bawah.
Melihat Aura yang setengah berlari menaiki tangga, Farah pun terkekeh gemas. "Kak Aura lucu banget sih! Mas, aku susul Kak Aura ke atas ya, mau ajak ngobrol sekalian ngeliat kamar barunya!"
"Jangan digoda terus Auranya, Farah. Kasihan," pesan Fadil seraya tersenyum melihat adiknya yang bergegas berlari menaiki tangga menyusul Aura.
Kini di ruang keluarga tinggal tersisa Fadil dan Ibu Melati. Suasana yang semula riuh oleh candaan Farah berubah menjadi tenang dan hangat.
Ibu Melati meminum teh hangatnya pelan-pelan, lalu menyandarkan punggungnya di sofa seraya menatap putra sulungnya.
Fadil yang menyadari tatapan mendalam dari sang ibu ikut membetulkan posisi duduknya, lalu menatap Ibu Melati dengan penuh hormat.
"Fadil," panggil Ibu Melati dengan suara yang sangat lembut.
"Iya, Ma?"
Ibu Melati mengulas senyum tulus yang memancarkan rasa lega yang luar biasa dari matanya. "Mama sungguh bahagia melihat perubahanmu belakangan ini. Aura wajahmu, caramu tersenyum, dan caramu menatap Aura... semuanya berbeda dari beberapa bulan lalu."
Fadil terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Sangat berbeda bagaimana, Ma?"
Ibu Melati memegang jemari tangan Fadil. "Mama tau betapa beratnya kehancuran hatimu waktu Keisya pergi meninggalkan pernikahan kalian begitu saja. Dulu Mama sangat cemas... Mama takut kamu akan menutup hatimu selamanya dan menjadikan Aura sebagai pelampiasan kekecewaanmu."
Pandangan Ibu Melati menerawang sejenak mengingat masa-masa kelam itu, lalu kembali menatap mata Fadil.
"Tapi hari ini, Mama benar-benar lega dan bersyukur. Kamu sudah bisa move on seutuhnya dari Keisya, Fadil. Kamu bisa menerima dan mencintai Aura dengan tulus tanpa bayang-bayang masa lalu lagi. Mama bisa melihat dengan mata kepala Mama sendiri kalau kamu benar-benar bahagia bersama Aura."
Fadil menarik napas dengan cukup panjang. Rasa hangat dan kedamaian merayapi hatinya. Pria itu pun mengangguk pelan, seakan menyetujui setiap kata yang diucapkan ibunya.
"Mama benar," sahut Fadil. "Dulu aku memang sempat buta oleh rasa kecewa karena perbuatan Keisya. Tapi keberadaan Aura di rumah ini, ketulusannya, kesabarannya merawatku tanpa menuntut apa-apa... benar-benar meluluhkan segalanya. Aku menyadari bahwa wanita yang ditakdirkan untuk mendampingi hidupku sebenarnya adalah Aura, bukan Keisya. Aku mencintainya, Ma... sangat mencintainya."
Ibu Melati mengusap air mata keharuan di sudut matanya. "Jaga dia baik-baik, Fadil. Aura itu anak yang sangat baik dan berhati lembut. Jangan pernah sakiti hatinya atau biarkan masa lalu merusak kebahagiaan yang sudah kalian bangun ini."
"Pasti, Ma. Aku janji akan selalu menjaga dan membahagiakan Aura."
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣