NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Pagi ini ruang tamu kediaman keluarga Barenyah sangat megah, dengan arsitektur klasiknya.

Sinar matahari siang ini menyusup melalui celah gorden warna cokelat hangat, yang memantulkan agak buram di permukaan lantai marmer warna krem itu.

Di atas langit-langit ruangan, menggantung sebuah lampu kristal atau chandelier raksasa gaya Eropa.

Terlihat memancarkan suasana ruangan dengan kemewahan, ruangan yang mewah itu terasa hening----saat konflik memanas mulai terdengar.

Ayah dan anak, saling bentrok akan ego dan keputusan pribadi yang di anggapnya benar.

Alina tampil dengan sederhana, dengan mengenakan kemeja lengan pendek warna hijau sage berhias kancing di depannya, bawahnya di padukan dengan celana kulot panjang warna merah muda.

Rambutnya yang panjang di biarkan tergerai, wajahnya di penuhi amarah, keputusasaan dan rasa jengkel yang menjadi satu.

Penampilannya sederhana, meski di rumah mewah bak istana yang di tinggalinya.

Kedua kaki Alina nampak tak menggunakan alas kaki, di latar belakangnya ada pilar-pilar beton bergaya romawi klasik yang berdiri.

Di atas meja kayu, beberapa bingkai foto emas memajang potret-potret kejayaan militer keluarga mereka, lengkap dengan piagam penghargaan dan medali kehormatan yang ditata rapi.

Di sebrang Alina duduk ayahnya dengan wibawa yang sangat kaku.

Mayor Jenderal Fadhil Barenyah.

"Papa apa tak ada cara lain membatalkan pertunangan ini?" tanya Alina dengan suara yang serak.

Mendengar itu sang Jenderal yang tengah meminum kopi, langsung menatap tajam putrinya---seolah tak suka akan penawaran dan keinginannya.

Fadhil duduk bersandar di kursi ukiran klasik warna krem, kedua tangannya bertumpu pada lututnya yang masih kokoh meski usianya sudah senja.

Tubuh pria itu sangat gagah dalam balutan seragam dinas upacara (PDU) TNI warna hijau tua, tak lupa dengan dua bintang emas pangkat Mayor Jendral berkilau tajam di atas pundaknya.

Sekaligus deretan medali sebagai tanda jasa, yang menghiasi dada kirinya, seolah membuktikan jika pria itu tegas tanpa memiliki hati.

Kedua kakinya terpasang sepatu pantofel hitamnya yang mengkilap, pandangannya menatap lurus ke arah anak perempuannya ini dengan rahang mengeras.

"Kamu mau membatalkan pertunangan dengan Angga?" tanya Jenderal Fadhil dengan nada suara yang sangat rendah, berat, dan dingin.

"Iya papa...Papa tahu lebih baik pertunangan di batalkan karena---"

Kalimat yang belum selesai di tuturkan oleh Alina terhenti, tatkala ayahnya menggebrak bangku---hal yang membuat tubuh Alina terkesiap.

"Astagfirullah...," bisik Alina dengan lirih, tangannya mengusap dadanya.

Sang Jendral menatap putrinya seolah tak bisa menerima bantahan apalagi sikap pembangkang, baik dari anak buahnya maupun darah dagingnya sendiri.

"Diam!!" potongnya dengan nada tegas.

"Kamu mau nikahin orang luar negeri itu!! kerjaannya cuman manager!! sementara kamu model kelas dunia!!" teriaknya membuat barang-barang di ruangan itu seolah bergetar.

Alina hanya menelan ludahnya dengan ketakutan, berusaha mengumpulkan sisa keberanian yang di pendam selama bertahun-tahun.

Akankah dirinya terbebas dari bayang-bayang ayahnya yang bersikap otoriter dan konservatif ini.

Alina yang sudah muak melangkah maju satu langkah, tubuhnya berusaha menahan getaran.

"Pah tolonglah...Robert juga orang baik...kakeknya juga dulu tentara Inggris...," jelas Alina dengan suara lirih.

Air mata akhirnya mengalir di pipinya yang tegas dengan garis rahang indah selayaknya model.

"Alina juga nggak cinta ama Angga, Pah. Alina liat Angga sepakat buat---"

Kalimat Alina kembali di potong cepat oleh sang Jendral.

"Cinta apaan!! Kamu pikir hidup soal cinta!! Kita butuh kekayaan dan pangkat!!" potongnya dengan nada tegas.

"Tapi Alina nggak sanggup lagi. Alina mencintai Mister Robert, Pah... Tolong batalkan pertunangan ini..." ujar Alina menyatukan kedua tangannya.

Mendengar pengakuan jujur dari putrinya, bukannya luluh---Jendral Fadhil nampak semakin mengeras mengumpulkan amarahnya.

Kilatan marah mulai terasa, cinta tak berharga di dalam keluarga Barenyah, yang berharga adalah kehormatan korps, garis keturunan militer, dan reputasi keluarga Barenyah yang telah dibangun dengan darah selama puluhan tahun.

"Cukup Alina!!" marah Jendral Fadhil dengan tegas.

"Jangan buat nama keluarga malu! Atau papa nggak akan segan memutuskan hubungan ayah dan anak ama kamu!!" tunjuk Fadhil di hadapan wajah putrinya.

Mendengar itu Alina hanya menggelengkan kepalanya, seolah tak habis pikir akan sang ayah.

"Papa mau menantu seperti Mayor Angga Pratama, perwira menengah terbaik di kesatuannya. Masa depannya gemilang, dan dia adalah satu-satunya menantu yang layak untuk menjaga kehormatan keluarga kita!" tegasnya.

"Tak seperti kakakmu yang pergi dan aku menyebutnya pembangkang!" ungkapnya.

Alina menggelengkan kepalanya, tak habis pikir akan sang ayah yang begitu egois.

"Abang Fauzan bukan pembangkang Pah! Dia punya anak dan istri sekarang!! Ngga semua hidup atas keinginan papa!" marah Alina menatap ayahnya.

Fadhil berdiri lalu tangannya dengan enteng menampar wajah putrinya, membuat wajah Alina ke samping.

Plak.

"Malin kundang!!" marahnya dengan suara beringas.

Alina memegang pipinya akibat bekas tamparan sang ayah, dirinya menatap ayahnya dengan derai air mata.

"Papa nggak mau dengar dengan sikap pembangkang kamu!! kamu harus menikah dengan Angga!! Kalo nggak!!! Papa akan putuskan hubungan sama kamu!!" ungkapnya tegas.

Sang Jendral langsung pergi meninggalkan Alina sendiri dalam kesedihan, dirinya harus menelan pil pahit atas keinginan ayahnya.

Sungguh dirinya tak ingin ada di posisi ini, seharusnya dirinya bisa memilih jalan hidupnya sendiri.

"Mama...kenapa sih mama juga ngga ada disini..." ungkapnya dengan derai air mata.

Tubuhnya mundur dan terduduk di sofa, Alina tak bisa keluar dari penjara yang telah di buat oleh ayahnya----dirinya ingin sekali hidup di luar negeri menikahi warga negara asing.

Lalu memulai karirnya sebagai model internasional, sekaligus menikmati hari masa tuanya di luar negeri yang lebih terjamin.

Tiba-tiba Alina memikirkan soal rumor, yang dimana Angga menodai seorang gadis bernama Asri---dirinya mendengar dari desas-desus yang senter ini.

"Asri Devantara...," ucapnya lirih dengan air mata.

"Peneliti sejarah itu apa mau menikahi Angga?" pikirnya dalam hati, entah kenapa Alina langsung tertuju pada gadis itu.

Alina menghela napas lalu membuangnya dalam-dalam, lalu tangannya menghapus kasar air matanya yang mengalir, untuk berdiri---dirinya akan segera mencari tahu tentang Asri.

Ini semua hanya demi ambisi dan keinginannya, keinginan yang harus terpendam karena rasa egois ayahnya.

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!