NovelToon NovelToon
Resep Terakhir Dari Ibu

Resep Terakhir Dari Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Ruangan di dalamnya sangat luas dan memiliki empat ranjang bertingkat berbahan besi yang kokoh.

Ada meja belajar, lemari pakaian, dan kamar mandi dalam yang sangat bersih.

Namun langkah Aldo terhenti saat melihat siapa yang sudah duduk di ranjang paling bawah dekat jendela.

"Sialan, kenapa aku harus sekamar dengan gembel sepertimu?" umpat Kevin dengan wajah muak.

Ternyata takdir sedang mempermainkan mereka dengan menyatukan dua musuh ini di kamar yang sama.

Dua peserta lain yang berada di kamar itu tampak canggung melihat ketegangan di antara Aldo dan Kevin.

Mereka berdua adalah pria paruh baya yang terlihat tidak ingin ikut campur dalam masalah anak muda.

"Ternyata dunia ini sempit sekali ya, Tuan Muda," balas Aldo dengan nada tenang dan menyindir.

Aldo berjalan masuk dan meletakkan tas ranselnya di atas ranjang tingkat yang berada tepat di atas Kevin.

"Hei, siapa yang menyuruhmu tidur di atas ranjangku?" bentak Kevin langsung berdiri menantang.

"Ini ranjang kosong dan aku bebas memilih tempat tidur mana saja," jawab Aldo sambil merapikan tasnya.

"Aku tidak mau ada orang miskin bau bawang yang tidur di atasku, pindah ke ranjang ujung sana!"

"Kenapa tidak kau saja yang pindah kalau kau merasa terganggu?"

Aldo menatap mata Kevin dengan tajam tanpa ada niat untuk mundur sedikitpun.

"Ranjang ini paling dekat dengan jendela dan aku suka udaranya."

"Berani sekali kau melawanku, gembel. Kau tidak tahu berurusan dengan siapa."

"Aku sedang berurusan dengan anak manja yang hanya bisa bersembunyi di balik kekayaan ayahnya."

Kata kata Aldo sukses membuat urat leher Kevin menonjol karena menahan amarah yang meledak ledak.

Pemuda kaya itu maju satu langkah berniat mencengkeram kerah baju Aldo.

"Coba saja sentuh aku, dan aku akan pastikan kau didiskualifikasi malam ini juga karena kekerasan," ancam Aldo dingin.

Langkah Kevin terhenti seketika mendengar ancaman logis dari Aldo.

Dia tahu panitia memasang kamera pengawas di lorong dan ada aturan ketat soal perkelahian fisik.

"Bagus, kau pintar bermain kata kata sekarang," desis Kevin sambil menurunkan tangannya.

"Simpan tenagamu untuk menangis besok saat kau masuk ke zona eliminasi, Aldo."

"Simpan juga omong kosongmu untuk menutupi rasa takutmu padaku, Kevin."

Kedua pria paruh baya di kamar itu hanya bisa saling pandang sambil menelan ludah dengan gugup.

Mereka sadar bahwa kamar 302 akan menjadi medan perang mental yang sangat melelahkan selama karantina.

Kevin kembali duduk di ranjangnya dengan kasar sambil mengambil ponsel mahalnya.

Dia mulai sibuk menelepon seseorang entah siapa, mengabaikan kehadiran peserta lain di kamar itu.

Aldo hanya menghela nafas panjang lalu merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur yang empuk.

Ini adalah kali pertama sejak ibunya meninggal, punggung Aldo merasakan kasur yang benar benar nyaman.

Dia merogoh ke dalam tas ranselnya dan mengeluarkan buku resep kuno bersampul kulit milik ibunya.

Aldo mengusap sampul buku itu dengan lembut, merasakan setiap goresan debu dan noda bumbu yang menempel.

"Ibu, hari ini aku bertemu gadis baik hati yang memberiku makanan saat aku kelaparan," batin Aldo.

"Dan aku juga sekamar dengan orang sombong yang sangat membenci kehadiranku."

"Tapi ibu jangan khawatir, aku tidak akan terpengaruh oleh hal hal kecil seperti ini."

Aldo membuka halaman pertama buku itu dan mulai membaca kembali resep resep dasar yang sudah dia hafal di luar kepala.

Membaca tulisan tangan ibunya yang rapi selalu bisa memberikan ketenangan batin tersendiri bagi Aldo.

Tiga puluh menit berlalu dalam keheningan yang canggung di kamar 302.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu memecah konsentrasi Aldo yang sedang membaca resep soto ayam.

"Pengumuman untuk seluruh peserta, makan malam sudah disiapkan di ruang makan lantai satu," teriak panitia dari luar pintu.

"Setelah makan, kalian diwajibkan langsung tidur karena jadwal syuting besok akan dimulai pukul enam pagi."

Mendengar kata makan malam, perut Aldo kembali memberikan sinyal meskipun tadi sudah diisi tiga kue sus.

Dia segera menutup bukunya dan menyimpannya kembali ke dalam tas dengan hati hati.

Saat Aldo turun dari ranjang, Kevin sengaja menjulurkan kakinya untuk menjegal langkah Aldo.

Namun dengan sigap Aldo melompati kaki Kevin tanpa terjatuh sama sekali.

"Trik anak TK tidak akan mempan padaku," ucap Aldo santai lalu berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi.

Kevin memukul kasurnya dengan kesal karena usahanya membuat Aldo celaka selalu gagal.

Di ruang makan, puluhan peserta sudah mengantri mengambil makanan secara prasmanan.

Ruangan itu sangat luas dengan meja meja bundar besar yang bisa diisi oleh delapan orang.

Aldo mengambil piring dan mengisi nasi putih lauk pauk secukupnya tanpa serakah.

Dia mencari meja yang kosong untuk menghindari keramaian peserta lain yang sedang asyik mengobrol.

"Aldo, sini gabung bersamaku," teriak sebuah suara perempuan dari arah sudut ruangan.

Aldo menoleh dan melihat Rina sedang melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.

Di meja Rina juga duduk beberapa peserta wanita lainnya yang terlihat sedang bercanda.

Aldo ragu ragu sejenak karena dia tidak terlalu pandai bersosialisasi dengan banyak orang baru.

Namun karena tidak ingin mengecewakan Rina yang sudah menolongnya tadi, Aldo berjalan menghampiri meja tersebut.

"Boleh aku duduk di sini?" tanya Aldo sopan saat sampai di meja Rina.

"Tentu saja boleh, duduklah di sebelahku," jawab Rina sambil menepuk kursi kosong di kanannya.

Peserta wanita lain di meja itu menatap Aldo dengan tatapan penasaran.

"Oh, ini cowok yang masakannya dipuji Chef Bram tadi ya?" tanya seorang wanita berambut ikal.

"Iya, namanya Aldo. Dia jago banget masak makanan Nusantara loh," puji Rina membanggakan teman barunya.

Aldo hanya tersenyum tipis dan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

"Kalian harus hati hati sama cowok sombong yang namanya Kevin itu," ucap wanita berambut pendek di depan Aldo.

"Tadi aku dengar dari anak anak cowok, dia sengaja memborong semua bahan mahal di pantry asrama."

"Benarkah? Jahat sekali, padahal bahan di pantry kan untuk latihan bersama," balas Rina terkejut.

Aldo menghentikan kunyahannya sejenak mendengar informasi penting tersebut.

"Dia memang selalu berpikir uang dan kekuasaan bisa menyingkirkan lawannya," ucap Aldo dengan nada datar.

"Tapi di dapur Master Chef, uang tidak bisa membeli bakat dan kepekaan lidah juri."

Semua wanita di meja itu terdiam mendengar ucapan Aldo yang terdengar sangat dewasa dan meyakinkan.

"Kamu benar, Aldo. Kita buktikan besok kalau kita yang rakyat biasa ini bisa mengalahkan tuan muda sombong itu."

Rina mengepalkan tangannya ke udara dengan ekspresi lucu yang membuat Aldo tanpa sadar tertawa kecil.

Malam pertama di asrama karantina ini memberikan banyak emosi baru bagi seorang Aldo Raditya.

Rasa lapar, amarah, persahabatan, dan kehangatan tulus dari orang asing berbaur menjadi satu.

Besok pagi badai yang sesungguhnya akan menyapu galeri Master Chef tanpa ampun.

Dan Aldo memastikan dirinya sudah siap berdiri paling depan untuk menghadapi badai tersebut.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
makasi crazy up nya
kiyoe: Terimakasih kak Heni selalu atas support nya 🙏
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
Was pray
Rina mentalnya tempe ketakutan mesti perut mules. kok gak pusing atau yg lain.. masak hobi kok perut mules. 🤭
Was pray
Aldi sering kalah duluan bangun paginya sama Kelvin
Was pray: si Aldo thooor...
total 2 replies
sitanggang
terlalu monoton, hanya seputaran galery memasak saja. gak ada konteks diluar gallery , sprti org yg pinjamkan uang 50k atw kluarganya yg me onton di tv semisalnya🙄
kiyoe: kan Aldo yatim piatu kak
total 2 replies
ceuceu
di tunggu up nya thor
Was pray
nah benar kan? sejelek apapun hasil masakan Kevin tetap lolos, lama lama jadi kurang greget baca novel ini
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
ceuceu
aneh kok bisa jojo bertahan pdhl ga bisa masak ceroboh,knp ga tereleiminasi dari awal thor,masak apa si jojo selama tanding?
ceuceu
baru tau tehnik membuka kluwek
kiyoe: wkwk berarti belum pernah masak pakai kluwek yaa kak 🤭
total 1 replies
ceuceu
danang sotoy arogan
ceuceu
serakah bgt kevin
ceuceu
perjuangan seorang anak demi masa depan
Was pray
beberapa kali Kevin melakukan kesalahan dalam memasak tapi tetap juga lolos... ini ntar memasak bebek betutu yg amburadul juga lolos lagi kah?
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
kiyoe: Terimakasih kak selalu mensupport saya 🙏
total 1 replies
Was pray
Danang and Jojo selevel Danang sok pintar tapi o'on Jojo berpikir lemot tapi mau belajar walau pelan, kalau Dua koki ini digabungkan satu tim bisa mengundang tim damkar.... 🤣🤣🤣
Was pray
kok bisa lolos audisi si Jojo k as lau masak dop aja keasinan? ntar kalau Jojo bukan warung makan bisa bisa pembelinya bisa pada darah tinggi tuh..... 😄😄😄
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
Was pray
ya salah tim biru sendiri yg memilih Danang jadi kapten tim, kalau udah kacau baru menyesal
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!