NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:654
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Katanya Om-om

Mobil yang membawa Senja dan Bintang baru masuk gerbang ketika ia melihat kendaraan Vania berhenti di seberang jalan.

"Masuk dulu," kata Senja kepada sopir. "Jangan buka gerbang lagi tanpa izin Pak Damar."

Ia menggandeng Bintang naik ke lantai dua. Anak itu terus menoleh ke belakang.

"Tante tadi ikut kita?"

"Mungkin dia ada urusan kerja dengan Papa. Kita gambar dulu di kamar."

"Kenapa sembunyi?"

"Bukan sembunyi. Mama cuma enggak mau bertengkar di depan Bintang."

Bel berbunyi panjang. Dari balik tirai, Senja melihat Vania berdebat dengan Bik Inah di interkom.

"Tuan rumah nggak ada, tamu asing nggak boleh masuk," kata Bik Inah.

"Aku bukan tamu asing. Ini rumah Om-ku!"

"Pak Damar bilang nama Ibu tidak ada di daftar."

Vania menendang bagian bawah gerbang. Bik Inah mematikan interkom dan membiarkannya menunggu di luar.

Senja memberi Bintang kertas dan krayon. "Gambar ruang musik baru, ya."

"Mama takut Tante?"

"Mama cuma hati-hati."

Hampir satu jam kemudian mobil Damar tiba. Vania berlari mengejar sampai kendaraan berhenti di halaman.

Senja hendak turun, tetapi Bintang memegang ujung bajunya. "Mama jangan ketemu Tante."

"Mama tetap di sini."

"Papa sendirian?"

"Papa ada Pak Bayu. Dan ini rumah Papa."

Bintang memikirkan jawaban itu, lalu berdiri di atas bangku kecil agar dapat melihat halaman. Senja menjaga jarak dari jendela sambil merekam waktu kedatangan Vania di ponsel, bukan percakapannya. Jika terjadi tuduhan lain, rekaman gerbang dan catatan sekolah sudah cukup menjadi bukti.

"Om, aku sudah minta maaf! Suruh mereka izinkan aku masuk."

Damar turun, diikuti Bayu. "Mana videonya?"

"Video apa?"

"Bukti kamu meminta maaf kepada Bintang."

Vania menunjukkan catatan transfer. "Aku sudah kasih lima puluh juta. Senja juga lihat aku minta maaf."

"Transfer bukan bukti kamu memperbaiki sikap."

"Aku sampai ditampar anak itu!" Vania menunjuk rumah. "Ibunya ngajarin kurang ajar. Padahal dia cuma ibu tiri yang dinikahin om-om buat ngurus anak. Di sekolah dia juga genit, godain Rayhan dan Reza."

"Kamu yang menyuruh anak itu menamparmu," kata Bayu. "Petugas keamanan sekolah sudah mengirim kronologi dan salinan rekaman atas permintaan Bu Senja."

Vania menoleh tajam. "Kalian semua percaya dia?"

"Aku percaya bukti," jawab Damar. "Di rekaman, kamu menghadang mereka, menghina ayah Bintang, lalu mengangkat tangan lagi setelah ditampar."

"Aku emosi. Pipi aku sakit."

"Bintang lima tahun. Kamu perawat dewasa. Jangan meminta ukuran tanggung jawab yang sama."

Vania kehabisan jawaban. Ia mengganti nada, menarik lengan Damar dengan sikap manja yang biasa berhasil di depan keluarga.

"Om, aku janji nggak ulangi. Aku cuma butuh kerja. Eyang juga pasti marah kalau tahu Om lebih membela orang luar daripada keponakan sendiri."

Damar melepaskan tangannya. "Kalau Eyang bertanya, aku akan kirim semua bukti."

Kata om-om membuat wajah Damar semakin dingin. "Aku tiga puluh dua."

"Aku bukan ngomongin Om."

"Kamu sedang berdiri di rumahku, menghina istri orang dan anak yang kamu pukul. Mau bicara tentang siapa pun, hasilnya sama."

"Om bela dia terus karena dia cantik?"

"Keluar dari halaman ini. Jangan pernah injakkan kaki di sini lagi."

Bayu membuka gerbang kecil dan mengarahkan Vania keluar. Perempuan itu terus memohon agar dikembalikan ke RS Adiwangsa dan Reza diberi pekerjaan, tetapi Damar tidak menoleh lagi.

Di lantai atas, Senja melepaskan tirai. Selama ini ia mengira Damar hanya kasar kepadanya karena membenci pernikahan mereka. Ternyata lelaki itu memang dingin kepada siapa pun yang melanggar batas.

Aneh, kesadaran itu justru membuat beban di dadanya berkurang. Ia tidak lagi merasa menjadi satu-satunya orang yang selalu salah di mata Damar.

"Tante sudah pergi?" tanya Bintang.

"Sudah."

Anak itu menunjukkan gambar tiga orang di ruang musik. Sosok Damar digambar paling tinggi, Senja di sebelahnya, sedangkan Bintang berdiri di tengah sambil memegang tangan keduanya.

"Kenapa Papa digambar besar sekali?"

"Papa tinggi. Mama kecil."

"Mama enggak kecil."

Bintang berdiri di ujung kaki, membandingkan tinggi mereka, lalu tertawa. "Mama kecil sedikit. Makanya Papa harus jaga Mama."

"Mama bisa jaga diri sendiri."

"Kemarin sakit digendong Papa."

Senja kehilangan bantahan. Anak itu menghubungkan semua hal dengan logika sederhana: orang yang menjaga harus selalu dekat, dan orang yang menikah harus selalu bersama.

"Papa sama Mama harus tidur bareng," katanya tiba-tiba.

Senja hampir menjatuhkan kertas. "Kenapa bicara soal tidur?"

"Nara bilang papa-mamanya tidur satu kamar. Kalau Papa sama Mama pisah kamar, berarti bukan Papa-Mama beneran."

"Setiap keluarga punya kebiasaan berbeda. Mama menemani Bintang karena Bintang belum suka tidur sendiri."

"Bintang sudah gede."

"Lima tahun belum gede."

"Sudah! Mulai malam ini Bintang tidur sendiri, Mama tidur sama Papa."

Senja mengusap dahi. "Kita bicarakan nanti."

Namun Bintang membawa keputusan itu sampai meja makan. Begitu Damar duduk, ia berdiri di atas kursi dan mengumumkan, "Mulai sekarang Papa tidur sama Mama."

Sendok Damar berhenti di udara.

"Duduk yang benar," katanya.

"Papa harus peluk lengan Mama kalau tidur. Terus pijitin telinganya. Mama baru bisa tidur kalau begitu."

Senja menutup wajah. Kebiasaan itu sebenarnya milik Bintang, bukan dirinya.

"Siapa yang mengajarimu?" tanya Damar.

"Enggak ada. Papa-Mama harus tidur bareng biar enggak cerai."

Kata terakhir membuat kedua orang dewasa terdiam. Bintang pasti mendengarnya saat mereka bertengkar.

Senja menurunkan tangan. "Bintang, kami tidak akan membicarakan hal seperti itu di depanmu lagi. Tapi soal kamar tidur bukan urusan anak-anak."

Damar mengangguk setelah jeda singkat. "Papa juga salah karena bicara saat marah. Kata cerai bukan untuk menakuti Bintang."

Anak itu menatap keduanya bergantian. "Berarti nggak jadi cerai?"

Senja belum siap memberi janji yang mungkin tak bisa ditepati. "Yang pasti, malam ini Mama ada di sini. Besok juga Mama antar sekolah."

"Papa juga ada?"

"Papa ada," jawab Damar.

Bintang tampak sedikit tenang, tetapi tetap belum puas. Baginya, jawaban orang dewasa terlalu panjang dan penuh celah. Tidur bersama adalah bukti yang jauh lebih mudah dilihat daripada janji.

"Bintang anak kalian. Berarti urusan Bintang."

Bik Inah berbalik ke dapur, bahunya berguncang menahan tawa.

Damar memandang Senja. Bayangan perempuan itu berada di ranjangnya muncul terlalu jelas. Senja juga teringat tubuh basah di balik pintu kamar mandi dan cepat mengalihkan wajah.

Bintang mengetuk meja. "Jadi malam ini Papa pijitin telinga Mama, terus Mama peluk lengan Papa. Harus."

Damar dan Senja menjawab bersamaan.

"Tidak."

Bintang menyilangkan tangan, siap memulai perang baru.

Tatapannya bulat dan keras kepala, persis seperti Damar ketika sudah menentukan keputusan yang tidak boleh dibantah siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!