Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SURAT UNDANGAN AKADEMI
Dua tahun telah berlalu sejak invasi Raja Iblis. Suasana di rumah kayu sederhana Hutan Kelam tetap sehangat biasanya. Elena yang kini telah genap berusia 7 tahun tumbuh menjadi gadis kecil yang makin cantik, cerdas, dan penuh energi.
Pagi itu, seekor burung merpati sihir mendarat di teras. Burung itu membawa sebuah Surat Undangan Khusus dengan Segel Emas Kerajaan undangan penerimaan murid baru untuk Akademi Sihir Agung Kerajaan.
Kayy yang baru saja selesai menyapu pekarangan membaca surat tersebut. Wajah pria berstatus MAX yang biasanya selalu tenang itu mendadak pucat pasi.
"T-TIDAAAKKK!" jerit Kayy histeris seraya memeluk erat surat itu di dadanya. "Elena tidak boleh sekolah jauh-jauh! Di sana pasti banyak anak nakal! Lagipula, bagaimana kalau Elena kangen masakan Ayah?! Tidak, tidak! Ayah tidak setuju!"
Alya yang keluar membawa nampan teh menggelengkan kepala seraya tersenyum geli. Pria yang sanggup meratakan iblis hanya dengan satu tatapan ini mendadak menjadi bapak-bapak rapuh jika menyangkut putri kecilnya.
"Kayy, sayang..." bujuk Alya lembut seraya mengelus pundak suaminya. "Elena sudah tujuh tahun. Dia butuh teman-teman sebayanya untuk bermain. Lagi pula, Akademi Kerajaan kan bisa ditempuh cepat kalau naik kereta terbang."
Elena melompat-lompat riang seraya memeluk pinggang Kayy. "Ayah! Elena mau sekolah! Elena mau punya banyak teman! Nanti setiap sore Elena pulang, kok!"
Menatap mata bulat Elena yang penuh binar harapan dan senyuman lembut Alya, pertahanan Kayy sekeras baja itu runtuh seketika.
"Haaaaah... Baiklah," desah Kayy pasrah seraya mengelus rambut Elena. "Tapi kalau ada yang berani mengganggumu, bilang sama Ayah ya."
Hari Ujian Masuk Akademi Sihir Kerajaan pun tiba.
Aula utama Akademi dipenuhi oleh ratusan anak bangsawan tinggi dari berbagai wilayah. Mereka mengenakan pakaian mewah berlapis benang emas dan memamerkan tongkat sihir mahal.
Elena datang diantar oleh Kayy dan Alya. Elena mengenakan gaun kain sederhana berwarna krem buatan Alya, dengan jepit rambut berbentuk bunga matahari. Kayy sendiri hanya mengenakan pakaian petani sederhananya. Demi menjaga kenyamanan dan kedamaian hidup mereka, Kayy dan Alya sepakat untuk tidak menonjolkan diri dan merahasiakan identitas mereka sebagai penyelamat kerajaan.
Di sudut aula, beberapa anak bangsawan kaya mulai berbisik-bisik seraya melirik Elena dengan tatapan meremehkan.
"Lihat anak itu... Kenapa ada anak warga desa miskin yang ikut ujian masuk Akademi?" ejek seorang anak bangsawan berambut pirang seraya tertawa sombong. "Baju kain sederhana begitu... paling-papi kapasitas sihirnya cuma cukup buat menyalakan lilin!"
"Iya, ayah dan ibunya juga cuma kelihatan seperti petani biasa," sahut anak bangsawan lainnya seraya mendengus jijik.
Elena yang mendengar bisikan itu tidak marah sedikit pun. Ia hanya tersenyum polos seraya melambaikan tangan pada Kayy dan Alya yang menunggu di barisan wali murid paling belakang.
Tiba-tiba, pintu aula utama terbuka. Tiga sosok remaja terkemuka di Akademi melangkah masuk dengan anggun—Pangeran Rupert, Putri Rosalind, dan Putri Fiona! Sebagai murid senior, mereka bertugas sebagai pengawas ujian hari itu.
Seluruh anak bangsawan di aula langsung membungkuk hormat penuh kekaguman.
Namun, begitu mata Pangeran Rupert menangkap sosok gadis kecil bergaun sederhana di tengah aula, langkah sang Pangeran seketika terhenti. Mata Rupert membelalak hebat!
"E-Elena?!" pekik Rupert, Rosalind, dan Fiona hampir bersamaan dalam hati.
Tanpa mempedulikan hierarki kebangsawan, ketiga anggota keluarga kerajaan itu langsung berlari tergesa-gesa menghampiri Elena!
"Elena! K-Kamu ikut ujian di sini?!" seru Putri Fiona gembira seraya berlutut menyamai tinggi Elena.
"Iya, Kak Fiona! Elena mau sekolah di sini!" jawab Elena riang.
Pangeran Rupert melirik ke barisan wali murid dan melihat Kayy berdiri santai di belakang seraya menyunggingkan senyum tipis. Keringat dingin seketika menetes di pelipis sang Pangeran. Rupert tahu betul, jika ada satu saja anak bangsawan yang berniat jahat atau mengganggu Elena, Akademi ini bisa hilang dari peta dalam sekejap!
Anak bangsawan sombong yang tadi meremehkan Elena seketika membeku kaku. Rahang mereka jatuh drastis melihat Pangeran Kedua Kerajaan dan para Putri memperlakukan gadis "anak petani" itu dengan sangat akrab dan penuh rasa hormat!
"P-Pangeran Rupert..." panggil penguji utama Akademi gemetaran. "Apakah Anda mengenal anak ini?"
Rupert berdehem keras seraya menatap penguji dengan pandangan tajam penekanan. "Penguji! Dia adalah... k-teman dekat kami! Mulai ujiannya sekarang, dan pastikan ujian berjalan adil!" (Rupert sengaja menahan diri untuk tidak membocorkan identitas Alya dan Kayy sesuai isyarat mata dari Kayy).
Ujian dimulai dengan pengujian kapasitas mana menggunakan Batu Uji Kemampuan Sihir Purba—batu hitam raksasa yang tak pernah rusak sepanjang sejarah Akademi.
Anak bangsawan sombong tadi maju terlebih dahulu. Ia mengarahkan tongkat sihir mahalnya. Batu uji menyala dengan warna hijau terang (Tingkat Penyihir Menengah). Anak itu tersenyum bangga seraya melirik sinis ke arah Elena.
"Selanjutnya! Elena!" panggil penguji.
Elena melangkah maju dengan santai tanpa membawa tongkat sihir apa pun.
"Teman batu..." kata Elena polos seraya menyentuh permukaan batu hitam raksasa itu dengan telapak tangan mungilnya.
SHINNNNNG!
Seketika, seluruh aula Akademi diterangi oleh pendar cahaya keemasan yang luar biasa menyilaukan! Gelombang energi suci murni (Celestial Mana) meluap dari tubuh Elena. Angka kapasitas magis di papan penunjuk melonjak naik drastis melampaui tingkat Penyihir Agung, melampaui level Profesor Akademi, hingga...
KRRRKKKK... BOOOMMM!
Batu Uji Purba raksasa yang telah berdiri selama ratusan tahun di Akademi mendadak retak seribu dan meledak menjadi serpihan abu emas di depan mata semua orang!
"A-APAA-APAAN INI?!" jerit seluruh penguji dan siswa Akademi histeris. Beberapa anak bangsawan bahkan sampai jatuh terduduk di lantai dengan wajah pucat pasi.
"M-Menghancurkan Batu Uji Purba hanya dengan sentuhan tangan tanpa tongkat sihir?! Siapa anak desa ini sebenarnya monster macam apa?!" teriak Penguji Utama histeris memegangi kepalanya.
Pangeran Rupert, Rosalind, dan Fiona hanya bisa menepuk jidat mereka masing-masing, tersenyum pasrah. Mereka sudah menebak hal ini pasti akan terjadi.
"L-Lolos! Elena dinyatakan lolos dengan nilai tertinggi sepanjang sejarah!" seru Penguji Utama gemetaran seraya mencatat nama Elena.
Dari barisan penonton paling belakang, Kayy melambaikan tangannya seraya berteriak ramah, "Kerja bagus, Elena! Nanti malam Ayah buatkan sup wortel emas kesukaanmu!"
Elena tertawa riang seraya melambaikan tangan balasan. "Huraay! Terima kasih, Ayah!"
Anak-anak bangsawan lain menatap Kayy dan Alya dari jauh dengan bingung dan penasaran setengah mati. Siapa sebenarnya pasangan suami istri penampilannya sederhana itu, sampai-sampai memiliki putri kecil yang bisa menghancurkan batu sihir purba hanya dengan satu sentuhan jari?
Hari pertama Elena di Akademi resmi dimulai dengan misteri besar dan kegemparan yang siap menanti di babak selanjutnya!