Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Asing dan Bayang-Bayang Victoria
Jika ada satu tempat yang paling ingin dihindari Valerie di dunia ini, tempat itu bukanlah ruang kerja Dean yang sedingin kutub utara. Tempat itu adalah rumah orang tuanya sendiri. Sebuah bangunan megah berlantai dua di kawasan hunian elite Jakarta Barat, tempat di mana Valerie dilahirkan namun tidak pernah benar-benar dirasa sebagai rumah.
Sore itu, sebuah pesan singkat dari sang ibu memaksa Valerie untuk pulang.
“Valerie, malam ini makan malam keluarga bersama tunangan kakakmu. Pulanglah, jangan membuat alasan lagi.”
Valerie menatap layar ponselnya di sela-sela jam istirahat kuliah dengan senyum hambar. Kalimat itu tidak mengandung nada rindu, melainkan sebuah instruksi wajib agar formasi keluarga mereka terlihat sempurna di depan calon menantu ideal.
“Kamu mau aku temani, Val?” tanya Tiara yang duduk di sebelahnya, menatap cemas wajah sahabatnya yang mendadak muram.
Valerie menggeleng pelan, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas. “Tidak usah, Ra. Ini acara formal keluarga. Kalau kamu ikut, yang ada kamu malah stres melihat drama meja makan keluargaku.”
“Kalau Kak Dean tahu, dia pasti mau mengantarmu,” bujuk Tiara lagi.
“Jangan,” sergah Valerie cepat. “Kak Dean sedang sibuk mempersiapkan audit eksternal kantornya minggu ini. Aku tidak mau mengganggu logikanya dengan urusan domestikku yang tidak penting.”
Pukul tujuh malam, Valerie melangkah memasuki ruang makan rumahnya. Aroma masakan katering premium langsung menyengat indra penciumannya. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang telah dihias rapi dengan lilin-lilin aromaterapi dan buket bunga segar.
Di sana sudah duduk kedua orang tuanya, bersama sang kakak perempuan, Victoria, dan tunangannya, seorang dokter spesialis muda bernama Adrian. Victoria tampak begitu anggun dengan gaun rajut berwarna krem, rambutnya disanggul rapi, memancarkan aura wanita karier yang sukses dan matang—persis seperti menantu impian yang selalu dibanggakan oleh orang tua mereka.
“Ah, Valerie. Akhirnya kamu datang juga. Duduk di sana, di sebelah Adrian,” ucap Widya, sang ibu, tanpa repot-repot berdiri untuk menyambut anak bungsunya. Tatapan ibunya menyapu penampilan Valerie dari atas ke bawah, lalu menghela napas halus. “Kenapa kamu hanya pakai kemeja kasual dan celana kain ke acara seperti ini, Val? Setidaknya tiru kakakmu yang selalu tahu cara berpakaian pantas.”
Valerie mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba meredam denyut perih di dadanya. “Valerie baru selesai kelas laboratorium sore tadi, Ma. Tidak sempat balik ke apartemen untuk ganti baju formal.”
“Sudahlah, Ma. Yang penting Valerie sudah menyempatkan datang,” sela Victoria dengan suara lembutnya yang selalu terdengar bijaksana di depan orang lain. Dia tersenyum manis pada Valerie. “Bagaimana kuliahmu, Val? Nilai semester ini aman, kan?”
“Aman, Kak,” jawab Valerie singkat, memilih untuk memotong interaksi sebelum berlanjut lebih jauh.
Makan malam pun dimulai. Namun bagi Valerie, denting sendok dan garpu di atas piring porselen itu terasa seperti musik latar dari sebuah pertunjukan di mana dia hanyalah seorang penonton figuran. Sepanjang malam, topik pembicaraan hanya berputar di sekitar kesuksesan Victoria yang baru saja dipromosikan sebagai manajer regional di bank swasta terkemuka, serta rencana pernikahan megah mereka yang akan digelar di hotel bintang lima.
Haryo, sang ayah, tertawa bangga sambil menepuk bahu Adrian. “Saya selalu tahu Victoria tidak pernah mengecewakan. Sejak sekolah dasar, dia selalu membawa trofi juara. Sekarang, dia memilih pasangan yang juga sepadan. Saya benar-benar tenang melepasnya.”
Widya mengangguk setuju, lalu melirik Valerie yang sejak tadi hanya diam memainkan potongan dagingnya. “Makanya, Valerie. Kamu harus banyak belajar dari Victoria. Jangan cuma main-main dan pacaran terus. Ibu dengar kamu pacaran dengan kakak tingkat atau siapa itu?”
“Dia bukan kakak tingkat, Ma. Dia Kak Dean, pengusaha dan CEO muda. Sahabatnya Tiara,” koreksi Valerie, mencoba membela martabat hubungannya dengan Dean yang selama ini dia perjuangkan setengah mati.
“CEO muda?” Widya mencibir halus, menyeduh air putihnya. “Zaman sekarang banyak anak muda yang menyebut diri mereka CEO padahal perusahaannya baru merintis atau belum stabil. Jangan terlalu naif, Valerie. Victoria dulu berpacaran dengan Adrian setelah memastikan masa depan mereka sama-sama mapan dan jelas kualitas keluarganya. Kamu itu masih kecil, impulsif, jangan sampai salah pilih laki-laki yang hanya memanfaatkan kepolosanmu.”
“Kak Dean tidak seperti itu, Ma! Perusahaannya sudah mandiri dan mapan!” suara Valerie agak meninggi, membuat atmosfer meja makan mendadak canggung.
“Valerie, jaga sopan santunmu di depan meja makan dan di depan calon kakak iparmu,” tegur Haryo dengan suara berat yang sarat akan otoritas mutlak. “Ibumu bicara seperti itu karena berkaca dari sikapmu yang selalu ceroboh dan kekanakan. Kamu tidak seperti kakakmu yang selalu berpikir panjang sebelum bertindak.”
Kata-kata ayahnya bagai palu godam yang menghantam sisa-sisa pertahanan mental Valerie malam itu. Selalu tidak seperti kakakmu. Kalimat keramat yang sudah dia dengar sejak dia bisa mengingat kata-kata. Di mata mereka, Valerie hanyalah produk gagal yang berisik, tidak berprestasi, dan selalu berada di bawah bayang-bayang keagungan Victoria.
Setelah makan malam selesai dan tamu mereka pulang, Valerie segera berpamitan untuk kembali ke huniannya. Dia tidak tahan lagi berlama-lama di dalam rumah yang oksigennya terasa mengekik lehernya.
Malam itu, di dalam taksi yang membawanya kembali ke gedung apartemennya di dekat kawasan kampus, air mata Valerie akhirnya tumpah tanpa bisa dibendung lagi. Dia menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa kesepian yang teramat sangat kembali merayap, mencengkeram dadanya hingga terasa sesak.
Di dunia ini, apakah benar-benar tidak ada satu pun tempat di mana dia bisa dicintai apa adanya? Di rumah, dia dituntut menjadi seperti Victoria agar dianggap ada. Di samping Dean, dia harus menahan diri agar tidak dianggap mengganggu logika dan pekerjaan pria itu.
Dengan tangan bergetar karena emosi yang tidak stabil, Valerie membuka ponselnya tepat saat taksi memasuki lobi apartemen. Dia sangat membutuhkan suara Dean saat ini. Dia hanya ingin mendengar pria itu mengatakan bahwa dia berharga, atau setidaknya mendengar kata-kata penenang yang bisa mengusir rasa sakit hatinya sebelum dia melangkah masuk ke unit kamarnya yang sepi.
Dia menekan tombol panggil ke nomor Dean. Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua baru dihubungkan pada dering kelima, tepat saat Valerie melangkah keluar dari lift di lantai kamarnya.
“Ya, Valerie? Ada apa? Saya sedang meninjau dokumen audit di ruang kerja,” suara Dean terdengar dari seberang sana, latar belakangnya begitu sunyi, menandakan pria itu sedang dalam fokus penuhnya.
“Kak Dean...” bisik Valerie, menghentikan langkahnya di koridor apartemen yang sepi. Suaranya bergetar hebat menahan tangis yang hampir pecah lagi. “Kakak... bisa bicara sebentar?”
Dean terdiam sejenak di seberang sana, tampaknya menyadari ada yang aneh dengan nada suara kekasihnya. Namun, logikanya yang kaku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. “Kamu menangis? Ada masalah apa? Apa ini tentang tugas kuliahmu lagi?”
“Bukan, Kak. Ini tentang keluargaku... aku baru pulang dari rumah dan—”
“Valerie,” potong Dean dengan nada suara yang tenang namun tegas, khas seorang penasihat rasional. “Masalah keluarga adalah hal domestik yang harus diselesaikan dengan kepala dingin di antara kalian sendiri. Menangis malam-malam seperti ini tidak akan mengubah penilaian orang tuamu. Selesaikan masalahmu dengan komunikasi yang logis dengan mereka, bukan dengan emosi yang meledak-ledak. Saya sedang memimpin persiapan audit penting untuk besok pagi, fokus saya tidak bisa terbagi malam ini. Tidurlah, kita bicarakan ini besok kalau kamu sudah lebih tenang.”
Klik. Panggilan diputus.
Valerie menurunkan ponsel dari telinganya dengan tatapan kosong. Air matanya berhenti menetes, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia menatap pintu unit apartemennya sendiri, lalu menoleh menatap pintu unit apartemen kosong yang tepat berada di depan kamarnya. Lorong gedung bertingkat itu terasa begitu sunyi, sepi, dan asing.
Kalimat Dean malam ini bukanlah kalimat seorang kekasih yang protektif, melainkan sebuah analisis dingin dari seorang konsultan yang menganggap emosinya sebagai gangguan efisiensi kerja.
Valerie membuka pintu apartemennya, menguncinya rapat-rapat, lalu merosot di balik pintu dalam kegelapan ruang tengahnya yang sunyi. Retakan kecil di hatinya yang terbentuk di restoran glasshouse tempo hari, kini telah melebar menjadi sebuah celah yang menganga lebar. Dia merasa benar-benar sendirian di dunia ini.
Dan tanpa diketahui oleh Valerie maupun Dean, di sudut kantor perusahaan Dean esok hari, seorang wanita bernama Dania sudah bersiap melangkah masuk sebagai sekretaris baru—membawa badai manipulasi yang akan memanfaatkan setiap celah retakan di hati Valerie hingga hubungan mereka hancur berkeping-keping.