NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:245.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Rumah yang Pernah Menghinaku

Belvina berdecak pelan.

“Lihat?” katanya ringan.

“Itu sebabnya aku malas berdebat denganmu.”

Ia menyalakan game lagi.

Dalam hidupnya, baru kali ini Alden merasa dikalahkan… oleh seseorang yang bahkan tidak sedang berusaha melawannya.

Mobil melaju stabil di tengah malam.

Belvina kembali fokus ke layar ponselnya. Jempolnya bergerak cepat.

“Ah, hampir mati—”

“Apa itu lebih penting dariku?”

Kalimat Alden keluar tanpa emosi. Namun cukup membuat sopir menahan napas.

Belvina berhenti sesaat. Lalu perlahan menoleh.

“Maaf?”

Mata Alden jatuh pada layar ponsel itu.

“Sejak keluar dari ballroom, kau bahkan tidak benar-benar melihatku.”

Belvina menatapnya dua detik.

Lalu tertawa kecil.

“Oh…”

Ia mematikan game. Sengaja. Menaruh ponselnya di paha.

“Jadi tadi kau cemburu pada Daniel.”

Ia menghitung dengan jari.

“Sekarang… cemburu pada game?”

Belvina memerhatikannya seolah baru menemukan hal lucu.

“Astaga.”

Sopir di depan melirik kaca spion sekilas. Cepat-cepat menunduk lagi.

Wajah Alden tidak berubah. Namun garis rahangnya mengeras jelas.

Belvina menyandarkan kepala ke kursi.

“Dulu aku cemburu,” katanya santai. “Dan kau tak peduli.” Ia melihat ke luar jendela. “Sekarang malah kau yang seperti ini.”

Kali ini sudut bibirnya terangkat tipis.

“Jujur saja… aku berharap kau bersikap seperti dulu.”

Sorot Alden berubah tipis.

“Tidak peduli perasaanku,” lanjut Belvina. “Tidak peduli apa pun tentangku.”

Ia mengangkat bahu kecil.

“Asal aku tidak membuatmu malu.”

“Kalau aku mulai peduli sekarang… kau mau apa?” tanya Alden, suaranya terkendali.

"Kau--" Belvina menunjuk Alden, tak langsung melanjutkan kata-katanya. Jelas, kesal pada pria itu. "Menyebalkan," lanjutannya akhirnya.

“Kalau begitu…" sahut Alden dengan suara rendah. "...biasakan. Karena aku tidak akan kembali seperti dulu.”

Sopir menelan ludah pelan.

"Nyonya benar-benar berubah."

Alden mengamati Belvina lama. Lalu perlahan tangannya bergerak. Ia mengambil ponsel di tangan Belvina.

“Hey—”

Klik.

Game ditutup. Ponsel dimatikan.

Belvina membelalak.

“Alden!”

Pria itu meletakkan ponsel di sampingnya, seolah tak melakukan apa pun.

“Bagus. Sekarang tidak ada yang mengalihkan perhatianmu.”

Sesuatu bergeser di wajah Belvina.

“Kau serius cemburu pada game?”

Alden mendekat sedikit. Tidak banyak, tapi cukup terasa.

“Aku tidak cemburu.” Nada suaranya rendah. “Aku hanya tidak suka diabaikan.”

“Sekarang.." Belvina menyandarkan punggungnya sebelum melanjutkan, "..kau tahu rasanya.” Ucapannya santai, terlalu santai untuk situasi itu.

Otak Alden terasa kosong, ia tidak bisa langsung membalas.

Dan itu lebih memalukan daripada kalah debat.

Alden mengalihkan pandangannya ke depan beberapa detik sebelum bicara lagi.

“Besok kita menginap di rumah orang tuaku.”

Belvina yang semula hendak menyalakan ponselnya kembali berhenti.

Ingatan asing bergerak pelan di kepalanya.

Rumah besar. Ibu Alden yang lembut. Ayahnya yang jarang bicara tapi tidak pernah kasar.

Lalu dua wajah lain muncul.

Adik perempuan Alden dengan senyum manis yang tajam. Adik laki-lakinya yang bahkan tak repot menyembunyikan rasa meremehkan.

Mereka selalu memandang Belvina seolah ia tamu tak diundang yang terlalu lama tinggal.

Belvina mengembuskan napas pendek.

“Harus?”

“Ibu memintanya.”

“Itu alasanmu datang… atau alasanmu memerintahku?”

Alden tidak terpancing.

“Kau tetap ikut.”

Belvina memejamkan mata sejenak, memilah ingatan yang datang bertahap.

Belvina lama akan gugup. Berusaha menyenangkan semua orang. Berakhir dipermalukan.

Namun itu dulu. Kini ada garis kecil di bibirnya

“Baik.”

Jawaban itu terlalu mudah.

Alden menaikkan alisnya sedikit.

“Kau yakin?”

Belvina menyilangkan kakinya.

“Kenapa tidak?” Ia memiringkan kepala. "Kali ini, biar mereka mengenalku ulang.”

Mobil mendadak terasa lebih sempit.

Alden mengunci wajahnya beberapa saat. Lalu, untuk alasan yang bahkan ia tidak suka akui, ia justru menunggu besok datang lebih cepat.

***

Keesokan harinya --

Mobil berhenti di pelataran rumah utama keluarga Alden tepat saat pagi mulai naik.

Bangunan itu berdiri megah dengan halaman luas dan jajaran pohon yang dipangkas rapi. Semua tampak tertata dan berkelas.

Kali ini Belvina turun lebih dulu. Ia mengamati rumah itu.

Ingatan dari pemilik tubuh asli bergerak, sedikit demi sedikit.

Datang ke sini dengan gugup.

Berusaha tersenyum dan diterima. Berakhir pulang dengan hati lebih berat.

“Masuk.”

Suara Alden terdengar dari belakang. Belvina melangkah tanpa menjawab.

Pintu utama terbuka sebelum mereka sempat mengetuk.

Seorang wanita paruh baya berdiri di sana. Wajahnya lembut, elegan, dengan mata yang langsung menghangat saat melihat mereka.

“Belvina.”

Ibunda Alden maju lebih dulu dan menggenggam tangannya.

“Kamu kurusan.”

Belvina sedikit terdiam. Sambutan ini terasa tulus., tidak dibuat-buat.

“Timbangan masih sama kok, Bun.”

Wanita itu tersenyum lega, lalu menoleh pada Alden.

“Kamu akhirnya bisa membawa istrimu pulang juga.”

Nada kalimat itu halus. Tapi cukup untuk menyiratkan siapa yang lebih sering menolak datang.

Alden hanya melepas jas tipisnya.

“Ayah di dalam?”

“Di ruang makan.”

-

Sarapan sudah tertata ketika mereka masuk.

Tuan rumah duduk di ujung meja sambil membaca berita di tablet. Pria berwajah tegas dengan aura tenang yang membuat ruangan terasa lebih tertib.

Ia menurunkan tabletnya saat Belvina datang.

“Duduk.”

Satu kata dengan nada terukur, tapi bukan penolakan.

Belvina mengangguk kecil. Tapi baru saja ia hendak menarik kursi—

“Wah. Tamu penting datang.”

Suara perempuan muda terdengar dari sisi tangga.

Seorang gadis turun dengan pakaian rumah mahal dan senyum manis yang terlalu rapi. Adik perempuan Alden. Alena.

Matanya menyapu Belvina dari kepala sampai kaki.

“Kak Belvina… aku hampir tidak mengenalimu.” Nada itu terdengar ringan. Namun maknanya jelas.

Belvina memutar wajah perlahan. Membalas senyum yang sama halusnya.

“Bagus. Berarti penglihatanmu berhasil diperbaiki.”

Langkah Alena terhenti sepersekian detik. Di belakangnya, seorang pria muda ikut turun sambil memainkan kunci mobil.

Adik laki-laki Alden. Arsen. Ia mendecak kecil.

“Masih pintar bicara, ternyata.”

Belvina menarik kursinya lalu duduk dengan tenang.

“Daripada pintar meremehkan tanpa prestasi.”

Kunci di tangan Arsen berhenti. Ibunda Alden menahan napas pendek.

Alden yang sedang menuang kopi tidak mengangkat kepala. Namun sudut bibirnya bergerak samar.

-

Sarapan dimulai.

Alena duduk berseberangan dengan Belvina.

“Jadi…” katanya sambil mengoles roti. “Kakak sekarang sibuk apa? Masih fokus dandan dan belanja?”

Pertanyaan itu dibungkus manis. Justru karena itu, lebih tajam.

Belvina memotong roti di piringnya tenang.

“Sekarang aku sedang belajar memilah.”

“Memilah apa?”

“Mana orang kaya yang berkelas… dan mana yang cuma mahal.”

Tuan rumah menurunkan cangkir tehnya perlahan.

Ibunda Alden menunduk, menyembunyikan senyum.

Arsen tersedak air minumnya sendiri.

Alena tertawa kecil, sedikit kaku. “Kakak berubah sekali.”

Belvina mengangkat pandangan. “Kalian tidak.”

“Cukup.” Alden akhirnya bicara.

Suaranya rendah, tidak keras, tapi langsung menghentikan meja makan.

Alena mengerucutkan bibirnya. “Aku cuma bercanda.”

“Kalau lucu," sahut Alden, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah. "...orang lain pasti tertawa."

Alena membeku. Ini kali pertamanya Alden mempermalukannya… demi Belvina.

-

...✨"Yang paling terlambat membela, sering kali yang paling keras menjaga."✨...

.

To be continued

1
anonim
Alden bersama sopir meluncur ke kota di mana Belvina berada.

Belvina ketangkap kau. Kembali dalam pelukan Alden.

Wow...pagi hari bangun tidur Belvina sudah main bogeman dengan sasaran suaminya wkwkwk
anonim
Belvina Dina sudah tidak gadis lagi. Tetap ingin bercerai dari Alden.

Belvina melarikan diri tanpa membawa ponsel. Jadi ketahuan Alden - nama kontak "Es Balok" untuk Alden 😄.

CCTV memperlihatkan bagaimana Belvina memulai aksi kaburnya.

Saatnya mencari Belvina. Alden memerintahkan seseorang mencari Belvina.

Secepat itu orang suruhan Alden menemukan Belvina. Sudah berada di luar kota. Sudah diketemukan alamat hotel dimana Belvina menginap.
abimasta
terimakasih thor,sukses di karya2 selanjutnya
Sulati Cus
menarik
Kyky ANi
aduh tuan Raymond ini manas manasin aza deh,,,
Kyky ANi
bahaya nih,,Serap,, udah mulai rencana jahat,,
Kyky ANi
Alden sudah tidak percaya lagi sama kamu Seraphina,,
Kyky ANi
Alden menganggu aza sih kamu,
Kyky ANi
Seraphina punya rencana jahat nih ke Belvina,, semoga Belvina selamat dari rencana jahat siSerap,,,
Liana Simon
Ceritanya menarik Thor
Bela Viona
ada beberapa kisah hidup yg tidak pantas mendapatkan kesempatan ke2.dan ada juga yg pantas di berikan kesempatan ke 2. itu semua tergantung dgn usaha dan pembuktian. tidak mudah mendapat kn maaf dan pengampunan, selama org itu tetap sabar dan berusaha keras serta berusaha memperbaiki serta tdk mengulangi hal yg sama. maka kesempatan itu pasti ada.
Bela Viona
posisi HB yg baik untuk ibu hamil itu miring & wanita di atas 😁.
klo perempuan di bawah yg ad sesak, dan terlalu terguncang buat kandungan 😁
Bela Viona
jgn salah kn hormon ibu hamil 😁, aku hamil anak ke 2 juga gtu, asli kandungan ku usia 1-4 bln. aku benci bgt lht suami.
di sentuh tangan aj gak suka. smpe suami frustasi di kira udh gak cinta.
usia kehamilan 5 bln malah aku nempel trs sama suami. tiap mlm mau ny HB trs. smpe suami kewalahan 🤣. horman ibu hamil itu unik² dan bukan di sengaja ya.
Kadek Sri
akhirnya tamat juga
Bela Viona
makan tuh 🤣
Anitha
Akhirnya kisah Belvina dan Alden happy ending...

terimakasih juga kak Nana....
Anitha
selama nikah bertahun² Alden hanya dua kali merasakan surga dunia bersama Belvina🤣
Yunita Sophi
bintang lima untuk penyemangat mu thor..
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Yunita Sophi
makasih jg thor... salam sehat penuh semangat dan sukses slalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama, Kak.🤗🙏🙏
total 1 replies
Oma Gavin
akhirnya happy ending untuk belvina dan alden
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!