Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Tiga Ratus Detik Menuju Kehancuran
Tawa merendahkan Zhao Tian meledak, menggema ke seluruh penjuru ruang tamu beralas karpet Persia tersebut. Ia memegangi perutnya seolah baru saja mendengar lelucon terbaik abad ini. Di sampingnya, Nyonya Wang ikut tertawa sumbang sambil menatap Lin Fan dengan tatapan penuh kebencian.
"Bangkrut dalam lima menit?" cibir Zhao Tian seraya menyeka ujung matanya yang berair karena tertawa terlalu keras. "Lin Fan, kau pasti sudah gila karena terlalu lama menjadi babu. Kau pikir kau ini siapa? Dewa Kekayaan? Presdir Bank Sentral? Grup Zhao memiliki aset triliunan Yuan! Bahkan badai krisis ekonomi global pun tidak bisa menyentuh sehelai rambut keluarga kami!"
Nyonya Wang menunjuk wajah Lin Fan dengan jari gemetar menahan amarah. "Dasar gembel pemimpi! Beraninya kau melantur di depan Tuan Muda Zhao! Yuhan, kau lihat sendiri kan kelakuan suamimu? Dia benar-benar sudah kehilangan akal!"
Su Yuhan tidak ikut tertawa maupun menghina. Matanya yang indah menatap punggung Lin Fan yang berdiri tegak. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, bahu pria itu tidak membungkuk. Ada aura dominasi absolut yang memancar dari suaminya, sesuatu yang membuat jantung Yuhan berdebar tanpa alasan yang jelas.
Lin Fan tetap diam. Ia hanya melirik jam dinding antik yang berdetak memecah kesunyian jeda. "Waktumu tersisa dua ratus detik."
Tepat ketika Zhao Tian hendak maju untuk melayangkan tamparan ke wajah Lin Fan, ponsel di saku jas mahalnya bergetar hebat. Nada dering eksklusif bernada tinggi itu tiba-tiba terdengar seperti alarm kematian.
Melihat nama "Ayah (Presdir Zhao)" berkedip di layar, Zhao Tian tersenyum angkuh pada Lin Fan.
"Lihat ini, sampah. Ayahku pasti menelepon untuk memastikan dana investasi 50 juta Yuan itu sudah ditransfer. Bersiaplah mengemas barang-barang rongsokanmu," ucap Zhao Tian bangga sebelum menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Ayah? Aku sedang berada di rumah Keluarga Su untuk—"
"Dasar anak sialan! Bencana apa yang baru saja kau datangkan pada keluarga kita?!"
Suara lengkingan penuh kepanikan dan keputusasaan dari seberang telepon begitu keras hingga bocor ke luar speaker. Zhao Tian tersentak mundur, wajahnya yang tadi sombong perlahan membeku.
"Ayah... ada apa? Bencana apa maksudmu?" suara Zhao Tian mulai bergetar.
"Habis! Semuanya habis! Seseorang di ibu kota baru saja menjatuhkan hukuman mati pada Grup Zhao! Kita hancur dalam sekejap mata!"
Runtuhnya Kekaisaran Zhao
Melalui sambungan telepon yang tidak dimatikan itu, Nyonya Wang dan Su Yuhan bisa mendengar dengan jelas laporan kehancuran yang diteriakkan oleh ayah Zhao Tian dengan napas terengah-engah:
Saham Terjun Bebas: Serangan short-selling masif dari belasan lembaga keuangan anonim telah menghancurkan nilai saham Grup Zhao hingga menyentuh batas bawah (ARB) hanya dalam hitungan detik.
Pembekuan Aset Total: Empat bank terbesar secara sepihak membatalkan seluruh jalur kredit dan membekukan rekening perusahaan karena "pelanggaran risiko sistemik tingkat tinggi".
Pemutusan Rantai Pasokan: Seluruh mitra bisnis, dari pemasok material hingga distributor ritel, membatalkan kontrak mereka serentak seolah Grup Zhao adalah wabah penyakit menular.
Penyegelan Pemerintah: Tim kejaksaan dan lembaga anti-korupsi baru saja menerobos masuk ke kantor pusat untuk menyita seluruh dokumen terkait penggelapan pajak.
"Kita punya utang dua ratus miliar Yuan yang jatuh tempo besok pagi, dan saldo bank kita sekarang adalah nol! Kau anak haram, siapa yang kau singgung di luar sana?! Kau telah membunuh seluruh keluarga kita!" Telepon terputus, menyisakan nada tut panjang yang terdengar seperti suara monitor detak jantung yang mendatar.
Ponsel berlapis emas itu terlepas dari genggaman Zhao Tian, jatuh menghantam lantai marmer hingga layarnya retak. Kaki pria arogan itu tiba-tiba kehilangan tulang. Ia jatuh berlutut dengan suara berdebum keras. Wajahnya pucat pasi tanpa setetes darah pun, keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahinya.
Ia perlahan mendongak, menatap pria berpakaian usang yang berdiri dengan tenang di hadapannya.
"Kau..." Bibir Zhao Tian bergetar hebat. Matanya memancarkan horor yang absolut, seolah ia baru saja melihat malaikat maut mencabut nyawa keluarganya secara langsung. "S-siapa kau sebenarnya...?"
Lin Fan menatapnya dengan tatapan kosong yang membekukan tulang. "Aku sudah memperingatkanmu. Lima juta Yuan milikmu bahkan tidak cukup untuk membeli senyum istriku."
Sadar bahwa ia berhadapan dengan eksistensi monster yang bisa menghancurkan triliunan aset hanya dengan satu pesan singkat, kewarasan Zhao Tian hancur lebur. Sambil menjerit ketakutan, ia merangkak mundur, bangkit dengan susah payah, dan lari terbirit-birit keluar dari pintu utama tanpa menoleh ke belakang, meninggalkan mobil Ferrarinya yang menyala di halaman.
Di ruang tamu, keheningan mematikan turun menyelimuti. Nyonya Wang berdiri mematung dengan rahang menganga lebur, sementara Su Yuhan menatap suaminya dengan mata terbelalak, napasnya tertahan oleh keterkejutan yang luar biasa.