Semua orang bilang Laras sial.
Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.
Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…
*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Siapa Sangka
Beberapa hari setelah pulang dari Tegalsari, Arya mengajakku pergi ke kota.
Aku baru selesai menjemur pakaian Sasa ketika dia meletakkan kunci mobil di meja makan.
“Siap-siap,” katanya.
“Mau ke mana?”
“Beli pakaian.”
Aku melihat bajuku sendiri. Blus krem yang kupakai memang sudah lama, tetapi masih bersih dan utuh. “Baju anak-anak?”
“Bajumu.”
“Aku masih punya.”
“Dua koper itu lebih banyak buku daripada pakaian.”
Rupanya dia memperhatikan isi barang bawaanku saat datang. Aku hendak membantah, tetapi Bayu sudah bersorak dari depan televisi.
“Ayah mau membelikan Bunda baju cantik!”
Raka menyikut adiknya. “Belum akad. Jangan panggil sembarangan.”
Bayu menutup mulut, lalu berbisik dengan volume yang bisa terdengar sampai halaman, “Nanti juga jadi Bunda.”
Arya pura-pura tidak mendengar. Dia menyerahkan Sasa kepada Bu Sumi yang baru datang, mengingatkan Raka dan Bayu agar tidak keluar halaman tetangga, lalu menungguku di mobil.
Perjalanan ke kota memakan waktu hampir satu jam. Aku mengira dia akan membawaku ke pasar atau toko pakaian di deretan ruko. Namun mobil berhenti di pusat perbelanjaan terbesar di kabupaten.
“Mas Arya, untuk apa ke sini?”
“Beli pakaian.”
“Di pasar juga ada.”
“Kita sudah sampai.”
Begitulah caranya mengakhiri perdebatan.
Kami memasuki mal dengan penampilan yang nyaris terlalu sederhana. Arya mengenakan kemeja abu-abu polos, celana hitam, dan sepatu kulit lama. Aku memakai blus krem, rok panjang, dan tas kain buatan Bu Minah. Beberapa orang melirik karena sepatu Arya masih membawa sedikit debu merah dari halaman peternakan.
Dia sama sekali tidak peduli.
Di lantai dua, dia berhenti di depan sebuah butik dengan dinding kaca dan pencahayaan lembut. Gaun-gaun di manekin tampak lebih mahal daripada seluruh isi koperku.
“Masuk,” katanya.
“Aku bisa melihat harganya dari sini.”
“Memangnya kenapa?”
“Harga satu blusnya cukup untuk belanja dapur sebulan.”
“Dapur tidak akan berhenti belanja hanya karena kamu punya blus baru.”
Aku menatapnya. “Kalimat itu terdengar sangat menyebalkan.”
“Tapi benar.”
Sebelum aku sempat menariknya pergi, dia sudah membuka pintu kaca.
Seorang pramuniaga berdiri di dekat meja kasir. Matanya turun dari wajah kami ke pakaian dan sepatu, lalu berhenti pada tas kain di pundakku. Senyumnya muncul terlambat dan tidak mencapai mata.
“Ada yang bisa dibantu?” tanyanya.
“Cari pakaian untuk dia,” jawab Arya.
“Untuk acara apa?”
“Sehari-hari. Beberapa untuk acara resmi.”
Pramuniaga itu mengambil satu blus dari rak paling dekat, tetapi belum menyerahkannya. “Kalau sehari-hari, mungkin ada pilihan lain di lantai bawah. Harga di sini mulai dari satu juta lebih.”
“Kami bisa membaca label,” kataku.
Senyumnya menegang. “Saya hanya memberi informasi.”
Arya menunjuk sebuah gaun hijau tua yang potongannya sederhana. “Coba yang itu.”
Pramuniaga memandang gaun tersebut, lalu aku. “Ukuran dan model itu cukup khusus. Tidak semua orang cocok.”
“Ambilkan ukurannya,” kata Arya.
“Barang itu koleksi baru. Kalau terkena noda atau rusak saat dicoba, pembeli harus bertanggung jawab.”
Aku mulai mengerti. Dia bukan sedang menjelaskan aturan toko. Dia ingin kami merasa malu lalu pergi sendiri.
Dua pelanggan di sofa dekat kamar pas mulai memperhatikan. Salah satunya berbisik kepada temannya, tetapi tidak cukup pelan.
“Dari desa mungkin. Lihat sepatunya.”
Aku merasakan panas naik ke wajah, bukan karena miskin atau berasal dari desa. Yang membuatku marah adalah keyakinan orang-orang itu bahwa harga pakaian memberi mereka hak untuk menimbang martabat manusia.
Aku mendekati rak dan memeriksa jahitan gaun yang ditunjuk Arya. “Bagian bahu ini tidak rapi.”
Pramuniaga itu langsung menarik gantungan dari tanganku. “Tolong jangan dipegang kalau belum tentu beli.”
“Kalau tidak boleh dipegang, bagaimana orang memeriksa barang?”
“Pelanggan kami biasanya sudah tahu kualitas merek ini.”
“Pelanggan yang baik justru memeriksa barang sebelum membayar.”
Salah satu perempuan di sofa tertawa kecil. Pramuniaga itu menatapku makin dingin.
“Kalau Ibu merasa lebih tahu, silakan belanja sendiri,” katanya.
Dia membawa gaun hijau itu ke rak belakang, seolah sengaja menjauhkannya dariku. Kemudian dia kembali dengan satu tunik longgar berwarna kusam dan menaruhnya di meja.
“Ini stok musim lalu. Sedang potongan harga.”
Aku memeriksa labelnya. Ukurannya dua tingkat lebih besar dariku. “Kenapa memilihkan ini?”
“Modelnya aman untuk orang yang tidak biasa berpakaian resmi.”
“Aku belum mengatakan ukuran tubuhku.”
“Bisa diperkirakan.”
Arya mengambil tunik itu, melihatku, lalu mengembalikannya ke meja. “Dia tidak suka.”
“Kalau begitu mungkin memang tidak ada yang cocok.”
Seorang pegawai muda yang sedang menyusun kotak sepatu tampak ingin mendekat. Pramuniaga itu memberinya tatapan tajam hingga gadis itu kembali menunduk.
Aku menunjuk tiga potong lain yang warnanya kusukai. “Boleh saya coba ini?”
“Kamar pas sedang penuh.”
Aku melirik ke arah tirai. Ketiga kamar terbuka dan lampunya mati.
“Tidak ada orang di sana.”
“Baru dibersihkan.”
“Lantainya kering.”
Dia menyilangkan tangan. “Ibu mau belanja atau menginterogasi saya?”
Suara kami menarik perhatian orang di luar butik. Dua remaja berhenti di depan kaca. Seorang ibu yang baru masuk bersama putrinya memandang pramuniaga itu, kemudian pelan-pelan mundur lagi.
“Kami datang untuk belanja,” jawabku. “Sejak masuk, kamu belum sekalipun bertanya ukuran, warna yang kusukai, atau kebutuhan kami. Kamu hanya sibuk memastikan kami tahu harganya.”
“Karena saya sudah sering menghadapi orang yang datang hanya untuk foto-foto.”
“Apa aku memotret?”
“Belum tentu tidak nanti.”
Aku mengembuskan napas. Bekerja menghadapi pelanggan memang melelahkan, tetapi kelelahan tidak otomatis memberi izin untuk merendahkan orang.
Arya berdiri di sampingku. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, tetapi tangannya masuk ke saku celana. Aku sudah mengenal gerakan itu. Dia selalu melakukannya ketika sedang menahan diri agar tidak memotong pembicaraan terlalu cepat.
“Panggil atasanmu,” katanya.
“Manajer kami sedang sibuk.”
“Panggil.”
“Pak, saya sudah bilang harga koleksi kami cukup tinggi. Kalau Bapak ingin mencari diskon, ada gerai lain di ujung lantai.”
“Aku tidak bertanya tentang diskon.”
Pramuniaga itu mendesah dan melihat jam tangan. “Saya juga tidak bisa meninggalkan kasir hanya untuk melayani orang yang belum jelas akan membeli.”
“Kalau begitu kami pergi,” kataku kepada Arya. “Aku tidak mau uangmu masuk ke toko yang memperlakukan orang seperti ini.”
Dia menoleh. “Kamu suka pakaiannya?”
“Tidak setelah melihat pelayanannya.”
“Baik.”
Arya mengeluarkan telepon, membuka satu nama, lalu melakukan panggilan singkat.
“Aku di gerai lantai dua,” katanya. “Datang.”
Hanya itu. Dia menutup telepon tanpa memperkenalkan diri.
Pramuniaga di depan kami terkekeh. “Mau memanggil teman supaya terlihat ramai?”
Salah satu pelanggan di sofa menutup mulut, tetapi tawanya tetap terdengar. Temannya mengangkat ponsel, mungkin hendak merekam. Aku menatap lurus ke arah mereka sampai ponsel itu turun.
“Kalau mau menonton, setidaknya jangan merekam wajah orang tanpa izin,” kataku.
Perempuan itu salah tingkah dan memasukkan ponselnya ke tas. Pramuniaga justru mendecakkan lidah, seolah keberanianku menetapkan batas adalah bukti bahwa aku tidak tahu tempat.
Aku benar-benar ingin pergi, tetapi Arya berdiri tanpa bergeser. Ketenteramannya justru membuatku bertahan.
Beberapa menit kemudian, seorang pria berjas berjalan cepat dari lorong belakang. Di belakangnya menyusul seorang perempuan berkerudung dengan kartu identitas pengelola mal. Langkah mereka begitu terburu-buru hingga pria itu hampir menabrak manekin.
Pramuniaga tadi mengerutkan dahi. “Pak Reza?”
Pria itu tidak menjawab. Matanya langsung mencari, lalu berhenti pada Arya.
Wajahnya berubah.
“Pak Arya,” sapanya sambil menjabat tangan Arya dengan kedua tangan. “Kenapa tidak memberi kabar sejak tadi? Saya sedang memeriksa gudang.”
Perempuan di belakangnya ikut menundukkan kepala. “Selamat siang, Pak. Pengiriman daging untuk jaringan restoran kami sudah masuk pagi ini. Kami justru berencana menghubungi kantor Bapak soal cabang baru.”
Aku memandang Arya.
Dia hanya berkata, “Aku datang sebagai pelanggan.”
Pak Reza melihatku, lalu wajah pramuniaga yang mulai kehilangan warna. “Tentu. Ibu ini?”
“Calon istriku.”
Nada Arya tetap datar, tetapi kedua pelanggan di sofa langsung berhenti berbisik.
Pak Reza menyambutku dengan sangat sopan. Dari percakapan singkat mereka, aku baru mengerti bahwa perusahaan Arya memasok daging premium untuk sejumlah restoran dan supermarket di beberapa kota. Dia juga menjadi salah satu pelanggan korporat terbesar di jaringan mal itu karena pembelian peralatan peternakan dan kebutuhan usaha.
Lelaki yang sehari-hari pulang dengan bau jerami ternyata memegang kontrak yang nilainya bahkan sulit kubayangkan.
Pak Reza berbalik kepada pramuniaga. “Apa yang terjadi?”
“Tidak ada, Pak. Saya hanya menjelaskan harga.”
“Kamu bilang kami sebaiknya mencari diskon di gerai lain,” kataku. “Kamu juga melarangku menyentuh barang karena menganggap kami tidak mampu mengganti kalau rusak.”
“Saya tidak bermaksud begitu.”
“Kalimatmu cukup jelas,” ujar Arya.
Pak Reza menarik napas panjang. “Mbak, silakan ke ruang staf. Sekarang.”
Namun pramuniaga itu belum bergerak. Mungkin karena malu dilihat pelanggan, atau karena masih berharap bisa membalikkan keadaan. Dia menatap tas kainku sekali lagi dan berusaha tersenyum.
“Maaf kalau Ibu tersinggung. Saya cuma menjaga koleksi. Soalnya orang dari kampung kadang suka pegang-pegang tanpa tahu harganya. Kalau rusak, nanti tidak sanggup mengganti.”
Suasana butik mendadak beku.
Pak Reza sampai memejamkan mata, seolah tidak percaya pegawainya masih menggali lubang sendiri.
Pramuniaga itu mengangkat dagu dan menambahkan, “Jadi kalau memang tidak mampu, jangan asal menyentuh.”
Belum sempat senyum meremehkannya terbentuk sempurna, manajer itu buru-buru maju dan membungkuk kepada Arya.
“Pak Arya, Bapak datang sendiri? Silakan masuk ke ruang tamu khusus.”
Senyum pramuniaga itu membeku di wajahnya.