Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.
**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.
Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:
*"Om… aku mencintaimu."*
*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*
Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?
Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.
Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Sahabat Om
Hampir satu bulan setelah Reno dikeluarkan, hari-hariku akhirnya terasa biasa.
Aku kembali mengikuti pelajaran, datang ke konseling setiap Selasa, dan berlatih di padepokan dua kali seminggu. Beberapa teman mulai duduk bersamaku lagi. Mira tidak memaksaku memaafkan, tetapi selalu menyisakan kursi di kantin.
Pada suatu Minggu siang, bel Puri Cendana berbunyi ketika Om Bram masih bekerja di ruang baca.
Mbok Nah sedang di dapur, jadi aku membuka pintu.
Seorang pria berkemeja polo berdiri sambil membawa dua kotak buah. Rambutnya mulai beruban di pelipis, tetapi senyumnya lebar dan santai.
“Bram ada?”
“Ada. Silakan masuk, Om.”
Dia menyerahkan kotak kepadaku, lalu memandang ke dalam rumah seolah memastikan alamatnya benar.
“Kamu siapa?”
“Sekar.”
“Sekar siapa?”
“Sekar saja.” Aku menoleh ke ruang baca. “Om Bram, ada tamu!”
Pria itu membeku. “Kamu panggil dia Om?”
Om Bram keluar sambil melepas kacamata baca. “Gun? Kenapa tidak menelepon dulu?”
“Kalau menelepon, bukan kejutan.” Gunawan menunjukku dengan dagu. “Justru gue yang dapat kejutan. Lo pelihara anak gadis di rumah, hah?”
Wajahku panas. Kotak buah hampir terlepas dari tangan.
Ekspresi Om Bram langsung berubah. “Jaga ucapanmu.”
“Gue cuma tanya. Empat minggu nggak ketemu, sekarang ada gadis manggil lo Om dan buka pintu rumah.”
“Dia enam belas tahun.” Suara Om Bram datar dan tegas. “Sekar adalah anak yang sedang saya urus pengangkatan resminya.”
Gunawan menurunkan tangannya.
“Anak angkat?”
Om Bram mengambil kotak buah dariku. “Masuk. Jangan membuat Sekar berdiri di pintu karena leluconmu.”
Gunawan mengikuti kami ke ruang tamu. Setelah duduk, Om Bram menjelaskan secukupnya tentang malam aku melarikan diri, perkara Bang Jagur, dan proses pengadilan yang masih berjalan. Dia tidak menceritakan detail lukaku tanpa izin.
Wajah Gunawan kehilangan seluruh sisa candanya.
“Tantenya benar-benar menyerahkan dia untuk utang?”
“Iya.”
“Dan sekarang masih buron?”
“Masih.”
Gunawan menatapku. “Sekar, maaf. Om bicara sembarangan tadi.”
“Nggak apa-apa.”
“Nggak, tetap salah.” Dia mengangkat kedua tangan. “Mulai sekarang Om panggil kamu keponakan baru. Boleh?”
Aku melirik Om Bram. Dia tidak menjawab untukku.
“Boleh,” kataku.
“Bagus. Berarti kamu juga boleh memanggil saya Om Gun.”
Gunawan mengeluarkan ponsel. “Boleh Om simpan nomormu?”
Aku kembali melihat Om Bram, lalu berhenti sendiri. Nomor itu milikku. Aku tidak harus meminta izin untuk setiap keputusan kecil.
“Boleh.”
Kami bertukar nomor. Gunawan menyimpan namaku sebagai `Sekar, keponakan baru`, kemudian memperlihatkan layar agar aku tahu dia tidak berbohong.
“Kalau Bram sedang rapat dan kamu butuh orang dewasa lain, telepon saya.”
Om Bram duduk di sofa seberang. “Jangan ajari dia meneleponmu untuk hal tidak perlu.”
“Apa pun yang membuat anak menelepon bukan hal tidak perlu.”
Aku menatap Gunawan. Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang mungkin dikatakan Om Bram, hanya dibungkus nada lebih ringan.
“Proses pengadilannya sampai mana?” tanya Gunawan.
“Fikri sudah menyerahkan asesmen rumah, latar belakang, dan rekomendasi dinas sosial,” jawab Om Bram. “Masih ada kunjungan lanjutan.”
“Kalau butuh dukungan hukum tambahan dari kantor saya, bilang.”
“Tidak perlu. Tapi terima kasih.”
Gunawan tidak tersinggung oleh penolakan itu. “Saya tahu lo mampu. Saya menawarkan supaya lo ingat tidak harus mampu sendirian.”
Om Bram diam sejenak. “Saya ingat.”
Entah mengapa, melihat seseorang berani mengingatkan Om Bram membuat rumah terasa lebih aman. Selama ini dia selalu menjadi orang yang berdiri paling depan. Gunawan membuktikan bahwa jika suatu hari bahunya lelah, ada orang lain yang mengenalnya cukup lama untuk mengambil sebagian beban.
Mbok Nah datang membawa teh. “Akhirnya Om Gun datang juga. Den Bram akhir-akhir ini pulang malam terus.”
“Nah, itu alasan saya ke sini.” Gunawan mengambil cangkir. “Bram menghilang dari semua makan malam. Saya kira dia diam-diam menikah.”
“Gun.”
“Tenang, saya sudah tahu sekarang.” Dia menoleh kepadaku. “Om Bram memang dari dulu mukanya seperti orang menyimpan rahasia negara.”
Aku menahan senyum. Om Bram tampak menyesal membiarkannya masuk.
Saat makan siang, Gunawan sengaja duduk di sebelahku. Dia memindahkan sepiring perkedel lebih dekat, lalu bertanya tentang sekolah tanpa menyebut rumor.
“Pelajaran apa yang paling kamu suka?”
“Matematika.”
“Wah, cocok. Nanti kalau sudah besar masuk bagian keuangan Wijaya Group saja.”
Om Bram menyendok sup. “Dia baru kembali sekolah. Jangan merekrut anak saya di meja makan.”
Kata `anak saya` membuat sendokku berhenti.
Gunawan juga mendengarnya. Senyum tipis muncul di wajahnya, tetapi dia tidak menggoda.
“Baik, Pak Ayah,” katanya. “Adiwangsa Group duluan, ya?”
“Sekar bebas memilih.”
“Aku mau sekolah dulu,” kataku.
“Jawaban paling pintar di meja ini,” kata Gunawan.
Dia lalu mengambil perkedel terakhir, membelahnya dua, dan menaruh setengah di piringku tanpa bertanya apakah aku sanggup menghabiskan semuanya. Gerakan kecil itu berbeda dari orang yang menumpuk makanan di piringku karena kasihan.
“Om Gun sering datang ke sini?” tanyaku.
“Dulu hampir tiap minggu. Belakangan Pak Sibuk ini susah ditemui.”
“Kalau Om datang lagi, Mbok Nah biasanya masak rawon hari Minggu,” kataku.
Mbok Nah langsung menyahut, “Berarti Non Sekar sudah mengundang Om Gun datang lagi, to?”
Aku baru sadar ucapanku sendiri. Gunawan tertawa senang.
“Nah, Bram. Sekarang saya punya undangan resmi dari penghuni rumah yang lebih ramah.”
Mbok Nah tertawa dari dekat dapur. Bahkan Om Bram tampak hampir tersenyum.
Untuk pertama kali, makan bersama orang baru tidak membuatku menghitung kesalahan yang mungkin kulakukan. Gunawan berbicara terlalu banyak, tetapi dia tidak menuntutku menjelaskan penderitaan agar layak duduk di sana. Dia menceritakan kisah Om Bram salah masuk ruang rapat di Surabaya dan tetap memimpin rapat perusahaan lain selama sepuluh menit sebelum sadar.
“Itu tidak terjadi seperti itu,” bantah Om Bram.
“Persis seperti itu.”
“Saya hanya masuk untuk mengembalikan dokumen.”
“Lalu direktur mereka mencatat semua yang lo bilang.”
Aku tertawa sampai hampir tersedak air. Om Bram memberiku tisu, lalu menatap Gunawan seolah mempertimbangkan untuk mengusirnya.
Setelah makan, Gunawan melihat buku-buku pelajaranku di meja ruang tengah.
“Bram bilang kamu belajar keras.”
“Aku banyak ketinggalan.”
“Dulu Bram juga begitu. Bedanya, dia keras kepala dan nggak mau dibantu siapa pun.”
Om Bram mengangkat satu alis. “Kamu datang untuk makan atau membongkar riwayat hidup saya?”
“Dua-duanya.” Gunawan bersandar. “Dari dulu lo memang keras kepala. Sejak kejadian itu, lo malah makin merasa harus mengurus semuanya sendiri.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Kejadian apa?” tanyaku.
Gunawan melirik Om Bram. “Wah, saya salah bicara.”
“Kalau salah, berhenti,” kata Om Bram.
Gunawan segera mengalihkan pembicaraan dengan menawarkan buah yang dibawanya. Namun sepanjang sisa siang, satu pertanyaan tinggal di kepalaku.
Kejadian apa yang membuat Om Bram belajar menghadapi semuanya sendirian?