NovelToon NovelToon
Bima & Bopo Muda

Bima & Bopo Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:152.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.

Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.

Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.

Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Telur Asin

"Astaghfirullah! Gusti Allah nyuwun ngapuro! (Ya Allah, mohon ampun.)" Ucap Arsha saat melihat dua cucu laki - lakinya yang penuh dengan lumpur sambil mendorong mini motor cross.

Dua bocah laki - laki berusia empat dan tiga tahun itu, tampak cengar - cengir saat melihat Kung - Kungnya berdiri sambil berkacak pinggang.

Bahuraska Adiwangsa (Aka) adalah putra kandung dari Arjuna yang berusia empat tahun. Sementara, Bimantara Aswangga (Bima) adalah anak dari saudara sepupu Arjuna, yang sejak bayi sudah di asuh oleh Arjuna dan istrinya, Meshwa.

"Kok Kung - Kung di sini?" Tanya Aka sambil cengar - cengir.

"Iya, Kung - Kung abis nyusul Nty Ncim sekolah." Jawab Arsha.

"Kalian berdua dari mana panas ngetang - ngetang (Panas sekali) gini? Mbun nyariin dari tadi." Ujar Arsha.

"Main motor di pematang sawah." Jawab Bima.

"Sawah mana?" Tanya Arsha.

"Sawahnya Opa, Kung." Jawab Aka.

"Kok geluprut lendut ngeneki? (Kok penuh lumpur kayak gitu?)" Tanya Arsha.

"Tadi kecemplung sawah waktu ngajarin dek Bima, Kung." Jawab Aka.

"Kowe ki yo aneh kok, Mas! Ngajari ki neng lapangan opo neng latar omah kono! Lah ngajari kok neng galengan sawah. (Kamu ini ya aneh kok, Mas! mengajari itu di lapangan apa di halaman rumah sana! Lah ngajari kok di pematang sawah.)" Omel Arsha yang membuat Aka cengar - cengir.

"Udah gek mandi sana." Kata Arsha kemudian.

"Mandi di rumah Kung - Kung, ya. Nanti kalo ketauan Mbun, di marahin." Kata Aka.

"Yaudah, langsung ke kamar mandi samping. Nanti Nty Ncim ngomel kalo lantainya kotor." Kata Arsha.

Aka dan Bima pun masuk ke dalam rumah melalui pintu samping yang langsung masuk ke dapur dan kamar mandi yang ada di dekat dapur. Sementara Arsha langsung mencuci motor milik cucunya.

"Astaghfirullah ya Allah!" Seru Meshwa saat melihat dua putranya yang mengendap - endap masuk melalui pintu samping.

Saat itu, Meshwa bersama Raina dan Shima memang sedang berada di dapur. Shima sedang makan, sementara Meshwa dan Raina sedang asyik mengobrol.

"Ya Allah, Mamas, Adek! Kenapa malah kayak telur asin gitu?" Tanya Meshwa sambil menghampiri dua putranya yang mematung di depan pintu.

"Ya Allah, telur asin." Kata Shima yang tertawa sambil menunjukkan telur asin di hadapannya.

"Kalian berdua dari mana sih, Nang, Le?" Tanya Raina.

"Main motor, Mbun. Kan tadi udah bilang mau main motor." Jawab Aka.

"Romo... Romo... Lihat ini anakmu." Panggil Meshwa pada Arjuna yang ada di rumah orang tuanya juga.

"Pripun to, Mbun? (Gimana to, Mbun?)" Tanya Arjuna sambil berjalan menuju ke dapur.

"Gusti Allah ingkang Ageng! (Allah yang maha besar!)" Ujar Arjuna saat melihat dua putranya yang hanya terlihat mata dan gigi putihnya.

"Kok yo dadi koyok kebo ngono kuwi to? (Kok ya jadi kayak kerbau gitu to?)" Omel Arjuna yang membuat Shima tertawa terbahak - bahak.

"Lho! Romo sama Mbun kok di sini?" Tanya Aka.

"Romo sama Mbun abis anter Uti belanja." Jawab Raina.

"Kok belanja rame - rame? Memang Uti belanja banyak?" Tanya Bima.

"Uti mau bikin acara di rumah?" Aka itu bertanya.

"Udah, gak usah mengalihkan pembicaraan. Cepetan mandi yang bersih. Ambumu wes saingan karo kebo kuwi! (Baumu udah saingan sama kerbau itu!)" Ujar Arjuna yang membuat dua putranya langsung berlari ke kamar mandi.

"Bajunya di basahin sekalian Mas, Dek! Biar gak susah nyucinya." Kata Raina sambil terkekeh.

"Njaluk di gantung kuwi motore. (Minta di gantung itu motornya.)" Omel Arjuna.

"Mas Juna yang beliin. Sekarang kok malah ngomel - ngomelin anaknya." Kata Shima.

"Ya maksudnya biar main di halaman aja lho, Cim. Kok malah keluyuran turut sawah (ke sawah)." Jawab Arjuna.

"Beliin mobil aja makanya, Mas." Kata Shima.

"Gak mau! Itu lihat mobil kecilmu. Mobil bagus - bagus, malah di otak - atik. Kan akhirnya bisa bongkar, gak bisa masangnya lagi." Jawab Arjuna.

"Harusnya ngomongnya gitu sambil ngaca lho, Jun. Kamu dulu kecilnya ya gitu." Celetuk Arsha yang membuat para wanita terkekeh.

"Tapi kan aku sama Dipta dulu kreatif, bikin mainan sendiri, bikin mobil - mobilan sendiri." Kata Arjuna yang membela diri.

"Nanti kalo udah waktunya lak ya bisa bikin mainan sendiri." Sahut Arsha.

"Udah to, Mas. Namanya cucu tuh pasti menang di mata Kung - Kung sama Utinya." Kata Shima.

"Emang bener kok, Cim." Sahut Arjuna yang kali ini satu suara dengan Shima.

...****************...

"Siang - siang gini, enaknya ngapain ya Nty?" Tanya Aka pada Shima. Mereka berempat bersama Ara, sedang duduk di teras rumah setelah bosan mewarnai gambar yang di buat Shima.

"Gak tau, bingung mau ngapain." Jawab Shima.

"Main ingkling aja yuk?" Ajak Ara.

"Mau main ingkling!" Seru Bima sambil mengangkat tangannya.

Mereka pun kemudian menggambar petak - petak persegi yang tersusun rapi untuk bermain ingkling.

Permainan mereka terlihat sangat seru siang itu. Tawa dan canda terdengar riuh di halaman rumah Abimanyu yang terasa sangat teduh itu.

Setelah lelah bermain, mereka kembali duduk di teras rumah Abimanyu yang sepi.

"Yuyut... Yuyuut..." Panggil Aka dengan wajah sedih.

Belum genap empat puluh hari kepergian Abimanyu yang menyusul sang istri tepat di hari ke empat puluh meninggalnya sang istri.

Duka pun masih terasa, terutama pada keempat anak kecil yang memang banyak menghabiskan waktu dengan Abimanyu dan Arunika.

"Bima kangen Yuyut...." Kata Si paling kecil. Bocah kecil itu kemudian terisak.

"Udah - udah jangan nangis, Bim." Ujar Shima sambil mengusap air mata keponakannya.

"Kata Ibu, kalau rindu Yang Kung dan Yang Ti, kita berdoa aja biar Yang Kung dan Yang Ti senang." Imbuh Shima sambil mengusap sayang kepala Bima.

Sejenak, suasana menjadi hening. Mereka tampak sibuk dengan pikiran mereka masing - masing. Merasakan rindu yang teramat sangat berat pada sosok yang tak akan bisa mereka peluk lagi.

"Makan dondong, enak tuh." Celetuk Shima saat melihat buah kedondong yang pohonnya besar di halaman belakang rumah Abimanyu.

"Tapi gak bisa ambilnya. Aku takut di marahin Mbun lagi." Kata Aka yang memang belum lama terjatuh saat memanjat pohon kedondong itu.

"Jatuhin aja buahnya, Ka. Nanti kita kumpulin terus minta buatin bumbu rujak sama Bulik Awa." Usul Ara yang di jawab anggukan setuju oleh Aka.

Mereka kemudian berjalan menuju ke belakang rumah. Shima,Ara dan Bima berlindung di dekat dinding,sementara Aka berdiri di dekat pohon.

Aka pun mulai melakukan persiapan. Ia memejamkan mata sambil bersidekap dada. Mulutnya berkomat - kamit melafalkan bacaan, setelah itu, tangannya mulai bergerak ke belakang lalu kedepan seperti sedang membuang sesuatu.

Tak lama, angin yang sangat kencang berhembus menerpa pohon kedondong lebat itu, hingga menjatuhkan banyak buah, daun dan juga ranting yang rapuh.

Setelah angin berhenti, mereka segera memunguti kedondong yang berjatuhan itu dengan riang. Mereka meletakkan kedondong yang mereka temukan di dalam keranjang yang tergeletak di belakang rumah.

"Waah! Mamas hebat! dondongnya banyaaak!" Puji Bima dengan riang.

"Bima mau yang mateng? Ini manis." Kata Aka yang kemudian meretakkan kedondong dengan tangannya. Tangan bocah kecil itu sangatlah kuat, hingga bisa meretakkan buah kedondong yang keras.

"Aku mau, Ka!" Pinta Ara. Aka kemudian menghancurkan tiga buah kedondong lain untuknya, Shima dan Ara.

Setelah menikmati kedondong masak, mereka kembali melanjutkan mengumpulkan buah kedondong yang masih berserakan.

"Aaaaaa AKA! Buahnya aja yang di jatuhin, kenapa ularnya juga ikutan jatuh!" Teriak Shima saat melihat seekor ular melilit batang kedondong yang jatuh.

1
Naftali Hanania
🤣🤣🤣🤣🤣...bocah...bocah
Eka
heum memang keren bopo sama anaknya👍👍👍👍😍
rizky tria
Bima biangnya sih ini 🤭😅😂
Ayunda
ini covernya ganti lagi
Asihfitr
ngelunjak ngekonkon papamu iku piye Bim senenge trima beres ngono🤣🤭
aku baru
bima iki loooh,,,,ono wae jawabe 😄😄😄
Rahmawati
pasti tambah seru nih kalo semua bocil ngumpul
Eka
masyaalloh qda saja yg bikin sakit perut kel.bopo banyu alas bikin kangen atraksi2nya poro bopo ki lanjut trs ya thor
Cica Aretha
aduh ya Alloh bima..bima..ada aja jawabanmu bim..bim..semamgattt thor💪😍
Cheryl Calosa
akhirnya detik-detik io ketemu pak ade, kangen banget sama io
Atik Kiswati
bima ki emang gawe ngekel terus......🤣🤣🤣🤣
aurora
Bim Bim gemes aku 🤣🤣🤣
Nuri 73749473729
wis pokoke kocak kalau sama Bima gak ada habisnya kata2nya... lanjut thot
amilia amel
wes klop pancen Bima iki
perpaduane Aksa, Arjuna plus Dipta
🤣🤣🤣🤣
Listio Wati
🤣🤣bima..bima ada aja taktik mu
Ita Xiaomi
Nah benar tuh. Aku jg udah kangen ama Io😁
Ita Xiaomi
Jawaban cerdas 😁😁😁
Rusi Rusi
Bima emang TOP BGT pokok nya. lanjut lagi thor
Intan Nurwulan
Ya ampun bim bim adanya tingkahnya yg bkin ketawa🤣
Kasandra Kasandra
double up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!