NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Surat yang Berbohong

Badai kedua itu bermula dari selembar surat yang tiba di sebuah asrama mahasiswa di Jakarta.

Reyhan Prasetyo baru pulang dari kampus ketika petugas keamanan menyerahkan amplop dengan tulisan tangan ibunya. Sudut kertasnya kusut, seolah dikirim terburu-buru.

Ia membukanya di meja belajar.

Le, jangan cari Arum lagi. Dia sudah memilih orang lain. Perjodohan kalian selesai. Sekarang dia bekerja di rumah seorang perwira dan akan segera menikah. Dia sendiri bilang tidak mau bertemu kamu. Fokus pada kuliahmu dan jangan pulang hanya karena urusan ini.

Reyhan membaca surat itu dua kali.

Lalu tiga kali.

"Ada apa?" Rifki, teman sekamarnya, menurunkan headphone. "Wajahmu seperti baru dapat nilai E."

Reyhan meletakkan surat. "Keluargaku bilang Arum akan menikah dengan orang lain."

"Arum yang sering kamu ceritakan itu?"

"Kami dijodohkan sejak kecil."

"Tapi kalian masih berhubungan?"

Reyhan terdiam. "Tidak sering."

"Terakhir bicara kapan?"

"Lebaran tahun lalu. Lewat ponsel Ibu."

Rifki mengangkat alis. "Lalu kamu yakin dia menunggumu?"

Pertanyaan itu membuat Reyhan tak nyaman. Ia berjalan ke jendela, memandang gedung kampus yang mulai menyala.

"Arum tinggal bersama keluargaku sejak kecil. Dia tahu kami akan menikah."

"Itu jawaban soal perjodohan, bukan soal perasaan."

"Dia selalu menungguku pulang."

"Waktu kalian masih satu rumah. Sekarang?"

Reyhan mengambil surat lagi. "Dia tidak mungkin tiba-tiba menikah tanpa bicara kepadaku."

Rifki mengulurkan tangan. "Boleh lihat?"

Setelah mendapat izin, ia membaca perlahan. "Aneh."

"Apa?"

"Ibumu menulis Arum sudah memilih orang lain, tapi juga bilang perjodohan kalian selesai. Kalau Arum sendiri yang memilih, kenapa tidak ada pesan langsung dari dia?"

"Mungkin ponselnya rusak."

"Masih rusak bertahun-tahun?"

Reyhan menatapnya tajam.

Rifki mengangkat kedua tangan. "Aku cuma bertanya. Lihat tanggalnya. Surat ini ditulis lima hari lalu. Tapi stempel posnya baru kemarin, dari Malang. Ibumu juga bilang jangan pulang karena urusan ini. Kenapa sampai menekankan itu dua kali?"

Reyhan membaca kembali.

Jangan pulang.

Fokus pada kuliah.

Tidak mau bertemu.

Semua kalimat terdengar seperti pintu yang sengaja ditutup sebelum ia sempat bertanya.

"Sebelumnya keluargamu pernah membahas membatalkan perjodohan?" tanya Rifki.

"Tidak. Ibu hanya bilang Arum harus lebih rajin supaya pantas mendampingiku."

"Kalimat yang menyenangkan sekali untuk seorang perempuan."

Reyhan mengabaikan sindiran itu. Ia membuka percakapan lama di ponsel. Nomor Arum tidak aktif. Pesan terakhir yang dikirim melalui nomor ibunya hanya berisi ucapan selamat Lebaran dan jawaban singkat atas nama Arum.

Ia baru menyadari bahwa ia bahkan tak tahu apakah Arum benar-benar mengetik jawaban tersebut.

Reyhan menggulir lebih jauh. Ada beberapa pesan lama dari nomor rumah.

Mas Reyhan, seragam kampus yang tertinggal sudah saya kirim.

Mas, obat Bu Yatmi sudah dibeli.

Mas, Bapak minta dokumen ini dicetak.

Semuanya ditandatangani dengan nama Arum. Tidak ada satu pun pesan tentang apa yang gadis itu rasakan, apa yang ingin ia pelajari, atau apakah ia bahagia. Reyhan selalu menjawab dengan `terima kasih` singkat, lalu kembali pada kesibukan kampus.

Ia mencari ucapan ulang tahunnya. Arum pernah mengirim tepat tengah malam. Reyhan membalas keesokan sore dengan stiker.

"Aku memang jarang bicara dengannya," akunya.

Rifki menatap layar dari jauh. "Kalau begitu, pulanglah untuk mendengar. Bukan untuk menuntut janji yang selama ini cuma dijaga satu pihak."

"Aku akan menelepon rumah."

Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua ditolak. Pada panggilan ketiga, Bu Yatmi menjawab.

"Reyhan? Kamu belum tidur?"

"Surat Ibu sudah sampai. Saya mau bicara dengan Arum."

Sunyi pendek muncul di ujung sana.

"Ibu sudah bilang, dia tidak di sini."

"Di rumah perwira siapa?"

"Tidak penting."

"Kalau dia akan menikah, siapa namanya? Kapan acaranya?"

"Kamu fokus kuliah saja. Arum bukan urusanmu lagi."

"Biarkan saya dengar langsung dari dia."

Suara Bu Yatmi berubah tajam. "Kamu tidak percaya kepada ibu sendiri?"

"Saya hanya mau mendengar dari Arum."

"Dia sudah berubah. Sejak dekat dengan perwira itu, dia berani melawan kami. Dia bahkan tidak ingat siapa yang membesarkannya."

Reyhan mencengkeram ponsel. "Perwira siapa?"

"Sudah malam. Ibu tutup dulu."

Sambungan berakhir.

Reyhan langsung menelepon ayahnya. Hartono baru mengangkat setelah nada sambung panjang.

"Ada apa? Bapak sedang sibuk."

"Arum tinggal dengan perwira siapa?"

"Urusan satuan tidak boleh dibicarakan sembarangan."

"Nama seorang perwira bukan rahasia operasi."

Hartono diam sesaat. "Dia ditugaskan membantu seorang Mayor yang terluka. Itu saja. Jangan ikut campur."

"Kenapa Bapak mengirim orang yang katanya calon istri saya untuk tinggal dekat lelaki lain?"

"Dia pekerja, bukan keluarga. Lagi pula perjodohan sudah selesai."

"Siapa yang menyelesaikan? Saya tidak pernah setuju. Arum juga tidak pernah bicara kepada saya."

Nada Hartono berubah keras. "Bapak yang membesarkan Arum. Bapak berhak menentukan apa yang baik. Kamu selesaikan kuliah dan jangan pulang sebelum kami minta."

"Saya pulang tiga hari lagi."

"Reyhan!"

Reyhan menutup panggilan. Ada kepanikan di balik suara ayahnya, seolah kepulangannya dapat membuka sesuatu yang lebih besar daripada perjodohan lama.

Rifki yang mendengar separuh percakapan bersandar di kursi. "Kalau dia benar bahagia dan semuanya jelas, kenapa orang tuamu repot membuatmu tidak pulang?"

Reyhan tidak menjawab.

Ia membuka kalender akademik. Ujian presentasi terakhir selesai tiga hari lagi. Setelah itu ada jeda sebelum program lapangan dimulai.

"Aku pulang ke Malang setelah presentasi."

"Untuk menanyakan keadaan Arum atau mengambilnya kembali?"

"Apa bedanya?"

"Besar." Rifki menatapnya serius. "Kalau kamu peduli, kamu dengar jawabannya. Kalau kamu merasa memiliki, kamu hanya datang untuk memaksa."

Reyhan memasukkan surat ke dalam tas. "Aku tahu Arum."

"Kamu tahu Arum yang tinggal di rumahmu bertahun-tahun lalu. Mungkin kamu tidak tahu Arum yang sekarang."

Kalimat itu mengusik, tetapi tidak menghentikannya.

Reyhan membuka lemari dan menarik koper kecil. Di laci paling bawah, ada foto lama ketika ia berumur lima belas dan Arum dua belas tahun. Arum berdiri di belakang keluarga Prasetyo sambil memegang nampan minuman, bukan duduk sebagai anggota keluarga.

Selama ini Reyhan menganggap posisi itu biasa.

Kini, setelah Rifki bertanya tentang perasaan, foto tersebut tampak berbeda.

"Hatimu jelas ada aku," gumamnya pada bayangan Arum di foto, lebih seperti meyakinkan diri sendiri.

Rifki mendengar. "Jangan putuskan isi hati orang dari foto lama."

Reyhan menutup koper. "Aku akan mendengarnya langsung."

Ia belum tahu bahwa di Malang, Arum sudah belajar mengucapkan tidak.

Ia juga belum tahu bahwa seorang Mayor yang disebut Sang Macan sedang berdiri di antara Arum dan semua orang yang menganggap hidup gadis itu dapat diputuskan tanpa izinnya.

Jarak Jakarta dan Malang mendadak terasa lebih pendek daripada tiga hari.

Tiga hari lagi, Reyhan akan pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!