Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.
"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.
Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.
Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Haruskah Kamu Berselingkuh, Satura?
Ia menemukan bangku di bawah pohon besar yang rindang, lalu duduk dengan lemas. Siku ditumpukan pada lutut, wajah ditelungkupkan di telapak tangan, berusaha mencerna semua yang terjadi.
Dunia luar tetap berjalan normal. Angin berhembus, kendaraan lewat, seolah tidak ada yang berubah. Rasanya aneh melihat orang lain hidup tenang, sementara dunianya sendiri baru saja hancur lebur.
Vandini tidak punya jawaban. Ia juga tidak punya rencana, dan tidak tahu bagaimana harus menghadapi Satura nanti. Saat ini, ia hanya butuh waktu untuk meluapkan rasa sakit. Kehidupan yang selama ini ia yakini ternyata hanyalah kebohongan.
Duduk di sana, Vandini akhirnya membiarkan air matanya jatuh. Tidak ada lagi usaha untuk menahan, tidak ada lagi alasan untuk terlihat kuat. Vandini belum benar-benar sembuh, tapi ia punya tanggung jawab. Anak-anaknya sedang menunggu, dan ia harus ada di sana meski hatinya hancur.
Ia mengusap mata dengan tisu. Jari-jarinya masih gemetar saat menatap pantulan dirinya di kaca spion. Wajahnya pucat, mata merah dan bengkak. Tidak ada waktu untuk memperbaiki penampilan. Vandini menarik napas panjang, memaksakan wajahnya agar terlihat biasa saja, mengubur rasa sakit itu dalam-dalam.
Sesampainya di sekolah Connan, ia duduk diam di dalam mobil sebentar. Tangannya mencengkeram setir kuat-kuat sampai rasa panik itu bisa dikendalikannya.
Saat Connan muncul di gerbang dan wajahnya berseri melihat ibunya, Vandini memaksakan senyum dan melambaikan tangan.
"Hai, Sayang," sapanya, berusaha membuat suara terdengar tegar.
"Hai, Ma!" seru Connan sambil masuk dan memasang sabuk pengaman.
Vandini hanya mengangguk. Ia menelan ludah dengan susah payah dan membiarkan pandangannya lurus ke depan. Ia tak sanggup menatap putranya terlalu lama, takut anak itu menyadari ada yang salah.
Di tempat penitipan Cia, Vandini kembali menarik napas panjang sebelum turun.
Cia langsung berlari menghampiri dengan senyum lebar. Vandini menggendongnya, membenamkan wajah di rambut keriting putrinya, menghirup aroma yang menenangkan. Sesaat, rasa sakit di dadanya terasa sedikit berkurang.
"Hai, Mama!" seru Cia sambil memeluk leher Vandini.
Vandini menghela napas pelan dan mengeratkan pelukan. Hangatnya kedua anak itu bagaikan obat yang menenangkan luka di hatinya.
"Hai, Cinta," bisiknya pelan.
Saat memasang Cia di car seat, ia melirik Connan lewat kaca spion. Wajah anak itu masih bersemangat menceritakan kegiatan di sekolah.
Vandini sadar ia hanya mendengar sebagian, tapi suara Connan berhasil menariknya keluar dari pusaran kesedihan.
"Malam ini kita makan apa, Ma?" tanya Connan antusias.
"Gimana kalau kita pesen makanan enak aja?" jawab Vandini, memaksakan nada ceria. "Pizza mau nggak?"
"PIZZA!" teriak Cia sambil mengangkat tangan.
Connan tersenyum lebar. "Boleh! Yang kejunya banyak ya, Ma?"
Vandini tertawa kecil dan mengangguk. "Iya, yang penuh keju."
Suara tawa dan celoteh anak-anak memenuhi mobil. Itu suasana normal yang sangat ia butuhkan. Saat menyetir, Vandini membiarkan obrolan mereka menyelimuti dirinya, memberinya kekuatan meski hatinya hancur dalam diam.
...***...
Setelah sampai di rumah...
Vandini membuka kotak-kotak pizza di meja dapur. Aroma keju dan daging tercium kuat, bau yang biasanya membuatnya nyaman.
Anak-anak langsung bersorak dan berlarian mendekat. Vandini berusaha tersenyum dan bertingkah biasa, tapi wajahnya terasa kaku dan gerakannya canggung.
Suara pintu terbuka membuat perut Vandini terasa melilit. Satura masuk ke dapur dengan wajah santai, suaranya hangat dan akrab, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
"Halo, semuanya!" serunya dengan nada manis yang terlihat sangat normal.
Gila.
Bagaimana bisa dia bertingkah setenang ini?
Rasa sakit yang tajam menyayat hati Vandini. Ia mengatupkan rahangnya, memaksakan pandangannya tetap pada Cia saat mengelap tangan putrinya, berusaha sekuat tenaga agar suaminya tak melihatnya ambruk.
"Papa! Kita pesan pizza!" Wajah Connan berseri-seri sambil mengangkat potongan pizzanya.
"Wah, mantap itu," jawab Satura.
Vandini terpaku. Pria itu punya keberanian luar biasa untuk berpura-pura semua baik-baik saja, seolah keluarga mereka belum hancur dan tak bisa diperbaiki.
Satura berjalan santai melewati Vandini untuk mengambil piring. Vandini bisa merasakan kehadiran pria itu di sisinya. Ia ingin berteriak, ingin memukul, tapi menahan diri. Wajahnya tetap memasang topeng tenang demi anak-anak.
Mereka duduk berkumpul. Anak-anak terus mengobrol dan tertawa, tak menyadari ketegangan yang mencekam di udara sekeliling mereka.
Vandini hanya mengangguk dan menjawab seperlunya. Sementara itu, pikirannya terus memutar ulang adegan mengerikan sore itu tanpa henti.
"Ma, boleh minta satu lagi nggak?"
Suara Connan membuyarkan lamunan Vandini. Ia berkedip, lalu mengangguk pelan.
"Boleh, Sayang."
Vandini mengambilkan potongan pizza. Tangannya terasa berat dan kaku. Ia sadar Satura sedang menatapnya dari seberang meja, tapi ia tak sanggup membalas tatapan itu. Rasa sakit di dadanya terlalu mencekik untuk dihadapi saat ini.
Usai makan malam, anak-anak langsung lari bermain. Vandini membereskan piring dengan tatapan kosong. Ia berpegang teguh pada rutinitas ini agar merasa masih berpijak di bumi, meski dunianya terasa seperti cangkang kosong.
Tangan Vandini gemetar hebat saat mengelap meja dapur. Ia menggosok titik yang sama berulang kali sampai permukaannya mengkilap. Ia hampir tak sadar Satura sedang menyuruh anak-anak naik ke atas untuk tidur. Tawa mereka terdengar polos, menjadi pengingat betapa pahitnya apa yang sedang ia pertahankan.
Ia mencurahkan seluruh energinya untuk membersihkan rumah. Ia belum siap bicara, tapi beban rahasia itu terus mendesaknya untuk meledak. Saat berbalik, Satura sudah berdiri bersandar di meja dengan tangan disilang dan tatapan tajam.
Mereka saling diam dan berpandangan lama. Udara terasa sangat berat, penuh kata-kata yang tertahan di tenggorokan.
Akhirnya, Vandini bersuara.
"Sudah berapa lama?" suaranya pelan tapi penuh kekecewaan.
Satura terkekeh sinis dan menggeleng. "Van, itu nggak penting. Banyak cowok juga gitu kok. Itu hal biasa. Aku nggak ngelakuin hal yang beda dari temen-temen kita."
Hati Vandini hancur lebur mendengarnya. Pria itu bahkan tak merasa bersalah.
"Itu penting," desaknya dengan suara bergetar. "Penting banget buat aku."
Satura hanya mengangkat bahu acuh. "Kamu tuh lebay banget, Van. Memang begitulah kenyataannya."
Vandini merasa tenggelam dalam kepahitan. Namun, di saat yang sama, muncul kekuatan baru yang tak mau ia hancurkan begitu saja. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangan.
"Jadi maksudmu, aku harus pura-pura nggak tahu sementara kamu ... kamu menghianati segalanya yang udah kita bangun selama ini?" tanyanya menuntut.
"Menghianati?" Satura mendengus malas. "Ya ampun, Vandini. Kamu baperan banget sih. Ini nggak bakal ngubah apa-apa kan? Aku tetap pulang ke kamu, tetap di sini buat anak-anak. Apa lagi yang kamu mau, hah?"
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk jantungnya. Vandini mencengkeram pinggiran meja kuat-kuat. Kesabarannya tinggal seujung kuku. Pria di depannya terasa begitu asing.
"Aku cuma mau dihargai, Satura. Aku mau kejujuran. Aku pikir ... itu yang kita punya."
Satura menghela napas panjang, seolah Vandini adalah beban yang mengganggunya.
"Dengerin ya, aku nggak nyangka kamu bakal tahu. Itu salahku. Tapi ini nggak harus jadi masalah besar kan? Kamu sendiri yang bikin ini jadi rumit."
Mulut Vandini terbuka lebar karena kaget. Rasa mual menyebar ke seluruh tubuh. "Satura, kamu tuh ... ihhh kamu tuh selingkuh tau gak! Kamu bohong, main perempuan lain di belakangku, dan sekarang kamu malah bilang aku yang bikin masalah?"
"Memang iya kan?" potong Satura kasar. "Selama ini Kita hidup nyaman nyaman aja, Van. Punya keluarga, rumah bagus. Kamu rela buang semua itu cuma gara-gara ini?"
Vandini tertawa getir, campuran antara marah dan tak percaya.
"Buang semua itu apaan? Satura, kamu yang buang semua itu sejak kamu mutusin buat main belakang. Sejak kamu anggap hubungan sama wanita lain lebih berharga daripada pernikahan kita ini, lebih berharga daripada janji suci kita dulu, lebih berharga daripada keluarga ini. Anjing kamu satura! Gila kamu!"
Satura hendak menyela, tapi Vandini tak memberinya kesempatan.
"Kamu mikir nggak sih? Kamu pikir aku yang nyia nyiain hubungan ini? Kamu bahkan nggak kasih aku pilihan. Kamu hancurin semuanya sendiri tanpa mikir dampaknya buat aku, buat anak-anak. Kamu rela pertaruhkan segalanya cuma karena... apa? Bosan? Butuh pelarian dari keluarga sendiri iyaaa? Jawab Saturaaaaaaahhh!!!"
Pikiran buruk menerjangnya. Apakah dia melakukan ini karena Vandini tidak secantik wanita itu?
Bayangan itu menyakitkan, tapi ia tak sanggup mengucapkannya.