NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun yang Terkoyak

Seminggu setelah perjalanan ke Bandung, atmosfer di lantai lima puluh lima Menara Alfarezel dipenuhi oleh kesibukan yang sama sekali berbeda. Tidak ada lagi tumpukan berkas perkara hukum Karina atau laporan investigasi internal tentang Hendra Wijaya.

Kini, meja kerja Anya dipenuhi oleh contoh undangan beludru, katalog menu fine dining, dan daftar tamu VIP dari berbagai penjuru dunia.

Pernikahan akbar sang CEO Alfarezel Group yang akan digelar dalam waktu tiga minggu lagi telah menjadi agenda paling dinantikan di kalangan elite. Kakek Bramanta bahkan secara pribadi turun tangan, memastikan bahwa pernikahan ini akan menjadi perhelatan paling megah abad ini.

Sore itu, ketenangan Anya terusik ketika seorang kurir berseragam hitam masuk ke area lobi eksekutif membawa sebuah kotak kayu berukuran besar yang diikat dengan pita sutra merah tua.

"Nona Anya Anandita? Ada kiriman paket khusus bertanda 'Sangat Rahasia dan Pribadi' untuk Anda," ucap kurir tersebut dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Anya mengernyitkan dahi. Ia menandatangani resi penerimaan, lalu membawa kotak kayu yang terasa cukup berat itu ke dalam kubikel kerjanya. Dari dalam ruang kerja utama, Devan tampak sedang fokus melakukan panggilan konferensi internasional dengan investor New York, sehingga Anya memutuskan untuk membuka paket tersebut sendirian.

Dengan hati-hati, Anya menggunting pita merah tersebut dan membuka tutup kotak kayu.

Aroma wewangian mawar yang sangat pekat namun terasa aneh dan agak menusuk hidung seketika menguar dari dalam kotak.

Di lapisan teratas, terdapat tumpukan kain brokat putih susu yang sangat indah. Itu adalah potongan gaun pengantin. Namun, begitu Anya mengangkat kain tersebut, napasnya seketika tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak ngeri.

Gaun pengantin brokat itu telah terkoyak-koyak dengan kasar menggunakan benda tajam.

Dan yang lebih mengerikan, di bagian dada gaun tersebut terdapat noda cairan berwarna merah pekat yang mengering menyerupai darah yang merembes hingga ke lapisan kain bagian dalam.

*Bruk!*

Anya menjatuhkan kain tersebut kembali ke dalam kotak dengan tubuh yang mendadak gemetar hebat. Di dasar kotak, tepat di bawah gaun yang hancur itu, terletak sebuah amplop hitam kecil.

Dengan tangan yang sedingin es, Anya membuka amplop tersebut dan mengeluarkan selembar kertas kertas perak.

Di atas kertas itu, terdapat tulisan yang dipotong dari huruf-huruf majalah, membentuk sebuah kalimat ancaman yang mengerikan

"PERNIKAHAN INI ADALAH KUBURANMU, ANYA. DEVAN ALFAREZEL ADALAH SEORANG PEMBUNUH. TANYAKAN PADANYA APA YANG TERJADI PADA CLARA ENAM TAHUN LALU."

"Anya? Ada apa?"

Suara bariton Devan yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu membuat Anya tersentak hingga hampir membalikkan kotak kayu tersebut. Devan baru saja menyelesaikan rapatnya dan melangkah keluar, langsung menyadari perubahan drastis pada wajah Anya yang pucat pasi serta kotak misterius di atas mejanya.

Devan melangkah cepat, matanya langsung tertuju pada gaun pengantin yang terkoyak dan bernoda merah di dalam kotak.

Wajah tampannya seketika mengeras, aura dingin dan berbahaya langsung menguar dari tubuhnya dengan intensitas yang sanggup membekukan ruangan.

"Siapa yang mengirim ini?" tanya Devan, suaranya merendah hingga menyerupai desisan singa yang terluka.

Anya tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan lembaran kertas perak berisi ancaman itu dengan jemari yang masih bergetar.

Begitu Devan membaca nama "CLARA" yang tertera di surat tersebut, langkah kaki pria itu mendadak mundur satu langkah.

Sepasang mata elangnya yang biasanya selalu memancarkan keyakinan mutlak, kini berkilat penuh keterkejutan, kemarahan, sekaligus secercah rasa bersalah yang amat dalam yang belum pernah Anya lihat sebelumnya.

"Devan..." bisik Anya, menatap ekspresi Devan dengan rasa cemas yang mendalam.

"Siapa... siapa Clara? Dan apa maksud dari surat ini?"

Devan tidak langsung menjawab.

Ia mengepalkan kertas ancaman itu di dalam genggamannya hingga remuk, rahangnya mengeras dengan urat-urat leher yang menonjol tegang. Selama beberapa saat, keheningan di antara mereka terasa begitu mencekam dan menyesakkan.

"Randi!" teriak Devan menggelegar, memanggil asisten pribadinya melalui interkom dengan nada yang sangat mendesak.

Dalam hitungan detik, Randi sudah berlari masuk ke dalam ruangan. "Ya, Pak Devan?"

"Ambil kotak ini. Bawa ke tim forensik siber dan periksa seluruh rekaman CCTV lobi serta identitas kurir yang mengantarkannya dalam waktu satu jam! Jangan biarkan satu orang pun di gedung ini tahu tentang kiriman ini, termasuk Kakek," perintah Devan mutlak tanpa bantahan.

"Baik, Pak!" Randi dengan cekatan menutup kembali kotak kayu tersebut dan membawanya pergi dengan langkah tergesa.

Setelah Randi keluar, Devan berjalan menuju pintu kaca besar, memunggungi Anya. Kedua tangannya terbenam di saku celana, namun bahunya tampak begitu tegang. Hujan gerimis yang mulai membasahi kaca jendela luar seolah mencerminkan suasana kelam yang tiba-tiba kembali merayap ke dalam hidup mereka.

Anya melangkah mendekat, berdiri satu meter di belakang punggung tegap Devan. "Devan, tolong bicaralah padaku. Kontrak kita memang sudah selesai, dan kita sudah berjanji untuk jujur satu sama lain di depan ibuku. Siapa wanita bernama Clara itu?"

Devan menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat berat dan sarat akan beban masa lalu. Pria itu memutar tubuhnya perlahan, menatap Anya dengan mata yang tampak meredup, kehilangan kilau arogansinya.

"Clara adalah... mantan tunanganku, enam tahun lalu," ucap Devan akhirnya, suaranya terdengar serak. "Pernikahan kami dijadwalkan tinggal dua minggu lagi saat itu, sama seperti kita sekarang. Namun, satu malam sebelum hari pernikahan, Clara ditemukan tewas di dalam mobilnya yang jatuh ke jurang di daerah Puncak."

Anya menutup mulutnya dengan tangan, terkejut mendengar tragedi masa lalu Devan.

"Kecelakaan?"

"Polisi menyatakan itu kecelakaan tunggal karena rem blong," lanjut Devan, tatapannya menerawang jauh ke luar jendela.

"Tapi faksi keluarga Karina dan beberapa musuh bisnis Alfarezel saat itu menyebarkan rumor jahat bahwa akulah yang menyabotase mobil Clara karena dia mengetahui sebuah rahasia gelap tentang penggelapan dana yang aku lakukan. Kasus itu ditutup karena kekurangan bukti, namun nama Clara selalu menjadi hantu yang membayangi setiap langkah karierku."

Devan melangkah maju, meraih kedua pundak Anya dengan genggaman yang terasa agak bergetar sebuah pemandangan langka yang menunjukkan sisi rapuh dari seorang Devan Alfarezel.

"Anya, aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak pernah menyentuh atau mencelakai Clara. Kematiannya adalah murni tragedi yang menghancurkanku saat itu," bisik Devan, matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Anya, memohon kepercayaan. "Tapi seseorang di luar sana... seseorang yang mengetahui detail tentang masa lalu itu, sedang mencoba menggunakan nama Clara untuk meneror kita. Mereka ingin kau ketakutan dan membatalkan pernikahan ini."

Anya menatap mata Devan yang dipenuhi kecemasan. Rasa takut yang sempat menyergapnya saat melihat gaun yang terkoyak tadi perlahan memudar, digantikan oleh rasa empati yang mendalam terhadap luka masa lalu pria di hadapannya ini. Anya mengulurkan tangannya, menyentuh lengan Devan dengan lembut.

"Aku tidak akan pergi, Devan. Aku tidak akan membiarkan terror konyol ini memisahkan kita," ucap Anya dengan nada yang penuh penegasan dan keberanian. "Kita sudah melewati badai Karina dan Dion bersama-sama. Siapa pun pengirim paket ini, mereka hanya pengecut yang bersembunyi di balik bayangan masa lalu."

Devan tertegun melihat keteguhan hati Anya. Ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan begitu erat seolah takut kehilangan satu-satunya cahaya yang berhasil menerangi kegelapan hidupnya.

Namun, di balik punggung Anya, mata Devan kembali menatap lurus ke depan dengan kilat amarah yang mematikan. Ia tahu, pengirim paket ini bukan orang sembarangan. Ini adalah serangan dari musuh baru yang jauh lebih berbahaya, seseorang yang telah mengintai mereka dari kegelapan sejak lama, menunggu saat yang tepat ketika Devan merasa telah memenangkan segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!